[Freelance] In Your Eyes (Chapter 2 – Eternal Voice)

in your eyes

Title : In Your Eyes

Author : Park Minhwa (@putrii_tasha) & Mickeymo125 (@yrkim19)

Main Cast :

Im Yoona || Park Chanyeol

Sub Cast :

Kim Jongin || Kim Youngran (OC) || Park Minhwa (OC)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Disclaimer : Cerita ini hanya sebuah fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan alur/plot itu sebuah ketidak sengajaan. Cast milik Tuhan dan mereka sendiri.

Don’t be Plagiator & Silent Reader!!!

Posted in :

mickeymo125.wordpress.com

pinkypark88.wordpress.com

exoshidaefanfic.wordpress.com

readfanfiction.wordpress.com

= Chapter 2 “Eternal Voice” =

Ketika matamu menatapku. Jantungku berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Lidahku selalu kelu bahkan untuk sekedar menyapamu. Dan saat kau berbicara padaku. Sungguh, itu adalah suara paling indah yang pernah masuk kedalam telingaku.

-Park Chanyeol-

***

 

Chanyeol POV

Aku menggaruk rambutku yang tak gatal. Mataku tetap terfokus pada deretan kalimat dalam sebuah novel yang entah apa judulnya. Sesekali mataku mencuri-curi pandang pada gadis yang tengah sibuk membaca sebuah novel dihadapanku. Aku bahkan belum mengucapkan kalimat apapun lagi padanya setelah kami bertemu dan mengajaknya duduk dimeja panjang ini. Aku benar-benar gugup sekarang.

“Ekhem.” Aku berdehem kecil untuk menarik perhatiannya. Tapi matanya tetap terfokus pada novel dihadapannya. “Ekhem.” Aku kembali berdehem, kali ini lebih keras. Gadis itu menoleh lalu menatapku. Aku langsung menundukkan kepalaku. Oh ya tuhan, tatapan itu.

Aku mengangkat buku dihadapanku hingga menutupi wajahku. Ah sial, kenapa ia menatapku seperti itu? Sekarang apa yang harus ku katakan?.

“Maaf.” Suara lembut seorang yeoja melewati gendang telingaku. Aku tahu ini suara gadis itu, suaranya sungguh indah.

“Ekhem.” Kudengar ia berdehem. Aku menurunkan buku yang menutupi wajahku. Mataku langsung bertemu dengan matanya yang mungkin sedari tadi memang menatapku.

“Ya?.”

“Mm, maaf tapi bukumu terbalik.” Ucapnya setengah berbisik lalu menunjuk buku yang kupegang. Aku mengikuti arah telunjuknya. Dan benar saja buku yang sedari kupegang ini tidak pada posisi yang seharusnya. Aku kembali menggaruk rambutku yang tak gatal. Astaga, aku mempermalukan diriku sendiri. “Aaah, yaa terimakasih.” Ucapku malu, bisa kupastikan wajahku memerah sekarang saking malunya. Aku merutuk diriku sendiri. Dasar bodoh!

Gadis itu terkekeh dan kembali melanjutkan aktivitas membacanya. Bibirnya tertarik menyunggingkan sebuah senyuman yang menurutku sangat manis. Apakah dia tersenyum karena aku?.

Aku menarik napas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengajaknya bicara. Tidak mungkin kami selalu bertemu tanpa sepatah kata apapun yang kami ucapkan. Pokoknya sekarang aku harus bisa berkenalan dengannya! Chanyeol fighting!.

Aku mengetukkan jariku pada meja sebanyak tiga kali. Gadis itu menoleh padaku, menatapku heran.

“Mm, kau gadis yang dihalteu itu kan?.” Tanyaku setengah berbisik. Ia mengerutkan keningnya bingung kemudian menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum. “Sudah seminggu kita sering bertemu, tapi aku tidak tahu siapa namamu.” Ucapku setengah berbisik lagi. Ku ulurkan tangan kananku. “Namaku Park Chanyeol. Kau bisa memanggilku Chanyeol.” Aku kembali berbisik. Gadis itu tampak ragu, ia diam selama 10 detik lalu membalas uluran tanganku. Aku menjerit dalam hati saking senangnya. “Yoona imnida.” Jawabnya pelan tapi begitu lembut. Ah, aku bisa terbuai oleh suaranya. “K-kau murid Hanyoung High School kan?.” Tanyaku mulai mengakrabkan diri walau aku sudah tahu jawabannya. Gadis halteu bernama Yoona itu segera mengalihkan pandangannya ke sekitar lalu kembali menatapku. “Chanyeol-sshi, tolong kecilkan suaramu.” Bisiknya. Aku mengalihkan pandanganku ke sekitar seperti apa yang tadi ia lakukan. Dan benar saja, beberapa orang tengah memperhatikan kami. Aku membungkukkan badanku beberapa kali sebagai permohonan maaf. Untuk sepersekian detik aku lupa kami sedang berada diperpustakaan.

Aku bangkit dari dudukku lalu memberanikan diri beralih menuju kursi disamping Yoona  dan mendaratkan bokongku disana. “Jadi, kau murid Hanyoung?.” Tanyaku lagi. Yoona mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang ia baca. “Mm, kau sering ke perpustakaan ini?.” Tanyaku lagi. Jujur saja, aku ingin mendengar suaranya.

Yoona menggeleng. “Tidak.”

Aku hanya mengangguk pelan. Bohong jika aku bilang aku tidak gugup sekarang. Bagaimana tidak? Gadis yang selama ini aku perhatikan setiap hari, gadis yang memotifasiku untuk naik bis setiap hari, dan gadis yang ternyata aku sukai, kini duduk disampingku. Aku meremas ujung kaos ku dan merasakan jantungku berdegup kencang. Sampai-sampai aku khawatir Yoona akan mendengar detak jantung ku ini. Beberapa menit selanjutnya aku mulai mengajak Yoona mengobrol ringan. Sesekali aku terpana dengan wajah cantiknya dan sura lembutnya yang begitu sempurna. Aku masih tidak habis pikir, kenapa ada gadis secantik dan selembut Yoona?

