[OneShot] Rain, Please Stop….

rain-please-stop (2)

Title

Rain, Please Stop

Author

tantriprtstht

Length

OneShot

Genre

Romance, Friendship, School-life & Social

Rating

G

Main Cast

Choi SooYoung (SNSD) | Do Kyungsoo (EXO) | Kim Joon Myeon (EXO)

Desclaimer

Cast milik Tuhan Yang Maha Esa dan Orang Tua mereka masing-masing serta entertainment mereka.  Dilarang bashing! Wajib comment setelah membaca. Do not plagiat but be creative. Sesuai judulnya, FF ini terinspirasi dari hujan. Banyak amanat yang bisa dipetik dari FF ini #AuthrorGeer but maaf kalau FF ini ceritanya jelek….

Poster Art by PhoenixFromBusan

Rintik-rintik dan gerimis. Sedang dan deras. Itulah hujan. Kejadian alam yang sungguh hebat pengendali-Nya. Kalau menurut anak kecil, hujan adalah tangisan para Dewa dan Dewi. Kalau menurut anak remaja yang sekarang sudah mulai mengerti, kadang mereka membuat candaan kalau hujan adalah air mandi para Dewa. Apakah itu benar? Hanya Tuhan yang tahu.

Tapi para ahli cuaca berkata hujan adalah sebuah siklus air. Air adalah sumber daya alam yang bisa diperbarui, salah satunya dengan hujan. Dibutuhkan sinar matahari untuk melakukannya. Yah, siklus hujan sangatlah panjang. Para ahli memang sudah tahu apa itu hujan.

Dingin. Basah. Itulah akibat hujan. Bukan hanya itu saja, tapi bukan karena aku tidak ingin menyebutkan. Karena aku belum punya pengalaman banyak dengan hujan. Selama ini tidak ada kejadian dengan hujan yang menyakitkanku.

Ini cerita tentang temanku. Dia namja yang sudah aku kenal lama. Namanya Kim Joon Myeon. Aku biasa memanggilnya Suho. Dia benci sekali hujan karena suatu hari dia lupa membawa payung dan terpaksa dia pulang basah-basahan. Begitu sampai di rumah, orangtua Suho memarahi Suho karena itu Suho benci sekali hujan.

Karena itu, setiap hari, tidak peduli musim semi, panas, gugur maupun salju aku selalu membawa 2 payung. Tentu tanganku terbuka sangat lebar jika dia mau pinjam payung padaku. Meski itu terpaksa membuatku melayaninya, seperti saat ini yang aku menunggu dia selesai latihan basket di aula.

Aku mendengus kesal. Hujan? Aku tidak punya banyak cerita tentang hujan. Hujan sudah biasa bagiku. Sering aku lihat di televisi kalau terjadi banjir, tanah longsor dan orang-orang menyalahkan hujan. Hasil karya Yang Maha Esa itu disalahkan oleh manusia. Hujan tak berdosa.

Ya, Hujan tak berdosa. Tapi aku tidak pantas bicara seperti itu. Aku masih tidak bisa membuktikan kalau hujan itu berdosa atau tidak.

Banyak orang menyalahkan hujan, seperti teman-teman yang seangkatan denganku. Padahal kami sama-sama memilih jurusan cuaca, tapi mereka menyalahkan hujan. Kami manusia, masih menyalahkan hujan sebagai sebuah masalah besar.

PIP!

Sebuah bunyi yang sudah menjadi ciri khas. Aku segera meraih HPku. PIP adalah bunyi jika aku mendapat SMS dari Suho. Aku menatap layar HPku, membaca pesan darinya. Raut wajahku berubah. Bisa-bisanya dia bilang dia akan pulang dengan teman-teman basketnya.

Baiklah, apa ini karena hujan atau karena dia tidak mau pulang denganku? Atau tidak keduanya. Mungkin dia sudah yakin kalau hujan sebentar lagi berhenti. Tapi aku memandang keluar sekali lagi. Hujan masih deras.

Jam menunjukkan jam 2 siang. Kuputuskan untuk pulang sendirian saja. Aku tidak punya asalan untuk mencegah Suho agar tidak pulang bersama teman-teman basketnya.

Sampai di depan sekolah, seorang namja sedang berteduh di sana. Rambutnya hitam bersinar, tidak terlalu tinggi tapi tatapannya kelihatan senang memandangi hujan. Apa dia senang dengan hujan?

