[Freelance] A Love

A Love

Title                 : A Love

Author             : Violet Park

Length             : Oneshoot

Genre              : Friendship, Sad, Romance

Rating             : General

Cast                 :

– SNSD Hyoyeon, SNSD Jessica, SNSD Taeyeon, SNSD Yuri

– EXO Chen, EXO Luhan

Disclamair       : This story is mine. Get inspiration from manga, song and the other source. Don’t Be Plagiat!!! And No Bash, please J

Backsound      : SHINee – Fire, SNSD Jessica feat. Onew – One Year Later, Preview SNSD Jessica OST Dating Agency Cyrano

____________________________________________________________________

 

“Terkadang cinta itu akan memerlukan pengorbanan bukan untuk status pembuktian cinta itu sendiri namun karena Cinta itu sendirilah yang dengan kerelaannya akan memberikan yang terbaik kepada yang di Cintainya”

(Violet Park)

_____________________________________________________________________

 

= A Love =

Hening…

Itulah yang dapat dirasakan oleh yeoja yang terlentang di tempat tidur bernuansa putih itu. Hanya suara alat pendeteksi detak jantung yang masih berfungsi yang hanya dapat ia dengar dari ruangan tersebut.

Beberapa detik kemudian ia merasakan ada sebuah genggaman tangan di tangan kanannya.

“Eomma… aku di mana? Kenapa aku tidak bisa melihat apapun?” Tanya sang yeoja heran sambil meraba-raba tangan seseorang yang menggenggamnya.

Si pemegang tangan tadi hanya dapat menangis perlahan mendengar pertanyaan sang yeoja barusan “Ini aku Hyoyeon, Sica-ah”

“Hyoyeon?”

“Ne, kau masih mengingat aku kan?”

Senyum kecil terpampang di wajah yeoja tersebut “Tentu saja aku ingat, Hyo di mana eomma dan appa? Serta Krystal?” herannya.

Hening sejenak, Hyoyeon  hanya dapat menggenggam erat tangan Jessica. Ia menghirup nafas dalam sebelum ia menyampaikan berita sedih itu.

“Sica…. Orangtuamu dan Krystal tidak berada di sini” ucap Hyoyeon, air mata kembali menuruni kedua pipinya.

“Mereka sedang keluar Hyo? Sampai berapa lama?” ucap Jessica, ia hanya memusatkan pikirannya kepada orang yang disayanginya tersebut.

“Mereka… tidak akan kembali Sica-ah, mereka-”

Belum selesai mengucapkan kalimatnya, Jessica tersadar akan sesuatu, ia menutup erat telinganya dengan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng keras, ia tidak ingin hal buruk terjadi “Hyo, ini… ini tidak mungkin kan? Mereka masih hidup kan? Mereka selamat kan? Hyo, katakan bahwa mereka selamat hyo… Kumohon…”

“Sica… sabarlah, mereka sudah tenang di atas sana”

“Aniya, Hyo kau bohong kan? Katakan padaku bahwa kau bohong hyo.. katakan” pinta Jessica, matanya kini sudah banjir dengan air mata.

Hyoyeon hanya dapat terdiam.

“Mianhae Sica tapi mereka tidak akan senang melihatmu seperti ini…”

“Kau harus berbahagia Sica-ah… kau harus bahagia untuk banyak orang di sekitarmu. Itu pesan terakhir appa dan eommamu Sica. mianhae”

“Tidak hyo…. Tidak mungkin… Appa… Eomma…. Krystal…. Hyo kumohon~” ucap Jessica dengan suara serak sedangkan Hyoyeon hanya terdiam di tempat dan menangis bersama dengan Jessica.

One year later….

Pagi itu, tiga orang yeoja tengah berjalan di lorong rumah sakit seoul dengan riangnya. Mereka bertiga berjalan dengan senyum cerah yang mengembang satu sama lain hingga salah seorang di sana memanggil yeoja yang berada di tengah mereka.

“Jessica-ah, lama tidak berjumpa” ucap sosok tadi dengan senyum mengembang dan kemudian senyuman tersebut menjadi sedikit luntur setelah melihat sesuatu yang sedikit berbeda.

Yeoja yang dipanggilnya hanya menatap lurus ke depan dan tangannya sedari tadi menggerak-gerakkan tongkat silver di tangan kanannya ke sembarang arah.

