The Story of Us

the-story-of-us

Title

The Story of Us

Author

tantriprtstht

Length

Oneshot

Genre

Sad, Romance & Fluff

Rating

T

Main cast

Jessica (SNSD) | Suho (EXO)

Desclaimer

Terinspirasi dari track ke-7 dari album Speak Now milik Taylor Swift yaitu ‘The Story of Us’ dan mixed dengan kejadian asli yang dialami author. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator! No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka.

Poster Art

by wolveswifeu

JESSICA POV

Kisah ini sebenarnya tidak ingin kuingat dan tidak ingin kulupakan. Kisah ini sebenarnya tidak ingin kuceritakan tapi ingin semua orang tahu. Itu hanya pikiranku sementara, you know. Memang seperti membicarakan sebuah kesalahan besar, yang mungkin akan mempermalukanmu, membuatmu sembunyi lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Bagaimana kau memarahiku dan mengatakan bahwa aku pantas mendapatkannya. Bagaimana kau membuatku membuang semua mimpiku yang sudah kurencanakan, kupersiapkan serapi mungkin sehingga tidak ada kesalahan tapi kau yang membuatku jatuh ke perangkap.

Dulu orang berkata bahwa kita berdua adalah pasangan yang beruntung, karena kita sama-sama mempunyai ambisi yang kuat, seperti sebuah percikan yang sangat indah. Tapi entah kenapa sekarang orang-orang berkata akulah yang beruntung karena mendapatkanmu. Mereka mengira kau pahlawan, kau yang berjasa. Bagiku, kau seperti semut merah yang siap menggigitku setiap kali aku mengganggu aktivitasmu.

Tapi aku bisa melalui semua hinaan, semua perkataan buruk orang-orang padaku hingga aku berusaha seorang diri untuk duduk di sini. Sekarang aku sedang mencari tempat duduk yang tepat untuk bebas dari semua siksaan, upacara penutupan. Aku akan lulus dari sekolah ini, keluar dan mencari teman-teman baru bahkan pacar baru yang lebih dan lebih baik darimu, Kim Joon Myeon.

Kim Joon Myeon. Aku tergerak, melihat tempat duduknya yang tidak jauh dari tempatku duduk sekarang. Tidak ada bangku kosong lagi, meski aku minta tukar siapa yang mau bertukar tempat denganku? No one will.

Itu semua karena kau, Kim Joon Myeon. Semua dustamu, bodohnya aku baru tahu. Bodohnya aku termakan semua ucapanmu, senyuman innocentmu bahkan nada suaramu yang hampir bisa dibilang seperti suara malaikat.

‘Aku mencintaimu, Jung Jessica. Lebih dari apapun di dunia ini, maukah kau menjadi milikku?’

Banyak sekali hal yang aku ingin kamu ketahui. Terutama perasaanku padamu sekarang, kebencian tapi aku yakin tidak akan berubah jadi dendam. Karena untuk mencapai kata balas dendam saja, aku harus melewati banyak dinding halangan…. Yang mungkin akan terhalangi oleh semua kepopuleranmu.

Keramaian membuatku merasa semakin sendirian. Aku duduk sendirian di antara sekian banyak murid perempuan dan laki-laki dan aku tidak bicara dengan salah satu dari mereka, bahkan aku lupa mengucapkan salam pada kedua orang tuaku sebelum aku berangkat sekolah tadi pagi.

Tangisan, bahkan ucapan rindu yang dilontarkan banyak orang seperti membunuhku. Aku yakin itu juga seperti membunuhmu, Kim Joon Myeon. Karena kau tidak pernah mempunyai teman selain diriku. Kau tak punya orang untuk bercerita selain diriku.

Jika aku ingin mengajaknya bicara, aku bisa saja mulai duluan. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan sejak berputarnya nasib, berputarnya takdir kita tidak lama itu. Dan membuatku seperti hancur dibawah tekananmu.