Aku berhenti di sebelahnya untuk membuka payungku. Aku terus mencuri pandang ke namja itu. Apa dia tidak membawa payung? Kebetulan sih aku bawa 2 payung.

“Permisi” ucapku lalu dia menoleh padaku. “Aku membawa 2 payung. Mau pinjam satu?”

Dia menggeleng sambil tersenyum lalu menghadap ke hujan lagi. “Tidak apa. Aku sedang menunggu seseorang”

Aku mengangguk lalu aku memasukkan payungku yang satu lagi ke dalam tas. Aku mengangguk lalu berjalan pulang sambil terus memikirkan namja itu. Mengapa dia senang sekali melihat hujan?  Apakah hujan baginya membawa kesenangan baginya? Dan apakah jika tidak hujan dia akan sedih sekali? Aku tidak mengerti dia dan aku ingin tahu tentang dia.

Aku bahkan tak tau namanya tapi sering melihatnya. Dia juga pasti salah satu murid jurusan cuaca tapi mungkin kelas kami beda. Mungkin aku bisa mencarinya besok.

*

Hujan. Lagi-lagi hujan. Aku mendengarkan semua orang di kelasku mengeluh kesal karena hujan turun di hari yang sebenarnya biasa saja ini. Lagi-lagi mereka menyalahkan hujan. Bosan rasanya mendengar mereka mengeluh, tapi apa boleh buat. Ikut mengeluh pun tidak ada gunanya. Mendengarkanpun tidak ada gunanya.

“Ya! SooYoung” sapa suara yang sudah kukenal dari sebelahku. “Nanti aku akan pulang bersamamu”

“Ne, Suho. Jangan membuatku menunggu lagi” jawabku sambil tersenyum.

Suho membalas senyumanku. Terkadang dia sangat menyebalkan, terkadang dia membuatku tersipu. Satu hal yang tidak aku mengerti, mengapa dia tidak bisa berhenti membenci hujan.

Hujan. Aku teringat namja yang kemarin yang tersenyum pada hujan. Namja aneh yang harusnya aku mencari dia sekarang. Hatiku tergerak mengingat senyumannya. Aku bangkit berdiri, mencarinya.

Aku keluar dari kelasku. Apakah mudah mencarinya di antara banyak kelas di sini? Kalau dia jurusan cuaca, kelas yang mana sekarang dia berada?

TENG! TENG!

Aish, sudah waktunya pulang rupanya. Aku melirik jam tanganku. Jam 1 siang, dan sudah waktunya pulang. Bagaimana kalau Baekhyun sudah menunggu sekarang?

Aku melangkahkan kakiku ke dalam kelasku yang sepi, hanya terdengar tetesan hujan. Secepat inikah orang-orang pulang supaya bisa sampai rumah dengan secepat kilat, menghindari tetesan hujan? Suho juga sama saja. Ke mana namja itu? Apa dia sudah menungguku di depan?

Aku mengambil tasku dan mengecek isinya. Raut wajahku berubah. Aku mengeluarkan semua barang dari tasku untuk memastikan benda itu hilang atau tidak

“Di mana payungku?!” gumamku lalu meneruskan pencarian.

Aku cemas. Kalau aku tidak membawa payung, bagaimana aku dan Suho bisa pulang? Suho yang benci hujan itu pasti akan memarahiku. Tapi tidak jika dia menyalahkan hujan. Nggak mungkin. Dia pasti menyalahkanku yang lupa membawa payung.

Tunggu dulu. Aku yakin sekali aku tidak lupa membawa payung. Itu sudah jadi kebiasaanku selama setengah tahun belajar di sini. Apalagi, membawa 2 payung. Sepanjang tahun, tak peduli musim semi, panas, gugur maupun salju aku selalu membawa payung itu.

Biarlah, aku cari lagi sebentar. Suho yang menunggu di depan mungkin bisa sedikit lebih sabar. Lagipula, kemarin aku sudah menunggunya sepanjang 1 jam. Harusnya dia membayar upah menungguku kemarin.

Ternyata Dewa keberuntungan tidak terlalu berpihak padaku. Sudah jam 2 lebih. Hujan juga Cuma gerimis. Mungkin Suho bisa memaklumiku. Hanya gerimis saja tidak akan membuatnya marah padaku, kan?

