[Freelance] Just Nothing

Just Nothing

Title : Just Nothing

Author : Nida Wafa/Nawafil

Genre : Romance,Sad,Angst

Length : Oneshoot

Rating : PG-13

Main Cast : GG’s Yoona | EXO’s Luhan

Disclaimer : All cast belong to god. plot of the the story is mine. If you don’t like don’t read. Don’t bash please. This is just Fiction and forever will be a fiction

A/N : Hai! Tiba tiba aja ide buat Fic ini muncul. Mian kalo rada aneh dan semacamnya. oya, author name aku ganti dari Nida Wafa jadi Nawafil ya *ga ada yang tau*. Ok! Langsung read aja ya and don’t be siders! Warning! Typo bertebaran dimana mana

Summary : Menyakitkan bukan meninggalkan seseorang dan ditinggalkan seseorang? Begitulah yang dirasakan 2 Insan manusia ini –  Yoona dan Luhan-  Berawal dari sebuah kebetulan mereka merangkai sebuah cerita hingga akhirnya berakhir menyedihkan. Bukan karena salah satu dari mereka yang berkhianat ataupun karena waktu yang memisahkan mereka. Tapi karena kenyataan yang sampai kapanpun takkan pernah berubah. Hubungan darah antara keduanya yang tak ada seorangpun bisa mengubahnya

+++

Xi Luhan –namja terpopuler disekolah- memasuki gerbang sekolah tanpa mobil sport nya, entah kenapa kali ini ia datang dengan berjalan kaki. Tapi itu tak memudarkan kharismanya. Dengan gayanya yang tetap cool, jas yang seharusnya ia pakai malah ia simpan dipundaknya, hairstyle nya yang bisa dibilang sangat keren juga menambah pesonanya.

Semua yeoja tak terkecuali Im Yoona menatapnya tanpa berkedip sekalipun. Mata mereka terfokus pada sosok Xi Luhan. Entah angin apa yang merasuki Luhan, secara tiba tiba ia menghentikan langkahnya, ia melihat yeoja yang berada tak jauh darinya kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya. “Hai, Im Yoona” setelah mengucapkan kalimat itu ia kembali melanjutkan langkahnya.

“Huaaaa dia menyapanya” kira kira seperti itulah teriakan para yeoja yang melihat kejadian tadi sedangkan Yoona, Ia berdiri mematung ditempatnya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Yoona pun mencubit pipinya berkali kali “Aww” ucapnya kesakitan. “Omo! Aku tak bermimpi, Luhan benar benar menyapaku tadi” Yoona berteriak sekencang mungkin diiringi dengan loncatan tingginya berkali kali

Luhan yang masih belum jauh dari tempat itu melihat Yoona. “Yeoja Unik” ucapnya. “Hyung, apa yang kau lihat?” tiba tiba sebuah tangan memukul pelan bahunya. “Aku tak melihat apa apa Sehun-ah”

“Jangan berbohong padaku”

“Aish kau ini, aku hanya melihat yeoja yang berada disana” Luhan menunjuk tempat di mana Yoona berdiri. “Namanya Im Yoona” lanjut Luhan. “whoaaa..seja4k kapan kau tau namanya hah?”

“Jangan panggil aku Luhan jika aku tak bisa mengetahui hal kecil seperti itu, lagipula aku hanya mengaguminya saja”

“kau memang playboy kelas kakap Hahahaha” Sehun tertawa sambil memukul mukul bahu Luhan. “Sudahlah, ayo kita masuk ke kelas” Luhan menarik lengan sehun yang sampai sekarang masih tak bisa menghentikan tawanya

+++

Bosan. Kata itulah yang bisa menggambarkan Perasaan Yoona sekarang. Sudah 2 jam Ia menunggu Park Sonsaengnim dikelas, tapi guru killer itu tak datang juga. Padahal kan yang membuat janji Park Sonsaengnim, Kenapa ia yang telat?

