[Freelance] How Can I

how-can-i-

[OneShoot] How Can I

How Can I

How Can I still wait and love you for a long time?”

By

Hwang Seora

CAST: EXO’s Suho & SNSD’s Tiffany || GENRE: Romance || LENGTH: Oneshot || RATING: PG-15 || DISCLAIMER: this story pure of my imagination. Don’t try to copy without my permit! Please leave your comment. Wanna read other fanfic of me? Let’s visit http://hwangseora.wordpress.com happy reading^^

.

.

.

How Can I

Tiffany melangkahkan kakinya tak tentu arah. Ia tak tahu harus pergi kemana lagi. Dunia yang ia pandang kini terasa jauh berbeda, tak seindah dulu. Dunia di matanya sekarang berubah menjadi sangat kejam, menjadi tak adil. Terlebih padanya.

Tatapan mata yeoja itu kosong, memandang jalan gelap yang ia lewati sendirian. Sesekali tetesan air mata bergulir turun mengaliri pipinya. Langkahnya begitu lemas, setengah menyeret tubuh mungilnya.

Tiffany tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.

Ia kehilangan arah dan tujuan. Ia kehilangan orang-orang yang ia percaya. Ia kehilangan cinta yang ia miliki. Ia kehilangan semuanya..

Satu-satunya harapan hidupnya justru menghancurkan segalanya.

Bodohnya ia telah menggantungkan seluruh hidupnya pada seorang namja. Bahkan namja itu lebih muda darinya. Mengapa ia begitu mempercayai seorang bocah? Mengapa baru sekarang ia menyadari kebodohannya?

Betapa ia sangat menyesal. Jika harus berakhir seperti ini, lebih baik ia tak harus lahir di dunia ini. Begitu banyak penderitaan yang ia alami. Semua orang meninggalkannya. Bahkan orang yang sangat ia percayai, mengkhianatinya. Lalu siapa lagi yang ia miliki di dunia ini?

“Argh,” erang Tiffany pelan ketika pergelangan tangannya menyentuh tas yang ia bawa.

Ini juga kebodohannya. Mencoba mengakhiri hidup dengan menyayat nadinya berkali-kali, namun gagal. Ia hanya kehilangan banyak darah, namun nyawanya masih saja tetap berada di dalam tubuhnya.

Tapi rasa sakit yang amat sangat bukan berasal dari tangannya. Melainkan hatinya. Dadanya sesak. Jika saja sejak awal ia tahu akan berakhir seperti ini, lebih baik seumur hidupnya ia tak perlu mengenalnya sama sekali. Apalagi sampai menjalin hubungan dengannya.

Pikiran itu terus terbayang di kepalanya. Membuatnya tak fokus dan..

Bruk!

Tanpa sengaja Tiffany menabrak seseorang. Yeoja itu cepat-cepat menghapus air matanya kemudian mendongakkan kepalanya. Ia mendapati seorang namja berdiri dihadapannya dan menatapnya lekat.

“Tiffany Sunbae!?”

Mendengar kalimat itu, Tiffany memandang namja dihadapannya heran, “Mianhae, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Bisa Tiffany lihat namja itu berdehem pelan, kemudian mengusap tengkuknya. “Eo~ jeogiyo. Maafkan aku sunbae. Dulu aku satu kampus denganmu, aku hoobaemu dan mungkin kau tak mengenalku. Naneun Luhan imnida,” namja itu menundukkan sedikit kepalanya, lalu tersenyum.

Tiffany pun ikut tersenyum, “Bagaimana bisa kau tahu namaku?”

Luhan tertawa kecil, tawa gugup. “Kau itu kan populer noona. Lagipula aku dulu menyukaimu, sampai mengetahui segala hal tentangmu,”

Tiffany menganggukkan kepalanya, mengerti. Ia baru saja ingin pamit pada Luhan karena ingin cepat-cepat pergi. Tapi getaran lama pada i-Phone-nya mengurungkan niatnya untuk berbicara. Ia merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan i-Phone miliknya. Ada telepon masuk. Ia membaca nama yang berada di layar. Seketika nafasnya tercekat.

Kim Joon Myun

Tanpa pikir panjang yeoja itu mereject panggilan masuk dari Suho, kemudian meng-non aktifkan i-Phonenya. Dimasukkannya i-Phone itu kedalam tas. Nafas Tiffany terlihat naik turun tak beraturan. Air matanya mulai merebak keluar. Sakit, hatinya sangat sakit.

