Hidden Angel

hidden angel2

 

Title : Hidden Angel

Author : Baconyeojachingu

Main casts :

          Kris EXO

          Sunny SNSD

Genre : Romance, hurt/comfort, little bit angst

Rated : PG-13

Summary :

Kris yang selalu dibukakan pintunya oleh orang lain itu sedang menggunakan tangannya sendiri membuka pintu, Kris yang hanya memakan makanan buatan koki terkenal itu sedang menjilati es krim cone jalanan, Kris yang berekspresi datar itu sedang tersenyum lebar, Kris yang hemat bicara itu sedang tertawa lebar, Kris yang tidak tertarik dengan apa pun itu sedang meragkul seorang gadis.

A/N: Wokeh, ini dia another absurd fic from me ._.  Jangan kecewa ya, soalnya ini storyline paling pasaran di dunia #plak terlalu klise, dan masih banyak kelemahan lainnya. Tapi rulesnya tetap seperti biasa,  NO SIDERS, NO PLAGIATOR, AND NO BASH!!

HAPPY READING

***

                Seorang anak remaja laki-laki masih diam sejak beberapa menit yang lalu, menatap lurus ke luar jendela mobil tempatnya duduk. Seorang lelaki tua sudah berkali-kali mengingatkan waktu, tapi anak itu hanya menjawabnya dengan ‘sebentar lagi’ dengan pandangan yang tak kunjung lepas dari satu objek di bangku taman.

                Objek yang ia pandang sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan seseorang. Ia adalah seorang anak perempuan berseragam dengan kuncir kuda yang sejak tadi meringis meniup luka di lututnya. Luka itu masih mengeluarkan darah segar dan ia sepertinya tidak tau harus bagaimana.

                “Bawa dia.” Anak lelaki itu beralih menatap lelaki tua di sampingnya.

                “Ye?” dahi lelaki tua itu mengerut bingung.

                “Aku bilang aku ingin perempuan itu ikut bersamaku, pulang ke rumah. Jadi, bawa dia.” Anak lelaki itu memperjelas kalimatnya dengan pandangan tidak lepas dari kedua iris bening berbingkai keriput di depannya.

                “Tapi tuan..”

                “Aku tak ingin mendengar kata ‘tapi’.

                Lelaki tua itu diam mengunci mulutnya rapat-rapat. Sepasang mata elang tuan kecilnya ini sama sekali tidak menyiratkan apapun selain ketegasan dengan kesan dingin yang sedikit dominan. “Saya mengerti tuan.” Lelaki tua itu menunduk hormat lalu segera keluar.

                Pandangan anak lelaki tadi mengikuti sosok renta yang baru saja keluar dari mobilnya, perlahan melangkah mendekati anak perempuan yang ia perhatikan sejak tadi. Dia hanya melihat karena dia tidak bisa mendengar percakapan antara mereka berdua hingga sosok tua dan anak perempuan itu kini berjalan ke arahnya.

                Pintu di sampingnya terbuka, ia menoleh ke arah anak perempuan yang dibantu masuk oleh lelaki tua tadi, sementara lelaki tua itu sendiri duduk di bagian depan mobil.

                “K-Kris?!” sepasang mata anak perempuan di sampingnya melebar, sepertinya dia sangat terkejut melihat seseorang yang dipanggilnya Kris itu.

                “Ajussi, jalan.”

                “Ye? Tunggu dulu. Tadi harabeoji bilang ada yang ingin menemuiku? Siapa?” anak perempuan itu mencondongkan badannya ke depan agar dia bisa berbicara dengan lelaki tua yang dipanggilnya harabeoji tadi.

                “Itu aku. Sekarang duduklah.” Anak perempuan itu berbalik menghadap Kris lagi, namun kini alisnya berkerut. Dia duduk kembali di sebelah Kris dengan pandangan tak pelas dari sosok berpostur tinggi di sampingnya.

                “Kau ingin menemuiku?” anak perempuan itu bertanya bingung. Ia mengerjap beberapa kali, “Tapi kenapa?”

                “Aku hanya ingin.” Kini sepasang alis yang berjejer rapi milik anak perempuan berkuncir itu saling bertaut otomatis membuat dahinya mengerut. Dia bingung, jawaban Kris sama sekali tak membantu, namun dia enggan menciptakan pertanyaan selanjutnya saat bahkan Kris tidak menoleh ke arahnya.

***

                Sunny masih bingung kenapa dia bisa ada di dalam mobil ini sekarang, apalagi bersama Kris. Beberapa pertanyaan berputar di kepalanya,  kenapa murid pindahan yang menjadi objek teriakan histeris siswi di sekolahnya ini ingin bertemu dengannya? Kenapa Kris ingin dekat-dekat dengan siswi tindasan sepertinya? Apakah dia akan dikerjai lagi?

“Sunny, kita sampai.” Anak perempuan berkuncir kuda itu terkejut saat namanya disebut. Satu pertanyaan bertambah di kepalanya, kenapa Kris tau namanya? Mata sipitnya membulat, tak percaya saat Kris menarik tangannya keluar dari mobil. Dia sama sekali tidak mengerti dengan kejadian beruntun yang dialaminya sekarang.

                Ia dan Kris berdiri di depan sebuah bangunan bertingkat dengan luas melampaui luas bangunan sekolahnya. Sunny hanya bisa mendongak sambil berdecak kagum.

                Sunny kembali merasakan tangannya ditarik. Kris membawanya masuk, namun yang membuatnya heran sekarang adalah kenapa saat pintu dibuka yang menyambut mereka malah orang-orang berpakaian hitam putih berbaris rapi sambil membungkukkan  badan.

                Sunny menatap orang-orang dewasa yang masih menunduk dengan kaki yang masih berjalan mengikuti langkah Kris.

                Bangunan tempat Sunny berdiri sekarang sangat luas dengan berbagai perabot yang terlihat sangat mahal di setiap sudut. Sunny menyapu pandang ke setiap sudut ruangan yang didominasi kristal itu. Cantik, mahal, berkelas, khas orang kaya.