***

Sudah dua jam berlalu, suasana kembali hening seperti pertama kali. Yoona kembali terpaku pada novel dihadapannya yang hanya tinggal beberapa halaman akhir. Sedangkan aku? Aku hanya memandangi wajahnya dari samping, sesekali novel ditanganku menjadi sasaran pupil mataku ketika Yoona menyadari aku yang sedang menatapnya.

Ponselnya bergetar, membuat kebisuan diantara kami mulai mencair. Dengan tatapan yang masih malu-malu dia melirik ku sekilas, lalu mengangkat teleponnya yang terus mengguncang. “Yeoboseyo? … Ah ne, tunggulah, aku akan segera kesana.”

Aku menoleh saat tubuh rampingnya berdiri. Sontak aku mendongakan kepalaku untuk menyampaikan pertanyaanku. “Kau mau kemana?.”

“Aku harus menjemput adikku ketempat konser, konsernya sudah selesai.” Jawabnya pelan. Aku terdiam beberapa saat, jika konsernya selesai bukankah itu berarti Minhwa juga sudah selesai?

“Baiklah, ayo.” Aku ikut berdiri, mungkin terlalu bersemangat hingga kursi yang kududuki berdecit keras. Aku menutup mataku menyadari bahwa kini aku sedang di perpustakaan. Tempat paling sunyi sedunia. Dan ini kedua kalinya aku menyadari kebodohanku. Sepertinya orang-orang disini akan mengadakan pesta besar-besaran jika aku pergi dari tempat ini sekarang juga. Ya tuhan. Kenapa aku ribut sekali?

Aku membungkukkan badanku berkali-kali tanda permohonan maaf. Setelah suasana kembali normal aku segera menarik tangan Yoona untuk segera pergi.

“Eh?.” Yoona menahan tanganku yang menariknya. Aku terdiam untuk beberapa detik lalu berbalik. Wajah gadis itu tampak ragu dan bingung. Apa ada yang salah?

Mataku melirik kearah tanganku yang menggenggam tangannya. A-apa? Aku menggenggam tangannya? Ah. Dengan sedikit salah tingkah aku melepaskan genggaman tanganku lalu kembali tersenyum lebar seolah tak terjadi apa-apa. “Ayo.” Ajakku lagi.

Alis Yoona kembali berpaut. “Kau akan pergi ke tempat konser juga, Chanyeol-sshi?.” Tanyanya berbisik.

Aku menyadari sesuatu. Yoona tidak tahu kalau aku juga mengantar Minhwa ke tempat konser. “Aaaah, aku belum memberitahumu ya? Adikku juga ikut menonton konser.” Jawabku sepelan mungkin. Mulut Yoona membulat tapi tidak terlalu lebar.

“Baiklah, ayo.”

***

Apa ini mimpi? Tidak! Ini nyata! Jelas-jelas kini Yoona ada di boncenganku. Aku benar-benar bisa mati karena senang. Awalnya dia ragu saat aku menawarinya tumpangan, tapi pada akhirnya dia mau juga pergi ke tempat konser bersamaku. Oh tuhan, moment ini bisa masuk ke dalam daftar 10 moment paling bersejarah dalam hidupku.

Aku melepas helm ku sesaat setelah kami tiba. Tempat ini lebih ramai dari sebelumnya. Wajah lelah begitu terlihat dimana-mana. Ayolah, memangnya apa yang baru mereka lakukan di dalam sana?

Aku melirik Yoona lewat ekor mataku. Ah, aku benar-benar gugup sekarang. Apa yang harus kukatakan?

“Chanyeol-ssi, gomapseumnida.” Dapat kulihat dia membungkuk lalu menyodorkan helm. Aku semakin kikuk dan hanya diam sembari menerima helm yang di kembalikannya. Ah Park Chanyeol! Lakukan sesuatu yang lebih keren. Tapi apa? Mana mungkin aku harus berkata ‘Im Yoona, ayo kita bertukar nomor ponsel.’ Bukankah itu konyol? Tidak, tidak, aku tidak bisa langsung sejauh itu.

“Ne, Cheonmaneyo.”

“Kalau begitu aku-.”

“OPPA~!!!.” Suara lembut Yoona terputus oleh teriakan nyaring yeoja yang sudah sangat familiar ditelingaku. Siapa lagi jika bukan Park Minhwa? Aku menoleh kesal kearah sumber suara. Dua meter jauhnya, Minhwa berdiri membeku sembari menatap kami bergantian. Balon biru yang dipegangnya terjatuh dan berlari tersapu angin.

“EONNI~!!” Sebuah suara yang tidak kalah kerasnya juga baru saja melewati gendang telingaku. Dan sekarang apa? Dua gadis dengan ekspresi sama, tengah menatap kami dengan pandangan yang sama pula.

Seingatku, gadis yang satu lagi adalah gadis yang datang bersama Yoona tadi. Ya, gadis yang aku yakini adalah adiknya.

Yoona menatapku, aku hanya tersenyum garing sembari memikirkan reaksi apa yang harus kutunjukan dalam situasi seperti ini.

“Oppa, kau sedang apa? Dan siapa dia?.” Aku terhenyak saat menyadari kini Minhwa sudah berdiri disampingku. Gadis yang satu lagi juga kini sudah ada di sebelah Yoona.

“A-a-annyeonghaseyo. Choneun, Im Yoona Imnida.” Aku menoleh saat mendengar suara indah itu lagi. Yoona tersenyum ramah kepada Minhwa, tapi sepertinya Minhwa tidak mengindahkan hal itu. Ia malah menarik-narik ujung kemeja yang kupakai layaknya anak kecil yang meminta balon.

“Oppa, malhaebwa. Siapa gadis itu?.” Aku mengumpat kesal mendengar pertanyaan konyol Minhwa, bukankah Yoona sudah memperkenalkan dirinya tadi?

“Kau tidak dengar? Namanya Im Yoona, sejak kapan kau mengalami gangguan telinga huh?.”

Minhwa mendengus. “Aissh, maksudku dia siapamu? Yeojachingumu?.”

