[Ficlet] First Step

First Step

First Step

written by Summer

Main Cast: EXO-M’s Kris Wu and SNSD’s Jessica Jung || Genre: Friendship and School-Life || Length: Ficlet || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired by Black Butler vol. 14 (Yana Tubusu) and FF Exordium (Chocokailate)||

[]

[]

Namanya Jessica Jung.

 

Sok tau dan suka sekali mengajakku bertengkar.

 

Dan dia . . .

 

Satu-satunya perempuan yang dekat denganku . .

 

Bagi Kris, segalanya terlihat berubah sejak ia masuk ke sekolah asrama di New Orleans saat ia berumur lima belas tahun. Awalnya tak pernah terlintas di fikirannya untuk bersekolah dan jauh dengan orangtuanya di salah satu negara bagian Amerika Serikat tersebut. Ia sudah punya impian untuk masuk di Shawnigan Boarding School di Vancouver seperti kakak-kakaknya. Namun ternyata keberuntungan Kris memilihkan sekolah asrama campuran yang ada di New Orleans untuknya.

Dan Kris merasa . .  . kecewa.

Kris yang berumur lima belas tahun senang menyendiri dan merutuki kesialannya karena terpaksa harus masuk di sekolah ini. Ia sering sekali pergi ke danau belakang sekolah. Entah sekedar untuk merasakan tiupan angin musim semi atau melihat ikan-ikan kecil di dalam danau yang terkadang berlompatan keluar.

Sampai akhirnya, penganggu kecil itu datang  . . .

Siang itu Kris memilih untuk tak pergi ke ruang makan utama karena malas. Tadi ia baru saja kena semprot Profesor Hale karena sempat tertidur sebentar di tengah pelajaran. Lagipula ia jengah dengan suasana ruang makan yang pasti penuh sesak oleh murid-murid. Biarlah nanti kalau Robert Wellington –ketua asramanya yang kelewat kaku dan serius- mencarinya, yang penting sekarang ia ingin ada disini dulu.

Kris lapar dan sedari tadi perutnya keroncongan. Tangannya mengaduk-aduk isi tas, barangkali ada sepotong roti bakar sisa tadi pagi yang biasanya ia curi-curi untuk dibawa ke dalam kelas. Namun, hari itu Kris kurang beruntung. Mungkin tadi pagi ia lupa untuk melakukan rutinitas hariannya itu. Ia mendesah panjang dan menyampirkan jas seragam sekolahnya di dahan pohon. Emblem asramanya yang berwarna biru-perak dengan ukiran burung hantu, bersinar terkena sinar matahari.

Ia sedang memejamkan mata dan berpura-pura tidur ketika ia sebuah hembusan angin masuk melalui telinga kanannya. Tidak terlalu keras, mungkin hanya angin danau saja. Awalnya hanya mengenai daun telinga, tapi semakin lama hembusan angin itu makin keras masuk ke dalam telinganya. Kris membuka mata dengan paksa dan betapa kagetnya ia ketika ia melihat dua buah bola mata berwarna hijau lumut tepat di samping wajahnya.

BLOODY HELL ! APA YANG KAU LAKUKAN BODOH ! KAU MAU MEMBUATKU JANTUNGAN YA ?!!”

Kris berteriak begitu kencang dan sanggup membuat burung murai yang hinggap diatas pohon, mengepakkan sayapnya tiba-tiba sembari mungkin mengumpat-ngumpat sebal. Matanya membelalak dan nafasnya terengah-engah karena kaget. Kaget karena tiba-tiba ada makhluk lain di depannya dan kaget karena ternyata makhluk itu hanya seorang gadis berkuncir kuda yang sekarang jatuh terduduk dengan pose yang konyol. Astaga, gadis di depannya ini sungguh tidak waras. Bisa-bisanya mengganggu ketenangan orang lain dengan meniup-niup telinganya. Sinting !

Gadis bermata hijau lumut itu meringis pelan dan mengusap-usap pantatnya yang nyeri karena menghantam tanah. Ia mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar, seolah tak pernah terjadi apa-apa. “Maaf sudah membuatmu kaget”, ucapnya riang tanpa dosa.

Gadis kecil itu berdiri, tak menghiraukan tatapan Kris yang bercampur antara setengah kaget, ngeri, dan tak mengerti. Tangannya yang kecil menepuk-nepuk rok motif merah-hitamnya yang terkena tanah dengan santai. “Kau pasti Kris Wu”, cetusnya tanpa mengangkat wajah. “Murid tahun pertama, asrama Sapphire-Owl, dan suka menyelinap saat makan siang. Benarkan ?”, cerocosnya dengan kecepatan bak kereta api.

Kris menatap gadis di depannya ini dengan mulut setengah terbuka yang ganjil. Siapa sih dia ? Kenapa tiba-tiba berubah seperti orang yang tau tentangku luar dalam ? Kenal saja tidak. Kris berdehem untuk mengendalikan suasana. “Kau . . . siapa ?” tanyanya dengan nada sok tenang dan angkuh.