                Ya, Sunny tau Kris itu bukan anak biasa sejak dia melihat Kris diantar jemput dengan mobil yang berbeda setiap hari. Ia bisa melihat semua hal yang melekat pada Kris terlihat mengkilat, mahal, berkelas, khas orang kaya. Tak heran kenapa setiap Kris masuk ke kelasnya, berbondong-bondong anak siswi mengerubunginya. Huh, Kris si anak populer, mau apa dia dengan anak tertindas seperti Sunny?

                Sunny masih ditarik, melewati tangga melingkar hingga sampai di sebuah ruangan-yang tetap saja luas-berdekorasi kamar tidur. Kasur king size, lampu tidur kristal, satu set TV, satu set sofa, dan dua buah pintu menyapa penglihatan Sunny begitu dia berdiri di dalam.

                Kris mendudukkan Sunny pada sofa di sudut ruangan dan tak lama setelahnya seorang wanita berpakaian hitam putih masuk ke dalam-setelah mengetuk pintu-membawa sebuah nampan di tangannya. Ia menunduk hormat lalu meletakkan nampan di atas meja.

                “Siapkan kamar tidur, pakaian, dan peralatan sekolah untuknya, mengerti?”

                “Saya mengerti tuan.”

                “Kau boleh keluar.”

                Wanita itu menunduk lagi lalu berbalik pergi.

                Sunny beralih memandang Kris yang sedang membasahi kapas dengan air. “Kenapa kau menyiapkan  kamar, pakaian, dan peralatan sekolah untukku?”

                Sunny meringis menahan sakit saat Kris bukannya menjawab pertanyaan Sunny tapi malah menyapukan kapas basah ke lututnya. “ Apa Kim ajussi tidak bilang padamu kalau kau akan tinggal di sini mulai sekarang?”

                Mata Sunny melebar-entah keberapa kali-lalu ia segera menarik kakinya dari jamahan Kris. “A-Apa maksudmu?” Sunny mencicit bernada bingung bercampur was-was.

                “Aku ingin kau tinggal di sini.” Kris memandang tepat di mata Sunny membuat yang ditatap panas dingin. “Apa kurang jelas?” Kris melanjutkan.

                “A-Ani. Maksudku kenapa aku harus tinggal di sini. Aku punya rumah sendiri. D-Dan, k-kita bahkan bukan t-teman.” Sunny gugup hingga ia lebih memilih menghindari kontak langsung dengan mata Kris. Tentu dia sangat gugup saat ini. Bagaimana tidak? Seorang Kris sedang duduk dengannya di sofa yang sama, berbicara sambil menatap langsung ke matanya.

                “Jangan sebut panti asuhan sebagai rumah. Dan..” jeda sebentar, “Bukankah kita teman sekelas?” untuk beberapa alasan pipi Sunny memerah. Oh, bahkan Kris ingat sekelas dengannya padahal Kris baru saja pindah ke sekolah mereka seminggu yang lalu.

                Sunny masih menunduk namun kali ini sambil menggigit bibirnya. Apa nanti kata Kwon Ajumma kalau dia tidak pulang ke panti? Pasti wanita tua itu akan sangat mengkhawatirkannya.

                Kris menggeser posisinya lebih dekat pada Sunny membuat yeoja itu terlonjak mundur. “Hei kenapa kau mundur? Aku jadi seperti terlihat ingin melakukan yang tidak-tidak padamu.” Wajah Kris datar. “Aku hanya ingin mengobati lukamu.” Kris meraih kaki Sunny, menyamankan posisinya di atas sofa lalu kembali menyapukan kapas basah di atas luka di lutut Sunny. “Kenapa kau biarkan mereka melakukan itu padamu?”

                Sunny berhenti meringis mendengar pertanyaan Kris. Ekspresi menahan sakit di wajahnya berganti serius. Apa Kris tau apa penyebab luka ini? Apa dia tau pulang sekolah tadi Jessica membuatnya terjatuh? “A-Apa maksudmu?”

                “Jessica. Bukankah dia yang melakukannya?” Sunny menggigit bibirnya lagi, entah itu karena menahan sakit atau karena bingung harus mengatakan apa pada Kris.

                Sunny tau seberapa suka Jessica pada Kris, jadi Sunny tidak berniat untuk menjelek-jelekkan Jessica di depan Kris. “Dia..tidak sengaja.” Gerakan tangan Kris di lututnya berhenti. Saat Sunny mengangkat kepalanya, dia hanya menemukan Kris menatapnya lagi-kali ini dengan tatapan tajam.

                “Tidak sengaja? Apa bisa mendorong seseorang dan tidak minta maaf disebut tidak sengaja? Waktu itu aku juga melihatmu mengerjakan tugas Hyeoyeon. Apa kau sebodoh itu mau disuruh apa saja oleh mereka?” apa Kris sedang marah? Dari kilatan matanya seharusnya iya, tapi kenapa?

                Dia juga sebenarnya tidak ingin diperlakukan begitu, dia bukannya bodoh menerima apa saja perintah dari teman-temannya, dia hanya tidak punya kekuatan untuk melawan. Semua orang seolah-olah sekongkol untuk menyudutkannya, mencercanya, mengancamnya jika ia tak menuruti perintah mereka.  Sunny begini karena tidak ada seorang pun yang berada di pihaknya.

Oh tidak…

                Sunny merasakan matanya memanas sekarang. Jangan menangis Lee Sunny!

                Kris menghela nafas panjang. Dia tau Sunny tidak akan menjawabnya. Ia kembali pada kegiatannya semula, menyapukan kapas basah ke atas luka Sunny. Kali ini sedikit kasar, entah kemana kelembutannya di awal tadi.

                Sunny menggigit bibirnya lebih keras saat agak sedikit kasar Kris menyapu kapas yang sudah dibasahi dengan alkohol di atas lukanya. Sunny bisa merasakan perihnya berkali-kali lipat dibanding kapas berair tadi. Kakinya ingin bergerak karena sakit tapi Kris menahannya.

                “Kalau sakit seharusnya kau menangis.” Kris menekan kapasnya. “Atau, marah pada orang yang membuatmu sakit.” Kris menekan lagi. “Jangan menggigit bibir begitu.” Ia menekannya lagi. “Atau orang lain tidak akan tau kalau kau merasa sakit.”

