[Freelance] The Revenge (Chapter 1)

The Revenge

The Revenge Chapter 1

Author : Kenia Nurasha |Length : Chapter | Rating : PG-17 |Genre : Fantasy, Romance

Cast : Sooyoung Girls’ Generation, Jessica Girls’ Generation, Kris EXO, Luhan EXO

Poster by : Fearimaway (ssoopuding.wordpress.com)

Tiga malam melarikan diri akhirnya kami menemukan tempat yang aman. Untuk sementara kami tinggal dirumah teman ayah Luhan dan Kris, yaitu Paman Anderson. Aku berbaring sambil menikmati angin semilir yang masuk melalui jendela. Aku sengaja membuka jendela supaya bisa dengan mudah melihat rembulan yang indah malam ini. Kulirik Jessica yang sudah terlelap sekitar sepuluh menit yang lalu. Kurasa malam ini aku bisa tidur nyenyak tanpa memanggil orang mati untuk datang ke kamar kami.

Aku beranjak untuk menutup jendela kamar. Saat aku berbalik kurasakan ada yang membelai rambutku. Oh jangan hantu lagi. Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru kamar ini. Aku tidak menemukan ada makhluk hidup lain yang bangun. Oke, ini hanya halusinasiku, lebih baik aku cepat tidur daripada kejadian seminggu yang lalu saat aku dijahili oleh hantu dengan mengunciku di loteng terulang kembali. Aku langsung naik keatas tempat tidur dan menarik selimut.

Tapi tidur seperti Jessica tidak semudah yang kubayangkan. Aku insomnia. Dan rasanya aku mau menangis saat kucoba untuk memejamkan mataku untuk tidur tapi tidak bisa. Ugh! Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Kris tidak mengijinkanku pergi dari kamar saat malam hari karena dia tidak ingin aku gegabah dan membuat kami tertangkap oleh Morphis. Berlebihan memang. Tapi aku tahu bagaimana khawatirnya Kris terhadap kami bertiga.  Walaupun aku tahu Kris pasti sudah tidur, dia tetap tahu kalau aku menginjak keramik di depan pintu kamar. Pendengaran manusia serigala memang tidak diragukan lagi.

Omong-omong tentang Morphis, seketika aku ingat teman sekamarku di pondok yang dibunuh oleh kelompok jahat yang berusaha menghabisi semua manusia yang mempunyai kekuatan melebihi manusia normal seperti kami. Masih kuingat teriakan Tiffany saat dia diseret dari kamar dan dibekap menuju ke ruangan eksekusi.

Sreeett..

Seketika lamunanku buyar. Kutengokkan kepalaku kearah pintu dengan cepat. “Siapa disana?.” Hening.

Aku mendudukkan tubuhku dan berusaha tenang. Mungkin wajahku sudah terlihat sangat pucat. “Siapa disana?.” Aku bertanya sekali lagi dan hasinya sama saja. Tidak ada jawaban. Kutunggu beberapa saat sampai ada yang menggelitik telingaku.

“Ini Yoona.” Aku menghela nafas lega. Ternyata Yoona. Dia temanku juga dari pondok yang bernasib sama dengan Tiffany. Yoona adalah necromancer sama sepertiku. Sangat menyayangkan jika dia mati. Apalagi kakaknya yang membunuhnya. Kakaknya dengan tega membius Yoona saat terlelap dan membawanya ke ruang eksekusi.

“Ada apa?.” Tanyaku.

“Kau tidak sadar tadi memanggilku?” dari nada suaranya yang terdengar kurasa Yoona sedang heran. Aku mengerutkan alisku. Kurasa aku tidak memanggilnya. Tapi tadi saat aku memikirkan Tiffany aku juga memikirkan Yoona. Mungkin aku tidak sengaja memanggilnya.

“Mungkin aku tidak sengaja memanggilmu.” Aku kembali menidurkan tubuhku dan menarik selimut.

“Kau insomnia lagi?.”

“Hmm..”

“Kurasa kau harus meminum pil yang diberikan oleh Luhan.” Aku langsung teringat tadi siang Luhan memberiku obat tidur. Untuk jaga-jaga jika aku terserang insomnia lagi. Aku mengambil tas disebelah ranjangku dan mencari-cari plastik berisi pil. Setelah kutemukan, aku langsung mengambil satu pil itu dan memasukkan ke mulut lalu menelannya tanpa tegukan air putih.

-.-.-.-.-.

Saat aku bangun, cahaya matahari yang masuk ke jendela benar-benar menyilaukan. Pasti sudah siang. Rasanya malas sekali untuk bangun dari tempat tidur. “Bangunlah Sooyoung, kau sudah melewatkan sarapan. Kris bisa mulai berceramah jika dia melihatmu masih meringkuk diatas tempat tidur seperti ini.” Yeah, Kris memang laki-laki tercerewet yang pernah kutemui. Bahkan cerewetnya melebihi ibuku.