Mata gadis itu berbinar senang. Sepertinya ia menunggu-nunggu pertanyaan ini keluar dari bibir Kris sedari tadi. “Ah, aku Jessica Jung. Murid tahun pertama juga sepertimu, asrama Violet-Wolf (Kris bisa melihat ukiran serigala mengaum di tengah-tengah emblem ungu-hitam yang terpasang di sisi kiri atas jas gadis itu), anggota klub seni divisi tari”, ia menarik nafas panjang-panjang untuk mengisi rongga udara di dalam paru-parunya dengan oksigen, “dan aku satu kelas denganmu di pelajaran sejarah dan biologi.” Ia melihat sudut bibir Kris yang berkedut aneh dan menambahkan, “Hanya sebagai informasi saja, kalau  kau ingin tahu”, gumamnya pelan.

Kris adalah anak laki-laki biasa yang hidup di keluarga biasa pula. Dan selama hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan gadis dari asrama seni menyebalkan (lain kali ia akan menghindari orang-orang dari asrama itu) yang sok tahu, kelewat antusias, dan berbahaya macam . . . siapa tadi namanya ? Ah Jessica, ya Jessica.

Jessica, gadis kecil bermata hijau itu dengan berani mendudukkan tubuhnya ditempat Kris menyenderkan kepalanya tadi. Ia mengambil dua buah piring perunggu yang tadi ia bawa dan untung saja sempat ia taruh di samping pohon.  “Nah, ayo makan !” Ia melambaikan tangannya di udara untuk mengajak Kris mendekat.

Kris masih terdiam di tempat ia berdiri, tak mau melangkahkan kakinya. Kris benci orang asing dan orang aneh. Dan sayangnya Jessica masuk ke dalam dua kriteria itu. Namun gadis itu tak kalah sigap. Ia menarik tangan Kris dengan satu kali sentakan agar anak laki-laki itu mau duduk di sebelahnya. Kris mendapati dirinya tak berdaya dan hanya bisa diam. Sepertinya Kris harus menambahkan satu lagi sifat Jessica yang menyebalkan. Gadis itu pemaksa yang ulung.

“Aku tak tahu kau suka apa, jadi kuambilkan saja sosis dan kentang panggang”, oceh Jessica dengan riang.

Kris melihat beberapa potong sosis sapi jerman yang besar dan berwarna sedikit kehitaman mendominasi piringnya. Matanya melirik ke arah piring Jessica dan melihat bahwa gadis itu ternyata mengambil makanan yang sama pula untuk dirinya sendiri.

“Kenapa tidak dimakan ?”

Kris menolehkan kepalanya dan Jessica sedang menatapnya dengan kening berkerut. Kris memutar bola matanya. Kenapa siang-siang seperti ini ia harus bertemu gadis macam Jessica, sih ?  “Aku tidak suka so-hmpph”

Kris baru saja akan membalas ketika tiba-tiba sebuah benda dengan paksa masuk kedalam mulutnya. Matanya membelalak dan ia menatap Jessica dengan pandangan –apa-yang-baru-saja-kau-lakukan-bodoh ?! Namun gadis disebelahnya itu malah balas memandangnya sembari menunjukkan cengirannya yang lebar.

Kris mengunyah sosis panggangnya cepat-cepat dan menelannya dengan satu kali telan. “Kau mau membuatku mati ya ?!” raungnya marah-marah.

Jessica membuat ekspresi pura-pura tak acuh. “Kau sepertinya kurang tanggap dalam urusan makan, jadi kujejalkan saja sosis itu ke mulutmu agar lebih cepat”, balasnya enteng seolah ia sudah melakukan hal yang benar.

Terimakasih banyak”, sindir Kris jengkel.

Gadis bermata hijau lumut dan berambut hitam itu menggerakkan bahunya sekilas, berpura-pura tak mendengar nada sebal dari lelaki di sebelahnya. “Well, sama-sama.”

Kris memutar bola matanya dan memilih diam agar tak memancing gadis disebelahnya itu bicara lagi. Ia menusuk-nusuk sosisnya dengan garpu perunggu yang senada dengan piringnya. Sesekali ia menggerutu pelan seperti, “Bodoh”, atau “Kurang kerjaan” meski mulutnya tetap bergerak untuk makan.

Lima menit yang hening dan hanya terdengar dentingan garpu mengenai piring sepertinya membuat Jessica merasa gerah. Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya dan berniat untuk bertanya lagi. “Omong-omong, kalau diperhatikan sepertinya kau punya garis wajah Asia.”

Kris tak menjawab dan membiarkan saja gadis itu bicara.

“Jadi salah satu orangtuamu dari mana ?”

Bibir Kris mencibir tipis. “Kanton.” Gadis disebelahnya pasti tak mengerti nama daerah itu. “China”, imbuhnya lagi –sebelum gadis itu sempat bertanya.

