[Chap. 1] He’s My Guardian

 hes-my-guardian

He’s My Guardian [Part 1 :: I Got A Handsome Bodyguard]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Tiffany Hwang [GG] – Kim Joonmyun [EXO K] | Other casts will appear soon

Chapter 1 Of ??? | Teen | Romance – Comedy – Angst – Life Story

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

 

Note:

SuFanny is back~~~

Oke, karena ada yang beberapa minta FF SuFany, aku buat deh FF Series ini. Karena aku gak tau buat apa dengan sequel dari Love Is itu. Soalnya gak ada yang bisa diceritain lagi dari keluarga bahagia nan harmonis itu-____-

Tapi ayolahh,,, walaupun enggak ada cerita manis dari keluarga Suho-Tiffany-Natalie dan kegilaan member EXO, harus dong yang udah request – request kemarin mampir sebentar, baca… dan jangan lupa komen 😀 /maksa nih-_-/ Thanks buat Cindy Eonni aka Phoenixfrombusan yang udah buatin poster kece ini 😀

Warning ya, bahasa disini enggak sesuai dengan EYD. Kan genrenya ada yang komedi gitu, walau mungkin komedinya rada garing.___.

 

Hari yang cerah. Matahari tampak bersinar dengan bersahabat di langit sana. Pagi ini kebanyakan diawali dengan semangat yang baru, berhubung hari ini adalah awal hari dalam satu minggu. Waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi, dan seorang gadis di sebuah rumah besar di kawasan elit Seoul masih tertidur pulas. Gadis itu memejamkan matanya dengan damai, tampak sangat menikmati tidurnya itu. namun sesaat kemudian, mata itu mulai mengerjap. Gadis bermarga Hwang itu membuka matanya dan kemudian segera bangkit dari tempat tidur.

Tiffany Hwang meregangkan kedua tangannya sembari berjalan menuju balkon kamarnya. Dengan pakaian tidur yang masih melekat, gadis itu memandangi sekitar rumahnya dari arah balkon. Menyampaikan senyum pada matahari kemudian menghempaskan diri ke sofa kecil yang berada di sana.

Gadis dengan tanktop biru muda serta hotpants putih itu memangku kakinya, mengambil majalah dan kemudian membacanya dalam diam. Yeah, tidak banyak yang dilakukannya selain hal – hal seperti ini saja. Bangun tidur, membaca majalah fashion terbaru, sarapan, pergi ke mall, shopping, makan siang, dan pekerjaan tak penting lainnya merupakan kebiasaan Tiffany setiap hari minggu. Gadis itu tak melakukan banyak hal pada hari minggu.

TOK TOK TOK

“Selamat pagi Nona, boleh saya masuk?”

Gadis itu tampak tak begitu terganggu dengan suara ketukan pintu. Tidak menoleh ataupun berdiri, dia tetap melanjutkan kegiatannya.

TOK TOK TOK

“Nona?”

“Hm, masuk!” jawabnya pendek dengan suara pelan. Namun sepertinya orang yang mengetuk pintu itu memiliki pendengaran yang cukup baik, karena pintu itu berderit pelan terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya dengan seragam maid yang membalut tubuhnya melangkah masuk ke kamar Tiffany. Dia menghampiri gadis itu kemudian membungkuk sopan pada Nona Muda-nya itu.

“Tuan dan Nyonya ingin bertemu dengan Nona…” tutur wanita itu dengan lembut.

Tiffany tak menoleh, melainkan gadis itu menutup majalahnya dan mengernyitkan dahi. “Ada apa?”

“Saya tidak tau, Nona. Tapi Tuan menyuruh Nona agar segera turun”

“Aku belum lapar, Bibi Ahn!” sergahnya kemudian kembali menghempaskan punggungnya pada sofa dan membaca majalahnya.

“Ani, Nona. Sepertinya bukan perihal untuk sarapan bersama..” sahut wanita yang dipanggil Bibi Ahn oleh Tiffany itu. Ya, for your information, Tiffany ini termasuk anak yang tidak senang dengan namanya sarapan pagi. Entah kenapa. Suatu kebencian yang sangat aneh.