LUHAN. Tiba tiba yoona teringat akan namja itu, namja yang tadi pagi menyapanya. Ujung Bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Matanya terpejam, dipikirannya sedang beradu berbagai argument tentang kejadian tadi pagi

YOONA POV

Dia menyapaku, apa mungkin dia menyukaiku? Ah andwae, luhan tak mungkin menyukaiku, orang dingin dan secuek dia bisa jatuh cinta? Mustahil. Tapi tadi dia juga tersenyum padaku. Ya, Pasti dia suka padaku. Tapi— arrgghhh Ini semua membuatku pusing. Aku menutup wajahku dengan tanganku. Andai Luhan ada disini, pasti akan ku tanyakan semuanya, Ah tidak, aku terlalu malu untuk menanyakan hal itu padanya

“Apa yang sedang kau pikirkan” tiba tiba suara itu terdengar ditelingaku. Akupun melepaskan tangan yang menutupi wajahku. “Luhan? Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Ini juga kelasku kan? Apa aku salah berada disini?” ucapnya dengan wajah Poker face andalannya. Pabo! Aku lupa ini juga kelasnya, kenapa daya ingatku begitu jelek? Sepertinya aku harus mengasahnya, kalau terus seperti ini aku akan terus bersikap bodoh dihadapan Luhan.. Yup! Aku harus mengasah daya—

CHU~

Sesuatu yang Hangat, kenyal dan basah menyentuh bibirku. Apa— “Luhan!! Apa yang kau lakukan?!”

Dia hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun. Yang benar saja, ia telah mengambil fist kiss ku dan hanya tersenyum seperti tak terjadi apapun?

“Yak! Kau seharusnya meminta maaf. Kenapa kau malah tersenyum?”

DEG. Tiba tiba ia mendekatkan wajahnya padaku “Salah sendiri melamun bwee~” Ia menjulurkan lidahnya dan berlari keluar kelas. “Xi Luhan! Kau benar benar ingin mati huh?” Aku berteriak sekencang mungkin dan berniat untuk mengejarnya tapi tiba kepalanya muncul di pintu kelas “Aku tau kau fansku, jadi kau tidak rugi haha”

Aissh, anak ini benar benar. “Kau akan benar benar—“ belum selesai aku menyelesaikan perkataanku tiba tiba kepalanya muncul lagi “Satu lagi, jika kau melamun seperti itu lagi, mungkin akan lebih parah dari yang tadi. Annyeong”

Lebih parah? Apa mungkiiinn… Namja satu ini benar benar harus diberi pelajaran! “Kau tidak akan selamat!” Aku mengejarnya keluar kelas dan Hei! Kenapa sekarang ia berada tepat di hadapanku? Perlahan ia memperkecil jarak diantara kami. Aish apa apaan ini? Kenapa sikapnya tiba tiba berubah seperti ini? Membuat jantungku berdetak tak karuan saja

5 cm

4 cm

3 cm

Aku menutup mataku Perlahan, ku rasakan hembusan nafasnya yang hangat. Aku tau ia semakin dekat, Ya Tuhan semoga ia tak mendengar detak jantungku yang tak normal ini.

PLETAK

“Kau tertipu hahahaha” Apa yang baru saja dia lakukan? Dia memukul kepalaku? Bagus, setelah mengambil fist kiss ku ia memukulku. Sempurna. “XI LUHAAAAAAAAAAAAAAANNNNN”

+++

Sejak saat itu, aku dan dia semakin dekat. Tak jarang para fangirlnya menangis histeris ketika melihat kebersamaan kami. Aku rasa aku beruntung, Yahhh walaupun posisiku hanya sebagai sahabatnya tapi aku sudah cukup bahagia, walau terkadang aku juga ingin berarti lebih dari sekedar sahabat untuknya

“Kau harus sering mengajakku ke sini, ice cream di sini benar benar enak“ Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, dibalik sosoknya yang dingin dan cuek ternyata ia seperti anak kecil. Lucu, Manis, dan err Menggemaskan.

“Lu” panggilku. Ia menolehkan wajahnya, aku pun menghapus ice cream yang ada dibibirnya. Ia Nampak terkejut dengan perlakuanku. “Wae? Aku hanya menghapusnya” tanpa menjawab apapun Ia kembali melanjutkan aktivitasnya memakan ice cream

AUTHOR POV

“Jantungku. Ada yang salah dengan jantungku. Kenapa detak jantungnya 2x lebih cepat? Perasaan apa ini?” batin Luhan
“Kau melamun?” suara Yoona membuyarkan lamunannya. “eh? Aniyo, hanya sedang berpikir”

“Tentang?”

“Bukan hal penting, lebih baik kita pulang sekarang”

+++

“SM The Best! Xi Luhan The Best! Oh Sehun The Best—“

Sorak sorai para penonton terdengar dilapangan SM High School. Xi Luhan dan Team Sepak Bolanya sedang melawan team Sepak Bola dari YG High School – Rival terberat Sekolah mereka-

Sebenarnya pertandingan ini bukan pertandingan resmi, Ini hanyalah pertandingan persahabatan. Ah tidak, apa masih bisa disebut pertandingan persahabatan jika ada unsur taruhan didalamnya? Aku pikir tidak. Entah apa yang Luhan dan Kai pertaruhkan hingga mereka all out dalam bertanding. Tidak salah memang, tapi memang hal yang menjanggalkan bukan jika menghabiskan semua tenaganya hanya untuk pertandingan persahabatan?