Yuri yang mengetahui sikap bingung sosok tersebutpun lalu membisikkan sesuatu kepada sosok tersebut cukup lama dan dibarengi oleh Hyoyeon yang juga membisikkan sesuatu di telinga Jessica.

“Taeyeon eonnie? Benarkah ini dirimu?” Tanya Jessica antusias setelah Hyoyeon selesai membisikkan sesuatu padanya, ia mencoba menggapai sosok yeoja yang berada di hadapannya dengan tangannya. Tongkat silver miliknya sudah ia serahkan kepada Hyoyeon sebelumnya.

Taeyeon yang mengetahui kondisi Jessica saat inipun tersenyum kecil. Air matanya perlahan turun tanpa Jessica sadari.

Iapun mengusap air matanya perlahan dan menggenggam tangan Jessica pelan sembari mengajaknya duduk di salah satu bangku di dekat sana sedangkan Yuri dan Hyoyeon yang memang sedang berada dalam jam kerja mereka di rumah sakit sebagai seorang perawat menitipkan Jessica dengannya.

“Nde Sica-ah… Ini aku Taeyeon bagaimana kabarmu sekarang?” Tanya Taeyeon pelan, ia takut menyinggung keadaan Jessica saat ini.

Mendengar pertanyaan Taeyeon, Jessicapun tersenyum tipis “Seperti yang eonnie lihat saat ini, aku baik-baik saja dan sehat bugar. Masih ada Yuri dan Hyoyeon yang selalu menjagaku”

Mata Taeyeon sedikit membuka lebar karena terkejut mendengar jawaban tulus Jessica “Ah begitu ya? Oh ya kau tidak keberatan untuk berbincang denganku kan? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa” ucap Taeyeon sambil menatap wajah cantik Jessica.

Jessica yang mendengar penawaran Taeyeon tersenyum senang “Ah nde eonnie, gwencana. Aku membiliki banyak waktu luang eonnie. Bagaimana kabar eonnie? Eonnie tidak sakit kan?” tanyanya khawatir.

Taeyeon tersenyum kecil walau ia yakin Jessica tak dapat melihat senyuman itu “Ani Sica-ah aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menjenguk salah satu kerabatku di sini”

“Apakah ia dirawat di sini eonnie? Sudah berapa lama?” Tanya Jessica kembali, wajahnya kini berubah menjadi sedih.

“Semenjak kemarin Sica-ah ia terkena kecelakaan dan belum sadar hingga saat ini” jawab Taeyeon dengan suara pilu.

Jessica yang mendengar suara Taeyeonpun ikut sedih dan menepuk punggung yeoja bertubuh kecil tersebut pelan seraya menenangkannya.

Kecelakaan? Semoga ia tidak mengalami nasib yang sama sepertiku eonnie

Bayang-bayang gelap menghantuinya. Suara decitan keras selalu terngiang bersamaan dengan jeritan kesakitan orang-orang yang disayanginya terasa nyata di tambah dengan warna merah pekat yang terlihat jelas dalam pakaian yang dikenakannya.

Peluh dingin keluar begitu deras dari dahi yeoja cantik tersebut. Kepalanya terus menerus menengok ke sana-kemari seakan-akan menolak akan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Beberapa teriakan kesakitan terdengar bersaamaan dengan hal tersebut.

“ANDWAE!!!!”

Yuri dan Hyoyeon yang tinggal seapartemen dengan yeoja tersebut langsung terbangun dan bergegas menuju ke kamar yeoja tersebut. Mereka berdua segera memeluknnya seraya menenangkannya.

“Tenang Sica-ya, itu hanyalah mimpi” ucap Hyoyeon sambil mengelus puncak kepala Jessica sedangkan Yuri membersihkan keringat di dahi Jessica dengan sapu tangan milik Jessica yang berada di meja kecil di sampingnya.

“Hiks aku takut Hyo, mimpi itu selalu menghantuiku. Hal itu terasa nyata sekali, aku…. Seperti akan mendapatkan musibah itu lalu akan meninggalkan kalian…”

Yuripun yang tak tega dengan perkataan yang selalu sahabatnya ucapkan setiap malam inipun lantas memeluk Jessica erat yang juga dilakukan oleh Hyoyeon.

“Tenang saja Sica kami berdua akan selalu melindungimu sebisa kami” ucap Yuri dan langsung di angguki oleh Jessica.

