You’re My Destiny | Part 3

ymd

Title     : You’re My Destiny

Genre  : Romance, Sad(ga yakin-_-), Angst (ga yakin_-_), Comedy (?)

Main Cast        :

Jessica Jung

Xi Luhan

Support Cast :

Xiumin Kim

Kim Hyoyeon

Sunny Lee

Chen Kim

Pairing : HanSica –XiuSica – XiuSun – HyoChen

Rating :  PG-13

Author : CJH

Disclaimare :This is my own storyline. I don’t copy this from other fiction,this is my pure imaginaton. Don’t Be a plagiator, don’t bashing and in this fiction i just borrow the cast’s name.

Note : FF ini hanya fiktif belaka jika ada kesamaan mohon dimaklumi hwhw._.

Created By Choi Jung Hee

Previous  : 1 2

Part 3

.               .               .                               .               .               .                               .               .               .

Luhan melirik Jessica tajam. “Mengapa gadis ini selalu berteriak? Seperti tarzan saja” batin Luhan. Jessica merasa gugup karena perlakuan ‘aneh’nya.

“Mengapa Jessica? Kau tidak ingin menikah dengan putraku, Luhan?” tanya Ba Ba Luhan angkat bicara. Jessica mereasa salah tingkah.

“Bukan begitu maksud Jessica Ahjussi. Hanya saja, bukankah itu terlalu cepat bagiku dan Luhan? Kami baru berumur 20 tahun (anggap saja masih 20.-.)” ujar Jessica dengan gugup. Gadis itu berbohong.

Ba Ba dan Ma Ma Luhan tersenyum. “Baiklah, kami ingin tahu perkembangan hubungan kalian. Jangan mengecewakan Ba Ba dan Ma Ma. Kau tahu Jess? Kami sudah menyukaimu. Dan satu lagi, jaga Luhan. Ara? Namja itu sangat ‘lah susah di atur” ujar Ma Ma Luhan. Jessica hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.

Sedangkan Luhan? Namja China itu hanya bisa mencibir atas kejadian yang ada tepat di hadapannya itu. Luhan hanya menatap Jessica, Ma Ma, dan Ba Ba-nya kesal. Jessica terlalu ‘lebay’ dalam menghadapi masalah sepele seperti ini.

“Baiklah Jessica, kau boleh pulang. Ma Ma tidak mau di salahkan oleh orangtua-mu jika kau terlambat datang. Haha” canda Ma Ma Luhan yang mencairkan suasana. Jessica hanya mengangguk kikuk. Lalu menggeret Luhan pergi dari rumah Luhan.

“Hei, kau itu yeoja. Jangan menarikku sekasar ini. Kekuatanmu sungguh seperti lelaki” rintih Luhan yang lalu buru-buru menepiskan tangannya yang di pegang erat oleh Jessica.

“Oh ayolah Lu. Orang tuamu sudah menyukaiku dan memintaku menjadi menantunya. Kau tahu ‘kan? Kita Cuma ber pura-pura. Aku takut jika mengecewakan orang tuamu” ujar Jessica Jujur. Luhan tersenyum mendengarnya. Lalu beralih dengan wajah polosnya.

“Kalau kau tidak ingin mengecewakanku, menikahlah denganku. Sesuai permintaan orang tuaku” ucapnya santai. Jessica membuka mulutnya lebar. Sehingga lalat bisa masuk kedalamnya.

“Kau gila Lu? Aku hanya menyukai Xiumin. Bukan dirimu pabo” teriak Jessica heboh. Luhan menutup telinganya. Seakan ia tidak mendengarkan sama sekali.

“Lihat saja Jess. Tidak lama lagi, kau pasti tergila-gila denganku” ujarnya bangga. Jessica tertawa meremehkan. “Bukan ‘kah itu semua terbalik tuan Xi?” goda Jessica dengan mencolek dagu Luhan lembut.

Blush. Pipi namja imut itu memerah. Jessica menahan tawanya.