Aku melangkah ke depan gedung sekolah. Langkahku berhenti. Suho tidak ada. Mungkinkah dia pulang meninggalkanku? Tidak mungkin. Dia kan benci sekali berlarian di tengah hujan, gerimis saja dia tidak mau menerobos air yang menetes dari langit ini.

“Permisi” aku menoleh ke sumber suara. Seorang anak sekitar 7-9 tahun dengan pakaian lusuh membawa sebuah payung.

“Ah, Ne” jawabku. “Yoboseyo?”

“Unnie…. Lihat Kyungsoo Oppa?”

“Kyung…soo?” tanyaku padanya lalu dia mengangguk.

Kyungsoo? Nama yang tidak kukenal. Tapi anak yang memegang satu payung dengan tubuh setengah basah ini terus menunduk lesu. Tega sekali Kyungsoo yang membiarkan anak ini seperti ini.

“Choi SooYoung, imnida. Nugu seyo?” tanyaku sambil tersenyum.

“Risa” jawab anak itu.

“Risa-ssi, kau sedang menunggu Kyungsoo?” tanyaku lalu dia mengangguk. “Aku kenal dengan Kyungsoo. Akan kucari dia sebentar”

Risa tersenyum senang. Aku memasuki gedung sekolah. Sebenarnya aku berbohong kalau aku mengenal Kyungsoo. Tapi aku tidak tega melihat yeoja bernama Risa dalam keadaan seperti itu. Kuharap aku bisa menemukannya dengan mudah.

Aku memohon dalam hati. Kumohon Dewa Keberuntungan, payungku tidak ketemu tidak apa-apa. Asal anak kecil bernama Risa itu tidak berwajah seperti itu. Entah kenapa aku ingin sekali Risa tersenyum seperti namja yang kutemui kemarin.

Tunggu. Namja yang kutemui kemarin… Di mana dia? Kalau biasanya dia menunggu seseorang di tengah hujan begini, mungkin dia pernah melihat Risa.

Aku memeriksa dari kelas ke kelas. Tidak adakah seorang pun di sini? Siapapun, Kyungsoo atau siapa itu namanya. Muncullah.

Aku berhenti di depan kelas terakhir di lorong lantai 1. Kubuka pintunya, ada seorang namja. Dan namja itu adalah namja yang kutemui kemarin. Mungkin dia tau siapa itu Kyungsoo.

“Permisi! Kau yang di sana!” seruku membuat dia melepaskan headphone-nya.

“Ne” jawab namja itu lalu melangkah mendekatiku.

“Apa… Kau melihat orang bernama Kyungsoo? Ada anak kecil menunggunya!” ucapku.

Hening. Hanya tetesan hujan yang terdengar. Seketika, dia memegang tanganku, menarikku. Mau tak mau aku harus mengikuti langkahnya. Larinya cepat sekali. Menembus angin dingin yang disebabkan oleh hujan.

Ternyata namja ini membawaku ke depan sekolah. Risa yang semula wajahnya muram menjadi gembira. “Kyungsoo Oppa!”

DEG. Apa kata Risa barusan? Kyungsoo Oppa? Berarti namja ini adalah orang yang kucari daritadi dan dia bernama Kyungsoo! Aku memutar kepalaku ke kejadian barusan. Bisa-bisanya aku bertanya pada ‘Kyungsoo’ apakah ‘Kyungsoo’ melihat ‘Kyungsoo’ atau tidak.

Memang membingungkan, tapi intinya Kyungsoo adalah namja kemarin yang tersenyum menghadap hujan dan Kyungsoo adalah namja yang dicari Risa.

“Mianhae, Risa sudah membuatmu menunggu” ucap Kyungsoo sambil tersenyum. Membuatku memikirkan satu pertanyaan. Siapa Risa dan apa hubungannya dengan Kyungsoo ini?

“Gwechanna, oppa. Ayo pulang” ucap Risa sambil membuka payungnya. Hujan yang tadinya gerimis sekarang sudah mulai deras lagi.

“Kau tidak pulang?” tanya Kyungsoo padaku.

Aku baru sadar. Aku sekarang tidak bisa pulang karena kedua payungku tidak ada. Masa aku harus menunggu di sini sampai hujan reda?

“Kalau mau, unnie juga bisa pulang bareng Kyungsoo oppa” ucap Risa sambil tersenyum. “Risa nggak pakai payung juga tidak apa”

Aku menatap mereka berdua dengan pandangan ragu. Bolehkah aku pulang menembus hujan bersama 2 orang yang bahkan belum aku kenal?