Yuripun melepas pelukan mereka bertiga perlahan dan mencoba menidurkan Jessica kembali

“Nah kau tidur lagi ne? Taeyeon eonnie akan mengenalkanmu kepada kerabatnya. ia sangat senang karena kerabatnya selamat dalam kecelakaan kemarin dan barusan saja ia sudah sadar” ucap Yuri membuat Jessica langsung tersenyum.

“Jinjjayo? Ah baiklah aku akan tidur lagi. Oh tuhan semoga aku tidak bermimpi buruk lagi, semoga Yuri dan Hyoyeon juga tidak” ucap Jessica polos. Sedangkan Yuri dan Hyoyeon hanya tersenyum dan kembali ke kamar mereka masing-masing setelah sebelumnya kembali menyelimuti tubuh Jessica yang terlelap dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.

Taeyeon dengan senangnya menyambut seorang namja yang kini tengah bersandar di sebuah kursi roda. Tubuh namja tersebut terbalut dengan perban putih di sekujur lengan dan kepalanya.

Matanyapun membulat dengan lebar karena mata sang namja yang juga dibalut oleh benda semacam itu “Aigoo Luhan-ah, kau masih baik-baik saja kan?” Tanya Taeyeon khawatir.

Sang namja yang tau akan reaksi sepupunya itupun hanya dapat mengerucutkan bibirnya kesal “Sesuai apa yang kau lihat, aku tidak baik-baik saja. Tapi aku masih hidup”

Mendengar ucapan menjengkelkan tersebut Taeyeon kontan mencubit lengan Luhan pelan.

“Auch appo, ya! Sepupu macam apa kau?” teriak Luhan kesakitan membuat Taeyeon hanya tertawa puas.

“Hahaha sudah sudah, nah ayo kita jalan-jalan ahjumma sudah menitipkanmu padaku 1 minggu ini sampai perban di matamu terbuka. Ah sebelum itu akan kuperkenalkan salah satu temanku padamu”

Mendengar ucapan tersebut Luhanpun mendongakkan kepalanya “Teman? Dokter di sini?”

“Bukan-bukan”

“Perawat di sini?” tebak Luhan lagi.

“Tidak juga”

Luhanpun menggigit bibirnya pelan “Lalu?”

“Aish kau banyak bertanya sekali ya, sudah ayo kita kesana kajja” ucap Taeyeon dan langsung melesat bersama kursi roda yang dinaiki oleh Luhan.

“Nuna, pelankan kecepatanmu huwaaaa bisa mati aku ya!” teriak Luhan sembari mencengkram sisi pegangan tangan kursi roda dengan erat.

Jessica kembali mengayunkan tongkatnya ke depan, ke samping dan sesekali mengingat-ingat.

“Dimana ya letak kursi yang kududuki bersama Taeyeon eonnie kemarin?” ucapnya pelan.

Beberapa detik kemudian iapun mendengar suara teriakan semangat Taeyeon dan jeritan kemarahan seorang namja yang tak dikenalnya.

“Sica-ah….. aaaa jongmal bogoshippeo” teriak Taeyeon dan langsung berlari memeluk Jessica yang berdiri mematung karena tak mengetahui suatu apapun meninggalkan Luhan yang sedari tadi sibuk menggerutu oleh sikap Taeyeon padanya.

“Huh jika ingin bertemu teman saja kau semangat, ya di mana arahnya? Aku benar-benar tidak bisa melihat” protes Luhan membuat Jessica memasang wajah herannya.

“Eonnie kenapa ada suara namja?”

Taeyeon yang melepas pelukan merekapun menepuk dahinya pelan “Ah aku lupa dengan Luhan, chamkamanyo, akan aku kenalkan sepupuku padamu Sica-ah. Kau tunggu di sini dulu sebentar, ne?” Tawar Taeyeon sembari mendudukkan Jessica kembali di kursi yang kemarin mereka duduki.

Tak selang berapa lama…

“Sica-ah kenalkan ini Luhan sepupuku dengan jenis kelamin namja yang cerewet. Dan Luhan ini Jessica temanku ayo kalian salaman terlebih dahulu” buka Taeyeon sambil menyambungkan tangan Jessica dan Luhan.

halus dan lembut’ batin Luhan.

seorang namja ya…’ batin Jessica.