“Kau apa-apaan sih” kata Luhan seraya memegangi kedua pipinya. “Aigoo.. Luhan kau terlalu polos. Hanya aku colek saja sudah malu” gurau yeoja pemilik rambut berwarna coklat itu. sedangkan Luhan hanya menggaruk tengkunya.

***

“Chagi-ya” panggil Luhan kepada Jessica. Jessica tidak menoleh ke arah Luhan sedikitpun, yeoja itu masih berkutat dengan berkas – berkas kerjanya.

Luhan mengerucutkan bibirnya kesal. “Ayo kita kencan. Aku ingin kita menjadi pasangan layaknya seperti pasangan yang lain” ujar Luhan kesal. Jessica hanya menatap Luhan sekilas. “Tidak untuk sekarang, Lu. Aku sedang sibuk, kau seharusnya yang berstatus sebagai patnerku membantuku mengerjakan gunung kertas ini” kata Jessica tak kalah kesal.

Luhan malah menarik paksa tangan Jessica. Jessica ingin sekali menepis tangan Luhan tak kalah kasar, tetapi apa daya. Kekuatan Luhan jauh lebih besar di banding kekuatan Jessica. Yaa, yeoja yang malang.

Seakan tahu apa yang di pikirkan yeojanya, Luhan melepas tangan Jessica dari genggamannya. Jessica berniat meninggalkan Luhan dalam waktu sekarang juga. “Masuklah” pinta Luhan singkat. Jessica, yeoja itu hanya memutar bola matak cokelatnya kesal, lalu masuk ke dalam mobil Luhan.

“Kita mau kemana?” tanya Jessica kesal. Senyum Luhan mengembang. “Nanti kau akan tahu, diamlah” ujar Luhan datar dan masih fokus dalam menyetir. Jessica hanya bisa merutuki dirinya sendiri dalam hati, bagaimana bisa ia terjebak dalam situasi membingungkan seperti ini? Berpura – pura menjadi yeohachingu Luhan?

“Sudah sampai” kata Luhan singkat. Perkataan Luhan tadi sukses membuat lamunan Jessica buyar. Dan yeoja itu mengutuk dirinya sendiri karena imajinasinya hilang karena Luhan. Yeoja berambut cokelat bergelombang itu melirik kaca jendela mobil Luhan, gadis itu membulatkan matanya lebar, “Panti asuhan?” gumamnya sendiri.

Jessica membuka pintu mobil Luhan dan mengekori namja blonde tersebut. Entah apa yang sedang dipikirkan namja aneh itu. Katanya ‘sih, namja itu ingin berkencan dengan Jessica layaknya pasangan yang lain. Tapi mengapa namja sialan itu mengajak Jessica pergi ke panti asuhan? Entahlah. Luhan memang membuat semua orang penasaran.

“Luhan appa” panggil seorang yeoja kecil berwajah imut itu. yeoja kecil itu memainkan tangan Luhan. Jessica hanya melihat Luhan dan yeoja itu kecil dengan kaku. Gadis berambut cokelat itu sedang berperang keras dengan pikirannya.

“Appa, gendong aku” pinta yeoja kecil itu manja. Luhan berjongkok/? membungkuk men-sejajarkan tingginya dengan si yeoja kecil. “Naiklah” seru Luhan hangat. Si yeoja kecil hanya mengangguk senang dan bermain-main di pundak Luhan. “Luhan juga berhati malaikat rupanya” batin Jessica.

“Jess, mengapa diam?” jessica menoleh ke Luhan. Lalu tersenyum kikuk. “Ani” jawab Jessica singkat.

“Oh iya Jess. Aku lupa mau membicarakan ini semua denganmu. Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku membawamu kesini. Aku sering kesini, tepatnya seminggu sekali” jelas Luhan. Jessica hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

“Dan Luhan appa berjanji kepada lauren, jika appa mempunyai yeojachingu, appa akan membawanya kesini. Dan lauren senang karena akhirnya Luhan appa bisa menjadi namjachingu Jessica eomma” ujar Lauren, si yeoja kecil itu senang. Jessica mengerutkan dahinya bingung.