Noona? Ada apa?” tanya Luhan bingung, tapi Tiffany tak menjawab pertanyaan itu. Yeoja itu tetap diam, matanya tak berkedip. Pandangannya kosong namun air matanya tak berhenti mengalir sama sekali, malah semakin deras mengalir. Bahunya mulai berguncang. “No-noona?” Luhan yang melihatnya mulai panik. Ia berusaha menenangkan yeoja itu, tapi Tiffany malah terisak semakin keras. “Tiffany noona~

Tiba-tiba saja dua buah lengan melingkari tubuh Tiffany.

Luhan memeluk Tiffany. Kemudian namja itu mengelus rambut Tiffany dengan pelan, “Kau ada masalah? Biarkan aku membawamu ke suatu tempat yang bisa membuatmu tenang,”

Dan Tiffany pun mengangguk dalam pelukan Luhan.

* * *

“Duduklah,” perintah Luhan seraya menunjuk sebuah sofa yang berada di pojok ruangan. Tanpa banya bertanya Tiffany pun duduk di sofa itu, sedang Luhan berjalan di belakangnya, mengekor.

Tiffany duduk, kemudian menatap sekeliling.

Tempat ini terasa begitu asing untuk Tiffany. Ia tahu pasti tempat adalah tempat yang selalu ia hindari. Tapi ia sudah tak peduli lagi.

Begitu banyak orang yang sedang mabuk, pasangan kekasih yang berbuat tak senonoh. Dan masih banyak lagi. ia mengalihkan padangannya kepada Luhan ketika ia mulai merinding melihat pemandangan tempat ini.

“Apa yang kau bawa?” tanya Tiffany heran ketika Luhan menuangkan sesuatu dari botol kedalam gelas kaca. Tiffany menatap cairan itu lekat-lekat. Warna merah keunguan dengan bau yang sangat menyengat.

Luhan menyodorkan gelas kaca yang sudah terisi itu pada Tiffany, “Minumlah, noona.” Tiffany mengambil gelas itu dengan ragu-ragu, ia menatap Luhan takut. Tatapan matanya seolah mengatakan apa kau yakin?. Luhan tersenyum miring, “Ini akan membuatmu melupakan segala masalahmu,”

* * *

Luhan menatap Tiffany yang sudah menutupkan setengah matanya, pipi yeoja itu sangat merah. Ia mabuk. “Luhan-ah~ aku mau lagi,” Tiffany menyodorkan gelas kacanya yang kosong. Kepala yeoja itu tertunduk. Bau alkohol tercium begitu menyengat.

“Kau sudah menghabiskan 2 botol itu sendirian, noona. Kurasa cukup. Kau kelihatannya mabuk berat,” Luhan yang duduk dihadapan Tiffany, memindahkan posisi duduknya. Ia kini duduk disamping Tiffany, “Ayo kita pulang.”

Tiffany menggelengkan kepalanya, “Aku tak punya rumah lagi kini,”

“Kalau begitu kita ke apartement ku,” Luhan merangkul Tiffany, hendak mengajak yeoja itu berdiri agar segera pulang. Tapi Tiffany malah menepis tangan Luhan dengan kasar. Ia menatap Luhan dengan matanya yang sayu.

“Aku masih ingin disini. Aku masih ingin minum. Aku.. ingin melupakan masalahku seperti apa yang kau janjikan padaku,” ucap Tiffany, yeoja itu mulai terisak dalam keadaannya yang mabuk.

Luhan tersenyum, senyumnya terlihat aneh. “Biarkan aku membuatmu melupakan masalahmu tanpa menggunakan alkohol-alkohol itu, noona,” ia mulai merapatkan tubuhnya pada tubuh Tiffany. Luhan merangkul Tiffany lagi, kali ini lebih erat. Namja itu menghirup wangi tubuh Tiffany.

“Nghh, apa yang kau lakukan?” Tiffany mendorong Luhan. Namun keadaannya yang mabuk sulit untuk menolak tenaga seorang namja.

Luhan tetap diam, mengabaikan pertanyaan Tiffany. Ia menyingkirkan rambut Tiffany yang menutupi hampir seluruh bahu yeoja itu, kemudian mulai mencium leher Tiffany.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Tiffany mendorong bahu Luhan, tapi tampaknya namja itu tak begitu peduli pada reaksi Tiffany. “Luhan-ah!”

“Diamlah,” ucap Luhan singkat. Bibir namja itu menelusuri leher Tiffany, kemudian berpindah ke wajah yeoja itu. Dahi, mata, hidung, pipi. “Akan kubuat kau melupakan masalahmu, noona.”