“Lalu?” Alis Tiffany kembali mengernyit sembari matanya menusuk tatapan Bibi Ahn. “Appa mau berbicara penting denganku?”

“Mungkin, Nona.”

Tiffany menghela nafas, namun sedetik kemudian, tubuh putihnya (?) itu berdiri, “Oke. Dimana Appa?”

—-

Tiffany POV

Pertama – tama, annyeong semua~

Sudah tau kan siapa namaku? Yang belum tau keterlaluan banget, tapi ya sudahlah, mumpung aku memang baik akan kuberitahu. Namaku Tiffany Hwang. Bukan Stephanie. Kelahiran 89’ dan lahir dengan selamat dan mempesona. Oke, bukannya sombong, tapi memang sedari kecil aku sangat mempesona.

Lanjut ke cerita, aku menuruni tangga dengan anggunnya. Hingga akhirnya telingaku menangkap sebuah suara cekikikan. Bohong aja kalau itu kuntilanak, mana ada kuntilanak di pagi menuju siang seperti ini? Kuntilanak kejepit pohon kali, enggak sempat ngehilang waktu udah pagi. Mungkin ya, bukan berarti aku tau sejarah – sejarah kuntilanak…. Tapi eh, ngapain ngomongin setan berambut panjang yang hobi cekikikan begitu? Enggak elit banget.

Kakiku melangkah menuju halaman belakang – sesuai info dari Bibi Ahn – hingga akhirnya mataku melihat sosok Eomma dan Appa yang membelakangiku, tengah berbincang dengan seseorang yang kalau kulihat lebih dekat lagi adalah seorang…. pria muda dan… tampan. Menggunakan jas hitam dengan kemeja berwarna biru tua dan dasi putih garis – garis, tampak begitu cocok digunakan oleh lelaki itu. Tampan banget!

Tapi, tunggu dulu…

Pria muda, tampan, dan terlihat kaya raya… Apa Eomma dan Appa bermaksud untuk,,, menjodohkanku?!

“HAHAHA…”

Tiffany semakin dongkol melihat tawa kedua orang tuanya yang membahana riang itu. Gadis itu sudah terlanjur mengira lelaki tampan nan gagah yang duduk di hadapan kedua orangtuanya itu adalah calon jodoh yang dipersiapkan Eomma dan Appanya yang kadang memintanya agar segera menikah.

Dengan langkah cepat, Tiffany menghampiri kedua orang tuanya dan berseru, “Appa! Eomma!”

“Oh? Tiffany sayang…” Nyonya Hwang tampak sumringah melihat sosok Tiffany. Beliau segera menyuruh anak gadisnya itu untuk segera duduk di kursi kosong disana – dan omong – omong bersebelahan persis dengan ‘calon jodoh’ Tiffany itu.

Sontak, Tiffany menggeleng keras. Menatap tajam ketiga orang disana dan bersedekap dada. “Sudah aku bilang aku tidak mau dijodohkan! Kenapa kalian masih mau menjodohkanku?! Umurku masih 24 tahun! Masih terlalu muda untuk menikah!”

Kedua orang tua Tiffany membulatkan matanya terkejut. Terlebih Tuan Hwang yang tergagap, bingung mau menjawab apa. Anaknya sudah memberi perlawanan terlebih dahulu, rupanya (?). “Ti—Tiffany—maksud Ap—“

“NGGAK MAU TAU! AKU NGGAK MAU DIJODOHKAN! TITIK!” teriak Tiffany dengan suara merdunya itu. Suaranya keren banget, sampai bisa buat telinga orang – orang disana tuli mendadak.

Nyonya Hwang menahan nafas ketika melihat anaknya itu ngos – ngosan karena mengeluarkan banyak energi untuk teriakan dahsyat cetar membahana badai topan ulala itu /abaikan-__-/. “Sa—sayang, dengarkan Eomma dan Appa dulu—“

“APA YANG MAU DIDENGARKAN?! SUDAH JELAS – JELAS KALIAN MAU MENJODOHKANKU, ‘KAN?! IH, AKU NGGAK MAU!”