“Jangan hiraukan perkataan Lauren tadi Jess. Dia hanya yeoja kecil, dia tidak mengetahui apa-apa, hehe” ujar Luhan sambil memperlihatkan deretan gigi rapinya. Jessica hanya mengembungkan pipinya kesal, “Aku Jessica eomma?” batin yeoja itu kesal.

“Appa, eomma aku mau pergi jalan – jalan bersama kalian” rengek Lauren manja. Luhan tersenyum mendengar rengekan yeoja kecil di sampingnya, sedangkan Jessica sepertinya malah kesal. “Baiklah, eomma dan appa akan mengajak Lauren pergi jalan – jalan” ajak Luhan senang. Jessica hanya mampu mengerjapka matanya berulang kali, “Apa?” desisnya.

***

Luhan menggendong Lauren di atas pundaknya, sedangkan Jessica berjalan di samping Luhan dengan memasang wajah cemberut. “Eomma mengapa cemberut seperti itu? apa eomma tidak suka dengan lauren?” tanya yeoja kecil itu dengan wajah ditekuk. Jessica hanya menatap batu krikil yang sedaritadi ia tendangi. “Ani, eomma suka denganmu” ujar Jessica yang masih menatap batu krikil.

“Lalu kapan eomma dan appa menikah?” mendengar pertanyaan yang mengagetkan dari Lauren, Luhan dan Jessica langsung menatap yeoja kecil itu sebal. “Molla, appa dan Jessica eomma tidak tahu kapan kami menikah. Kami baru berpacaran, tidak mungkin langsung menikah” ujar Luhan dengan mengacak pelan rambut Lauren.

Hari ini mungkin adalah hari menyenangkan bagi Lauren. Tentu saja. Yeoja kecil itu sedang bermain – main di taman bersama Luhan, yang di anggap sebagai appanya dan Jessica, yeojachingu pura – pura Luhan yang dianggap sebagai eommanya sendiri. Tapi Lauren tidak tahu kalau ini semua adalah rekayasa.

Luhan, Jessica dan tentunya Lauren berhasil menyita perhatian pengunjung taman kota. Mungkin, banyak yang mengira bahwa Lauren adalah anak Luhan dan Jessica. Yaa, wajah Lauren adalah paduan dari mereka berdua. Benar?

Mood gadis berdarah Amerika – Korea itu semakin menurun saja. Apakah semua orang tidak tahu kalau ia tidak suka anak kecil? Terutama Luhan, otak namja itu sedang kemana saja sampai – sampai lupa dengan phobia aneh yang di miliki Jessica. Mereka berdua sudah kenal lama dan telah menjadi sahabat, masa lupa dengan seluk beluk sifat sahabatnya?

“Jess, jaga Lauren aku akan ke toilet. Arraseo?” titah Luhan kepada Jessica. Jessica, gadis itu hanya mengembungkan pipinya sambil menganggukkan kepalanya lesu. Baginya, bertemu dengan Lauren adalah petaka.

Yeoja kecil yang di sebut Lauren tadi melompat – lompat kegirangan. Berbanding terbalik dengan Jessica yang tidak menyukai Lauren karena ia phobia dengan anak kecil, justru Lauren menerima Jessica dengan senang hati, bahkan yeoja kecil itu sudah mulai menyebutnya eomma.

Lauren menggandeng ke dua tangan Jessica lalu menariknya. Entah Jessica akan di bawa kemana oleh yeoja kecil itu. Jessica menghembuskan nafas beratnya, mungkin hari ini adalah hari tersialnya seumur hidup.

Ternyata, Lauren membawa Jessica ke kedai es krim yang terletak di tengah taman kota. Kedai es krim yang bertuliskan ‘아이스크림 가게 도시 공원’ atau jika di baca dengan huruf latin ‘aiseukeulim gage dosi gong-won’ dan biasa di sebut dengan kedai es krim taman kota.