“Kau—” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Luhan mengunci mulutnya dengan bibir namja itu. Awalnya hanya ciuman biasa, namun lama kelamaan ciuman itu menjadi kasar. Luhan menggigit bibir bawah Tiffany. “Itu sa— kit,” ucap Tiffany terputus. Rasanya sulit sekali berbicara karena Luhan begitu memonopoli mulutnya. “Le.. paskan.” Pinta Tiffany, tapi Luhan mengacuhkannya.

“Ya! Pabo!” Tiffany memukul kepala Luhan. Akhirnya Luhan melepaskan ciumannya. Ia menatap Tiffany. Tanpa banyak bicara, ia membuka kancing jaket yeoja itu. “Yaa! Neo micheosseo?! Lepaskan aku!”

Luhan melepas jaket Tiffany dengan kasar. Ia mulai meraba tubuh Tiffany. “Aku tak mau!” lagi-lagi Luhan tak menanggapi perkataan Tiffany. Ia sibuk dengan apa yang ia lakukan. “Ju-juseyo! Juseyo!” Tiffany mulai berteriak meminta tolong. Namun justru orang-orang yang berada dilingkungan ini menatapnya aneh, bahkan sepertinya ada yang mencibirnya, entar karena apa.

Juseyo!” teriaknya, tapi orang sekitar tetap mengacuhkan teriakkannya. “Ju—” tangan Luhan membekap mulut Tiffany. Namja itu semakin liar, sedangkan Tiffany tak tahu harus berbuat apa lagi. Suho-ya, tolong.. Aku takut. Tolong…

“Ya!!”

Bugh!

Luhan tiba-tiba saja jatuh terpelanting ke bawah. Tiffany tampak terkejut, ia tak dapat mencerna apa yang telah terjadi. Semua terasa begitu cepat erjadi. Yeoja itu hanya menaikkan kakinya keatas sofa, kemudian memeluk lututnya. Tubuh Tiffany bergetar. Ia menatap takut kearah Luhan. Ini semua sangat menakutkan baginya.

“Tiffany-ah..”

Belum sempat Tiffany melihat siapa yang memanggilnya, dua buah lengan merengkuhnya kedalam pelukan. Pelukan erat yang begitu hangat. “Tiffany,” panggilan itu menyadarkan Tiffany dari kekosongan yang mengisi pikirannya. Yeoja itu menghirup tubuh namja yang tengah memeluknya itu.

“Kau.. baik baik saja kan?”

Suara lembut namja itu semakin membaut Tiffany kembali ke alam sadarnya. Wangi tubuh itu. Suara itu..

“S-suho-ya..”

Detik itu juga tangis Tiffany pecah. Ingin rasanya ia balas memeluk namja itu, namun hatinya menolak untuk melakukannya. Terlalu sakit untuk mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Namja itu telah menghancurkan kepercayaannya yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Namja itu yang merusak segalanya.

“Fany-ah, jangan menangis. Aku—”

Dengan cepat, Tiffany melepaskan pelukan itu, mendorong bahu Suho agar namja itu menjauh darinya. Ia sudah akan menampar pipi namja itu, namun gerakannya terhenti ketika melihat wajah Suho. Wajah itu.. tampak begitu sedih dan terluka. “K-kau…” belum sempat Tiffany menyelesaikan kalimatnya, ia kembali terisak dengan keras.

“Fany-ah, kumohon. Jangan menangis, aku tak sanggup melihatmu seperti ini,” Suho kembali memeluk Tiffany. Ia mengusap punggung yeoja itu. Terasa sekali tubuh mungil dalam pelukannya itu berguncang, menahan isakan yang berusaha menerobos keluar.

Tiffany menghirup nafas sepanjang yang ia mampu, dan tanpa diminta, Tiffany bercerita. “B-bagaimana bisa kau tega meninggalkanku, Suho-ya?! Kau tahu aku begitu mempercayaimu. Kau tahu aku begitu menyayangimu. Kau sangat tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu. Tapi apa yang kau lakukan!? Kau membuat kepercayaan yang kubuat untukmu runtuh begitu saja. Kau membiarkan rasa benciku padamu menguasai hatiku. Kau kejam, Suho-ya. Kau kejam.. aku—”

Tiba-tiba saja Suho menutup mulut Tiffany menggunakan bibirnya, memotong kata-kata yang hendak Tiffany ucapkan. Suho mencium Tiffany pelan dan cepat, kemudian mengurainya kembali. Namja itu kemudian memeluk Tiffany erat.