Tekananmu, ya tekananmu. Kim Joon Myeon, namja yang berkata bahwa aku adalah yeoja yang tidak ingin dia hilangkan seperti sebuah mutiara langka, memang lahir dari keluarga yang mempunyai harga diri tinggi. Aku memang tidak pernah merasakan tekananmu sebagai anak tunggal dari Ayah milyader, tapi sepertinya kau tidak pernah berpikir berada di posisiku sekarang, right Kim Joon Myeon?

Dan semua itu kembali pada tragedi yang berhubungan dengan latar belakangmu. Apakah kau sudah melupakan tragedi itu, Kim Joon Myeon? Apakah sebaiknya kita berdua melupakan ini dan memulai hal yang baru? Jawaban yang kau lontarkan dari lidah licikmu adalah…. Iya.

‘Kalau begitu kita putus. Itukan yang kau inginkan, Jung Jessica?’

Sebenarnya hanya sebagian dari hatiku yang berharap demikian tapi siapa sangka kau mempunyai perasaan yang lebih untuk memutuskan suatu hal yang bahkan tidak bisa diputuskan oleh Presiden sekalipun.

Mengapa kita bisa berakhir dengan hal yang sebenarnya kalau kau cermati dengan teliti adalah hal yang cukup…. Sederhana? Siapa sangka kau bisa membuatku tidak bisa berhenti gugup di depanmu, tapi siapa sangka juga kau melakukan hal yang sebenarnya cukup baik…. Untuk menghindariku. Entah sampai kapan, mungkin selamanya.

Menghindari sangat berlawanan dengan yang kau lakukan untuk mendapatkan hatiku yang sebenarnya cukup terisi dengan cinta dari semua orang sebelum kau menghancurkannya. The way you kissed me, aku sadar semua itu adalah kesalahan.

Semua orang tahu kau bukan tipe yang cukup akrab dengan cewek. Apakah aku harus menceritakannya? Tentang tindakanmu terhadapku bisa dibilang cukup manis. Cukup manis untuk membutakanku. Termasuk kedua matamu yang terlihat bersinar bagiku setiap berbicara denganmu.

Aku kehilangan akal sehatku ketika melihat mata yang sama lagi. Tanpa kusadari, kau memang berpura-pura tidak memperhatikanku meski acara terakhir dalam sekolah ini sedang berlangsung. Tapi tatapanmu barusan padaku seperti kau ingin membantuku.

Apa kau sudah merubah pikiranmu, Kim Joon Myeon? Dari tatapanmu, tetap saja kau membingungkan. Sulit dibaca. Dan kau juga untouchable. Kapan aku bisa menjangkau tanganmu dan merasakan pelukan hangat itu lagi?

Detik demi detik berlalu. Aku semakin takut jika ini berakhir, tapi kenapa aku dan dirinya seperti berpura-pura bahwa ini bukanlah hal yang…. Cukup untuk dipertimbangkan bahkan dipikirkan. Aku ingin mengatannya padamu, aku merindukan semua yang kau lakukan padaku tapi aku tidak tahu harus melakukannya dengan cara seperti apa. Hening, dan inilah keheningan yang tidak pernah aku rasakan…. Selama aku hidup.

Hampir satu jam berlalu sejak kau menangkap tatapanku. Aku tetap duduk diam di ruangan yang penuh tapi tidak sesak ini dan aku bahkan belum memulai percakapan apapun dengan orang yang duduk di sebelahku. Aku ingin berbicara denganmu, tapi aku tidak bisa karena jarak kita…. Terhalang oleh banyak orang.

Seandainya kau berada di depan, kanan, kiri atau belakangku, aku tidak tahu harus berkata apa. Perputaran nasib ini membuatku seperti ingin mati, dan mungkin kau juga. Dan nasib lah yang mengantarkan kita ke tragedi itu. Lain cerita jika tragedi itu sudah diluar kepalamu.

Kepalamu, berisi otakmu yang sangat cemerlang. Kau seharusnya bangga dengan kemampuanmu yang mendekati sempurna.  Tapi setiap kali aku berkata begitu, kau pasti menggeleng sambil melihat hasil ulanganmu yang mungkin orang tuaku akan mengajakku berlibur ke luar negri jika aku mendapatkannya.