“Tadi Tante Margaret kemari. Dia bilang kita harus melatih kekuatan kita. Supaya saat anak buah Jack mencari dan ingin membunuh, kita bisa melawan mereka. Tapi kupikir aku tidak perlu latihan. Karena, yah, kau tahukan kalau aku sudah sangat kuat. Hanya dengan menatap, musuh akan mati.” Jessica tertawa mendengar kesombongannya sendiri. Perlu diketahui bahwa itu memang benar. Bahkan dari kami berempat, hanya aku yang tidak berguna. Maksudku aku ini seorang necromancer. Aku tidak punya kekuatan yang sangat besar seperti Kris, tidak bisa menyihir musuh seperti Jessica dan Luhan. Aku hanya bisa… memanggil orang mati. Ya, hanya itu.

“Apa kau sudah berhasil memanggil Tiffany?.” Tanya Jessica.

“Belum. Butuh konsentrasi penuh untuk memanggilnya. Kemarin aku berusaha memanggilnya, tapi yang datang malah Yoona.”

“Nanti malam kau harus mencoba memanggilnya lagi. Aku, Luhan dan Kris akan membantumu. Tiffany sangat penting untuk kita. Dia tahu apa rencana Morphis untuk kita. Makanya Tiffany dieksekusi.”

Kelompok Morphis memang licik. Mereka memburu semua manusia yang memiliki kekuatan seperti kami. Morphis diketuai oleh Jack. Saat kami berhasil melarikan diri, kami kesusahan mencari perlindungan. Karena banyak sekali orang yang diam-diam bekerja untuk Morphis. Jadi kami tidak bisa dengan mudah untuk mempercayai mereka. Sampai Paman Anderson datang dan bilang bahwa dia diutus oleh ayah Luhan dan Kris untuk menyelamatkan kami. Tentu saja kami percaya pada Paman Anderson. Karena ayah Luhan dan Kris, Paman Jongdae juga mempercayakan kami pada Paman Anderson.

“Jessica, bolehkah aku bertanya?”

“Tentu. Tanyakan apa saja yang ingin kau tahu.”

“Kenapa saat di pondok kau membenci kami?” Jessica terdiam. Terlihat berpikir.

“Karena aku mengira kematian Krystal ada hubungannya dengan kalian. Dan ternyata aku salah. Ibuku lah penyebab Krystal meninggal. Dia tidak peduli lagi dengan kami. Ibuku bahkan bekerja untuk Morphis. Coba saja ibu tidak menyuruh penjaga itu mencari Krystal. Krystal pasti masih hidup” Aku mengelus pelan punggung Jessica. Aku tidak menyalahkannya saat dia menbenciku, Kris dan juga Luhan.

Pantas jika dia salah paham tentang kematian Krystal. Karena pada saat itu aku, Kris dan Luhan ada ditempat dimana Krystal dibunuh. Saat itu kami kepergok sedang merencanakan kabur dari pondok. Penjaga itu dengan ganasnya menjambaki rambutku supaya aku mau menjelaskan tentang rencana itu. Dan bodohnya Krystal malah mengarang cerita dan bicara kalau dia yang merencanakan pelarian ini. Dia juga bilang bahwa kami tidak mau kabur, tapi Krystal memaksa kami untuk ikut kabur. Dan Krystal bilang kalau dia lebih baik mati daripada harus dikurung di pondok. Dan pada saat itu juga, penjaga pondok mengarahkan pistolnya ke kepala Krystal dan menarik pelatuknya. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah pada Krystal.

-.-.-.-.-.

“Turun sekarang juga. Margaret membawa teman-temannya untuk melatih kita.” Luhan menyembulkan kepalanya di pintu. Jessica dan aku segera keluar dan mengikuti Luhan turun kebawah. Di ruang tengah dapat kulihat ada Kris, Paman Anderson, Tante Margaret dan tiga orang lainnya berkumpul dan berbincang-bincang ditemani soda dan juga kue. Aku duduk di antara Luhan dan Jessica. Beberapa setelah kami bertiga duduk keadaan menjadi hening. Lalu Tante Mergaret memulai pembicaraan.

“Perkenalkan ini teman-temanku yang akan melatih kalian. Di sebelahku ini namanya Stephanie, lalu sebelahnya lagi Pierce, dan terakhir Rachelle. Pierce bukan manusia serigala, tapi dia sangat mengetahui tentang manusia serigala. Kris, dia akan jadi gurumu. Stephanie dan Rachelle adalah penyihir, jadi mereka akan jadi guru Luhan dan jessica. Dan untukmu, Sooyoung, aku yang akan jadi gurumu.”