Aku kembali tertegun, ingin sekali aku menyumpal mulut Minhwa dengan helm ku. Aku menatap Yoona yang kini tampak kikuk.

“A-a-apa maksudmu, dia temanku.” Jawabku tak kalah kikuknya. Minhwa terus menatap Yoona dan itu membuat Yoona salah tingkah. Aku menyikut perutnya, berusaha menghentikkan tatapannya yang menusuk itu. Dasar gadis tengil.

“Eonni, siapa dia? Aku tidak tahu kau punya teman pria?.” Sebuah suara lain mulai masuk kedalam indra pendengaranku. Aku menoleh dan tersenyum kecil kepada gadis di sebelah Yoona. Ayolah, gadis itu menatap ku dengan tatapan tidak ramah. Apa yang harus kulakukan?

“Ah, Park Chanyeol imnida. Dan ini adikku, Park Minhwa.” Jelas ku sebelum membungkuk. Tapi si bodoh Minhwa hanya diam menatap kedua gadis dihadapanku dengan tatapan menyebalkannya. “Heh, cepat beri salam.” Bisikku lewat sela-sela gigi.

Minhwa mengerutkan keningnya terkejut. “Apa harus? Aku bahkan tidak mengenal mereka.” Minhwa menjawab dengan nada yang lebih keras, aku hanya menggigit bibir bawahku berusaha untuk tidak mengumpat. Park Minhwa! Kau akan mati!.

“Dia temanku, kau harus memperkenalkan dirimu bodoh!.”

“Chanyeol-sshi, tidak apa-apa. Minhwa-sshi, perkenalkan ini keponakanku, namanya Kim Youngran.” Sahut Yoona tanpa ada nada kesal sedikitpun. Astaga, gadis ini benar-benar ramah. Kulirik sekilas gadis yang bernama Youngran itu. Jadi, dia keponakannya?

“Tadi kami bertemu di perpusatakaan, dan kami segera kemari saat Youngran bilang konsernya sudah selesai.” Tambah Yoona lagi. Aku kembali mengalihkan pandanganku pada Yoona. Aku menggaruk tengkukku saking gugupnya. Ah, entah kenapa aku jadi ingin pulang dan membenamkan wajahku di bantal.

“Perpustakaan? Sejak kapan opp-.”

“Apa kalian menikmati konsernya?.” Tanya ku sengaja memotong pernyataan Minhwa. Ah, aku tahu kemana arah pembicaraannya, Minhwa jelas tahu kalau aku sangat tidak suka membaca buku.

“Konsernya menyenangkan, aku juga bisa melihat mereka dengan jelas.” Jawab Youngran sembari mengangguk tetapi masih dengan wajah datarnya. Aku tersenyum, setidaknya dia merespon pertanyaanku.

“Bagaimana jika kita pergi makan? Bukankah kalian teman?.” Minhwa berujar sembari menatap kami bertiga bergantian. Tangannya terlipat di dadanya, menambah kesan angkuh pada dirinya.

“Aku juga lapar eonni, ayo kita cari sesuatu untuk dimakan.” Sahut Youngran tanpa beralih menatap Minhwa yang juga menatapnya.

Oh ayolah … Aku malas mengurusi hal konyol seperti  ini.

***

 

Author POV

“Ne eonni, mianhamnida aku tidak bisa datang, sepertinya hari ini aku ijin saja .. Ne, kamsahamnida.” Yoona segera menutup sambungannya. Entah kenapa ketika Youngran menyadarkan bahwa ia harus bekerja, ia lebih memilih menyetujui ajakan Minhwa yang mengajaknya makan bersama.

Kaki jenjang Yoona segera terayun menghampiri meja yang berisikan dua gadis yang tengah duduk berhadapan dan seorang pria dengan rambut pirang yang sedari tadi tak henti menatapnya.

“Bagaimana?.” Tanya Youngran ketika Yoona telah duduk disampingnya.

“Ne, Jinhyo eonni sudah mengijinkanku.” Jawab Yoona lalu tersenyum. Youngran mengangguk lalu menyibukkan diri dengan banner kecil bertuliskan –Kyuhyun- ditangannya.

Yoona mengalihkan pandangannya ke sembarang dan bertemu dengan mata Chanyeol yang tengah menatapnya. Keduanya tersenyum salah tingkah lalu mengalihkan pandangan masing-masing.

Setelahnya mereka berempat hanya diam menunggu pesanan datang. Chanyeol hanya tertunduk dan kali lainnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Yoona nyaris sama seperti Chanyeol. Dia hanya diam membisu dan sesekali mengetuk-ngetuk jari-jarinya ke meja. Berbeda dengan Minhwa dan Youngran, masing-masing dari mereka sibuk dengan kegiatan mengutak-atik ponsel. Dan terkadang saling memandang dengan pandangan tidak ramah.

Chanyeol terlihat gusar, ia tidak suka suasana hening seperti ini.

“Kau menyukai Kyuhyun?.” Tanya Chanyeol setelah melihat banner diatas meja milik Youngran. Ketiga gadis itu menatap Chanyeol, Youngran menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Chanyeol tadi.

“Ah, aku bahkan tidak tahu yang mana itu Kyuhyun.” Chanyeol berujar sembari mengusap-usap tangannya seolah antusias. Yoona terkekeh melihat tingkah Chanyeol.

Baru saja Youngran akan membuka suaranya tiba-tiba Minhwa masuk kedalam obrolan itu. “Oppa, kau tidak tahu Kyuhyun? Itu loh si penunggu telur ungu menetas.” Jawab Minhwa polos. Ia tersenyum ketika disadarinya Youngran menatapnya kesal. “Telur ungu?.” Chanyeol dan Yoona berpandangan tak mengerti.

Youngran meniup poni rambutnya lalu menatap Chanyeol. “Oppa, apa kau penyuka warna pink?.” Youngran dengan tiba-tiba melemparkan pertanyaan pada Chanyeol.

“Apa? Pink? Kau bercanda? Hahaha. Tentu saja tidak. Mana ada laki-laki menyukai warna pink?.” Chanyeol tertawa garing mendengar pertanyaan konyol Youngran.