Wah, 97 ya! Hebat!’

‘Cih, tidak ada gunanya kalau bukan nilai sempurna!’

Sempurna dan itulah kau, Kim Joon Myeon. Aku berusaha sibuk melakukan sesuatu, tapi yang kulakukan sedari tadi hanyalah mengelus sweater biruku yang sudah basah karena aku mengeluarkan keringat dingin.

Melirikmu, lalu kembali fokus ke orang yang paling berkuasa di sekolah ini. Melirikmu lagi saat kau juga melirikku.

“Hai”

Bibirku membentuk kata itu sambil melambaikan tangan dengan pelan. Suho –panggilanku pada Kim Joon Myeon—tersenyum tipis sambil membalas lambaianku. Canggung, sangat canggung. Itu pertanda bahwa kau tidak bisa melupakan kejadian itu.

‘Jessica, bagaimana ini?’

‘Waeyo, Suho-ssi? Ah itu kan—‘

‘Aku mencuri lembaran ulangan dari ruangan guru! Aku sudah tidak tahan dengan ayahku, aku terpaksa melakukan ini—‘

‘Kalau begitu kembalikan saja kertas ulangan itu! Aku yakin kau bisa mendapat nilai sempurna meski kau tidak melihat contekan sekalipun!’

‘Jessica, tolong kembalikan kertas ulangan ini ke meja guru! Jebal!’

‘Kau yang mencuri, kau yang harus mengembalikan dan mengaku……’

‘Aku tidak bisa, Jessica. Jebal, tolong aku. Akan aku lakukan apa saja sebagai gantinya!’

Saat itu aku menerima kertas ulangan yang bahkan belum di fotocopy itu dengan ragu-ragu. Saat aku mengembalikannya ke ruang guru, wali kelas kami memang sedang mencari kertas ulangan itu. Dan siapa sangka Suho mengikutiku ke ruang guru dan berkata bahwa aku yang mencurinya.

Hinaan, perkataan buruk mulai ditumpahkan di hadapanku. Awalnya aku hanya cuek dengan tatapan sinis dari seluruh lorong sekolah sampai aku tidak kuat lagi.

Keluargaku cemas dengan keadaanku, setelah mereka menemukanku di kamar mandi, duduk diam dengan mata setengah terbuka. Adikku, Krystal yang pertama kali membuka pintu kamar mandi dan mendapati sebuah pisau dan cairan yang terus mengalir dari pergelanganku.

Air bening bahkan sudah tercampur dengan cairan berwarna merah itu. Ibuku pernah mengalami kejadian yang hampir serupa denganku saat beliau masih muda.

‘Jangan pedulikan mereka, jika mereka tidak tahu keadaan yang sebenarnya’

Aku berusaha tetap menjalani hidup tanpa menyayat tanganku lagi. Dan 3 bulan yang penuh dengan kegelapan aku lalui hingga hasil ujian keluar dan seperti biasa, Suho mendapat nilai teringgi di sekolah meski bukan sempurna.

Tinggal beberapa menit lagi, semua mimpi buruk akan berakhir. Aku tak akan bergabung untuk foto bersama dengan teman sekelas, mungkin itu akan membuatku teringat akan masa laluku yang kelam di kemudian hari.

Pengumuman murid terbaik dan seperti biasa Suho dipanggil. Seharusnya aku juga berada di panggung, sebenarnya aku termasuk unggul untuk macam-macam bidang. Tapi tidak ada yang mau menolongku lagi, bahkan teman-temanku yang selalu menyalin catatan pelajaranku tidak ada yang memberanikan diri membantuku berdiri.

This is looking like a contest. Tentang siapa yang bisa berakting sebagai yang paling careless. Aku juga sebenarnya careless. Tapi aku bisa melakukannya jika Suho berada di sisiku. Dan aku bisa memutar kembali memori otakku, saat aku merasa berat untuk kehilangan dia.

‘Kau ingin kuliah di luar negri?’

‘Ya, ayahku ingin sekali aku segera melanjutkan pendidikanku. Dan aku ingin mengingatkan padamu bahwa—‘

‘Bahwa apa?’