“Kau necromancer?.” Tentu saja aku kaget. Necromancer terakhir yang kutahu hanya Yoona. Dan sekarang Yoona telah tiada.

“Ya. Tapi tidak sehebat dirimu. Setidaknya aku bisa mengajarimu mengendalikan emosi dan mengontrol supaya saat kau tidur tidak memanggil orang mati.”

“Kapan kita mulai latihan?.” Tanya Kris.

“Besok saja. Sekarang sudah sore. Lagipula setelah ini aku ada urusan.” Terang Tante Margaret.

“Baiklah, kalian berempat bisa berjalan-jalan di sekitar rumah. Tapi ingat, jangan jauh-jauh.” Paman Anderson mengingatkan.

Saat kami keluar kamipun terpisah. Jessica pergi ke halaman belakang rumah, Kris pergi menuju sungai yang ada dipinggir hutan. Hanya tinggal aku dan Luhan. Dan kami juga saling diam. Aku ingin memecah keheningan yang kami buat, tapi aku juga bingung harus memulai pembicaraan.

“Apa nanti malam kau ada acara?.” Tanya Luhan. Aku mengerutkan keningku. Apa dia tidak tahu kalau Kris melarangku keluar dari rumah jika malam tiba dan melarangku keluar dari kamar jika waktunya tidur. Bahkan saat aku ingin ke kamar mandi pun Kris selalu mengantar dan menungguku di depan pintu kamar mandi. Sungguh menyebalkan bukan? Seolah mengerti tatapanku, Luhan melanjutkan perkataannya lagi. “Well, aku ingin mengajakmu membeli ice cream di dekat rel kereta api sebelah sana, kau tahukan tempatnya? Sebut saja ini kencan pertama kita.” kata Luhan sambil menggaruk tengkuknya yang menurutku tidak gatal.

“Ya, aku tahu. Tapi kau tahu betul bukan alasanku jika aku menolakmu?”

“Kris bukan? Dia masalah gampang. Kita minta ijin saja pada Paman Anderson. Aku yakin dia pasti mengijinkan kita asalkan tidak pulang terlalu larut.”

‘Baiklah.” Aku merasa senang sekali. Jujur saja ini adalah kencan pertamaku. Aku hanya berharap kencan ini berhasil.

-.-.-.-.-.

Tok.. Tok.. Tok

Aku membuka pintu kamar dan kulihat Luhan berdiri dengan kaos berbalut jaket sambil memasang senyum indahnya. “Kau sudah siap?.” Aku mengangguk. “Baiklah. Berangkat sekarang sebelum larut malam.”

“Jess, aku pergi dulu ya.”

“Hmm.. nikmati kencan kalian ya.” Jessica terkekeh lalu kembali membaca novel. Aku berjalan menuruni tangga dengan hati-hati karena kepalaku agak pening. “Apa Kris sudah tahu kita akan pergi?.” Tanyaku sambil membuka kenop pintu dan berjalan keluar.

“Belum.” Aku reflek menolehkan kepalaku kearah Luhan. Apa dia gila? Itu sama saja mempercepat umurku. Kris akan memarahiku habis-habisan dan tentu saja untuk mendengarnya marah-marah bukan membuang waktu beberapa menit tapi berjam-berjam.

“Hey, kau tenang saja. Aku sudah bilang bukan kalau Kris itu urusanku. Kujamin dia tidak akan marah. Nikmati saja kencan kita tanpa kita pikirkan Kris.”

“Aku tidak mau lagi jika Kris memarahiku habis-habisan. Aku sudah capek setiap hari selalu berdebat dengannya.” Luhan hanya terkekeh mendengarnya. Saat akan memasuki hutan tiba-tiba Luhan berhenti dan terlihat seperti memaki dirinya sendiri.

“Apa ada masalah?.” Tanyaku.

“Sial. Aku lupa bahwa kau bisa saja membangunkan binatang mati di dalam hutan. Kudengar dari Kris, kau sangat takut jika sudah masuk ke dalam hutan.”

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Percayalah. Hanya saja jangan sampai aku melakukan pemanggilan dan tertidur. Itu akan membuat kita dikepung oleh pasukan bangkai hewan.” Luhan tertawa geli mendengar penjelasanku.

Selanjutnya perjalanan kami melewati hutan untuk sampai ke kedai ice cream dekat rel kereta kami habiskan untuk mengobrol.

-.-.-.-.-.

“Luhan, kenapa ice creammu masih banyak? Kau tidak mau ya? Untukku saja kalau kau tidak mau.” Jujur saja aku mash menginginkan ice cream lagi. Aku tadi sudah menghabiskan dua cup ice cream ukuran jumbo tapi sampai sekarang rasa ice creamnya masih menempel di lidah dan membuatku ingin lagi.