“Tidak, kau salah paham.. apa yang kau lihat semuanya salah, Fany-ah,”

Tapi Tiffany tidak percaya begitu saja. Yeoja itu menggeleng di dalam pelukan Suho, kemudian kembali terisak, “Lalu apa maksudnya? Apa maksudmu berciuman dengan Yoona? Kau kira aku bodoh? Aku tahu kau tidak menolaknya,” kini Tiffany berusaha melepaskan pelukan Suho, namun namja itu tetap mendekap tubuh Tiffany erat, seolah tak mau melepaskan yeoja itu.

“Kumohon percayalah padaku. Ia memang menyukaiku, ia memang menciumku. Tapi kau tak tahu yang sebenarnya. Dia—”

“Cukup! Aku tak mau mendengar menjelasanmu lagi.” dengan kasar, Tiffany mendorong bahu Suho keras, dan dengan langkahnya yang sempoyongan, ia berlari meninggalkan Suho yang masih duduk di sofa yang semula ia tempati.

Yeoja itu dengan cepat berjalan keluar dari tempat tadi, berjalan diluar tak tentu arah.

Tiffany tak peduli lagi pada suara Suho yang meneriakkan namanya dengan keras. Ia tak peduli lagi berapa banyak orang yang tak sengaja ia tabrak. Ia hanya ingin tempat sepi, dimana ia bisa sendirian, tanpa gangguan orang lain. Sakit, hatinya sangat sakit..

Bruk!

Lagi-lagi Tiffany menabrak orang. Ia menundukkan kepalanya, hendak kembali melangkah pergi. Namun seseorang yang tertabrak Tiffany tadi menahan yeoja itu. Refleks, Tiffany mengalihkan pandangannya, menatap sang pemilik tangan  yang kini tengah menahan pergelangan tangannya.

Seketika mata Tiffany membulat, “Yoona-ya?”

Eonni,” Yoona tersenyum tipis, ia lalu melepaskan pegangannya pada Tiffany. “Aku ingin berbicara padamu,”

Yoona. Yeoja itu yang telah merebut Suho darimu, bukan begitu, Tiffany? “Tidak, aku tak mau lagi berbicara denganmu. Sekarang terserah kau. Ingin memiliki Suho? Baiklah, kau— oh bahkan kau sudah memilikinya kan sekarang?”

Eonni-ya..”

“Atau kau ingin meledekku bahwa aku adalah seorang payah yang menjadi pecundang, tak bisa melakukan apa-apa? Bukan kah begitu?”

“Tiffany eonni,”

“Oh, kau juga—”

“Sudah cukup, Fany-ah.” Lagi-lagi, dengan tiba-tiba, Suho telah berdiri dibelakang Tiffany, kemudian memeluk pinggang yeoja itu dari belakang. Kepala namja itu ia senderkan di bahu Tiffany. “Kau harus mendengarkan semuanya. Dan kuminta kau diam, hanya untuk beberapa saat. Setelah itu nantinya terserah padamu dan aku tak akan memaksa,”

Hening. Namun Yoona cepat-cepat membuka suara. “Maafkan aku, eonni. Aku memang mencium Suho oppa,”

Tiffany memejamkan matanya erat, berusaha menatur nafasnya yang tak beraturan. Mencoba mengurangi suara debaran jantungnya yang begitu keras sampai-sampai ia takut jika Suho yang sedang memeluknya, mendengar suara detak jantungnya.

“Itu memang bukan ciuman biasa,” sambung Yoona lagi. Mendengar itu, ingin rasanya Tiffany berteriak keras-keras. Meluapkan segala kekecewaannya dan kesedihannya. “Melainkan ciuman—”

“Kakak dan adik,” sambung suara dari belakang Tiffany, Suho.

Mworago?” Tiffany langsung melepaskan pelukan Suho. Ia menatap Yoona dan Suho bergantian. “Kalian..”

“Kami kakak beradik,” ucap Yoona santai seraya mengedikkan bahunya. “Kau tahu eonni,” Yoona menunjuk Suho dengan jarinya yang lentik. “Dia begitu mencintaimu dan tak mungkin sampai mengkhianatimu. Dan kau tahu? Feelingnya yang mengatakan kau sedang berada di tempat yang berbahaya benar sekali bukan? Buktinya ia menemukanmu di tempat terpencil seperti itu,” kemudian Yoona tertawa pelan.