“Sa—sayang…”

“NGGAK MAU! TITIK! TIFFANY NGGAK MAU DIJODOHKAN DENGAN SIAPAPUN DAN SAMPAI KAPANPUN! TIDAK—“

“A—aku bukan mau dijodohkan denganmu”

Tiffany terdiam mendadak. Lelaki yang semula dia kira akan menjadi calon pasangannya itu buka suara dengan takut – takut. Terlihat lelaki itu menelan ludahnya berkali – kali. Tiffany terdiam, namun sedetik kemudian mendelik tajam pada lelaki itu dan dengan gaya angkuh dia bertanya, “Apa katamu?!”

Lelaki berjas hitam itu mengangguk lalu berdiri, kemudian membungkukan badan, “Per—perkenalkan, namaku Kim Joonmyun. Kau dapat memanggilku Suho,… Nona Tiffany”

“APA?!” Tiffany semakin tak mengerti. Tunggu dulu, apa yang tadi lelaki itu lontarkan untuk panggilan Tiffany? …. Nona? Berarti…

“Appa bermaksud untuk menjadikan Suho bodyguarmu, Sayang”

“APAA?!!!” Tiffany menganga lebay. “Bodyguard?! Gak salah, nih?!” Pikiran Tiffany semakin tak menentu. Tidak mengerti dengan maksud Eomma dan Appanya yang aneh. Yang benar saja, Tiffany itu sudah dewasa. 24 tahun. Tidak perlu untuk dijaga dengan kawalan bodyguard lagi. Yeah, walau body lelaki yang menjadi bodyguard Tiffany ini tinggi dan menggoda iman (?), tentu saja Tiffany terlalu malu untuk mau dikawal – kawal begitu. ‘Memangnya aku anak kecil apa?’ gerutu Tiffany dalam hati.

“Iya, sayang” Nyonya Hwang menyahut dan mengelus rambut putrinya itu dengan lembut. “Seru kan punya bodyguard? Kemana – mana ada yang jaga, jadi kemananmu terjamin”

“Terjamin kayak anak kecil, gitu?” gerutu Tiffany sembari mendelik pada wajah tampan nan berkharisma milik Suho, bodyguard yang belum disetujui itu (?).  Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis tapi mampu membuat kegantengannya bertambah beratus – ratus kali lipat. Kalau saja Suho bukan calon bodyguard Tiffany, gadis itu yakin dia sudah tergila – gila pada sosok ganteng itu.

“Sayang,” Kini gantian Tuan Hwang yang membelai anaknya penuh kasih sayang, “Kau tau kan bagaimana persaingan ketat perusahaan kita di bidang bisnis? Banyak lawan yang tidak menyukai Appa dan berusaha menjatuhkan Appa. Appa takut kalau mereka nekat sampai mencelakakan keluarga kita. Makanya Appa minta Suho untuk jadi bodyguardmu. Mau ya, sayang?”

Tiffany bungkam. Tapi hatinya masih jengkel setengah mati. Lagi – lagi kerena urusan perusahaan Appanya itu maka Tiffany harus menjadi ‘korban’ dengan rela dikawal bodyguard kemana – mana. Gadis itu menggerutu tak habis – habisnya. Sedang kedua orangtuanya tetap memberinya nasehat – nasehat dan keuntungan kalau dirinya dijaga seorang bodyguard ganteng.

“Sayang,” Nyonya Hwang mendekat pada anak gadisnya itu. Memegang kedua pundak anaknya itu lalu berbisik sambil cengegesan, “Bayangin deh kalau kemana – mana kau dijaga sama Suho yang ganteng begitu? Pasti banyak gadis yang iri padamu. Suho kan ganteng banget, jadi nggak malu – maluin kalau jalan sama kamu. Siapa tau juga kalau kalian bisa pacaran begitu?” Suara Nyonya Hwang mengecil ketika menyelesaikan perkataannya.

Tiffany membalas ucapan Eommanya itu dengan tatapan tajam, tak terima. Masa’ dia pacaran sama bodyguard?! Nggak keren banget. Tapi bener juga sih,kalau bodyguardnya ganteng pake banget seperti itu… ada untungnya juga.