‘Bahwa aku bukan tipe yang suka menunggu. Karena itu kamu juga belajarlah yang rajin dan cepatlah menyusulku ke luar negri setelah kita lulus nanti’

Bahkan sebelum Suho mengatakan itu aku sudah belajar dengan keras tapi karena ucapannya juga aku jauh lebih keras dalam belajar. Tapi Suho selalu menggeleng setiap kali aku tidak sempurna. Tapi aku juga tahu bahwa dia belum tentu bisa sempurna dalam semua hal.

Aku juga pernah berkali-kali mengalahkannya dalam bidang tertentu. Suho bahkan pernah memintaku mengajarinya pelajaran. Aku juga tahu bahwa nilainya tidak bisa mencapai angka 95 sejak hubungan kami kandas.

The battles in your hands now, baby. Aku tidak bisa lagi membantumu, berada di sisimu saja tidak bisa. Tapi aku bersedia untuk mengulang kembali masa-masa bahagia itu, aku bersedia menurunkan harga diriku sebanyak apapun jika kau berkata kau lebih memilih cinta daripada bertanding untuk menjadi yang terbaik.

Everybody has a dark side. Aku mengerti kebiasaan burukmu tapi kau tidak. Mungkin kebiasaan burukmu yang kau kira aku ketahui hanya sedikit tapi tidak setelah aku melihat kau berselingkuh. Seperti nilai yang bisa diukur dan sebuah gambar. Nobody’s picture perfect. Pasti ada komponen yang sengaja diciptakan Tuhan untuk manusia, tidak ada manusia yang sempurna.

Tapi kau sempurna dalam menipuku, tapi tidak sempurna dalam menyampaikan perasaanmu yang sesungguhnya. Berkali-kali kau meminta padaku dengan kata-kata yang berubah-ubah agar aku memaafkanmu.

‘Kau hanya salah paham, Jung Jessica! Jangan lari dariku!’

‘Salah paham? Atau itu hanya sandiwaramu?’

‘Kau pikir aku bersandiwara selama ini? Aku bahkan rela memberi ciuman pertamaku padamu!’

‘Aku tidak peduli itu ciuman pertamamu atau bukan, aku tetap saja tidak tahan berada di sisimu setelah kau melakukan itu di depanku!’

‘Should I kiss you again to make you understand?’

‘Aku tidak butuh itu! Yang kubutuhkan—‘

GREB!

‘Aku tidak akan melepaskanmu bahkan menghapus jejakmu, Jung Jessica!’

Genggamanmu lah yang menjadi senjata andalanmu. Jujur saja bahkan sampai detik ini aku merindukan genggamanmu yang hangat itu. Dan juga tanpa genggamanmu, itulah yang membuatku berani kehilangan nyawaku di ruangan sempit.

Aku yakin banyak hal yang kau ingin aku ketahui. Bahkan hari terbesar dalam hidupmu saja aku tidak tahu kapan. Aku ingin memakai dress yang cantik, menemanimu di detik-detik pergantian usiamu. Dan itu tidak akan pernah terjadi karena kau tak akan pernah mengharapkanku saat kau meniup api di lilin.

Sampai saat ini aku duduk di kursiku yang terletak di antara kursi-kursi lain yang diduduki orang-orang yang aku kenal tapi kami tidak saling bicara. Aku ingin sekali tahu apakah melihatku dari atas panggung membuat kau seperti ingin mati?

Dia turun dari panggung, bagaimana jika dia menyapaku untuk terakhir kalinya? Aku tak tahu harus berkata apa, yang kutahu sebentar lagi ini akan berakhir. Berakhir sudah.

Cerita kita akan berakhir, sebentar lagi. Sebentar lagi rasa sayangku padamu akan benar-benar hilang dari seluruh pikiran dan hatiku. Dilihat dari tatapanmu yang barusan melirikku lagi, kau mencintaiku. Mungkin lebih? Tapi aku tidak percaya semua ucapanmu lagi sejak benang merah takdir kita… Dipotong oleh pertengkaran panjang kita yang pernah kita lakukan. Bersama.