                Kris menyingkirkan kapas beralkohol itu membuat Sunny sangat lega. Bagaimana pun bibirnya sudah sakit dan sepertinya Sunny sudah tidak sanggup menahan perih di lututnya akibat kapas beralkohol itu.  Kris mengoleskan krim luka di lutut Sunny lalu menutup lukanya dengan plester. “Apa ada luka lain?”

                Sunny menggeleng.

                Kris bangkit berdiri. “Ayo, aku akan menunjukkan kamarmu.”

                 Sunny meremas ujung roknya. “A-Aku mau pulang Kris. Kwon ajumma akan mengkhawatirkanku.”

                “Kim ajussi sudah mengurus itu.” Kris menarik tangan Sunny yang meremas ujung roknya tadi. Mereka berjalan keluar.

                Kris membawa Sunny berjalan ke ruangan di sebelah kamarnya. Wanita lain-yang juga memakai pakaian hitam putih-membukakan pintu, lalu mereka masuk ke dalam. “Ini kamarmu.”

                Sunny memandang sekeliling. Ruangan luas yang didominasi merah muda dan putih itu begitu menakjubkan di mata Sunny. Ranjang dengan ukuran serupa dengan ranjang di kamar Kris beralaskan bedcover merah muda, berbagai jenis boneka, meja belajar, satu set TV, satu set sofa, lemari es, semua yang ada di kamar Kris ada di sini, hanya saja dengan bentuk dan warna berbeda.

                “Kau bisa menelepon panti asuhan. Kau punya telepon di sini.”

                Sunny mengagguk.

                “Kau suka kamarmu?”

                “Ya.”

                “Begini cukup kan?”

                “Ya.”

                “Apa meja belajar ini nyaman untukmu?”

                “Ya.”

                “Apa kau hanya bisa bilang ya? Apa kalau aku bilang kau harus melompat dari lantai 7 kau juga akan bilang ya?”

                “Ya..eh..tidak.”

                Kris menghela nafas panjang. Sudah ia duga, pasti ada yang salah dengan cara berkomunikasi yeoja ini. Kris berjalan ke arah pintu di bagian sudut, membukanya kemudian masuk diikuti oleh Sunny. “Semua pakaianmu ada di sini.”

                Sunny menatap berkeliling pada ruangan yang sekilas terlihat seperti toko itu. Bagaimana tidak? Di ruangan ini penuh dengan lemari kaca tinggi berisi berbagai pernak pernik seperti pakaian, tas, sepatu, jam tangan, aksesoris, sebuah meja rias dengan berbagai peralatan di atasnya. Yah, khas orang kaya. Sunny sudah tidak heran lagi sebenarnya.

                “Kalau kau sudah ganti baju, turun ke bawah untuk makan siang.”

                Sunny hanya menggangguk, memperhatikan Kris hingga dia menutup pintu. Beralih dari pintu, ia kembali menatap berkeliling. Lagi-lagi pikirannya penuh dengan pertanyaan mengapa Kris membawanya ke sini? Dan kenapa dia tidak menolak dan memaksa untuk pulang saja?

                Oh, mungkin kalau untuk pertanyaan kedua dia tau jawabannya. Sunny tidak mau munafik. Dia juga sama dengan teman-temannya yang lain, ia juga menyukai Kris. Kris tinggi, tampan, pintar, kaya, populer dan sebagai perempuan normal tentu Sunny juga akan terpikat dengan pesona Kris. Yah, jawabannya sudah jelas sekarang, dia menyukai Kris.

***

                Sunny merasakan jantungnya berdetak sangat kencang seolah akan keluar dari tempatnya. Hari ini, hari pertamanya berangkat sekolah dengan mobil mewah dengan Kris di dalamnya. Yah, ia memang tinggal di rumah namja itu sekarang, apalagi saat ia menelepon ke pantinya, Kwon ajumma juga bilang tidak apa-apa dia tinggal di rumah Kris, dan lagi siapa yang bisa melewatkan kesempatan seperti ini?

                Sunny berjalan dari lapangan menuju koridor sekolahnya dengan kepala tertunduk. Dia tidak punya keberanian untuk melihat bagaimana tampang sangar orang-orang di EXO Junior High School menatapnya berjalan bersama Kris. Sekalipun ada rasa senang dan bangga, tetap saja rasa takut yang mendominasi lebih kuat.

                Orang-orang di sepanjang koridor itu mulai berbisik-bisik apalagi saat Kris dengan nekatnya menautkan jarinya dengan jari Sunny. Sunny menggigit bibir, gelisah. Dia bisa mendengar berbagai jenis umpatan yang ditujukan padanya baik itu dari hoobae nya maupun teman seangkatannya di kelas tiga, tapi Kris seolah tidak peduli. Dia malah menarik Sunny agar semakin merapat padanya.

                Masuk ke kelas, semua mata jatuh pada mereka berdua. Kris mengantar Sunny sampai ke bangkunya lalu pergi ke bangkunya sendiri. Setelah kehilangan genggaman Kris di tangannya, rasa takut itu semakin menjadi-jadi. Dia tau saat ini banyak mata melotot dan berbagai gunjingan jatuh padanya. Dia tau itu, makanya sejak awal masuk kelas sampai bel nanti dia hanya akan menunduk dan menunduk.

                Semua perasaan takut Sunny terjawab. Dia terjebak di toilet khusus perempuan bersama Jessica dan teman-temannya dengan pandangan yang seolah mampu menguliti Sunny saat itu juga. Bel masuk sudah berbunyi sejak dua menit yang lalu, namun Sunny hanya berdiri di dalam toilet dengan tiga orang bermata melotot ke arahnya.

                “Aku rasa kau harus menjelaskan sesuatu.” Jessica-yang berdiri di tengah-mendekati Sunny. “Ada apa antara kau dan Kris?” Sunny diam. “Chhh, orang sepertimu memang memuakkan! Pasti Kris hanya iba melihat gadis tertindas sepertimu.” Dia tersenyum miring lalu mengajak kedua temannya pergi.