Setelah lama berpikir, akhirnya Tiffany menghela nafas, dan mengangguk.

“HA?! Yang bener?!”

Kedua gadis di hadapan Tiffany itu membulatkan mata dan mulutnya dengan bersamaan. Layaknya pasangan kembar yang beda tinggi badan /nyindir banget-.-/, Yuri dan Taeyeon yang notabanenya sohibnya Tiffany sejak SMA itu menganga mendengar penuturan penuh amarah dari gadis di hadapan mereka.

Tiffany ngangguk seraya memasang wajah pengen nangis. “Eomma dan Appa kejam banget sama aku, ah”

“Tiff, yang sabar ya…” Yuri mengelus tangan sahabatnya itu lembut. Tiffany mengganguk pasrah, “Tapi kan nggak enak juga dikawal kemana – mana, Yul”

“Iya, iya, aku tau. Sabar ya, Tiff” Tiffany tersenyum tipis. Sahabatnya ini memang selalu dapat diandalkan.

“Jadi, sekarang kamu dijaga bodyguard gitu?” tanya Taeyeon dengan wajah nggak mudeng. Maklum, di antara mereka bertiga, hanya Taeyeon yang memang rada – rada lemot gitu. Setiap ngebicarain apapun, pasti Taeyeon harus dijelasin berulang – ulang. Sebenarnya bete juga sih Tiffany dan Yuri setiap kali penyakit lemot Taeyeon itu kambuh, tapi sebagai sohib yang baik, mereka dengan sabarnya menjelaskan ulang setiap pembicaraan yang baru saja mereka bicarakan.

“Iya, Taeyeon” sahut Tiffany agak lemas juga kesal. Lemas karena sekarang dia kurang bebas kemana – mana, kesal karena penyakit lemot Taeyeon kambuh di saat seperti ini.

“Kenapa enggak nolak aja? Gampang, ‘kan?” anjur Taeyeon dengan polosnya. Saking polosnya sampai bikin Tiffany pengen nyekek sahabat sejak SMAnya itu. Tiffany mendengus kasar, lalu memberi isyarat pada Yuri untuk menjelaskan pada Taeyeon.

Yuri menghela nafas, lalu kemudian menghadap Taeyeon dengan wajah manis, “Taeyeon-ah, mana mungkin Tiffany bisa nolak? Kau harusnya ingat dong bagaimana sifat kedua orang tua Tiffany. Lembut tapi maksa! /janganyadongjanganyadong//apaini-_-/dihajar/”

Taeyeon cengo sendiri, berusaha mengingat. Sesaat kemudian, gadis bertubuh mungil itu terkekeh sendiri. “Hehe, iya ya… Aku lupa. Hehehe”

Tiffany dan Yuri hela nafas. Capek juga ngehadapain Taeyeon yang lemotnya nggak ketulungan itu.

“Uhm, bodyguardmu ganteng, ‘gak?” Tiffany mengangguk.

“Kulitnya putih gitu?” Ngangguk lagi.

“Suka pake jas hitam dan sepatu mengkilap ala kantoran?” Tiffany jengkel. Taeyeon kok nanya – nanya mulu, sih? Tapi gadis itu mengangguk saja sembari mengaduk orange juicenya yang sudah tinggal sedikit.

“Rambutnya hitam disisir rapi dan punya senyum yang mematikan?” Tiffany ngangguk dengan lemas.

“Kok gantengnya pake banget ya? Jadi pengen punya pacar kayak bodyguardmu itu—“ Tiffany mengernyit tak mengerti. Gadis itu mendongak melihat sahabatnya itu dan semakin tak mengerti ketika melihat wajah Taeyeon yang seperti sedang terpesona. Tampak sahabatnya itu sedang melihat ke suatu arah di belakang Tiffany dan masang wajah pengen.

“Astaga… Ya Tuhan” Tiffany semakin bertanya – tanya karena sekarang Yuri sudah ikut – ikutan pasang wajah seperti punya Taeyeon ketika melihat arah pandang Taeyeon. Bedanya sekarang, temannya yang lebih tinggi darinya itu, tersenyum cantik dan kedip – kedip penuh pesona.