Sementara itu, Im Yoona berada ditempat duduk paling depan. Dengan semangatnya ia membawa Banner ‘Hwaiting Xi Luhan’. Yoona tak henti hentinya meneriakkan nama Xi Luhan

Babak pertama berakhir. Skor masih saja imbang 1-1. Keduanya sama sama kuat, tak ada yang mau mengalah diantara mereka.

“Kau Lelah?” Ucap Yoona yang kini mendekati Luhan di pinggir lapangan. “eo, aku butuh sesuatu yang bisa membangkitkan semangatku”

“Air? Makanan? Aku sudah membawanya” Yoona menyodorkan makanan dan air minum yang ia bawa Tapi Luhan menolaknya. “Bagaimana kalaaauuu—“ Luhan memanjangkan kata terakhirnya.

“Kalau apa?” Tanya Yoona. “Ini” jawab Luhan menunjuk bibirnya. “Yak! Disaat seperti ini sifat mesummu masih saja kambuh” Luhan memegang pipi Yoona, Ia mendekatkan wajahnya perlahan. Yoona tak bisa bergerak, ia sibuk dengan jantungnya yang berdetak sangat cepat “Kau bisa menghindar jika kau mau” ucap Luhan semakin mendekatkan wajahnya

1

2

3

“aaaaaaaaaaa” semua penonton yang kebanyakan yeoja berteriak histeris melihat aksi Luhan. Diseberang sana Kapten Team YG High School –Kai- melihatnya sinis. Ia menunjukkan smirk yang entah apa maksudnya

“Aku benar benar akan melakukan ini Yoong, kau tak punya kesempatan lagi untuk menghindar”

2 cm

1 cm

Duk. Bibir Luhan mencium Tangan Yoona yang menghalangi bibirnya. “Ny.Im sudah ku bilang kau tidak bisa menghindar lagi. Waktumu sudah habis”

“Apa kau ingin membuatku pulang babak belur eh? Dengan sikapmu yang sekarang ini Fangirlmu akan mengamuk Dan sasarannya pasti aku”

“Aisshh, kau ini. Sepulang dari sini kau tak boleh menghindar lagi, jika kau lakukan itu maka aku akan mendapatkan bonus hahaha”

“Otak mesum” gumam Yoona. “Mworago?” Luhan tak begitu jelas mendengar perkataan Yoona. “Ani, cepat kembali ke lapangan” Luhan pun memasuki lapangan tapi kurang dari 10 detik ia kembali. “Ada yang salah?” Tanya Yoona.

“Ani, hanya saja—“ Luhan kembali menggantungkan kata terakhirnya. CHU~ Bibir Luhan mendarat mulus di bibir Yoona. Tak lama kemudian luhan melepaskan tautan bibirnya dengan Yoona “Gomawo Yoongie” Luhan kembali ke lapangan dengan wajah yang sangat ceria. Jujur saja, sebenarnya detak jantungnya berdetak sangat cepat kali ini. Bukan karena kecapean tapi karena yeoja yang sangat ia cintai. Im Yoona

Berbagai teriakan tak jelas kembali terdengar dikursi penonton. Betapa frustasinya mereka melihat sang Idol sekolah mencium seorang yeoja. Dan Im Yoona, entah apa yang ia rasakan tapi kini tubuhnya diam tak bergerak sama sekali. Matanya membulat masih shock dengan kejadian yang ia alami barusan.

Babak kedua pun selesai dan pertandingan pun berakhir dengan kemenangan dipihak Luhan. Kedua team berjabat tangan sebagai tanda persahabatan mereka. Tapi saat sang kedua kapten team berhadapan, mereka berjabat tangan cukup lama dengan gaze yang bisa dibilang tajam. “Kau hanya beruntung Luhan”

“Sudah ku bilang Yoona Milikku dan aku pastikan ia takkan pernah jatuh ke tanganmu”

Smirk. Kai mengeluarkan smirknya “Kita Lihat saja nanti”

“Luhan-ah Ppalli” Dari kejauhan Yoona melambaikan tangannya. “Kau lihat? Dia tak mungkin berpaling dariku jadi jangan bermimpi terlalu tinggi”

“Hatinya bisa saja berubah. KAPAN SAJA” kai menekankan 2 kata terakhirnya

“Luhan-ah” Tiba tiba saja Yoona sudah berada disamping Luhan. “chukkhae” Yoona memeluk Luhan erat tak mempedulikan orang orang disekitar mereka termasuk kai. 1 menit kemudian ia melepaskannya. “Kajja” Yoona menarik tangan Luhan menjauh dari lapangan. Langkah Yoona terhenti. Ia teringat akan sesuatu kemudian menoleh “Ah ne, Kau Kai kan? Berlatihlah lebih giat lagi. Hwaiting” Ucap Yoona menyemangati Kai.