Karena Luhan yang tidak ingin melepaskan tangannya selama berpuluh-puluh detik, Taeyeonpun langsung memisahkan tangan keduanya.

“Hah kau selalu begitu ya Luhan jika dengan yeoja? Ckckck namja macam apa kau ini?” gerutu Taeyeon membuat Luhan mengerucutkan bibirnya kesal.

“Sudahlah eonnie tidak apa-apa. Nah Luhan-ssi kau akan berada di sini berapa lama? Aku akan dengan senang hati menemanimu jika Taeyeon eonnie sibuk” tawar Jessica.

Luhan yang mendengar penuturan polos Jessicapun tersenyum kecil dan diiringi dengan pipinya yang merah merona, membuatnya mendapat celutukan oleh Taeyeon

“Aigooo ada tomat matang di pipimu Luhan-ah” yang kontan saja mendapat tawa kecil dari Jessica yang memang tidak dapat melihat sebetapa merahnya pipi namja yang ada dihadapannya kini.

6 Days later…

Luhan dan Jessicapun semakin dekat karena Taeyeon sering kali menitipkan dirinya pada Jessica. Mereka seringkali menghabiskan waktu bersama entah mengobrol ataupun duduk di taman merasakan semilir angin yang menerpa rambut keduanya.

Luhan tahu bahwa ia merasakan suatu perasaan yang aneh terhadap Jessica, serasa ada jutaan kupu-kupu yang memenuhi perutnya dan siap muncul kapan saja. Entah saat ia tak sengaja menyentuh tangan lembut Jessica atau saat ia mendengar tawa yeoja tersebut.

Sama halnya dengan Luhan, Jessica juga merasakan hal yang sama namun ia mengubur dalam-dalam perasaannya kepada Luhan. Mengapa? Ia akan takut bilamana namja itu mengetahui bahwa ia adalah seorang gadis buta dan pastinya tidak akan pernah pantas bersanding dengan namja seperti Luhan. Walau kenyataannya, Luhan sudah mengetahui kondisi Jessica dari Taeyeon dan akan selalu menerima keadaan yeoja yang dicintainya dalam kondisi apapun.

1 Days later…

Kini sudah waktunya bagi Luhan untuk membuka perban yang menutup matanya selama ini. Dokter Chen-teman Luhan semasa sekolah dahulu- yang menangani dirinya dengan perlahan membuka perban tersebut dan menjadi orang pertama yang dapat Luhan saksikan setelah kecelakaan yang dialaminya.

“Chen.. aku…. aku bisa melihat…” ucap Luhan tak percaya.

“Nde kau bisa melihat Luhan-ah Chukkae. Nah kau sekarang dapat dengan segera kembali ke rumah” ucap Chen dengan senyum menghias di bibirnya.

“Ah Chen, apakah kau punya data mengenai pendonor mata?” Tanya Luhan tiba-tiba membuat Chen menaikkan alisnya heran.

“Kau tidak memerlukannya Luhan”

“Aku tahu itu, hanya saja ini…. Untuk orang lain, ehmm kau kenal Jessica? Sepupuku bilang bahwa ia salah satu teman perawat di sini” terang Luhan membuat Dokter Chen mengangguk faham.

“Akan kita coba lihat”

Jessica duduk diam di sebuah bangku taman di sekitar kompleks apartemennya. Ia memilih duduk di bangku favoritnya-bangku yang berada di sekitar pohon besar kesayangannya semenjak 1 tahun  yang lalu, ketika ia masih bisa menggunakan indra penglihatannya tersebut dengan jelas yang kini berganti karena kecelakaan naas yang menimpanya dan keluarganya.

“Ah, Andwae aku tidak boleh mengingatnya lagi” tolak Jessica sambil menggelengkan kepalanya. Iapun memilih untuk diam kembali dan mencoba menikmati semilir angin yang menerpa rambut panjang miliknya.

Luhan yang senang dengan kondisinya sekarangpun ingin dengan segera menemui Jessica. Ia sudah mencari tahu di mana yeoja tersebut tinggal dan apa yang yeoja tersebut kerjakan saat ini-tentunya itu dari bocoran sepupunya Taeyeon yang ia paksa menjadi agen mata-mata Jessica.

Selepasnya di rumah…

“Kau hendak pergi ke mana Luhan?” Tanya sang eomma khawatir karena melihat Luhan akan kembali mengemudikan mobil pasca kecelakaan yang dialaminya.