Tapi Tiffany masih bungkam dan tak mau berbicara. Wajahnya tertunduk kebawah, menatap jalanan yang tampak begitu keras.

“Baiklah, aku hanya akan mengatakan itu padamu. Maafkan aku jika sudah membuatmu khawatir, eonni-ya. Bye!” ucap Yoona seraya melangkah pergi. Meninggalkan Suho dan Tiffany yang masih dalam keheningan.

“Emm,” Suho mengusap tengkuknya, gugup. “Bisa kau ikut aku sebentar?”

Tiffany terdiam sebentar, dan dengan gerakan samar, ia menganggukkan kepalanya. Membiarkan Suho mengenggam dam menarik tangannya. Menatap lekat punggung Suho yang berjalan di depannya sambil menggenggam tangannya. Merasakan hangatnya sentuhan Suho yang mengaliri tubuhnya.

“Kurasa disini bisa,” gumam Suho seraya melangkahkan kakinya memasuki kawasan taman perumahan yang tampak kosong. Jelas saja sepi, sebab suhu udara yang menusuk ditambah lagi dengan keadaan yang sudah malam, orang-orang tidak akan mau kesini.

“Apa yang akan kita lakukan disini Suho-ya?” tanyaku heran. Meskipun begitu Tiffany tetap mengikuti langkahnya untuk duduk di satu-satunya bangku yang ada di taman itu. Suho mendorong bahu yeoja itu agar duduk di bangku itu.

“Pejamkan matamu, Fany.”

Perintah singkat itu Tiffany laksanakan dengan segera. Menunggu apa yang akan diberikan namja itu nantinya. Hatinya berdebar keras membayangkan apa yang akan dilakukan Suho padanya.

Tapi aneh, meskipun sudah lama memejamkan mata, suara Suho sama sekali tak terdengar, bahkan suara orang bergerak pun tak ada. “Suho-ya? Kau masih disini kan?” tanya Tiffany memastikan. Tapi hening, tak ada jawaban. “Suho-ya!” panggil yeoja itu dengan nada khawatir setengah berteriak. “Kau masih berada disini kan?” tanyanya sekali lagi, tapi tak ada sahutan. Akhirnya dengan terpaksa ia membuka mata.

Seketika mata Tiffany melebar melihat apa yang ada dihadapannya.

O-omo..” gumam Tiffany kaget seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika ia menemukan begitu banyak tangkai bunga mawar yang mengelilingi bangku yang sedang ia duduki. Tepat di hadapannya terdapat sebuah foto berbingkai. Dimana foto itu adalah foto Tiffany dengan Suho tengah berpelukan. “Suho-ya..”

Baru saja menyebut namanya dengan suara lirih, seseorang memeluk leher Tiffany dari belakang, “Memanggilku, sweety?” tanyanya seraya mencium pipi Tiffany.

Segera saja yeoja itu mengurai pelukannya agar bisa berjalan mengitari bangku taman dan berdiri dihadapan Suho. “Kapan kau mempersiapkan ini semua? Bagaimana bisa ada begitu banyak bunga di sini dalam waktu yang singkat? Lalu bagaimana dengan foto itu? Bukankah—”

“Sstt, diamlah.” Suho meletakkan jari telunjuknya di bibir Tiffany, menyuruh yeoja itu untuk tak bersuara.  Dan, dengan perlahan, Suho berlutut di hadapannya, kemudian meraih tangan yeoja itu untuk digenggamnya. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah marun, kemudian membukanya. Disana terdapat sebuah cincin bersematkan batu permata. “Would you marry me? Don’t say no. Because i just accept ‘yes’ from you,”

Ucapannya itu membuat Tiffany  tersenyum geli. Ia menganggukkan kepalanya pelan, “I do,”. Suho kemudian berdiri, ia lalu memeluk erat seraya mencium dahi Tiffany. Kemudian ciumannya turun ke pipiku lalu ke bibir yeoja itu. Ia mencium Tiffany sangat lembut. “Saranghaeyo..”

-END-

Maaf buat Fanfic yang begitu jelek ini…-_-v tapi tolong tinggalin jejak kalian yaaa, makasih 😀

Advertisements

17 thoughts on “[Freelance] How Can I

  1. Hebeuh hebeuh hebeuh apa itu??? Oh luhaaannnnn kau!! CEPAT PULANG KE RUMAH EOMMASUDAH MENUNGGU KAU PASTI AKAN DIBANTING JIKA EOMMA TAHUUU

    #READers gk jelas#

    WAH TOP BGT BGT BGET

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s