“Yak! Apa yang kau lakukan? Kau saja tak pernah menyemangati ku seperti itu”

“Tanpa berlatihpun aku yakin kau akan menang chagi”

1

2

3

Ups! Yoona menutup mulutnya. Apa yang baru saja ia katakan? Chagi? Kenapa ia bisa keceplosan?. “eits, apa? Aku tak mendengarnya. Chagi? Kau memanggilku Chagi?”

“Aniyo, aku tadi hanya keceplosan” jawab Yoona Polos. “Omo! Aku keceplosan lagi” batin Yoona. “Haha, kau terjebak dalam permainanmu sendiri. Menyedihkan” ejek Luhan.

“Aisshh, aku duluan saja” Yoona pergi meninggalkan Luhan. “Yak! Bagaimana bisa kau meninggalkanku hah?! Keundaee..Chagi? Aku pikir aku menyukainya” ucap Luhan.

“Yoong jjamkamman” Luhan mengejar Yoona, setelah merasa posisinya sejajar dengan Yoona, Luhan memegang tangan Yoona. “Bagaimana kalau kita pacaran saja? Aku menyukaimu ah aniyo aku mencintaimu. Jeongmal Jeongmal Jeongmal Saranghae”

Pernyataan Luhan mengejutkan Yoona. 2 kata yang sangat ia tunggu selama ini akhirnya ia dengar. “Im Yoona jawab aku”

“Kau tidak romantis” jawab Yoona berusaha menjaga image. “Romantis seperti apa yang kau inginkan?”

“emmhh kau harus membuatkanku rangkaian lilin yang membentuk Love disebuah taman, ditambah dengan suasana yang hangat, kemudian kau menyanyikan sebuah lagu untukku, lalu—“

“Itu terlalu susah, simple saja. Kau mau menjadi yeojachingu ku atau tidak?”

“Neo Jeongmal. Keure, aku mau”

“Sudah ku duga kau akan menerimaku. Gomawo Im Yoona, Gomawooooo~” Luhan memeluk Yoona dan membawanya berputar berulang kali.

Rasa itu. Rasa yang telah mereka pendam selama ini akhirnya bisa terungkapkan. Berawal dari sebuah kekaguman dan berakhir dengan Cinta. Berawal dari sebuah sapaan singkat dan berakhir dengan Bahagia. CINTA. 5 kata yang telah menyatukan mereka

+++

YOONA POV

Menyebalkan. Kenapa Luhan harus ada latihan mendadak sih? Kami tak bisa pulang bersama. Ditambah lagi kakiku yang sedang sakit karena terkilir sewaktu latihan dance tadi. Kalau ada Luhan aku bisa minta digendong, lagipula aku malas berjalan.

“Agasshi, kau mau ikut pulang bersamaku? Aku akan mengantarmu” tiba tiba saja seorang namja yang entah datangnya darimana datang menghampiriku. “Aniyo, aku akan pulang sendiri” aku pun berjalan meninggalkan mobil itu.

“Agasshi, ayolah ikut bersamaku” Mobil itu terus saja mengikutiku. Aku mempercepat langkahku, apa mungkin orang ini penculik? Tapi sepertinya ia masih anak sekolah. Tak mungkin ia akan menculikku. Lalu kenapa dia memaksaku ikut dengannya?

“Agasshi, Percayalah Padaku” mobil namja itu terus saja mengikutiku. “Yak!” Aku berteriak ke arah namja tadi yang ternyata sukses membuat namja itu terlihat kaget setengah mati. “Kau tidak dengar? Aku tak ingin Ikut!” Aku membentak namja itu, aku terlanjur kesal karena terus menerus dipaksa

“Kau tak mengenaliku?” Tanya namja itu. “Mwo? Mengenalmu? Kita bahkan belum pernah bertemu sama sek—“ Aku menggantungkan kalimatku. Tunggu, wajahnya seperti tak asing bagiku. “Aku pernah melihatmu di—“

“Di lapangan. Kita pernah bertemu dilapangan saat sekolahku melawan sekolahmu”

“Lapangan?” Tanyaku, aku masih belum mengingatnya dengan jelas. “Ahh. Ya Aku ingat, kau Kai kan?”