“Tenang saja eomma, hanya ingin menengok bidadari kita kelak” jawab Luhan sambil tersenyum lebar membuat eommanya hanya dapat tersenyum kecil.

Ya, eommanya sudah mengetahui siapa yang dimaksud oleh Luhan karena sebelumnya Taeyeon sudah memberi tahu eomma Luhan.

“Arasseo, aduh anak eomma yang sedang jatuh cinta. Baiklah hati-hati di jalan”

“Nde eomma aku akan berhati-hati. Bye bye eomma” balas Luhan sambil tersenyum lebar.

 

Dan siapa yang akan mengetahui bahwa senyum lebar dan 2 kalimat tersebut adalah pengantar terakhir Luhan dengan sang eomma tercinta?

BRAK

Hyoyeon yang sedang mengambil cuti khusus untuk hari ini tiba-tiba menghentikan jalannya ketika dirasa ada suara keras yang berasal tak jauh dari jalan rumah Luhan yang memang dekat dengan lokasinya sekarang.

apakah mungkin? Ah andwae’ pikir Hyoyeon dan kemudian menghapus pikiran tersebut secepat mungkin, namun ia mencoba memberanikan diri dan melihat ke lokasi kejadian.

Dilihatnya mobil berwarna putih yang tak jauh dari sebuah truk yang terpelanting itu terlihat ringsek dan sesosok namja mengeluarkan banyak sekali darah yang mengucur dari tubuh kecilnya tergeletak tak jauh dari bangkai mobil tersebut.

“LUHAN!!!” teriaknya keras. Ia berlari cepat menuju ke arah namja tersebut dan dengan segera ia menelepon rumah sakit untuk ambulans secepatnya serta tak lupa ia juga menelepon salah seorang sahabatnya… Jessica.

cepat angkat Jess, kumohon

Dering lagu yang special terdengar dari Jessica. Ia dengan senang hati mengangkatnya karena ia tahu itu adalah telepon dari Hyoyeon yang berjanji akan mengajaknya piknik bersama di taman hari ini.

“Yoboseyo…”

“……”

Namun… Senyum mengembang Jessica dan hari berwarna layaknya pelangi untuknya kini hilang dalam sekejap. Handphone miliknya terjatuh begitu saja bersamaan dengan air mata yang mengalir deras dari kedua mata indahnya.

Iapun terduduk lemas dan menutup mulutnya tak percaya

“Luhan…”

Beberapa perawat termasuk Yuri dan Hyoyeon dengan sigap mendorong kereta pasien yang mengangkut tubuh Luhan yang masih saja mengeluarkan banyak darah. Mata Luhan yang masih terbuka sedikit menyadari Yuri yang ia tahu dari Taeyeon bahwa Yuri adalah salah satu teman Jessica.

Iapun menggapai tangan Yuri dan mencoba berbicara beberapa patah kata kepadanya.

Yuri yang mengetahui itupun langsung mendekatkan telinganya dan mencoba mendengarkan perkataan Luhan yang terputus karena darah yang terus keluar dan rasa sakit yang tak tertahankan.

Jessica masuk dengan tergesa-gesa setelah ia menelepon Taeyeon mengenai Luhan saat ini. Ia tergopoh-gopoh memasuki rumah sakit dengan Taeyeon dan eomma Luhan yang kini diderai banyak air mata.

Jessica sedaritadi hanya dapat mengepalkan tangannya cemas dan berdoa dalam hati agar Luhan dapat selamat.

Kumohon Tuhan selamatkan Luhan

Di dalam ruang operasi, Chen, Yuri dan juga beberapa perawat lainnya sibuk dengan kondisi pasien mereka saat ini.

“Gawat dokter, pasien terlalu banyak kehilangan darah” ucap Yuri sembari membersihkan darah yang terus keluar dari tubuh Luhan.

“Dokter, jantung namja ini bocor dan itu terlalu besar, perlu dilakukan donor jantung segera” ucap perawat satunya lagi membuat Chen melihat kembali ke wajah Luhan yang kini menahan sakit yang amat sangat. Ia teringat perkataan Luhan sebelumnya.

Chen apakah mataku cocok untuk Jessica?Tanya Luhan.

“yah, ada 80% kecocokan” jawab Chen.