“Kau tidak tahu oppa? Bukan hanya wanita yang menyukai warna pink, bukan begitu Minhwa-sshi?.” Youngran bertanya sarkartis pada Minhwa. Sedangkan Minhwa ia hanya menatap geram Youngran. Chanyeol menghentikkan tawanya lalu beralih menatap Minhwa. Ia menyadari perubahan wajah masam Minhwa. Suasana kembali hening. Chanyeol dan Yoona berpandangan ketika merasakan suasana mulai tidak beres.

“Sampai kapan koki-koki itu selesai memasak? Ini hampir tiga puluh menit.” Minhwa menggerutu mencoba melarikan obrolan. Ketiga orang yang lain hanya diam tidak menyahut. Mereka terlalu canggung untuk memulai pembicaraan. “Jika mereka tidak datang dalam lima menit, aku akan pulang.” Kali ini Minhwa menaruh ponselnya lalu menopang dagunya di atas meja. Chanyeol mengangkat kepalanya lalu memarahi Minhwa lewat ekspresi kesalnya. Sedangkan Yoona hanya tersenyum kecil  dan Youngran tetap tidak peduli pada apapun selain ponselnya. Dalam hati Youngran ia menggerutu “Ck, dasar anak manja!.”

Suara hentakan sepatu hak terdengar mendekat, mengalihkan keempat pasang mata kearah sumber suara tersebut.

“Maaf membuat kalian menunggu, tadi ada sedikit masalah di dapur.” Seorang pelayan cantik dengan rambut tergelung datang menghampiri meja mereka sembari membawa nampan berisi pesanan. Yoona hanya mengangguk sembari tersenyum kecil.

Lima belas menit mereka kembali habiskan dengan kebisuan. Yang terdengar hanya dentingan sendok atau suara beberapa orang di meja lain.

Youngran menghentikan makannya, lalu menyandarkan tubuhnya kekursi. “Eonni, ayo kita pulang.” Ajaknya dengan nada datar.

Ketiga pasang mata terseret menatap Youngran yang kini sedang melipat tangan di dada. Yoona menaruh sendoknya lalu menatap Chanyeol yang juga sedang menatapnya. Mereka berpandangan selama beberapa saat, seolah saling tertarik oleh mata mereka masing-masing. Hingga akhirnya suara deheman di sengaja menyeret tirai pandangan mereka dan membuat mereka mengerjap kikuk.

“Apa kalian sedang merekam iklan? Ayo pulang oppa.” Minhwa yang diketahui baru saja berdeham berujar sembari berdiri tidak sabaran. Chanyeol ikut berdiri lalu tergagap karena bingung harus mengatakan apa. “B-b-biar aku yang bayar, selamat malam, kami pulang dulu.”

Minhwa berjalan keluar kedai tanpa memberi salam ataupun sekedar senyuman, Chanyeol kembali mengumpat kesal lalu tersenyum garing sebelum berjalan menyusul Minhwa.

“Kau lihat eonni? Gadis bernama Park Minhwa itu benar-benar tidak punya sopan-santun.” Umpat Youngran sembari bangun dari duduknya. Yoona menoleh lalu tersenyum kecil.

“Itu hanya karena kita belum mengenalnya.” Jawab Yoona sembari mengalungkan tangannya ke leher Youngran. Youngran memutar bola matanya dan terus mengerutu sepanjang jalan.

***

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Yoona dan Youngran baru saja tiba di depan rumah mereka. Di langkah selanjutnya, mereka berhenti saat sebuah suara familiar baru saja melewati telinga mereka.

“Dari mana saja kalian?.” Tanya suara itu dari arah timur. Yoona dan Youngran menoleh lalu menampakan dua ekspresi yang berbeda. Yoona menampilkan sebuah senyuman dan Youngran menunjukkan wajah datarnya seperti biasa.

“Maaf tuan. Apa kami mengenalmu?.” Tanya Youngran ketus lalu berjalan masuk sembari menghentak-hentakkan kakinya. Dua pasang mata lainnya mengekori langkah Youngran yang hilang di balik pintu. Orang yang dilemparkan pertanyaan sinis dari Youngran itu hanya  berdecak. “Kenapa dia?.” Tanyanya bingung.

“Dia marah padamu Kim Jongin.” Jawab Yoona lalu tersenyum kecil.

Pria yang bernama Kim Jongin itu mengernyit. “Marah? Apa salahku?.”

“Katanya kau tak menjawab teleponnya tadi siang.”

“Hanya karena itu?.” Jongin kembali berdecak.

Yoona terkekeh. “Kim Jongin, kau masih ingat jalan pulang?.” Tanyanya mengabaikan pertanyaan dari Jongin tadi.

Jongin berjalan dua langkah hingga dirinya kini berdiri di samping Yoona sembari mengangkat kedua pundaknya. Tangannya terangkat dan menggantung di leher Yoona. Yoona menepisnya sembari menutup hidungnya sendiri. “Jangan seperti itu, kau tahu? Kau sangat lengket dan bau.” Canda Yoona sembari berjalan masuk. Jongin hanya terkekeh lalu mengikuti Yoona kedalam.

Kim Jongin adalah kakak laki-laki Youngran. Dia nyaris pulang malam setiap hari, atau bahkan terkadang tidak pulang sama sekali. Sepulang sekolah, dia akan langsung menuju studio dance untuk berlatih bersama club nya. Kim ahjumma sudah melarangnya untuk mengikuti hal-hal tidak penting seperti itu, tapi bukan Kim Jongin bila dia tidak membantah. Sejak ayahnya meninggal seminggu yang lalu sikap Jongin mejadi berubah, ia menjadi anak yang badung, tak jarang ia pulang ke rumah dengan wajah babak belur sehabis berkelahi.

***

Di lain tempat, Park Minhwa berjalan cepat menaiki tangga. Kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa tidak diliriknya sama sekali. Chanyeol yang berjalan dibelakangnya terus mengumpat memarahinya.