“Akhirnya kau mengenaliku juga” ucapnya terlihat lega. “Mianhae, aku tak bermaksud membentakmu tadi, hanya terbawa emosi”

Gwaenchana, sekarang kau masih mau menolak ajakanku?”

“Aniyo, aku akan ikut denganmu” Aku pun memasuki mobilnya. Sepanjang perjalanan kami selalu mempunyai topik pembicaraan dan tak ku sangka ternyata ia mahir dalam bidang dance. Sama seperti Luhan bukan? Selain itu ia juga aktif di basket dan sepak bola. Sangat persis dengan Luhan. Dan aku yakin ia juga namja terpopuler disekolahnya. Dan sekali lagi, itu sama seperti Luhan

“apa itu rumahmu?” Tanyanya begitu kami telah sampai didepan rumahku ah lebih tepatnya panti asuhan yang selama ini menjadi tempat tinggalku. “itu panti asuhan yang menjadi tempat tinggalku selama ini. kau mau masuk dulu?”

“eh? Mianhae, aku tak bermaksud untuk—“ belum selesai kai berkata aku memotongnya “Gwaenchana. Aku tau itu”

“ Sekali lagi aku minta maaf. Ah ye, nomor ponselmu yang tadi sudah aku simpan. Nanti  akan ku hubungi. Aku jalan dulu ya”

“Ne, Hati Hati”

+++

Pagi Ini Luhan tak mengantarku ke sekolah. Katanya dia sedang sakit, Jadi aku berangkat sekolah berjalan kaki. Aneh, padahal kemarin ia terlihat baik baik saja. Pasti karena kegiatannya yang padat. Padahal aku sudah berulang kali mengingatkannya tapi telinganya telinga baja. Tak mendengarku sama sekali

Tiiinnn.. Tiiinnn..

“Agasshi, kita bertemu lagi” ucap seorang namja ah tidak lebih tepatnya kai dari dalam mobil. “Kau panggil saja aku Yoona”

“Keure, kau mau ikut?” tawarnya. Kalau aku ikut dengannya pasti akan beredar gosip yang tidak tidak. “Aniyo, arah sekolah kita kan berbeda” Tolakku. “Aku akan mengantarmu”

“Aku bisa sendiri kai-ah” Dia keluar dari mobil dan menyeretku masuk ke dalam mobilnya. “Kau tak bisa menolak ajakanku” ucapnya.

“Kau keras kepala”

“Kau baru tau?” ucapnya memasuki mobil dan bersiap untuk menjalankannya. Saat perjalanan, tak ada satupun dari kami yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Ia terlalu fokus menyetir dan aku terlalu sibuk memikirkan kejadian tadi pagi

FLASHBACK

Saat aku sedang menikmati sarapanku tiba tiba saja Ah Ra ahjumma mendekatiku. “Yoong, ahjumma ingin berbicara padamu. Bisakah kau mendengarkannya?” Tanya Ah Ra ahjumma. “Tentu saja ahjumma”

“Begini, kau tau dulu kau ditemukan di rumah sakit? Sepertinya kau terpisah dari kedua orng tuamu dan—“

“dan apa ahjumma?” Tanyaku penasaran “Orang tuamu telah menemukanmu”

“uhuk uhuk” sontak aku tersedak. Begitu kaget dengan ucapan Ah Ra Ahjumma “apa ahjumma serius? Ahjumma tidak bohongkan? Aku akan mempunyai orang tua?”

“emm. Sebentar lagi kau akan meninggalkan panti asuhan ini” dengan segera aku memeluk Ahjumma, aku sangat bahagia sekarang. Sosok yang selama ini aku dambakan akhirnya datang juga “Ahjumma aku takkan pernah melupakanmu. Ahjumma sudah seperti ibu kandungku sendiri dan panti asuhan ini adalah tempat dimana aku dibesarkan sampai saat ini. Aku juga takkan melupakan tempat yang sangat berarti ini”

“Ahjumma juga berharap kau tak melupakan Ahjumma dan semua kenanganmu dipanti asuhan ini”

Aku semakin mengeratkan pelukanku. “Takkan pernah ahjumma”

“Ah ye, Ahjumma baru mendapatkan informasi. Kau memiliki saudara kembar”

“Mwo? Saudara kembar?” ucapku melepaskan pelukanku “ne, kau pasti sangat senang”

“Aku memiliki saudara kembar? Yeeeeeeeeeaayyy” aku berdiri dari tempat dudukku dan loncat loncat tak jelas, aku begitu senang hari ini

FLASHBACK END

“Yoong?” ucap Kai memegang bahuku. “eh?”