Tiffany ikutan menengok ke belakang, “Apaan sih—“

Gadis itu terpaku ketika sosok bodyguard gantengnya itu sudah berada tepat di belakangnya. Dengan senyum malaikatnya, Suho membungkukkan badannya sedikit dan berkata, “Halo Nona Tiffany”

Tiffany merasa dia berada dalam mimpi. Ya Tuhan, Suho ganteng banget sekarang. Pantas saja kedua sahabatnya itu sudah senyum – senyum gak jelas tadi. Tanpa sadar, mulut Tiffany terbuka kagum.

“Fan, kok kamu nggak suka sih punya bodyguard ganteng kayak dia?” bisik Taeyeon seraya mencolek lengan Tiffany gemas. “Kalau nggak mau, kasih aku aja… Aku suka nih” Tiffany mendelik. Temannya itu ternyata sudah berubah kegenitan ketika Suho datang.

“Iya, Tiff. Ganteng banget,ya ampun—“ Yuri ikutan pengen. Ternyata bukan kedua gadis itu saja yang sudah dibuat gila oleh pesona Suho, semua gadis yang ada di kantin kampus Tiffany pun sudah mulai kegenitan sama bodyguard ganteng milik Tiffany itu. Bahkan beberapa di antara mereka berani nyolek – nyolek Suho dan minta nomor ponsel namja ganteng itu. Sedangkan lelaki itu dengan sopannya hanya tersenyum saja.

Kepopuleran Suho disana ternyata membuat Tiffany rada besar kepala. Dengan gaya sok angkuh, gadis itu menyuruh Suho untuk duduk di sebelahnya. Suho menurut saja sembari tersenyum pada beberapa gadis yang dari tadi keganjenan sama dia.

“Astaga Fan—“ Taeyeon semakin menggila ketika melihat Suho dalam jarak dekat. Duduk di hadapan bodyguard ganteng Tiffany membuat kedua sahabat Tiffany itu semakin gila, dan hal itu membuat Tiffany dongkol setengah mati.

“Suho, udah makan belum?” Tiffany berbalik pada lelaki di sebelahnya dan bertanya dengan gaya cantik. Cantik banget.

Suho tersenyum dan menggeleng sopan, “Belum, Nona”

“Ya udah kalau gitu, pesan makanan, ‘gih. Nanti aku yang—“

“Aku yang bayar pesanannya saja, Tiff!” sahut Yuri tiba – tiba. Rupanya gadis itu semakin kesemsem (?) dengan pesona Suho yang cetar membahana. Tiffany mendengus jengkel, namun akhirnya mengangguk setuju saja. Dan Yuri pun berseru senang, dengan gaya centil nan sexy miliknya, Yuri mulai aksi PDKTnya pada bodyguard sahabatnya itu.

‘Sialan. Begitu saja udah gila’ gerutu Tiffany dalam hati sambil sok cuek. Padahal sebenarnya gadis itu emosi dan ilfeel banget ngelihat para gadis yang mulai ngerubunin Suho. Ada yang mesanin dia makanan mahal dan minuman segar, ada yang pijit – pijit lengannya, bahkan ada yang berani megang – megang bahu Suho. Dan gadis itu semakin emosi ke ubun – ubun ketika tau Suho malah ngeladenin semua tindak genit (?) dari para gadis itu. Dia mau – mau aja ngasih nomor ponselnya ketika ditanya.

‘Dasar ganjen!’ kesal Tiffany dalam hati. Gadis itu segera menyingkir dari tempatnya dan memesan minuman lagi. Tanpa kembali ke mejanya, Tiffany hanya berdiri sembari menunggu pesanan minumannya selesai, sedangkan matanya terus menatap jengkel Suho dan para gadisnya itu. ‘Sama aja dengan lelaki lain’ batinnya kesal.

Setelah orange juicenya selesai dibuat, Tiffany segera membayar pesanannya dan mengambil langkah untuk pergi dari kantin kampus. Persetan dengan bodyguardnya itu, toh dia juga sedang asyik dengan para gadis genit itu. Tiffany melangkah dengan perasaan campur aduk. Kesal, marah, jengkel, semuanya bersatu dalam perasaan gadis itu.