‘Apa kau bahkan peduli apa yang aku alami?’

‘Waeyo? Kau seharusnya senang karena aku tidak dihukum oleh wali kelas!’

‘Pengecut sekali kau, Kim Joon Myeon. Kau bahkan membiarkanku di antara kerumunan, mendapat ejekan dari semua orang. Dan hampir saja tim hockey sekolah kita mendorongku dan masuk ke tempat sampah!’

‘Kau tidak pernah berada di posisiku, Jessica Jung. Kau tidak pernah merasakan sorotan mata semua orang terhadap dirimu yang hampir bisa dibilang sempurna jika kau menjadi diriku. Chagiya, dengar. Kau tidak tahu apa-apa tentangku’

‘Itu karena kau tak pernah cerita apapun padaku. Selalu saja—‘

‘Selalu saja apa?’

‘Selalu saja aku yang harus mencari tahu tentang dirimu. Kita kembali saja ke bab pertama, saat kita pertama kali bertemu. Aku tidak punya dayak tarik semacam tongkat sihir yang menyulapmu agar kau mencintaiku’

‘Jadi kau ingin berkata bahwa aku hanya mencintamu karena kau lah yang pertama kali tersenyum padaku?’

‘Hah?’

‘Jung Jessica! Jawablah atau kalau berani, lawanlah pernyataanku tadi. Ingatkah kau, kaulah yang memberiku senyuman matahari saat hari hujan itu!’

‘Lalu kenapa kau membiarkanku menggantikan posisimu? Karena kau ingin aku menderita?’

‘Kalau begitu kita putus. Itukan yang kau inginkan, Jung Jessica?’

‘Apa?’

‘Sudah, selesai. Kau tak perlu menyelidiku lebih jauh. It’s over’

It’s over. Ya, sudah berakhir. Termasuk semua acara terakhir ini. Confetti dilepaskan di aula sekolah, semua melempar topi wisuda, semua terlihat senang campur sedih karena sudah tamat sekolah. Aku berusaha keluar dari antara banyak orang, mendapati sosok Suho yang baru saja turun dari panggung.

Matanya tidak berubah, sungguh menawan. Aku berusaha melihat ke arah lain, tapi tidak bisa. Tidak ada yang menariku disekitarku untuk dilihat, apalagi untuk diceritakan pada Suho.

“Ah, aku….”

“Aku….”

Kami berdua terdiam lagi. Aku tidak ingin dia melanjutkan kata-katanya dengan kata-kata yang terdengar konyol seperti bahwa kita adalah jodoh dan kita harus kembali bersatu karena kita berdua mengucapkan kata ‘Aku’ bersamaan. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.

Hatiku seperti terbagi menjadi 2. Satu sisi, aku ingin memeluknya. Satu sisi, aku ingin menjauhinya. Aku rela tidak akan terperangkap dalam jebakan yang sama lagi. Aku tidak akan menjadi mermaid princess lagi.

Mermaid, ya mermaid. Demi bertemu dengan cintanya yaitu manusia, dia rela mengorbankan suaranya agar menukar ekornya dengan sepasang kaki. Dan semua itu sia-sia karena pada akhirnya mermaid itu berubah menjadi buih di lautan karena patah hati.

Aku tidak ingin mengalami hal yang sama, lagi. Aku mengangkat sebelah alisku seperti heran. Mengapa kita berdua tetap saja berdiri berhadapan tanpa berbicara sepatah katapun.

“I’m gonna miss you, Jung Jessica”

Aku mendongak untuk melihat tatapannya. Tatapan seorang pembohong atau bukan. Tapi jawabannya adalah bukan. Dia benar-benar serius, kecuali jika dia memakai sebuah lensa kontak yang menutupi mata seorang pembohong yang sebenarnya.

“Yeah, let see it’s gonna work on me or not” jawabku seadanya.

“What do you mean about work on you or not?” lanjut Suho dengan bahasa Inggrisnya yang benar-benar fasih. Tapi tetap saja kalah denganku yang lahir di San Fransisco.