                Yah, sedikit banyak dia bersyukur karena Jessica tidak melakukan apa-apa padanya kali ini. ia menghela nafas lega lalu bergerak meraih gagang pintu toilet. Begitu pintu terbuka…

                BYYUUUURRR

                Sunny menutup matanya. Entah apa yang terjadi, begitu dia membuka pintu, seember air jatuh begitu saja mengguyur tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Tapi kenapa tadi saat Jessica dan teman-temannya yang keluar tidak terjadi apa-apa pada mereka?

                Sunny mengusap wajahnya yang basah total.

                Yah, yang begini sudah biasa, jangan menangis!

                ‘Mereka hanya menyiram dengan air kan? Tenang Sunny jangan marah, mereka pasti punya alasan sendiri untuk melakukan ini. Mungkin ini memang salahmu.’

                Jangan mengira Sunny terlalu sabar, karena dia sedang menangis sekarang ini. Dia juga marah, tapi dia tau dia tidak akan pernah bisa melakukan apa-apa pada orang yang melakukan ini padanya. Lagipula dia juga tidak siapa pelakunya, terlalu banyak orang yang tidak menginginkan kehadirannya di sekolah ini untuk dicurigai satu persatu.

***

                Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, tapi Kris belum juga melihat Sunny. Sejak istirahat yeoja itu tidak masuk ke kelas sampai jam pulang. Kris terus memandangi satu persatu wajah orang yang keluar dari gerbang dari balik kaca mobilnya.

                3 menit

                5 menit

                7 menit

                Gotcha!

Kris segera keluar dari mobilnya saat melihat gadis berkuncir dua dengan kepala ditundukkan keluar dari gerbang. “Seragammu kenapa?” Kepala Sunny terangkat saat Kris menggenggam lengannya. Pasti Kris merasakan seragamnnya dingin dan sedikit basah.

Sunny menyingkirkan tangan Kris dari lengannya perlahan. “Aku tidak apa-apa.” Sunny kembali berjalan namun segera terhenti saat Kris kembali berdiri di depannya. “Kau mau kemana? Kita sudah dijemput.”

Sunny mengangkat kepalanya melihat Kris. “Aku mau pulang sendiri Kris.”

                Ada jeda sebentar karena Kris malah membeku di tempatnya melihat bekas air mata di pipi Sunny dengan mata dan hidung memerah. Karena jeda yang dibuatnya sendiri, Sunny kembali melewati Kris.

                “Tunggu, aku ikut,” Kris segera menyusul Sunny yang berjalan di trotoar jalan. Kim ajussi yang melihat tuannya dari dalam mobil segera meminta supir menjalankan mobilnya mengikuti Kris.

                “Tuan tidak mau pulang sekarang?” Kris menoleh ke samping, ke arah Kim ajussi yang sedikit berteriak dari dalam mobilnya. “Ajussi pulang saja. Aku akan pulang bersama Sunny.”

                “Tapi tuan..”

                “Aku bilang aku ingin pulang bersama Sunny.”

                Lelaki tua itu terdiam mendengar ucapan majikannya. Masih berumur lima belas tahun tapi tak terbantah. Kim ajussi pun berakhir dengan mengikuti Kris dan Sunny diam-diam. Kim ajussi tentu tidak mau terjadi hal-hal buruk terhadap Kris, karena bagaimana pun Kim ajussi sudah dipercaya menjadi pengawalnya sejak Kris berusia 4 tahun, sejak ayahnya meninggal. Nyonya Wu yang saat ini berada di Kanada pasti murka jika sampai terjadi sesuatu terhadap putra semata wayangnya.

                Kris dan Sunny duduk di halte bus, menunggu bus tentu saja. Sunny masih saja menunduk, sementara Kris memandanginya. “Kau kenapa? Kenapa tadi tidak masuk ke kelas? Dan kenapa seragammu bisa basah begini?”

                Tidak ada jawaban. Sunny hanya bisa diam, diam, dan diam. Dia malu sekaligus ingin menangis. Sebenarnya bukan hanya karena dia basah seperti sekarang. Saat dia masuk ke kelas tadi, papan tulis penuh dengan umpatan-umpatan untuknya seperti, ‘dasar jalang’, ‘berani sekali mendekati Kris’, ‘tidak tau malu’, ‘enyah saja kau!’, ‘menjijikkan’. Setelah tulisan-tulisan tidak mengenakkan itu, ternyata Sunny masih diberi satu kejutan dari orang-orang yang begitu membencinya. Tasnya penuh dengan sampah dan di mejanya ia menemukan kertas bertuliskan JALANG.

                Ada kepingan pecah di mata Sunny saat Kris menarik wajahnya untuk menghadap Kris.“Kau tidak akan menceritakan apa pun padaku?” Kris tau perempuan di depannya sekarang ini sedang berusaha mati-matian menahan tangisnya. “Bukankah kita teman?” kepingan itu semakin terlihat. “Apa Jessica lagi?” kepingan itu jatuh, satu tetes lolos dari mata kirinya.

                Kris menghela nafas panjang. Dia juga tidak mengerti dengan dirinya. Dia begitu tertarik melihat sosok Sunny sejak pertama kali dia pindah ke EXO Junior High School. Dia tau bagaimana orang-orang di sana memperlakukan Sunny dan bagaimana Sunny menanggapinya. Ya, mungkin dia menyukai yeoja itu, dia melihat sesuatu yang lain di dalam diri seorang Sunny.

                “Apa perlu aku membalas mereka?”

                Alih-alih menjawab Kris, Sunny malah memandangi Kris walau dengan pandangan yang sudah kabur karena air yang menggenang di pelupuknya. Berjatuhan satu persatu tanpa ia inginkan. Sunny tidak menangis, tapi air matanya jatuh.

Kris menatap Sunny kesal. “Apa kau tidak akan menceritakan apa-apa padaku?”

Hening sejenak sampai sebuah bus berwarna hijau berhenti di depan mereka. Kris segera berdiri diikuti Sunny, lalu masuk ke dalam bus. Mereka duduk bersebelahan dengan Sunny yang duduk di samping jendela sementara Kris duduk di sebelahnya. “Hei, kau tau? Ini pertama kalinya aku naik bus.”