“Berhenti mengoceh!.” Minhwa berhenti lalu membalikkan badannya, mata bulatnya menatap Chanyeol yang berdiri di dua anak tangga dibawah anak tangga yang di tempatinya.

“Kau harus menjaga sikapmu! Bagaimana bisa kau bersikap sesombong itu?.” Omel Chanyeol sembari menggenggam keras helm nya. Minhwa kembali melipat tangannya di dada lalu memutar bola matanya kesal.

“Aku tidak sombong, itu adalah hal yang akan aku lakukan pada orang asing seperti mereka. Apalagi gadis itu menghina idolaku secara tidak langsung.”

“Mereka bukan orang asing! Yoona temanku! Lagipula siapa yang menghina idolamu?” Chanyeol menaikkan lagi suaranya ke oktaf selanjutnya. Membuat kedua orang tua mereka yang duduk di sofa tidak jauh dari tangga berjengit.

“Aissh, bahkan secara tak langsung kau juga menghina idolaku! Kau menghina pria penyuka warna pink! Yasudah, mereka kan temanmu. Bukan temanku.” Minhwa berbalik lalu mulai menapaki anak-anak tangga lainnya.

“Astaga Park Minhwa! Bagaimana bisa ada manusia semenyebalkan dirimu?.” Teriak Chanyeol lagi dengan suara menggelegar. Minhwa berhenti lalu menoleh.

“Karena aku adikmu, berarti kau lebih menyebalkan dariku.” Ia kembali melanjutkan langkahnya.

Chanyeol mendesah frustasi sembari menatap punggung Minhwa yang menjauh. Dia masih belum menyadari keberadaan kedua orang tuanya di bawah. Matanya tidak sengaja menatap ekspresi terkejut dari orang tuanya. Matanya membulat dan tangannya terangkat untuk menggaruk tengkuk.

“Aaaa, abboji, eommoni. Selamat malam. Mimpi indah.” Ucapnya kikuk lalu berlari menapaki anak tangga karena baru saja tertangkap basah memarahi Minhwa.

***

Ruang televisi yang sempit itu sama sekali tidak membuat mereka merasa sesak. Yang ada hanya kehangatan dan garis kebersamaan yang sangat nyaman. Walaupun rumah ini tidak besar, walaupun juga rumah ini dihuni oleh orang yang tidak sedikit. Selalu ada kenyamanan disana. Tawa, canda, dan kekonyolan selalu ada setiap harinya. Seperti malam ini, Kim ahjumma dan Youngran sedang fokus dihadapan televisi. Sesekali Youngran berteriak histeris karena ada idolanya di layar kotak itu, sesekali pula Kim ahjumma menggerutu karena Youngran terus membesarkan volume televisinya.

Sedangkan Yoona dan Jongin duduk di sofa sembari sibuk dengan kegiatannya masing masing. Yoona membaca dan Jongin mendengarkan musik dari earphone putih yang terpasang ditelinganya.

“Youngran-aa, ambilkan aku air.” Titah Jongin dengan mata tertutup dan kaki yang menghentak-hentak karena terbawa lagu. Youngran menoleh sembari memasang wajah kesal.

“Kau bicara padaku tuan? Apa kita saling mengenal?.” Tanya Youngran dingin yang kemudian kembali fokus pada tayangan televisi. Yang bersangkutan hanya diam karena memang kini telinganya tersumbat oleh earphone.

“Youngran-aa cepatlah!.” Ulangnya lagi masih dengan gaya yang sama. Youngran berdecak, lalu menyeringai jahil.

“1..2..” Gadis itu bergumam.

Duk! Sedetik kemudian sebuah remote televisi menikam perut Jongin. Pria itu menjerit kesakitan hingga semua pasang mata menatapnya. Sedangkan Youngran, ia tengah berguling-guling dilantai sembari tertawa puas. “AHAHAHAHAHA, sasaran yang tepat.” Girang Youngran disela-sela tawanya. Yoona yang melihatnya hanya menggeleng sembari menatap miris Jongin yang tengah mengaduh kesakitan. “Ya~!!.” Teriak Jongin kesal, ia melemparkan bantal yang menjadi sandarannya duduk kearah wajah Youngran membuat gadis itu menghentikan tawanya.

“Ya~!!.” Kesal Youngran tak kalah keras. Yoona dan Kim ahjumma langsung menutup telinga ketika merasakan telinga mereka berdenging.

“Aissh, berhentilah bertengkar.” Omel Kim ahjumma, ia menepuk keras kepala Jongin dan Youngran bergantian.

“Eommaa, kenapa kau memukulku? Pria itu yang memulainya.” Youngran mempoutkan bibirnya kesal, tangan kanannya mengelus kepalanya yang terkena pukulan sedangkan tangan kirinya menunjuk Jongin yang masih mengelus-elus perutnya yang terasa sakit.

“Mwo? Aku?.” Jongin bertanya tak terima. “Jelas-jelas kau sendiri yang memulainya.”

Youngran mendesis sebal. “Kalau kau menjawab teleponku tadi siang dan tidak seenak jidatmu menyuruh-nyuruh orang, tentu aku akan berbaik hati padamu.” Jelas Youngran dengan penuh penekanan disetiap perkataannya.

Jongin menghela nafas panjang. “Apa kau tidak tahu aku tengah belajar huh? Lagipula apa yang ingin kau katakan padaku?.” Balas Jongin tak mau kalah.

Youngran menatap tajam Jongin.

“Ah lupakan, aku lelah.” Youngran beralih kembali menatap layar televisi.

“Ambilkan aku air!.” Titah Jongin lagi, ia kembali memakaikan earphone ditelinganya setelah sebelumnya ia lepas.

Youngran kembali melemparkan tatapan tajamnya pada Jongin. “Shireo! Ambil saja sendiri. Siapa kau seenaknya menyuruhku?.”

Jongin kembali melepaskan earphone nya. “Tentu saja aku kakakmu!.”

Youngran tertawa meremehkan. “Benarkah kau kakakku? Lalu apa kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’ huh?.”