“You will catch my heart and broke it again. Try if you can” sahutku berusaha menahan senyum. Sungguh, aku ingin berkata bahwa ucapaku barusan hanyalah ucapan tidak sengaja. Aku tidak pernah menyindir orang sebelum ini.

Suho menggenggam tangan kananku, erat. Apakah dia bisa membaca pikiranku lewat ekspresiku? Suho mencium tangan kananku, singkat. Aku sedikit lega karena tidak ada seorangpun yang melihat kami berdua. “Let’s meet again in the future”

Aku mengangguk singkat lalu Suho pergi meninggalkanku dengan topi wisudaku yang belum aku lempar ke langit. Aku tidak yakin bisa bertemu lagi dengannya di masa depan, tapi jika iya, aku ingin tahu apakah kami akan bersatu lagi.

Ada sedikit rasa di hatiku, aku rela berkorban demi dia. Sepertinya aku sudah terbius oleh pesonanya. Jika di masa depan kita bertemu lagi…. Aku hanya ingin berkata….

‘Ayo kita ulang kembali kejadian dulu’

Tapi jika tidak….. Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan, aku ingin semua orang mendengarnya, aku tak perlu menceritakan kesalahan-kesalahanku dengan Suho. Kurasa bukan satu kata saja. Aku butuh dua kata. Right?

“The End”

*******************

I used to think one day we’d tell the story of us

How we meet and the sparks flew instantly

And people would say they’re the lucky one

 

I used t know my place was the spot next to you

Now I’m searching a room for an empty seat

‘cause lately I don’t know what page you’re on

 

Oh, a simple complication, miscommunications lead to follow

So many things that I wish you knew

So many walls up I can’t break through

 

Now I’m standing alone in a crowded room

And we’re not speaking

And I’m dying to know is it killing you like its killing me yeah

I don’t know what to say since the twist of fate when it all broke down

And the story of us looks a lot like a tragedy now

 

Next Chapter

 

How’d we end up this way

See me nervously pulling at my clothes and trying to look busy

And you’re doing your best to avoid me

 

I’m starting to think one day I’ll tell the story of us

How I was losing my mind when I saw you here

But you held your pride like you should’ve held me

 

Oh, I’m scared to see the ending, why are we pretending this is nothing

I’d tell you I miss you, but I don’t know how

I never heard silence quite this loud

 

Now I’m standing alone in a crowded room

And we’re not speaking

And I’m dying to know is it killing you like its killing me yeah

I don’t know what to say since the twist of fate when it all broke down

And the story of us looks a lot like a tragedy now

 

This is looking like a contest of who can actlike they careless

But I liked it better when you were on my side

The battles in your hands now

But I would lay my armor down if you said you rather love than fight

 

So many things that I wish you knew but the story of us might be ending soon

 

Now I’m standing alone in a crowded room

And we’re not speaking

And I’m dying to know is it killing you like its killing me yeah

I don’t know what to say since the twist of fate when it all broke down

And the story of us looks a lot like a tragedy now

 Now, now

And we’re not speaking

And I’m dying to know is it killing you like its killing me yeah

I don’t know what to say since the twist of fate ‘cause we’re going down

And the story of us looks a lot like a tragedy now

THE END

 

*******************************

Annyeong, Tantri imnida. Cerita ini berantakan dan aneh banget. Mungkin karena Author lagi capek? Ini FF dengan dialog ter’sedikit’ yang pernah author tulis. Mohon tinggalkan jejak, alias komentar jika sudah baca, Author ingin tahu kesan kalian setelah membaca FF ini~

Bersama FF ini Author mengucapkan selamat ulang tahun Tiffany! Dan selamat untuk EXO yang merilis MV Growl tadi malam! Tidak sia-sia aku menunggu hingga jam 11 ^^

Kunjungi juga http://allthestoriesistaeyeon.wordpress.com dan http://rabbitchocojelly.wordpress.com

34 thoughts on “The Story of Us

  1. Sedikit bingung ya, permainan katanya banyak .-. Disini jadi bingung sbnrnya Joonmyun itu jahat ato engga :l
    Ada chapter berikutnya?

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s