                Mereka saling bertatapan sebentar sambil tersenyum seolah Kris tidak pernah menunjukkan wajah kesal tadi. “Apa rasanya buruk naik bus?” Kris menggeleng lalu mereka tersenyum lagi.

                “Hei,” Sunny menoleh. “Sebaiknya lepas kuncirmu. Rambut basah tidak baik diikat.” Kris melepas kedua kuncir Sunny lalu menyimpan kuncirnya di saku blazer. Ia menyisir rambut Sunny dengan jari-jarinya. Yah, walaupun rambutnya terlihat agak mengembang, tapi itu lebih baik daripada tetap diikat.

                Bus mereka berhenti di halte berikutnya lalu mereka segera turun. Dari halte bus ini, mereka masih harus berjalan ke rumah Kris yang cukup jauh jaraknya dari halte bus.

                “Apa sekarang kau mau menceritakan apa yang terjadi?” Kris memasukkan tangan ke masing-masing saku celananya, menunggu Sunny menjawab.

                “Kau mau aku menceritakan yang mana? Apa saat mereka mencegatku di toilet, menyiramku dengan air, mengumpatku di papan tulis, atau saat mereka memasukkan sampah ke tasku?” Kris berhenti. Dia menoleh ke samping, melihat ekspresi Sunny yang sama sekali tidak terbaca.

                “Mereka melakukan semua itu padamu?”

                “Dan itu hanya karena aku berjalan bersamamu tadi pagi.” Aja jeda sebentar selagi keduanya kembali melanjutkan berjalan. “Sekarang giliranku bertanya, kenapa kau mau dekat-dekat denganku? Apa kau tidak tau aku ini murid seperti apa di sekolah?”

                “Murid seperti apa maksudmu? Aku hanya menyukaimu, begitu saja.” Sunny menghentikan langkahnya lagi lalu melihat Kris bingung. “Kenapa? Apa aku tidak boleh menyukaimu?”

                Pandangan mereka bertemu, mengambil jeda untuk saling memandang.“Ah, kau bodoh Kris!!!” Sunny yang selama ini selalu didorong orang lain malah mendorong Kris hingga terjatuh dari trotoar dengan bokong yang mendarat lebih dulu di aspal. Dia melenguh sakit memegangi bokongnya sambil berusaha berdiri. Sampai..

                “Anda tidak apa-apa tuan?” Kris berbalik. Di depannya sekarang berdiri Kim Ajussi dengan wajah keriputnya yang terlihat sangat khawatir.

                “Kenapa ajussi masih di sini? Aku kan sudah menyuruh ajussi pulang, kenapa masih di sini?” di tengah kesakitannya Kris masih saja sempat membentak lelaki tua di depannya itu.

                “Maaf tuan, saya hanya mengkhawatirkan tuan,”

                “Ajussi, aku bilang ajussi pulang, jangan mengikutiku!”

                Lelaki tua itu menunduk hormat sebelum segera menarik diri. Tentu dia tidak benar-benar pulang. Dia hanya masuk kembali ke mobil lalu menguntit seperti tadi.

                Kris naik kembali ke trotoar, ekspresi kesakitan masih melekat kuat di wajah tampannya. “Kenapa kau mendorongku huh?”

                “Karena kau bodoh. Kenapa kau bilang menyukaiku? Sukai saja Jessica, dia lebih cantik.” Sunny berjalan dengan segera diikuti Kris di belakangnya.

                 “YA!! LEE SUNNY, NEO!!!”

***

                Kris yang selalu dibukakan pintunya oleh orang lain itu sedang menggunakan tangannya sendiri membuka pintu, Kris yang hanya memakan makanan buatan koki terkenal itu sedang menjilati es krim cone jalanan, Kris yang berekspresi datar itu sedang tersenyum lebar, Kris yang hemat bicara itu sedang tertawa lebar, Kris yang tidak tertarik dengan apa pun itu sedang meragkul seorang gadis.

                Semua maid bengong melihat Kris. Mereka ragu apakah lelaki yang sedang merangkul Sunny sekarang ini masih Kris, majikan mereka yang super cuek itu. Mereka saling melirik lalu mengedikkan bahu masing-masing pertanda sama-sama bingung dan tak tau. Saat Kim ajussi masuk, seorang maid memberikan kode untuk menanyakan apa yang terjadi, namun lelaki tua itu hanya mengangkat kedua tangan dan bahunya pertanda tidak tahu juga.

                “Seo Joo Hyun, siapkan makan siang untuk kami, arasseo?”

                Seorang maid bernama Seo Joo Hyun itu segera menunduk hormat, “Saya mengerti tuan.” Setelahnya ia segera bergegas ke dapur, sementara Kris dan Sunny masih berangkulan mulai menjejakkan kaki menapaki satu persatu anak tangga menuju kamar mereka yang bersampingan.

***

                “Apa kau melihat senyum tuan Kris tadi?” tanya Taeyeon, maid lain yang bekerja di kediaman keluarga Wu. Saat ini dia dan Seohyun sedang mempersiapkan peralatan makan di meja makan.

                “Aku sampai pangling melihat senyumannya.” Seohyun meletakkan hidangan yang baru saja selesai dimasak koki pribadi Kris.

                “Ah, aku jadi penasaran siapa perempuan itu. Dia beruntung sekali. Bagaimana jika tuan Kris berniat menikahinya saat sudah dewasa nanti?” Taeyeon menautkan kedua telapak tangannya sambil memandang langit-langit dapur dengan pandangan berbinar-binar.

                “Kau pikir Nyonya besar akan menyetujuinya?” tiba-tiba maid lain bernama Yoona muncul. Sontak perkataan teman seprofesinya itu menghilangkan pandangan bebinarnya.

                “Benar juga, kan masih ada nyonya besar.” Taeyeon menunduk lalu mengela nafas panjang.