Yoona dan Kim ahjumma yang mendengarnya memutar bola mata mereka bosan, mereka tak perlu menebak lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Sedetik kemudian mereka saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Perlahan mereka berjalan mengendap-endap masuk ke kamar masing-masing. Membiarkan dua orang adik kakak itu bertukar argument sepuas mereka.

Youngran memamerkan senyum yang dibuat-buat, lalu ia berdiri dari duduknya. “Oppa, kau haus? Kau ingin aku ambilkan air? Baiklah tunggu sebentar ne?.” Youngran berujar dengan manis, ia mulai melangkahkan kakinya ke dapur diiringi dengan dua pintu kamar yang menutup.

“Baiklah, cepat sana!.” Jawab Jongin tidak sabar, ia meraih remote televisi lalu memindahkan channel sesuka hatinya.

Sepuluh detik kemudian Youngran datang dan menyiramkan air ke wajah Jongin. Membuat Jongin terlonjak kaget dan refleks berdiri dari posisi duduknya.

“Ya~!! Kau pikir apa yang kau lakukan?.” Teriak Jongin marah. Tangannya sibuk mengusap buliran air dingin di wajahnya.

“Oppa, bukankah kau meminta air? Sudah aku berikan.” Jawab Youngran tanpa dosa sembari berjalan ke kamar, Jongin hanya mengumpat kesal lalu menarik kerah kaos yang dipakai Youngran, hingga gadis itu tertarik ke belakang seperti anak kucing.

“YA~!! Kim Youngran! Kau gila!.” Teriak Jongin frustasi.

Youngran tersenyum sinis. “Kim Jongin! Kau lebih gila!.” Sahut Youngran dengan nada yang menyebalkan. Jongin membulatkan matanya lalu menoyor kepala Youngran membuat Youngran hampir kehilangan keseimbangannya, tapi dengan cepat Youngran menarik tangan Jongin lalu menggigitnya. “Aaaaaaa. Ya~! Ya~!.” Jongin kembali meringis, tangannya memerah karena gigitan Youngran. Sedangkan adiknya itu hanya tersenyum penuh kemenangan.

Jongin mengepal tangannya geram. “Awaaaas kau.”

Dalam sekali hitungan, Jongin menarik rambut Youngran dan menjambaknya. “Aaaaa. Eommaaaaaa, Jongin menarik rambutku lagiiii.” Rengek Youngran, ia mengaduh kesakitan sembari mencoba melepaskan tangan Jongin dari rambutnya. “Ya~! Lepaskan! Ini sakiiiiiiiittt.” Jongin tertawa sembari terus menarik rambut Youngran. Kini posisinya sudah berjongkok diatas Youngran yang terbaring menelungkup sembari merengek meminta ampun.

“Minta maaflah!.” Perintah Jongin lagi.

Youngran menggelengkan kepalanya. “Shireo! Aku tidak mau.” Tolaknya sembari terus merengek.

“Baiklah, apapun maumu.” Jongin melepaskan tarikannya dirambut Youngran lalu beralih mencubit gemas kedua pipi Youngran.

“Aaaaa, eommaaaaaaa. Jongin terus menyiksakuuuu.” Teriak Youngran keras.

Sedangkan dikedua kamar yang berbeda.

“Ah, kepalaku sakit.” Gumam Kim ahjumma seraya menutupi tubuhnya dengan selimut hangat.

Yoona menghela nafasnya. “Ini akan menjadi malam yang panjang.” Gumamnya lalu menutup buku yang ia baca dan berjalan mematikan lampu.

Diruang tengah itu Jongin masih tertawa puas sedangkan dihadapannya Youngran masih merengek dengan wajah yang memerah. “Oppaaaaa, lepaaaaaskan tangaaanmu!”

“Shireo!.”

***

Yoona POV

Aku memoleskan sedikit bedak diwajahku, tipis tapi membuat wajahku terlihat lebih baik. Kutepukkan telapak tanganku dipipi beberapa kali, selanjutnya kusisir kembali rambutku. Aku beranjak dari cermin dihadapanku lalu berjalan kearah pintu, mengambil blazzer sekolahku yang tergantung disana. Aku kembali melihat pantulan diriku dicermin, memastikan penampilanku sudah rapi sekarang.

Kuraih tas ranselku diatas meja belajar dan mengaitkannya dipunggungku lalu segera keluar dari kamar.

“Kau sudah siap?.” Suara Jongin menyambutku ketika aku membuka pintu. Aku tersenyum lalu mengangguk “Ne.”

“Baiklah, ayo berangkat bersama.” Ajaknya, sedetik kemudian ia berjalan menghampiri tas ranselnya di sofa.

“Eh? Bukankah sekolah kita berbeda arah?.” Tanyaku bingung.

Jongin telah kembali kehadapanku dengan tas ransel hitam dipunggunggnya, ia terkekeh seraya menjitak kepalaku pelan. “Apa kau lupa? Bukankah hari ini ada event dance battle di Hanyoung?.”

Aku masih bingung. “Bukankah acaranya besok?.” Tanyaku lagi. Jongin mengernyit dan kembali menjitak kepalaku.

“Aigoo, seharusnya kau tidak mengantar Youngran semalam. Lihatlah, sepertinya kau kurang tidur.”

Aku melirik kalendar kecil yang terpasang didinding. Selasa, 16 April.

“Ah ya, sekarang tanggal 16. Aku salah perhitungan.” Gumamku dan kembali menatap Jongin.

“Baiklah ayo.” Ajaknya lagi, lalu menarik tanganku.

“Dimana Youngran?.” Tanyaku pada Jongin, ia berpikir sejenak lalu telunjuknya mengarah kearah dapur. Aku mengangguk lalu mengisyaratkannya untuk menunggu diluar. Kulangkahkan kakiku kearah dapur.

Seorang gadis berambut panjang sebahu tengah sibuk dengan beberapa kotak makan dihadapannya. Aku berjalan menghampirinya.

“Kau sedang apa?.” Tanyaku penasaran. Kalau aku tidak salah hitung, ia tengah menyiapkan dua kotak bekal.