“Begitu ya? Ah ya Chen  apabila dalam waktu hingga tanggal 18 april tidak ada donor yang cocok untuk Jessica berikan kedua mataku ini untuknya dalam kondisi apapun. Lakukan ini secepatnya ne, jebal” ucap Luhan memohon sedangkan Chen melihatnya dengan tatapan tidak percaya.

“Kau gila? Kau baru saja bisa melihat Luhan-ah dan… Mengapa harus tanggal 18 april besok Luhan? apakah tidak ada tanggal lain?”

“Aku ingin agar dia dapat melihat di saat hari ulang tahunnya. Kau pasti bisa melakukannya kan? Apapun yang terjadi walau maut menjemputku kelak, kumohon agar gunakan mataku untuk matanya”

 

Mata Chen tiba-tiba saja membendung air mata yang sangat banyak. Luhan, teman masa remajanya dulu sebegitu inginnya membahagiakan gadis yang dicintainya.

I will do your message after I save your life first, Luhan’ batinnya.

Yuri yang keluar untuk mengambil suatu benda harus tertahan karena cengkraman tangan Taeyeon.

“Bagaimana kondisi Luhan saat ini?” Tanya Taeyeon dengan suara seraknya.

Yuri yang melihatnya saat itu hanya diam dan melepaskan cengkraman tersebut perlahan. Ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Jantungnya bocor terlalu besar sehingga kami tidak mungkin akan menutupnya dengan mudah dan ia kehilangan banyak darah, hanya donor jantung yang mungkin akan menyelamatkan nyawanya saat ini” ucapnya parau.

Eomma Luhan yang mendengar kondisi anaknya hanya dapat terduduk lemas, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Siapa yang akan mendonorkan jantung kepada Luhan dalam waktu yang secepat ini?

 

Jessica yang mendengar hal tersebutpun langsung menarik tangan Yuri.

“Yul, aku akan mencoba mendonorkan jantungku” ucapnya dan seketika membuat Taeyeon, Yuri dan eomma Luhan menatapnya tak percaya.

“Jangan bercanda Sica, Luhan akan sedih jika kau melakukannya” tolak Yuri dan mendapat persetujuan dari Taeyeon.

Eomma Luhan yang semula tak dapat berkata apapun akhirnya menyahuti ucapan Yuri “Luhan akan semakin sedih jika kau meninggalkannya Sica”

Jessica yang mendengar pertentangan sahabat dan eomma Luhanpun hanya dapat diam sejenak lalu ia kembali  menarik tangan Yuri.

“Kumohon… hanya itu satu-satunya upaya agar dia tetap hidup” pinta Jessica.

Yuri yang melihat Jessica seperti itupun lalu terdiam sejenak dan dengan terpaksa menganggukkan kepanya.

“Mari kita lihat kecocokan jantung kalian berdua”

Mata Jessica kini tertutup rapat, kereta pasien yang ia gunakan kini telah bersampingan dengan tempat operasi Luhan yang terpisahkan oleh kain hijau yang terbentang vertikal. Ia mengepalkan tangannya erat. Sembari mengingat perkataan Yuri padanya Air matanya mengalir pelan.

“Sica-ah kau yakin akan melakukan hal ini?” Tanya Yuri lagi.

“Aku benar-benar yakin Yul”

“Baiklah jika ini maumu Sica, Luhan tadi berkata padaku bahwa ia sangat mencintaimu. Ia tak perduli bagaimana kondisi saat ini. Ia tulus mencintaimu Sica”

 

Jessicapun merasakan ada banyak orang di sekitarnya terdengar dari suara asing yang tak dikenalnya. Lampu operasi yang berada di atasnyapun menyala terang.

Kini operasi donor jantung miliknya siap dilaksanakan.

Luhan, nado saranghae’ batinnya dan air mata kebahagiaan seta senyuman terakhir di wajahnya terukir dengan indah.

Chen yang telah mendapatkan donor jantung untuk Luhan dengan sigap memulai operasi untuk penyelamatan nyawa Luhan. Ia melakukan dengan semaksimal mungkin hanya saja….

“Dokter detak jantung pasien semakin melemah”

“Dokter detak jantungnya semakin melemah”

Teriakan kekhawatiran dari semua perawat yang ada di sana membuat Chen bingung. Dilihatnya Luhan yang kini bernafas semakin pelan dan dirasakannya denyut jantung Luhan semakin lemah.

mengapa Luhan? Apakah kau tahu bahwa ini adalah jantung Jessica?