“Kajja” ucap Kyungsoo lalu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Senyuman yang sama dengan saat dia menghadap ke hujan. Apa hanya hujankah yang bisa membuat wajah namja ini terlihat menyilaukan?

“Ne” jawabku lalu menggandeng tangan Kyungsoo.

Kami berjalan sambil bergandengan tangan dengan satu payung. Risa berjalan di sebelah kami, rela tubuhnya diguyur oleh air hujan. Sayang sekali payung ini tidak cukup besar untuk 3 orang. Aku jadi merasa bersalah.

“Risa, gwechanna?” tanyaku lalu tanganku yang sebelah lagi mengandeng tangannya.

“Gwechanna, unnie. Risa sudah biasa basah” ucapnya sambil tersenyum.

“Kyungsoo, kita langsung ke rumahmu saja. Aku tidak tega melihat Risa kehujanan. Rumahku berlawanan arah dari sini” ucapku lalu Kyungsoo mengangguk.

“Gwechanna, unnie! Langsung saja ke rumah unnie!” sahut Risa tapi aku menggeleng.

“Risa, harusnya kamu senangkan ada orang lain lagi yang peduli terhadapmu?” tanya Kyungsoo pada Risa sambil tersenyum.

Senyuman Kyungsoo dan Risa benar-benar senyuman yang menyilaukan. Hujan membuat senyuman mereka menyilaukan. Mereka bagaikan matahari di tengah-tengah hujan seperti ini. Apakah hujan sangat berharga bagi mereka?

Kami menyulusuri jalan perumahan dan akhirnya sampai juga di rumah Kyungsoo. Kami bertiga berteduh dulu di balkon rumah Kyungsoo. Kyungsoo menutup payung Risa lalu memberikannya pada Risa.

“Mianhaeyo, Risa-ssi. Gara-gara aku kamu jadi basah kuyup begini” ucapku tiba-tiba merasa bersalah karena melihat sosok Risa yang menggigil.

“Gwechanna, unnie. Demi itu” ucap Risa tersenyum lagi.

Demi itu? Apakah itu yang dimaksud Risa? Apakah hujan? Apakah payung? Apakah Kyungsoo? Apapun yang membuat Risa rela basah karena air hujan.

Aku jadi teringat Suho. Kalau Suho adalah Risa, dia pasti sudah marah-marah dengan kesal sekarang. Aku tak pernah berada di posisi Suho maupun Risa karena itu aku tidak mengerti rasanya. Tapi Suho dan Risa sangat berbeda. Risa terlihat senang sekali.

“Ini” ucap Kyungsoo sambil memberi Risa uang lima puluh ribu. “Hari ini spesial karena kau mengantar dua orang” Aku terkejut. Untuk apa Risa diberi uang? Jangan-jangan… Risa adalah pembantu Kyungsoo?! Tega sekali namja ini berbuat begini pada Risa!

“Kyunsoo, kamu te—“

“Gomawo, oppa!” ucap Risa sambil tersenyum lalu mengambil uang pemberian Kyungsoo. Mataku terbelalak melihat pemandangan ini. “Oppa, aku pulang dulu”

“Ne, hati-hati di jalan” jawab Kyungsoo sambil tersenyum. “Meski hujan sudah mulai reda, tetaplah pakai payung”

“Ne, oppa! Unnie juga, ya. Semoga kita bisa bertemu lagi, Unnie!” lanjut Risa lalu tersenyum padaku. Mau tak mau aku balas tersenyum padanya. Lalu dia pergi meninggalkan kami dan pulang dengan payungnya.

“Kyungsoo, kenapa kau memberi Risa uang?” tanyaku pada Kyungsoo.

Hening. Kyungsoo masih menatap hujan dengan senyumannya. Dia menoleh padaku lalu bersiap-siap bercerita padaku.

“Risa itu tukang jasa payung. Dia menyewakan payung pada orang yang tidak membawa payung” ucap Kyungsoo.

DEG. Anak sekecil Risa adalah tukang jasa payung? Pantas saja Kyungsoo memberinya uang. Risa mencari nafkah untuk keluarganya… Tega sekali orang tua Risa memperlakukan Risa seperti itu..