Dengan mood yang setengah – setengah Jessica menuruti ajakan Lauren untuk masuk ke dalam kedai tersebut.

“Ahjumma, aku ingin es krim cokelat dengan taburan choco chips dan saus cokelat caramel dua dan dua roti panggang selai buah mapel” pinta Jessica kepada Ahjumma pemilik kedai es krim tersebut. Ahjumma itu hanya tersenyum lalu mengangguk mengerti.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Lauren begitu menikmati roti panggang dan es krim buatan ahjumma itu dengan lahap. Sedangkan Jessica? Jangan di tanya lagi, yeoja manis itu sangat – sangat tidak menikmati makanan itu. Bukan karena rasanya enak atau tidak, melainkan Jessica tidak suka dengan manusia kecil yang ada di dekatnya, Lauren.

Jessica meruntuki nasibnya karena Luhan tidak juga kembali dari toilet. Kira – kira sekitar 45 menit namja cantik itu meninggalkan Jessica dan Lauren berdua.

Lauren sedari tadi hanya mengoceh tidak jelas, entah tentang kehidupannya di panti asuhan entah tentang pengasuhnya selama ini dan tentang Luhan. Lauren juga menceritakan bagaimana bisa Luhan mengadopsinya sebagai anak dan tentang janji menjijikkan Luhan.

“Lauren, eomma akan mengantarmu pulang. Hari sudah mulai malam” ujar Jessica datar. Lauren yang sedari tadi melamun langsung mengalihkan pandangannya pada Jessica.

“Tapi appa belum kembali dari toilet. Mengapa lama sekali?” kata Lauren sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

Jessica menghela nafas beratnya lalu menggidikkan bahunya untuk menandakan bahwa ia tidak tahu. Entah mengapa Jessica menarik tangan mungil Lauren dan memanggil taksi.

“Luhan sepertinya sedang memproduksi emas banyak, jadi ia meninggalkan kita selama dua jam”

***

Luhan masuk ke kantornya dengan tergesa – gesa. Namja imut sekaligus cantik itu bangun kesiangan. Mungkin karena kemarin sedang memproduksi emas banyak selama dua jam, eh?.

Jessica mendapati Luhan yang baru saja masuk di ruangannya. Yeoja itu hanya menatap Luhan tajam, sedangkan Luhan menatap seolah berkata ‘ada apa?’

Jessica menuju meja Luhan, sepertinya yeoja itu ingin sekali mengintrogasi Luhan tentang kejadian kemarin.

Glek..

Luhan menelan salivanya dengan susah payah, jika seperti ini Jessica susah di kendalikan. Sangat mematikan.

Jessica menggebrak meja Luhan. Sontak namja itu kaget dan lalu mengelus dadanya sambil mengglengkan kepalanya.

“Bagaimana kau bisa di toilet selama dua jam penuh? Kau sengaja meninggalkanku dengan Lauren atau kau sedang memproduksi emas secara berlebihan? Apa kau tidak tahu tentang phobiaku?” ratusan pertanyaan menghujani Luhan yang masih saja shock atas tingkah laku Jessica yang seperti kesetanan itu.

“Itu.. anu.. aku ada.. keperluan mendadak. Hehe” kata Luhan gelagapan. Sangat terilhat bahwa Luhan telah berbohong. Toh sebenarnya Luhan itu sengaja meninggalkan Lauren dan Jessica berdua hanya untuk berharap bahwa mereka berdua bisa cepat akrab. Ternyata tidak berhasil. Dan satu lagi, namja itu tidak tahu apa – apa tentang phobia Jessica. Tidak sama sekali.

“Lalu mengapa kau meninggalkanku dengan yeoja kecil itu hanya berdua? Apa kau tidak tahu apa – apa tentang phobia ku, huh?” ujar Jessica dengan penuh tekanan.