Youngran mengalihkan pandangannya padaku lalu tersenyum. “Menyiapkan bekal.” Jawabnya singkat lalu memasukkan telur kedalam dua kotak itu.

“Tumben sekali?.” Youngran kembali tersenyum tapi tidak menatapku. Ia meraih tutup kotak dan memasangnya.

“Ini untukmu eonni.” Ucapnya seraya menyodorkan satu kotak bekal itu padaku. Mataku berbinar.

“Benarkah?.” Youngran mengangguk dan kembali tersenyum. Aku meraih kotak itu. “Terimakasih.”

“Hey  kau tidak memberiku bekal? Sebenarnya siapa yang kakakmu?.” Jongin tiba-tiba masuk keruangan ini. Ia berucap dengan nada menyindir. Youngran mendelik sebal.

“Eonni, itu sebagai tanda terimakasihku karena semalam mengantarku.” Youngran menghiraukan ucapan Jongin. Lalu meraih satu kotak bekal dan bersiap pergi.

“Adik macam apa dia?.” Jongin menggerutu dibelakang telingaku. Aku hanya terkekeh pelan. Adik-kakak ini, kapan mereka akan bersikap selayaknya saudara?.

“Baiklah aku pergi. Oya eonni, ucapkan salamku pada teman lelaki mu yang tampan itu. Annyeong.” Ucapnya menggoda. Aku terdiam, siapa yang dia maksud? Park Chanyeol? Blush, kurasa pipiku memanas, oh tidak.. aku tidak mau pipi ku seperti udang rebus lagi. Tapi Youngran memang benar. Pria itu, Park Chanyeol memang tampan. Tampan sekali.

“Teman lelaki mu? Nugu?.” Jongin menyadarkanku dari lamunan sepintas. Ia menatapku penasaran.

“Ah aniyo, lagipula kau tidak mengenalnya, ayo pergi.”

***

Chanyeol POV

Aku menghentak-hentakkan kakiku kesal, telingaku sesekali berdengung ketika gadis disampingku ini menggerutu dan menjerit karena bis tak kunjung datang juga. Aku menyesal mengajak gadis yang sedari tadi tak berhenti mengomel itu untuk berangkat naik bis bersamaku. Aku bahkan merutuk dalam hati pada Kim ahjussi yang mengambil cuti. Kenapa dia harus cuti? Membiarkanku terlalu sering mendengar ocehan Minhwa yang membuat nyeri gendang telinga. Memangnya dia pikir sekarang gendang telinga bisa dijual bebas? Dimana aku bisa membelinya jika gendang telingaku pecah? Huh. Menyebalkan! Menyebalkan sekali!

Minhwa menghentikkan ocehannya, aku bersyukur untuk beberapa detik tapi akhirnya ia kembali mengoceh.

“Oppa, oppa..” Minhwa menarik-narik ujung blazer ku, membuat badanku tergoyang kekiri dan kekanan. Oh tuhan! Kenapa dia begitu kekanakan?

“Ada apa?.” Tanyaku geram, Minhwa berhenti menarikku lalu mendengus.

“Aku hanya ingin memberitahumu! Dan hey! Kenapa kau selalu marah padaku?.” Tanyanya dengan nada tinggi. Aissh anak ini. Benarkah dia adikku?

“Baiklah, ada apa?.” Tanyaku malas.

Minhwa mengarahkan telunjuk kanannya kebelakangku. “Itu, bukankah gadis itu temanmu yang kemarin?.”

Aku terdiam. Itu pasti Yoona. Dengan sekali gerakan aku membalikkan badanku. Sejauh lima meter dihadapanku kini, Yoona tengah melangkah santai. Rambutnya digerai seperti biasa, ditangan kanannya tersimpai sebuah bungkusan, seperti nya sebuah bekal makanan. Seorang lelaki dengan rambut yang sedikit teracak angin berlari kecil mengejar Yoona. Lalu merangkul pundak Yoona mesra. Dari jarakku dengan mereka sekarang, aku bisa melihat lelaki itu mengucapkan beberapa kata dan setelah itu Yoona tersenyum, bahkan sesekali ia terkekeh kecil.

Sesuatu yang sesak menyeruak kedalam hatiku, entah apa. Tapi aku merasa seolah beberapa jarum tertancap disana. Senyuman berbinar yang sedari tadi terukir dibibirku berubah menjadi senyuman sayu. Siapa lelaki itu? Mungkinkah?

Kakiku lemas membayangkannya. Yoona, gadis itu… Aku tak pernah melihat ia tertawa seperti itu.

“Oppa, apa lelaki disampingnya itu kekasihnya? Mereka tampak akrab?.” Minhwa kembali mengeluarkan suaranya. Aku bahkan tak bertenaga hanya untuk sekedar menjawab pertanyaanya. Tapi suara kecilku berontak. ‘Kurasa, ya.’

Tiba-tiba pandangan kami bertemu. Yoona melihatku, senyuman yang terukir dibibirnya tiba-tiba memudar. Aku mendesah, kenapa? Tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum lagi, padaku. Ia menunduk kecil tanda memberi hormat. Aku masih tetap pada posisiku memperhatikan mereka, Yoona dan .. pria itu.

“Oppa, ayo. Bisnya datang.” Minhwa menarikku lagi, membuatku mengakhiri aktivitasku memperhatikan mereka. Dengan refleks aku mengalihkan pandanganku pada bis didepanku. Beberapa orang sudah berantrian masuk. Aku mengangguk lemah pada Minhwa. “Ayo.”

Yoona POV

Aku melihatnya, pandangan mata kami bertemu untuk beberapa saat. Aku sangat senang karena bisa bertemu dengannya hari ini, apakah aku terlihat cantik sekarang? Eh? Tapi tunggu. Sejak kapan aku begitu peduli pada penampilan ku? Dan kenapa aku harus terlihat cantik di depan seorang Park Chanyeol? Memangnya dia siapa? Ah sudahlah, aku jadi semakin bingung.