“Nona Tiffany!”

Kedua kaki itu berhenti bergerak. Tiffany membeku ketika suara Suho terdengar dan tampaknya lelaki itu tengah berlari menghampirinya. Tiffany juga dapat mendengar seruan kesal juga tak terima dari para gadis yang di kantin itu. Apa Suho meninggalkan mereka demi mengejar Tiffany?

“Nona—“

“Apa?!” Tiffany berbalik dan menyahut dengan nada dingin. Tangannya terlihat di depan dada dengan kesal. “Ngapain ikutin aku?!”

“Aku kan bodyguardmu, Nona. Jadi aku—“

“Nggak perlu ikutin aku! Urusin aja para fansmu, sana!” bentak Tiffany dengan kasar. Ey, rupanya dia marah besar.

“Bener nih, Nona?” Tiffany semakin dibuat emosi ketika Suho malah dengan tampang tak berdosanya bertanya meminta kepastian. Yeoja itu mengangguk malas, “Iya! Sana! Hush, hush!”

“Nona yakin?”

“Iya, ah! Bawel! Sana!”

“Beneran nih—“

“UDAH SANA!”

Suho terdiam. Matanya menatap indera penglihatan gadis di hadappnya dengan tatapan menusuk, membuat Tiffany salah tingkah. “Ng—ngapain masih disini?” tanya Tiffany gagap.

“Aku bersama Nona saja…”

Tiffany tergagap. Suho berkata apa tadi? Bersamanya? “A—apa maksudmu?” Tiffany berusaha bersikap biasa saja, namun pada akhirnya gadis itu semakin salah tingkah ketika tangan Suho meraih tangannya.

“Lebih baik aku dengan Nona Tiffany saja. Kalau aku pergi, nanti Nona sendiri. Kasihan…”

Tiffany membelalak marah, “APA?!! KAUU!! PERGI SANA!!!! AKU TIDAK MEMBUTUHKANMU!”

Tiffany merasa Suho sangat mengetahui dirinya. Kenapa? Karena saat dengan kata – kata Suho tadi yang membuat Tiffany tersindir banget – ya iyalah, masa lelaki itu bilang kasihan ninggalin Tiffany sendiri? Memangnya Tiffany bakal nangis gitu karena sendirian? –, lelaki itu malah mengajak Tiffany pergi ke mall. Menemani gadis itu shopping berjam – jam lamanya.

Tiffany semakin merasa dirinya bahagia ketika menggesekkan kartu kreditnya ke sana ke sini. Ke toko satu dan toko yang lain, sedangkan barang – barangnya sudah di ambil alih oleh Suho. Bodyguard gantengnya itu dengen gentle membawa seluruh barang belanjaannya yang terbilang sangat banyak itu.

“Nona—“ Namanya juga manusia, ada batas lelahnya. Suho menghempaskan tubuhnya di sofa begitu mengetahui bahwa toko sepatu yang sedang dimasuki Tiffany itu terdapat tempat duduk. Lelaki itu meletakkan semua barang belanjaan Tiffany di lantai, kemudian memijit pinggangnya. Gila, membawa barang Tiffany yang banyak begini membutuhkan begitu banyak energi.

“AAA!!! Suho, lihat deeh!” Tiffany menjerit sendiri ketika sebuah sepatu sneakers pink dengan hiasan berlian di atasnya berada di genggamannya. Dengan begitu ringannya, gadis itu membawa sepatu itu pada Suho dan memperlihatkannya pada lelaki yang tengah melepas lelah itu. Persis seperti seorang gadis yang sedang menunjukkan barang kesukaannya pada kekasihnya meminta pendapat, tapi eh… mereka nggak pacaran, ‘kan?._.

“Keren, ‘kan? Iya, ‘kan?” desak Tiffany ketika snekears pink itu sudah terpasang sempurna di kaki putihnya. Gadis itu berjalan – jalan di depan Suho, seakan meminta pendapat dari lelaki itu.
Suho tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan. “Pas sekali di kakimu, Nona”

“Yei~ Aku ambil deh” Tiffany segera melepas sepatu itu dan menyerahkan pada sang pramuniaga yang setia menunggu mereka. Dengan wajah sumringah, gadis itu segera pergi ke kasir untuk membayar sepatunya. Sedangkan Suho menghela nafas, mengumpul tenaga karena ternyata beban bawaannya akan bertambah.