                “Apa kami bisa memulai makan siang kami sekarang?” ketiga maid itu segera menoleh ke arah sumber suara, dimana Kris sedang berjalan ke arah meja makan sambil menggandeng Sunny di sebelah kanannya. Ada dua yang membuat kedua maid ini keheranan. Yang pertama, biasanya Kris itu tidak pernah mengucapkan kalimat basa basi seperti barusan, dan yang kedua, Tuan kecil mereka yang tidak ingin menyentuh gagang pintu itu sedang menggandeng tangan orang lain, tanpa alas.

                “Siahkan tuan, semuanya sudah siap.” Ketiga maid tadi menunduk membiarkan Kris dan Sunny duduk di meja makan.

                Taeyeon, Seohyun, dan Yoona berjalan ke arah dapur, namun yang mereka lakukan di sana bukannya mulai bekerja tapi malah memandangi ke arah meja makan. Mereka benar-benar shock melihat Kris yang ada di meja makan sekarang ini. Kris yang selalu makan tenang dan tak bersuara itu sedang tertawa, memindahkan lauk ke mangkuk Sunny, berbicara setelah menelan daging di mulutnya. Kemana Kris yang berkelas dari kalangan elit itu?

***

                JALANG

                TIDAK TAU MALU

                MENJIJIKKAN

                ENYAH SAJA KAU

                BERANINYA MENGGODA KRIS

                Sunny yakin dia sudah menghapus semuanya kemarin, kenapa semua tulisan itu masih ada di papan tulis? Lututnya sudah lemas saat menyadari semuanya. Tulisan itu begitu besar memenuhi papan tulis dan sekarang Kris ikut melihat tulisan itu bersamanya. Semua tulisan itu seolah menyudutkan Sunny, menjelma menjadi bisikan-bisikan menakutkan, memancing semua persediaan suara Sunny untuk menjerit, memaksa semua air mata yang disimpannya untuk jatuh.

                Tapi semuanya hanya terjadi di dalam pikirannya, dalam dunia yang sebenarnya Sunny bahkan tak mampu bergerak seinchi pun dari tempatnya. Suaranya tertahan entah dimana, jiwanya seolah terbang menjadi debu, kekuatannya bahkan tak sanggup untuk menggerakkan kakinya.

                BUGH…

                “Keparat mana yang berani menulis ini!??” kepalan tangan Kris mendarat di papan tulis, tepat di atas tulisan jalang. Ia memandang setiap sudut kelas dengan tatapan marah yang berkilat-kilat dari kedua bola mata hitamnya. Kris mengambil penghapus, lalu menghapus semua tulisan di papan tulis kasar, kemudian membanting penghapusnya ke lantai, hingga mengejutkan seisi kelas.

                Suasana sunyi, karena tidak ada yang berani bahkan untuk bergerak. Pertama kali Kris menunjukkan kemarahannya, dan itu menakutkan.

                Kris beralih menatap Sunny yang masih membeku di tempatnya. Ia menghela nafas berat, melihat air yang lagi-lagi tergenang di pelupuk mata yeoja itu membuat kilatan marah di mata Kris hilang. Ia berjalan kemudian meraih tangan Sunny yang terasa bergetar dan dingin, mengenggenggamnya di telapak tangan Kris yang besar, lalu menariknya berjalan ke luar.

                “Kau..mau kupeluk?”

                Kepala Sunny terangkat menatap Kris dengan mata basahnya. Kris hanya menganggapnya sebagai persetujuan lalu menarik Sunny perlahan jatuh di dadanya. Kedua tangannya melingkar di punggung Sunny, sementara yeoja itu menyandarkan kepalanya di dada Kris. Ia bersyukur Kris ada bersamanya.

                Sunny tersenyum saat merasakan detak jantung Kris terdengar jelas di telinganya. Semilir angin bertiup di setiap celah hatinya merasakan kenyamanan pelukan Kris. “Kenapa kau menyukaiku Kris?” Kris menghentikan gerakan kikuknya di rambut Sunny saat mendengar pertanyaan itu. Kemarin Sunny juga menanyakannya tapi Kris tak segugup ini. “Kenapa kau menyukai orang yang begitu hina di mata orang lain ini?” Sunny melanjutkan.

                “Siapa yang kau maksud dengan hina?” Kris mengambil jeda. “Mereka saja yang bodoh karena tidak bisa melihat sosok malaikat yang ada dalam dirimu.”

                Sunny mengangkat kepalanya untuk melihat Kris langsung. “Siapa yang kau maksud dengan malaikat?”

                Kris tersenyum malu, merasakan bahwa dia harus membongkar sesuatu setelah ini. “Eum.. itu sebenarnya.. aku menamaimu hidden angel, hehe..” Kris tertawa bodoh, membiarkan Sunny mengurai pelukan mereka.

                “Mwo? Hidden angel?” sepasang alis yang menaungi iris hazel Sunny saling bertaut. Ia memandang Kris bingung, meminta penjelasan. “Itu bahasa Inggris kan? Artinya apa?”

                “Mwo? Kau tidak tau artinya? Hei, apa kau benar murid kelas tiga Junior High School?”

                “Kau meledekku?”

                “Ani..”

                “Kalau begitu beritahu artinya.”

                “Err… cari sendiri, hahahha..”

                “NEO!!!”

***

                Kediaman keluarga Wu terlihat sibuk karena kepulangan tiba-tiba dari sang nyonya besar. Semua maid berbaris sambil menunduk menyambut kepulangannya.

                Nyonya Wu berjalan masuk ke ruang kerjanya. Padahal beliau baru sampai, bukannya istirahat ia malah langsung menyambangi ruang kerjanya. Yoona sedang menyusun pakaian Nyonya Wu dari koper ke lemari sementara Jongdae asisten pribadinya dan Kim ajussi mengikuti Nyonya Wu masuk ke ruang kerja.

                “Jadi, apa laporan tentang Kris selama aku pergi?” Nyonya Wu duduk di kursi kerjanya, melipat tangan di dada, menatap ke arah dua bawahan di depan mejanya.

                “Tuan Kris baik-baik saja Nyonya. Ia nyaman dengan sekolah barunya, tapi beliau membawa seorang teman perempuan untuk tinggal di sini.”

                “ Teman perempuan?”