Dan senyuman terakhir Luhan yang terlihat oleh Chen serta lurusnya garis alat pendeteksi detak jantung yang membuat bunyi yang selalu dibenci oleh Chen seolah-olah menjawab pertanyaan Chen barusan.

Seoul, 19th of April

Yuri, Hyoyeon, Taeyeon, Chen dan eomma Luhan merasakan duka yang amat mendalam atas kehilangan mereka terhadap dua orang yang mereka sayangi.

Ya, nisan dengan nama Xi Luhan dan Jung Soo Yeon yang menghiasi mata mereka semua berdiri dengan kokoh untuk mengabadikan nama yang mendiami dua tempat terakhir tersebut.

“Sica-ah meng-apa ka-u ha-rus per-gi men-dahului Lu-han dan ka-u Lu-han mengapa ka-u ha-rus menyusul Si-ca?” ucap Taeyeon terbata-bata, ia tidak sanggup menahan emosinya mengenai dua orang yang di sayanginya itu sama halnya dengan Hyoyeon dan Yuri yang kini sibuk menahan air mata mereka.

Yul…Hyo… sewaktu aku tidak berada di sini lagi…. Jangan menangisiku ne?  kecantikan kalian berdua akan hilang jika kalian menangis hehe, jadi kalian harus tetap tersenyum ne? Fighting!’ ucapan terakhir Jessica padanya dahulu membuat mereka berdua tak sanggup untuk meneteskan sedikitpun air mata di pusara yeoja manis tersebut. Walau kentara jelas bahwa genangan air mata siap menghujani pipi mereka berdua.

Di sisi Yuri dan Hyoyeon, Eomma Luhan hanya dapat mengelus foto Luhan yang tersenyum hangat dengan sayang dan juga sama sepeti yang lainnya… pipinya penuh dengan air mata kehilangan.

“Maafkan eomma nak” ucapnya pilu dan memeluk nisan anaknya erat seakan-akan nisan tersebut adalah penjelmaan anaknya.

Sedangkan Chen? Ia sibuk melihat nisan kedua insane tersebut di belakang yeoja-yeoja di hadapannya dan matanya sedikit membelalak melihat dua sosok berpakaian putih tersenyum padanya dengan bahagianya di belakang kedua nisan tersebut.

Jessica dan Luhan sedang bergandengan tangan dengan eratnya. Mata mereka memancarkan kebahagiaan dan cinta yang amat sangat tulus sedangkan tubuh mereka berdua dipenuhi oleh cahaya yang lembut.

Gamsahamnida’ ucap kedua sosok tadi bersamaan.

-Luhan-

“Aku bukanlah pria yang akan melihat wanita dengan tampilan visualnya Sica-ah. Aku mencintaimu apa adanya, dan akan kulakukan yang terbaik untukmu sampai akhir hayatku Saranghaeyo Jessica”

 

 

-Jessica-

“Aku akan melakukan yang terbaik untukmu Luhan…. Aku akan mencintaimu dengan hati ini, akan selalu kujaga janjiku ini hingga ajal menjemputku. Aku berjanji Luhan, aku berjanji Saranghaeyo Luhan”

=A Love=

Ah nyesek L

Akhirnya athor bisa buat ff HanSica genre Sad, sebenernya nggak ingin sih couple ini punya ending tipe ini tapi karena dulu couple BaekSica end pake ending gini aku coba buat aja dee -_-

Mianhae ne jika kurang ngeh aku buatnya malam-malam dan itu kehalang sama lapar L *plak!

Thanks for read this fanfic, dan untuk readers yang belum pernah atuhor balas commentnya di ff author yang lain  jongmal mianhae. Author sering lupa buat bales di page-page selanjutnya x(

But overall Gamsahamnida untuk semangat dari kalian dan segudang comment positifnya terutama yang buanyak bgt commentnya ^^ it’s like fantastic spirit bomber to me😀 #author cry in happiness cause that :’)

So…. Don’t forget to comment Chingu, see you again in the other fanfic ^^

Full of Love – Violet Park

27 thoughts on “[Freelance] A Love

  1. uwaah aku berkaca kaca bancanya #Lebaay hehee
    beneran deh … bagus banget apalagi pas bagian akhirnya🙂
    ditunggu ff genre sad lainnya🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s