Dirinya merasa sudah sangat salah membawa Tiffany untuk shopping.

Keluar dari toko itu, Tiffany segera mengajak Suho untuk makan siang bersama. Mentraktir lelaki itu, hitung – hitung membayar tenaga yang sudah dikeluarkan Suho untuk membawa barang bawaannya. Suho hanya tersenyum mengangguk berulang kali ketika Tiffany menanyakan menu yang akan dipesannya. Lelaki itu lebih memilih Tiffany yang memilihkan makanannya.

“Ehm, makasih ya udah mau ajak aku shopping dan bawain barang – barangku” Tiffany tersenyum kecil ketika pelayan yang melayani mereka sudah pergi membawa pesanan.

Suho tersenyum, “Tak apa, Nona. Itu sudah menjadi tugasku”

“Tugas apanya? Tugasmu itu kan sebenarnya cuma ngejagain aku, bukan bawa barang – barangku. Hehe”

“Tidak apa – apa. Saya ikhlas kok, Nona”

Tiffany tersenyum geli. “Baiklah, terserah katamu”

“Oh ya, Nona. Boleh saya bertanya?” Tiffany mengangguk. “Apa?”

“Kalau Nona pergi ke mall dan shopping, siapa yang bawain barang – barangnya Nona yang banyak begini?” Suho terkekeh kecil mengingat betapa lelahnya dia membawa barang – barang Tiffany yang super duper banyak itu. Gila aja kalau gadis itu menjawab dia membawanya sendirian.

“Aku selalu membawa para pesuruh,”

Suho mengernyit, “Pesuruh?”

“Eh, bukan pesuruh sih. Sebenarnya pacar, tapi aku malah ngejadiin mereka alat untuk bawain barang – barangku” Tiffany terkekeh sendiri mengingat kelakuan absurdnya itu. Punya pacar, tapi malah ngejadiin mereka babu’. Kasihan juga sih sebenarnya, tapi itulah resiko menjadi kekasih seorang Tiffany.

Sedang gadis itu terkekeh sendiri sambil mengamati pelayan yang baru saja mengantar makanan mereka, Suho bergidik ngeri dalam hati. Bahaya banget jadi pacarnya Tiffany. Dirinya tak bisa membayangkan kalau misalnya dia sudah naik pangkat menjadi pacar gadis itu dan harus membawa barang – barang Tiffany kemana – mana. Persis babu. Tapi eh, percaya diri banget Suho jadi pacarnya Tiffany.

Tapi nggak ada salahnya pemudia itu berharap, ‘kan. Siapa tau suatu saat nanti dia memang akan ‘naik pangkat’ menjadi kekasih gadis itu~

TBC

p.s:

Gimana? Wahahahaaa~ /gila/

Disini aku belum munculin konfliknya, yeah… bisa dibilang masih seperti teaser gitu. Tapi aku lebih milih jadiin ini part 1 aja. Supaya lebih cepat selesai /plak/

Komentar dan likenya ditunggu yaaa~

Salam SuFany, muach muach :*

29 thoughts on “[Chap. 1] He’s My Guardian

  1. wkwkwk……………..
    keduany sama” narsis abiezzz……
    chingu skrang aku juga lagi kesemsem ama nie couple
    next part jgn lama” yach^_^

  2. hahaha.. lucu, tiffany disini anak tunggal ya? kalau suho umurnya berapa? penasaran hhehe
    di tunggu next chapternya banyakin adegan so sweetnya ya thor

  3. cerita kocak juga… perkataanya nyonya hwang bisa aja bgtu dgn bujuk tiffany tp ampuh juga. tiffany cemburu tuch n suho ngarep juga pengen jadi pacarnya tiffany.. jd penasaran dgn hari-hari berikutnya kalo suho dan tiffany jd sepasang kekasih. next partnya ditunggu ya.

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s