“kau sudah sampai”

“eh? Kalau begitu aku keluar dulu. Terima kasih tumpangannya” Aku keluar dari mobil kai dan masuk menuju sekolahku, seperti yang ku duga semua orang disini membicarakan siapa orang yang mengantarku tadi. tapi entah kenapa aku tak mempedulikan mereka, dipikiranku terus saja berputar kata ‘kembar’. Ya, kembar. Saudara kembar, ternyata selama ini aku punya saudara kembar. Seperti apa rupanya? Apakah sama persis sepertiku atau mungkin berbeda? Sepertinya aku harus memberitahu ini pada Luhan.

Aku pun menghubunginya.

Panggilan anda tidak terjawab—

Kenapa dia tak mengangkat teleponnya? Apa dia sedang tidur? Aku kira lebih baik mengiriminya pesan saja.

To : Xi Luhan

Luhan-ah, apa kau masih sakit? Apa perlu aku merawatmu agar kau cepat sembuh? Haha. Ah ya, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Akhirnya aku bisa berkumpul lagi bersama keluargaku dan Tebak, Ternyata selama ini aku mempunyai kembaran! Bisa kau bayangkan betapa bahagianya aku? Akhirnya hal yang selama ini aku harapkan terjadi juga. Aku hanya ingin mengatakan itu. Lanjutkan istirahatmu, cepat sembuh ya . Saranghae

+++

LUHAN POV

Yoona. Dia mengirimiku pesan. Saudara kembar? Kau sangat bahagia mendengar hal itu? Tapi sayangnya aku tidak. Sama sekali tidak, aku benci hal ini sangat sangat membenci ini!

“Bogishipeo-yo Yoong” Gumamku. Aku merindukannya, merindukan sosok orang yang selalu tersenyum kapan saja,tak peduli seburuk apapun keadaan. Tapi aku tak bisa menemuimu, aku tak bisa dan aku tak mau. Aku pikir berada di Jepang lebih baik. Jauh darimu dan menghindari kenyataan yang ada lebih baik. Aku yakin itu

AUTHOR POV

Yoona masih setia menatap layar ponselnya ,  Buku yang daritadi ia pegang tak dibaca sama sekali. Pesan yang daritadi ia tunggu tak kunjung datang. Luhan tak membalas pesannya. Apa Luhan benar benar sakit hingga tak sempat membalas pesan Yoona?

“Yoong, kemarilah. Ahjumma punya kabar baik untukmu”

“Ne Ahjumma” Yoona pergi menuju Ah Ra Ahjumma. “Ada apa Ahjumma?” Tanya yoona begitu sampai dihadapan Ah Ra Ahjumma.

“Kau akan pergi ke rumah orang tuamu besok”

“Mwo? Jeongmalyo?” Yoona terlihat kaget, dalam waktu kurang dari 24 jam ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya?

“Annyeong Hasaeyo” tiba tiba saja wanita paruh baya berada dihadapan Yoona. “Ini  ibumu Yoong” ucap Ah Ra ahjumma. Mendengar hal itu Yoona segera mendekati ibunya dan memeluknya erat. “Akhirnya aku bisa menemukanmu” ucap eomma Yoona. “Ah ya, kau pasti telah tau tentang kembaranmu?”

“Ne, kenapa dia tak ikut ke sini?” Tanya Yoona. “Dia melanjutkan study nya diluar negeri” Raut kecewa muncul diwajah Yoona. Padahal ia ingin sekali melihat seperti apa kembarannya. “Jangan sedih, mungkin setelah ia lulus ia akan pulang”

“Ne eomma” ucap Yoona. “Kalau begitu eomma pulang dulu, eomma harus mempersiapkan sesuatu bukan untuk menyambut kedatanganmu besok?”