                “Iya Nyonya.” Kim ajussi meletakkan setumpuk kertas di atas meja, membuat pandangan Nyonya Wu mengikutinya.

                Nyonya Wu mengambil kertas itu, mengamati setiap kalimat yang mejelaskan nama, asal-usul keluarga, dan tempat tinggal dari teman perempuan Kris yang dimaksud Kim ajussi. Selagi Nyonya Wu mengamati kertas di tangannya, Kim ajussi melanjutkan laporannya lebih rinci, mulai dari Kris yang akhir-akhir ini sering tersenyum, pulang naik bus, membuka pintunya sendiri, ramah pada maid, selalu menghabiskan waktunya dengan Sunny, dan perilaku Kris yang lain. Wajah Nyonya Wu  berubah sedikit murka. “Kalian membiarkan Kris dekat dengan perempuan seperti ini?” Nyonya Wu menghempaskan kertas di tangannya ke atas meja.

                “Maafkan saya Nyonya, saya tidak bisa membantah perintah tuan.”

                Nyonya Wu membuang nafas berat. Ia mengisyaratkan kedua orang di hadapannya segera keluar. Kim ajussi dan Jongdae menunduk, Kim ajussi mengambil kembali kertas di atas meja, lalu mereka berdua meninggalkan ruangan itu.

                “Eomeoni..” Nyonya Wu mengangkat kepalanya, menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Kim ajussi kini kembali dibuka oleh anak semata wayangnya Kris. Namja itu masih dengan seragam lengkap dan seorang anak perempuan di gandengannya.

                Dahi Nyonya Wu mengerut melihat orang asing di samping Kris, namun ia hanya menunggu sampai Kris menjelaskan semuanya.

                “Eomeoni kapan pulang?”

                “Baru saja Kris. Eum.. dia siapa?” Nyonya Wu menunjuk Sunny dengan dagunya.

                “Eoh, dia Sunny, teman sekelasku.”

                Nyonya Wu memandang Sunny dari atas sampai bawah, seolah sedang memeriksa semua yang melekat di diri Sunny. “Annyeonghaseyo, Choneun Lee Sunny imnida.” Sunny membungkuk hormat.

                “Eoh.. jadi ini teman perempuan yang diceritakan Kim Ajussi?”

                “Ne eomeoni..”

                Nyonya Wu tersenyum simpul pada Sunny. “Kalian sudah makan siang?” keduanya menggeleng. “Kalau begitu kalian ganti seragam lalu kita makan siang.”

                “Ne eomeoni..”

***

                Makan siang di meja makan kediaman Keluarga Wu siang itu terasa sangat ramai karena Kris yang tak henti-hentinya berbicara, sementara Nyonya Wu hanya menanggapi ucapan putranya dengan senyuman. Ia sesekali mengajak Sunny berbicara baik itu tentang tempat tinggalnya, keluarganya, dan yang lain seperti cita-citanya nanti.

                Nyonya Wu bisa melihat jelas perubahan besar dalam diri Kris. Tentu ia sebagai ibunya resah. Nyonya Wu bahkan tidak pernah bermimpi jika suatu hari anaknya akan berteman dengan orang lain. Dan yang lebih membuatnya resah lagi, teman Kris itu adalah seorang gadis dari panti asuhan yang bahkan tidak mengenal orang yang telah melahirkannya, sosok sebatang kara yang pasti akan merusak citra keluarga Wu jika hubungan mereka terus dibiarkan.

***

                Hari ini Sunny pergi ke sekolah sendiri diantar oleh Kim ajussi karena kata Nyonya Wu, Kris sakit. Namun untunglah walaupun Kris tidak ada di sampingnya, teman-temannya tidak mengganggu Sunny sampai pulang sekolah. Kris sakit, tapi ia masih meninggalkan surat di tas Sunny. Sunny menemukan surat itu saat dia hendak mengambil bukunya tadi.

                To : Lee Sunny

                Maaf tidak bisa memberitahumu langsung. Pulang sekolah nanti Kim ajussi akan menjemput dan mengantarmu ke bandara. Kau mau kan ikut aku ke China seminggu ini? kalau begitu kita bertemu di bandara, ok? ^^

Kris

                Sunny segera menyandang tas lalu berlari kecil ke luar. Ia senang sekali Kris membawanya ke China. Ia begitu ingin bepergian ke luar negeri sekali-sekali.

                Ia tersenyum melihat Kim Ajussi yang sudah menunggunya di luar gerbang. Ia berlari kecil ingin segera menghampiri lelaki tua itu. “Nona, tuan berpesan agar nona berangkat lebih dulu, tuan akan menyusul dengan penerbangan nanti sore.”

                Sunny hanya tersenyum lalu mengiyakan dengan semangat. Begitu ia masuk ke dalam mobil, Yixing sang supir segera melaju menuju Incheon airport. “Apa aku kan berangkat sendiri?”

                “Tidak nona. Saya akan ikut bersama Nona.”

***

                “Eomeoni!! Kim ajussi!! Yoona!! Taeyeon!! Kenapa pintu kamarku dikunci??” Kris terus mengetuk pintu sekuat yang ia bisa, namun tidak ada yang menjawabnya. Kris tidak bersekolah hari ini. Pagi ini maid tidak ada yang membangunkannya, dan saat ia bangun jam sudah menunjukkan angka 9 dan pintu kamarnya terkunci. Dan lagi, Kris sudah berteriak sejak 10 menit yang lalu, namun tak ada juga yang membukakan pintu untuknya.

                Kris berjalan ke arah nakas di samping ranjangnya lalu meraih gagang telepon. Jari-jarinya beregrak cepat menekan nomor telepon rumahnya di lantai bawah, berharap salah satu penghuni rumah ini akan menjawab teleponnya.

                Deringan kelima, seseorang mengangkat telepon Kris. “Eomeoni, kenapa pintu kamarku terkunci?”

                “Oh kau sudah bangun, tunggu sebentar, eomma akan menyuruh Taeyeon membuka pintu.” Nyonya Wu menutup teleponnya begitu juga Kris.

                Kris segera berjalan lagi ke arah pintu tidak sabar menunggu Taeyeon membebaskannya dari ruangan terkunci itu. Tak sampai tiga menit, Kris sudah keluar dari kamarnya, menuruni tangga dengan cepat sambil memanggil ibunya.