Gadis itu terkesiap. Rambutnya yang dikuncir kuda bergerak antusias. “Wow, kita bertetangga !” serunya setengah senang-setengah tak percaya.

Kris mengerutkan keningnya. “Aku memang berpendapat bahwa kau adalah orang yang aneh, tapi tak kusangka ucapanmu bahkan lebih aneh.”

Jessica memutar bola matanya. “Kau mungkin tak mau tahu, tapi aku tetap ingin bilang.” Gadis itu meneguk air dari botol minumnya dan berkata, “Aku juga sama sepertimu. Ayahku dari Korea Selatan.”

Kris tertawa hambar, berpura-pura terkejut. “Cool, aku terpukau !”

Jessica mengerucutkan bibirnya. “Kau kasar sekali”, erangnya frustasi dengan ketidakramah-tamahan dari Kris.

“Dari awal aku sudah ingin memperingatkanmu”, balas Kris dengan datar. Ia menungu selama lima detik dan tak mendapati rentetan pertanyaan lagi dari gadis disebelahnya. Well, mungkin gadis itu sudah sadar, dengan siapa ia berhadapan sekarang, pikirnya pendek.

“Kau . . .orangtuamu tinggal dimana ?”

.

.

Kris mendesah panjang. Sepertinya tebakan tentang mungkin gadis ini sudah lelah untuk bicara dengannya, adalah kesalahan paling bodoh yang pernah ia lakukan. Seperti yang Kris bilang tadi, gadis berambut hitam ini aneh. Namun ia tak menyangka bahwa gadis ini tipikal orang yang tak mudah menyerah. Apakah semua penghuni asrama Violet-Wolf seperti itu ? gumamnya gemas.

Kris mendengar pertanyaan itu namun ia mengacuhkannya. Biar saja gadis itu bicara sendiri. Tangannya bergerak-gerak lagi untuk memotong kentang panggang dengan saus barbeque dan memasukkannya ke dalam mulut.

Jessica mendengus setelah selama ia menunggu seperti orang bodoh, anak laki-laki disebelahnya itu tak kunjung bicara. “Sungguh sikap yang sopan sekali”, balasnya sinis. Namun Kris hanya melemparkan tatapan jengkel dan tak menjawab. “Aku sedang bicara denganmu, Tuan Wu yang terhormat.” Jessica menekankan kalimat terakhir dengan teramat pelan.

Ucapan Jessica akhirnya sanggup membuat Kris menghela nafas panjang dan membuka mulutnya untuk bersuara. “Apa yang kau inginkan ?” Di dalam hati ia mengumpat-umpat kebodohannya karena harus datang kesini di saat yang tidak tepat. Di saat ada pengganggu menyebalkan macam gadis bermata penyihir ini.

Jessica menyipitkan matanya. “Aku hanya ingin berteman denganmu”, ia terdiam sebentar, “apa itu juga salah ?”

Kris terdiam, mulutnya terbungkam dengan sesuatu entah apa yang tak terlihat. Gadis disebelahnya ini . . . aneh. Mana ada orang yang baru bertemu secara langsung (well, jangan salahkan Kris karena tak pernah memperhatikan gadis itu di kelas), tiba-tiba membawakanmu makan (dan menyuapkan secara paksa ke mulutmu), dan tiba-tiba mengajakmu berteman. Coba saja kalau ada yang berani menyebut bagian mana dari semua argumentasi yang Kris sebutkan tidak mengindikasikan bahwa Jessica adalah orang yang aneh, karena Kris akan mencekik orang itu dengan tangannya sendiri.

Satu detik . . .

Tiga detik . . .

Kris mendapati Jessica sedang menatapnya dengan bola matanya yang berwarna hijau lumut itu. Bola mata yang aneh, seaneh kepribadian pemiliknya. Namun, Kris tak menyangka kalau memandangi warna mata itu akan memberikan dampak magis kepada dirinya sendiri. Sial !

Well, mungkin kita  bisa mencoba.”

Kris tak seharusnya mengucapkan itu. Ia tak seharusnya bergumam ragu dan berfikir untuk mencoba berteman dengan Jessica. Karena sejak detik itu, segalanya tak akan lagi sama. Detik itu akan ada orang lain yang masuk ke dalam kehidupannya. Orang lain yang menjadi alasan Kris untuk bertahan di tempat ini.

Gadis yang sok tau dan pemaksa ulung

Jessica Jung.

THE END

Asli ini ficlet gaje banget -_- entahlah ga tau kenapa tiba-tiba pengen bikin FF ini. Mungkin karena udah lama ga liat Jessica nongol di ESFF dan aku lagi kangen banget sama pairing Krissica kekeke. Semoga masih ada yang sudi buat baca dan komen :’)

Oya mampir ya ke Summer’s Note

Oke, pai pai ^ ^

Advertisements

54 thoughts on “[Ficlet] First Step

  1. thor , sequel boleh kali yaa :p Jessie dengan mata ijo lumut itu … Err rada merinding sih ngebayanginnya ._. Wkwk sequel yaa thor yaa :3

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s