“Enak saja. Kau tadi sudah beli dua cup dan aku hanya membeli satu cup.” Aku hanya cemberut karena Luhan tidak mau memberikan ice creamnya padaku. Tiba-tiba Luhan mengarahkan sendok ice creamnya kemulutku. Aku menatapnya heran.

“Kau mau bukan? Lebih baik makan ice cream berdua saja. Lebih romantis kan. Hehehe” aku hanya tersenyum mendengarnya dan segera membuka mulutku. Tak terasa kami sudah sampai di pekarangan rumah. “Terima kasih Luhan, kau sudah mau mengajakku membeli ice cream.” Ucapku sambil tersenyum.

“Tidak masalah Soo.” Jawabnya. “Jadi, sampai bertemu besok pagi.” Ucapku sambil berbalik dan berjalan kearah pintu rumah.

“Sooyoung!.” Aku menoleh ketika Luhan memanggilku. Luhan berjalan mendekat kearahku.

“Apa kencan ini sukses?.” Tanya Luhan.

“Y-Ya.” Jawabku gugup.

“Berarti kita bisa lanjut ke kencan kedua kan?.” Pertanyaan Luhan membuat pipiku memanas.

“E-Emh.. Ya.”

Luhan merendahkan wajahnya dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku sudah tahu. Dia akan menciumku. Tapi saat bibirnya menempel pada bibirku aku langsung terlonjak kaget.

“Ma-Maaf. Aku terlalu kaget.”

“Tak apa. Ciuman pertamamu bukan?.” Luhan terkekeh dan aku mendengus kesal. Tangan Luhan langsung meluncur kearah tengkukku dan menariknya. Lalu memiringkan wajahku dan dengan cepat melumat bibirku. Aku hanya diam. Berdiri saja di tempat tidak menyadari apa yang saat ini sedang terjadi. Seperti kabel yang tersambung kembali, aku langsung membalas ciumannya dengan canggung. Perutku terasa diremas dan aku mengeluarkan keringat dingin. Rasanya seperti aku melakukan kesalahan. Luhan menghentikan ciumannya dan menjauhkan wajahnya dari wajahku.

“Ada orang lain bukan?.” Luhan menatapku dengan tatapan mirip orang marah.

“A-Apa?.” Sungguh aku tidak mengerti. Apanya yang ada orang lain? Bahkan dia laki-laki pertama yang mengajakku kencan.

“Bukan sebelum ini. Tapi dari sekarang.” Dari sekarang? Di dunia ini aku hanya dekat dengan tiga orang laki-laki. Ayahku. Luhan. Dan- Astaga!

“Maksudmu Kris?.” Rasanya aku ingin tertawa sekencang-kencangnya. Dia gila bukan mengiraku suka dengan Kris. Sampai-sampai aku ingin berkata ‘Kris? Kau gila? Bagaimana bisa aku menyukai laki-laki yang selalu ingin berdebat dan membuat masalah denganku?’ tapi aku harus menelan perkataanku kembali.

“Luhan. Kris dan aku tidak seperti yang kau pikirkan.” Aku berusaha meyakinkan Luhan.

“Belum Sooyoung. Apa kau tidak sadar?.” Dan pada saat itu juga Luhan berbalik dan meninggalkan ku sendirian

To Be Continue

Author’s Note : Terinspirasi dari novel karya Kelley Armstrong berjudul The Reckoning. Fanfic ini bisa dibilang sama tapi beda sama novelnya. Terima kasih telah membaca ^^

39 thoughts on “[Freelance] The Revenge (Chapter 1)

  1. Annyeong,,
    Wah kren ffnya…. Suka, tpi ini pendek n Sicanya jga msih jrang muncuL#crewet kkk~

    Luhan hbat bsa tau prasaan Soo, soaL pairing trserah author aja Lah….
    Lanjoot, Fighting !!

  2. wah keren bingit nih ff nya :3 tentang jack dan morphis, seinget aku sih pernah difilm-in. seengganya, aku ga bingung sama ceritanya ^^
    harus dilanjut nih thor🙂 keep it up ^^

  3. Wah, daebak *.* ini bakal ada cinta segitiga ? Ato segiempat ?😮 ceritanya seru thor, apalagi genrenya ada fantasi nya hihi ditunggu kelanjutannya😀 kalo bisa dipost cepet ya hihi

  4. Aku baru baca masa ‘-‘)v disini kasian ya nasib Sooyoungie yang kekuatan nya biasa biasa aja ugh /pukpuk/ oh my god! Ga rela Luhan cium Sooyoungie /lirik Kyuhyun/ aduh Kris malah ga muncul lagi. SooKris lah kekek biar Luhan sama sica disini sica nya muculnya dikit banget ‘-‘

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s