                “Eomma, Sunny dimana?”

                Nyonya Wu menaruh majalah yang ia baca ke atas meja. “Eomma mengirimnya ke China. Eomma rasa dia cocok bersekolah di sekolah yang eomma kelola di sana, wae?”

                Kedua mata elang Kris melebar, “Mwo? China?”Kepanikan terpancar jelas di wajah Kris. Jantungnya seolah berdegup lebih kencang berkali-kali lipat merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi sekarang ini. Kakinya seakan melemas, tapi suaranya menggelegar, “KENAPA EOMMA MENGIRIMNYA KE CHINA?”

                “Pelankan suaramu dan sekarang duduk.” Nyonya Wu menatap kedua mata putranya tajam. Namun walau begitu, Kris seolah tak mengindahkan perintah ibunya. Ia malah berlari kembali ke lantai dua, masuk ke kamar Sunny, mencari keberadaan yeoja itu.

                Begitu pintu terbuka, kedua matanya bergerak liar meniti tiap inchi ruangan itu. Masih sama, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Sunny di dalamnya. Ia berlari lagi, menuruni tangga dengan tergesa-gesa, kembali lagi ke tempat eommanya duduk tadi. “EOMMA, SUNNY KEMANA?”

                “EOMMA BILANG EOMMA SUDAH MENGIRIMNYA KE CHINA.” Jeda sebentar. “Kau pikir eomma akan membiarkanmu dekat dengan orang sepertinya? Dia bahkan tidak mengenal orang tuanya dan kau ingin menjalin hubungan dekat dengannya? Kemana akal sehatmu Kris?” jeda lagi saat melihat wajah Kris dengan ekspresi bercampur aduk. “Kau pewaris tunggal Wu Corp Kris, jadi jangan bertingkah seperti kau dari kalangan biasa. Eomma hanya menyekolahkan ke China, eomma tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya!” Nyonya Wu berdiri dari tempatnya. “Jangan berpikir untuk melakukan sesuatu yang gila Kris, atau eomma akan bertindak jauh.” Dengan itu Nyonya Wu berjalan meninggalkan Kris.

***

                Angin senja berhembus kencang, meniup helaian-helaian pirang Kris yang sedang berdiri di pinggir pantai meanatap laut lepas di depannya. Ombak bergulung terus menerus menjilat bibir pantai, membasahi sepatu Kris yang berpijak di atasnya. Namun Kris tak melakukan apa pun, selain berdiri, menatap laut, dan memegang kotak berbentuk persegi di tangannya.

                Kris yang berdiri sekarang ini bukan Kris berumur lima belas tahun yang masih memakai seragam Junior High School, Kris yang kembali berwajah tanpa ekspresi itu adalah Kris mapan dengan setelan Jas, yang telah mewarisi perusahaan keluarganya.

                Di tangannya abu kremasi sang ibu yang telah meninggalkannya beberapa jam yang lalu. Ia akan menebar abu itu di tempat ini, di pantai yang begitu sunyi dan terasa damai sebagai tempat peristirahatan terakhir sang eomma.

                Kris membuka kotak itu, membiarkan abu di dalamnya dihembus angin, menyatu dengan pasir pantai dan air laut.

                Semuanya berlangsung selama sembilan tahun tanpa sekalipun Kris mendengar kabar dari Lee Sunny, orang yang begitu ia cintai dalam hatinya. Bukannya ia tak berusaha mencari, dia hanya tidak bisa menemukan. Dia bahkan sudah mencari yeoja itu di China selama 3 tahun, namun semuanya tanpa hasil.

                “Ajussi~” Kris yang merasa celananya ditarik seseorang menoleh ke bawah. Ia menemukan anak kecil di sana. “Ajussi, apa ajussi mau mengambilkan itu?” anak itu menunjuk ke arah benda yang terombang-ambing di pinggir pantai.

                Kris berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan anak kecil itu, “Arasseo, tunggu di sini ya.” Kris mengucak rambut hitam anak itu lembut lalu menggulung kaki celananya, bergerak mendekati pinggir pantai.

                Kris tersenyum, ternyata hanya sepatu. Ia mengambilnya lalu berbalik, berjalan mendekati anak yang masih berdiri di atas pasir pantai itu.

                “ini..” Kris menyodrokan sepatu yang diambilnya tadi.

                “Kamsahamnida ajussi.” Anak itu menunduk hormat lalu mengambil sepatu di tangan Kris dengan kedua tangannya.

                “Aigoo, kau lucu sekali. Siapa namamu?”  Kris kembali berjongkok, mengusak rambut anak itu lagi.

                “Baekhyun-a!” Kris menoleh ke samping, tepat pada seorang gadis yang menyerukan sebuah nama.

                “Eoh, nuna~~” Kris beralih lagi menatap anak di depannya yang kini berlari ke arah perempuan tadi.

                Kris berdiri. Pandangannya jatuh pada sosok perempuan yang sedang memeluk anak laki-laki yang ditolong Kris tadi. Kedua matanya menelusuri lekat-lekat tiap inchi wajah cantik di depannya, sementara jantungnya sudah berdebar kencang. Wajah itu begitu familiar, senyuman yang mampu membuat Kris merasakan perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Debaran sembilan tahun yang lalu kembali dirasakan Kris untuk pertama kalinya hari ini, di pantai bernaung langit senja, ditemani ombak berdesir.

                “S-Sunny..”

                “Annyeong Kris, lama tidak bertemu.”

                Senyuman itu sama seperti senyuman sembilan tahun yang lalu. Senyuman Hidden Angel nya.

END

                Ok, jangan keroyok saya karna endingnya begini. Hehe, maklum lah author abal… #plak. Kalo uda baca sampe sini, wajib komen, hahahahhaha😄 Ok, bye~~~~

35 thoughts on “Hidden Angel

  1. uwaaaaahhhh….knp ending’y ngegantung gini thor??lanjutin dong thor…..buat sekuel kehidupan sunny kris setelah mereka bertemu kembali…

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s