Walaupun aku malu, aku tersenyum padanya lalu sedikit membungkuk dengan kepalaku. Tapi, ada yang aneh. Lelaki itu, Chanyeol tidak menatapku seperti biasanya. Entahlah, aku tidak bisa menjelaskan tatapannya. Yang aku tahu, ia seperti kecewa.

Selang beberapa detik, bis kami datang. Aku sempat melihat ekor matanya melirikku sebelum dia benar- benar masuk ke dalam bis.

“Ayo.” Jongin menarik tanganku pelan.

Dia kenapa? Dia bahkan tidak membalas senyumanku? Apa aku salah? Tapi apa salahku?

Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku katakan padanya hari ini. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Dia, Park Chanyeol, bukanlah pria jahat. Aku bisa mengetahuinya dari tatapan matanya yang penuh hormat dan santun. Dia tidak seperti pria lainnya. Ya, terlebih dia tidak seperti ayahku.

Ayah? Tidak! Aku tidak mau mengingat itu. Sudahlah Im Yoona, tidak perlu terlalu dipikirkan. Mungkin hari ini pria itu sedang ada masalah.

“Yoona, apa yang kau lakukan? Cepat duduk!” Jongin menarik-narik lengan bajuku sembari berbisik. Aku terhenyak, astaga! Bagaimana bisa aku melamun di dalam bis? Aku menyapu tatapanku ke seluruh penjuru bis. Chanyeol dan adiknya duduk di salah satu kursi dibelakang yang tidak jauh dari tempatku berdiri. “Im Yoona! Kau kenapa? Cepat duduk, kau menghalangi jalan! Yang lain akan lewat!.” Suara Jongin kembali membuatku terhenyak. Ya tuhan, Im Yoona kumohon sadarlah!

dengan sedikit ragu aku duduk di samping Jongin. Dia masih menatapku dengan tatapan menyelidiknya. Sempat aku melihat tatapannya pada kursi tempat Chanyeol dan Minhwa duduk.

“Ada apa denganmu?.” Jongin menggerutu kesal sembari menatap lurus kedepan. Aku menoleh lalu tersenyum kecil.

“Tidak. H-hanya sedikit pusing.”

“Apa perlu kembali ke rumah saja?.”

Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Tidak perlu, aku baik- baik saja.”

Beberapa menit selanjutnya kami hanya diam, Jongin sepertinya menyadari aku sedang tidak mau diajak bicara. Jadi dia hanya menerawang keluar jendela sembari sesekali bersenandung pelan.

Mataku lagi-lagi tertahan kearah kursi yang diduduki Chanyeol. Sungguh, aku sangat berharap hari ini kami menyisakan sebuah percakapan. Singkat pun tidak masalah. Aku hanya berharap dia menyapaku, atau sekedar tersenyum padaku. Dan sekarang lagi-lagi apa? Apa aku baru saja mengatakan sesuatu? Untuk apa aku mengharapkan hal-hal bodoh seperti itu pada Park Chanyeol? Dia bukan siapa-siapa. Ya, bukan siapa-siapa.

Tapi, aku tidak bisa. Bagaimana bisa dia bersikap seperti ini saat sebelum-sebelumnya kami sering bertemu di halteu? Dan bahkan bukankah kemarin malam kami makan malam bersama? Kenapa dia seperti ini padaku? Oh sudahlah, aku benar-benar bisa gila.

“Eonni, benar kau Yoona Eonni?.” Sebuah suara bisikan kecil menyadarkanku dari lamunan konyol ku. Aku mencari sumber suara dan betapa leganya aku saat mendapati Minhwa sedang menatapku hati-hati. Gadis itu membulatkan matanya saat menyadari Jongin ikut menatapnya di sampingku.

“Ne, kau Park Minhwa? Apa kabar?.” Aku berusaha tersenyum sembari sedikit kikuk karena kini Jongin sedikit menyeretku karena tubuhnya berusaha melihat Minhwa lebih jelas.

Gadis berambut hitam pekat itu mengangguk pelan. “Aku baik- baik saja.”

“Baguslah kalau begitu, tapi kakakmu…”

“Ah oppa ku sepertinya sedang dalam keadaan mood yang sagat buruk..” Minhwa berbisik lagi sembari menaruh tangan kanannya di samping mulutnya. “Dia terus marah-marah padaku. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi sepertinya…” Minhwa menggantung ucapannya sembari beralih menatap Jongin yang juga sedang memperhatikannya. Ya tuhan, aku lupa kini Jongin sedang ikut mendengarkan. Dengan perlahan aku mendorong tubuh Jongin agar kembali ke posisinya. Dia menatapku bingung tapi aku tidak begitu peduli dan kembali menatap Minhwa.

“Sepertinya apa?.” Tanyaku setengah berbisik. Ya ampun, aku harap Minhwa tidak merasakan nada antusias dalam suaraku tadi.

“Pria disampingmu, dia jadi begitu semenjak kau datang dengan mmpp-..”

Aku terlonjak saat ucapan Minhwa terhenti karena tangan Chanyeol menutupnya kasar. Chanyeol menatapku beberapa detik lalu kembali menatap ke depan. Ayolah, dia kenapa?

“YOONA EONNI! Kakakku cemburu pada pria disampingmu itu.”

Aku susah payah menghirup udara di sekitarku. Mataku membelalak saat Minhwa berteriak di kursinya. Semua mata terseret kearah kursi yang di duduki Chanyeol dan dirinya. Jongin terhenyak di sampingku sembari berdiri, berusaha melihat asal suara lebih jelas.

“Mwo? Siapa yang cemburu padaku?.” Tanya Jongin entah pada siapa dengan suara yang lebih keras, membuat semua mata beralih menatap kami. Astaga!

To Be Continued  >>

20 thoughts on “[Freelance] In Your Eyes (Chapter 2 – Eternal Voice)

  1. in your eyes! masuk kesalah satu fanfict favoriteku…apalagi couplenya AAAAA YOONYEOL♥♥♥♥♥. Lanjut yooooo lanjuttt yang cepet u____u huaaaaa asik banget chanyeol udah berani deketin yoon HEHEHE suka banget alurnyaaaa lanjut pokoknya lanjuuut ya authoooor;333

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s