“Memang kau punya phobia apa Jess? Setahuku kau hanya phobia dengan timun. Memangnya Lauren seperti timun?” kata Luhan polos. Jessica hanya memutarkan bola matanya kesal. Apakah Luhan pantas disebut sebagai sahabat Jessica?

“Aku phobia dengan anak kecil” ujar Jessica sambil menonyorkan dahi Luhan. Namja itu mengusapkan tangannya ke dahinya dan merintih ke sakitan.

“Oooh, phobia yang aneh” cibir Luhan.  Jessica mengabaikan cibiran Luhan dan berlalu ke mejanya. Menghadapi jutaan kertas putih yang menggunung dan di sertai milyaran huruf hangul yang sedang menari – nari. Membosankan.

Jessica mengerjakan tugasnya dengan serius. Tidak mengabaikan Luhan yang sedari tadi mencuri pandangan kearahnya. Tidak merasa risih atau sebagainya. Jessica sedang fokus.

Drtt.. Drtt..

“Tch” desis Jessica yang mengetahui ponselnya bergetar yang menandakan ada pesan masuk. Dengan malas Jessica membuka ponselnya dan membaca isi pesan tersebut.

Tidak bisa di pungkiri lagi, Jessica sedang senang. Entah mengapa. Yeoja itu hanya bisa tersenyum gembira sambil memegang erat ujung roknya.

Luhan yang sedari tadi memperhatikan yeoja manis itu hanya menatapnya sinis. Lalu bangkit ke meja Jessica.

“Ada apa?” tanya Luhan yang terdengar sangat ingin tahu. Jessica tidak menatap Luhan walaupun hanya satu detik, yeoja itu masih asyik dengan ponselnya.

“Bukankah kau seharusnya mengerjakan jutaan kertas ini bukan mengerjakan sebuah pesan yang sama sekali tidak ada artinya” nasihatnya. Jessica hanya menatap Luhan datar. “Kau tidak tahu siapa yang mengirim pesan kepadaku”

Luhan mengibaskan tangannya yang menandakan bahwa ia tidak peduli siapa. Namja itu meneguk segelas air putih untuk melegakan dahaganya.

“Yang mengirim pesan untukku itu Tuan Kim, Xiumin. Dia memintaku untuk dinner nanti malam” jelas Jessica yang mengakibatkan Luhan tersedak. Untung saja gelas kaca itu tidak ikut di telannya.

“Jam berapa? Dimana? Dan ada acara apa?” Luhan melontarkan berbagai pertanyaan untuk Jessica jawab. Bukan menjawabnya, yeoja itu malah memandang Luhan sinis.

“Kau ingin tahu sekali Lu?”

“Tentu saja” jawab Luhan mantap.

“Pukul 8 di California Restaurant. Aku tidak tahu ada acara apa sebenarnya” terang Jessica yang masih menimbulkan berbagai pertanyaan di otak Luhan.

“Bagaimana kau tidak tahu?”

“Tunggu, mungkin ini semua bisa di sebut juga dating antara atasan dan bawahan” kata Jessica smabil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya.

Luhan, namja sebagai pendengar itupun membuka matanya dengan lebar.

“WHAT, ARE YOU KIDDING?”

TBC

Mianhaeee T^T author kaga tau mau ngelanjutinnya gimana, otak mampet. Mian kalo jelek, kurang memuaskan, lama, ga dapet feel, kurang panjang, atau apalah. Sekali lagi mian, ini FF gagal menurut ak u T^T. Aku mau minta pendapat dari readers Heearisted, FF ini dilanjut kaga?._.

Oiya, bagi yang bertanya apa arti Ba Ba dan Ma Ma, yaitu Ayah dan Ibu dalam bahasa cina.-. hehe.

56 thoughts on “You’re My Destiny | Part 3

  1. Pingback: You’re My Destiny | Part 4 | EXOShiDae Fanfiction

  2. Pingback: You’re My Destiny | Part 5 | EXOShiDae Fanfiction

  3. Pingback: You’re My Destiny | Part 6 | EXOShiDae Fanfiction

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s