“Tidak usah berlebihan eomma”

“Gwaencahana, hal itu tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan kesalahanku yang tak bisa berada disampingmu selama ini” eomma Yoona memeluk Yoona erat dan kemudian pergi menghilang dari hadapan Yoona. “hhh padahal aku ingin sekali melihatnya. Bagaimana rupanya? Bagimana sikapnya? Tapi aku akan menunggu, aku akan menunggunya”

“Keure, lagipula kalian sebentar lagi lulus, kau takkan lama menunggunya” ucap Ah Ra ahjumma. “Ahjumma ke dapur dulu ya”

“Ne” jawab Yoona. Tiba tiba pikiran Yoona melayang pada Luhan. Ia pikir Luhan harus merasakan kebahagiaan yang ia rasakan sekarang. “Semoga ia mengangkatnya” gumam Yoona saat menghubungi Luhan.

“Yoboseyo” ucap Luhan dari sebrang sana. “Luhan-ah! akhirnya kau mengangkatnya juga”

“Apa yang ingin kau katakan?” tutur Luhan dengan nada datar. “eh? Ada apa denganmu?” ucap Yoona dengan nada yang melemah, entah kenapa perasaannya tak enak sekarang. “Aku bilang apa yang ingin kau katakan? Aku tak mempunyai banyak waktu untukmu, jadi katakan dengan cepat”

“L-luhan-ah” suara Yoona tercekat. Air mata meluncur dari matanya. “Apa kau tak mendengarnya? Aku sibuk! Jadi katakan sekarang atau akan ku tutup teleponnya!” Bentak Luhan. Air mata Yoona semakin mengalir deras, Luhan tak pernah membentaknya seperti ini bahkan sekalipun ia membuat kesalahan yang fatal. “Hiks—hiks apa yang terjadi denganmu hiks”

“Apa kau hanya bisa menangis hah? Dasar cengeng. Baiklah, kalau begitu aku akan mengatakan sesuatu padamu. Kita putus”

JLEB

Putus? Luhan memutuskan Yoona dengan mudahnya? Tak ada sedikitpun penyesalan dalam nada bicaranya. Apa ia benar benar serius? “Lu-luhan, kau hiks kau tidak seriuskan? Katakan padaku kau tidak benar benar serius!”

“Apa telingamu bermasalah? Akan ku ulangi. Kita putus! Jelas?” Tubuh yoona terjatuh ke lantai. Ia benar benar tak kuasa menghadapi ini semua. Yoona bisa kehilangan semua hal berharga dalam hidupnya tapi  tidak dengan Luhan. Luhan lebih berharga dari apapun bahkan dirinya sendiri. Selama ini orang yang menemaninya menghadapi semua masalah adalah Luhan. Jika ia pergi siapa yang akan menggantikannya?

“K-keundae wae?” Tanya yoona masih dengan suara tercekat. “diluar sana banyak yeoja yang lebih cantik darimu, bagaimana bisa aku melepaskan mereka hanya untuk yeoja cengeng sepertimu? Lagipula kau hanyalah seorang yeoja dari panti asuhan”

“T-tapi apa arti semua hal yang telah kita lakukan? Semudah itukah kau hiks—“ Yoona tak bisa melanjutkan perkataannya, ia tak bisa menahan air mata yang terus mendesak keluar. “yang telah kita lakukan? Just Nothing. Semuanya tak berarti sama sekali, lagipula ini yang terbaik, kau harus bersyukur aku memberitahumu lebih awal,jika aku memberitahumu nanti aku yakin kau akan jatuh lebih dalam” Jawab Luhan dengan entengnya. Yoona menggelengkan kepalanya. “Ani, ini tidak mungkin. Aku hanya mimpi burukkan? Ya, aku yakin ini semua hanyalah mimpi”

“Apa kau bodoh? Orang gila pun tau kalau ini bukanlah mimpi” ucap Luhan dengan ketus. “Kau bohong, aku tau kau membohongiku. Kau membohongiku Xi Luhaaaaaaannnn!” Yoona melempar ponselnya, Ia memeluk kakinya dan menenggelamkan wajahnya dalam. “Hiks— Hiks semua nya berakhir. Janji yang dulu kita ucapkan hanyalah sebuah omong kosong”

FLASHBACK

“Kau mau membuat janji Yoong?”

“eh?”

“Begini” Luhan menautkan kelingking Yoona di jari kelingkingnya. “Dengarkan aku. Kau adalah anugerah terindah yang pernah tuhan berikan dalam kehidupanku. Tuhan memberikanmu untukku agar kau bisa menemaniku menjalani hari yang buruk. Tuhan memberikanmu untukku agar aku bisa bangkit dari keterpurukanku. Aku tak peduli seburuk apapun hidupku asalkan kau ada disampingku, Menggenggam tanganku dan melewati semuanya bersamaku maka semuanya akan baik baik saja. Jadi berjanjilah kau takkan pernah meninggalkanku”

Tes

Air mata Yoona jatuh. “wae yoong?” Tangan luhan langsung tergerak menghapus air matanya. Tak lama kemudian Yoona memegang tangan Luhan dan tersenyum “Never, I’ll never leave you alone” Luhan menarik yoona ke dalam pelukannya. “Gomawo Yoong”

“Kau telah terjebak dalam cintaku. Jadi aku tak akan pernah mengizinkanmu pergi” ucap Yoona

“Aku takkan pergi, takkan pernah”

FLASHBACK END

“Hiks— It’s over. You’re Gone”

Tiba tiba saja seseorang memeluk Yoona dari belakang. “Uljima~” gumamnya. “Kai?”

“Aku disini Yoong” dengan cepat Yoona membalikkan tubuhnya dan memeluk kai. “dia meninggalkanku kai, dia meninggalkanku”

Kai menepuk nepuk punggung Yoona berusaha menenangkannya. “Aku tahu” ucap kai pelan. “dia mengingkari janjinya. Kenapa?!!”

“Tenanglah Yoong” Kai mengeratkan pelukannya. Ia tau Yoona benar benar terpuruk sekarang. “Hiks— dia benar benar jahat”

+++

“Mianhae Yoong, Mianhae” ucap Luhan. Luhan tak benar benar ingin putus dari yoona –yeoja yang paling berarti setelah ibunya-  Tapi apa yang bisa ia lakukan jika ternyata Yoona adalah kembarannya yang selama ini hilang?! Mereka berdua lahir dari rahim yang sama dan hubungan mereka tak bisa dilanjutkan

“Kau berpikir aku kejam? Aku juga berpikir begitu. Tapi apa kau tau betapa sakitnya aku saat mengucapkan kata kata itu padamu?” ucap Luhan masih memandangi foto Yoona diponselnya.

“Ya Tuhan, satu hal yang aku mohon darimu adalah menjaganya saat aku tak disampingnya. Melindunginya saat aku terlalu jauh dan menghapus air matanya saat aku tak bisa melakukannya” Tiba tiba saja ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk, Ia pun membacanya

From : Kai

Ia tertidur sekarang. Sepertinya ia lelah terus menerus menangis

Luhan tersenyum membacanya. “Kau harus menjaganya kai. Dibalik sikap tegarnya ia adalah yeoja yang sangat rapuh”

+++

4 Tahun berlalu. Mereka sekarang sudah duduk dibangku kuliah. Yoona dan kai semakin memperlihatkan kedekatan mereka bahkan 1 minggu lagi mereka akan melangsungkan pertunangan. Tapi semua orang tak tau jika Yoona belum bisa menghilangkan rasa cintanya pada Luhan. Sampai sekarang Luhan masih tetap menempati hatinya dan belum ada yang bisa menggantikannya

“Yoong, apakah kau senang?” Tanya kai sembari memegang tangan Yoona. Yoona menoleh pada kai “emm. Aku senang” yoona menganggukkan pelan kepalanya. “Mianhae kai” batin Yoona

1 minggu berlalu. Sekarang tibalah saatnya dimana Kai dan Yoona saling bertukar cincin untuk menyatukan mereka walaupun hanya dalam bentuk pertunangan.

Saat Kai dan Yoona bertukar cincin dari kejauhan terlihat seorang namja dengan setelan jas nya tersenyum melihat kejadian didepannya. “Kau bisa melupakanku yoong? Good Job. Kau melakukannya dengan sangat baik” gumamnya.

“Sekarang adalah terakhir kalinya aku melihatmu. Kita mungkin takkan pernah bertemu lagi. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di Jepang. Aku bersyukur eomma tidak memaksaku untuk memperkenalkan diriku dihadapanmu” Perlahan Luhan membalikkan badannya dan melangkah pergi.

You’re not my destiny but I don’t know why You still on top In My Heart

–       Xi Luhan –

END

Akhirnya beres juga *cuci tangan* nahlo ko cuci tangan? Haha. Sebenernya aku mau ceritain keadaan Luhan pas ngatain kata putus ke Yoona di telepon. Tapi aku pusing akhirnya ga aku masukkin deh hehe. Oke readers, aku harap kalian semua suka dengan karyaku yang abal abal ini. Adakah yang mau minta sequel? Tentang kehidupan kai dan Yoona misalnya atau kehidupan Luhan dijepang sama yeoja lain? Dengan senang hati (?) aku bakal buatin. Remember! Be siders is not nice so leave a comment please

21 thoughts on “[Freelance] Just Nothing

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s