“Kejadiannya 2 bulan yang lalu… Aku lupa membawa payung… Lalu Risa—“

#FLASHBACK———-

“Hujannya deras” gumam Kyungsoo. “Eomma akan cemas kalau aku tidak pulang juga”

“Oppa….” Sapa Risa dari depan Kyungsoo. “Mau pinjam payung?”

“Payung?” tanya Kyungsoo. “Anak manis, siapa namamu?”

“Risa” jawab Risa sambil tesenyum.

“Risa-ssi, sedang apa kau saat hujan-hujan begini? Orang tuamu pasti cemas. Pulanglah sekarang” nasihat Kyungsoo lalu Risa menggeleng.

“Risa sudah tidak punya Eomma dan Appa. Risa tinggal dengan Unnie-nya Risa dan 3 adik Risa yang masih kecil” ucap Risa tapi Risa masih tersenyum lebar. “Risa bekerja untuk mencari uang”

Hati Kyungsoo tergerak melihat anak sekecil Risa yang sudah mencari nafkah. Apalagi pekerjaannya adalah tukang jasa payung. Risa tidak bisa berbuat apa-apa kalau hujan tidak ada.

“Risa-ssi, kau menyukai hujan?” tanya Kyungsoo

“Ne, Risa suka hujan. Kalau tidak ada hujan, Risa mungkin tidak akan mendapat uang” ucap Risa masih tersenyum.

“Oppa juga suka hujan” jawab Kyungsoo sambil tersenyum. “Karena hujan membuatku bisa bertemu Risa. Dan karena itu, oppa akan memberimu hadiah”

“Jinjja? Hadiah apa?” tanya Risa penasaran.

“Oppa akan menemanimu saat hujan. Jemputlah Oppa saat Oppa pulang sekolah” ucap Kyungsoo sambil menaikkan salah satu alisnya.

“Tapi… Risa kadang bisa terlambat datang ke sini” ucap Risa menunduk lesu.

“Gwechanna, asal Oppa bisa pulang bareng Risa” sahut Kyungsoo. “Ne?”

“Ne, Oppa—“

“Kyungsoo. Oppa Kyungsoo” jawab Kyungsoo sambil tersenyum.

#FLASHBACK END——

“Sejak hari itu, aku selalu pulang bareng Risa. Melihat anak itu bermain sekaligus mencari uang bersama hujan, membuatku tidak bisa berhenti jika memandang hujan” ucap Kyungsoo.

Air mataku menetes. Risa sangat menghargai hujan. Risa menganggap hujan sebagai sebuah berkah. Risa menganggap hujan sebagai teman. Risa selalu tersenyum menghadap hujan, begitu juga Kyungsoo.

“Hiks…” ucapku. “Jangan cerita yang sedih, aku jadi menangis, kan!”

Kyungsoo tesenyum padaku. Aku sama sekali tidak mengerti hujan. Saat ini aku juga meng’hujan’ni wajahku. Apakah ini berkah? Apakah ini kesialan? Tidak ada yang tahu.

“Namamu siapa?” tanya Kyungsoo padaku.

Bodohnya aku, aku belum memperkenalkan diri pada Kyungsoo. Aku mengusap air mataku, berusaha tersenyum seperti Kyungsoo dan Risa yang tersenyum menghadap hujan, khususnya hujan hari ini yang bisa membuatku bertemu mereka berdua.

“Choi SooYoung imnida. Satu universitas denganmu, jurusan cuaca” jawabku.

“SooYoung-ssi, apakah kamu suka hujan?” tanya Kyungsoo seperti dia bertanya pada Risa.

Aku berpikir sejenak. Hujan. Apakah aku menyukainya? Apakah aku menyukai kejadian hari ini? Apakah aku menyukai hujan yang membuat Risa bahagia karena bisa bekerja? Jawabanku hanya satu, dan aku tak perlu berpikir untuk kedua kalinya.

“Ne, aku suka hujan” ucapku. “Karena aku bisa melihat senyumanmu saat hujan”

Kyungsoo tertawa. Kemudian dia tersenyum lagi sambil menghadap hujan. “Kau tak pernah melihat senyumanku saat cuaca cerah?”

“Ani, aku tak pernah lihat” jawabku lalu Kyungsoo tertawa lagi.

“Senyumanku saat cerah sangat langka. Karena saat cerah, mungkin Risa akan bersedih dan aku juga akan menunjukkan wajah sedihku” sahut Kyungsoo setengah bercanda.

Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihat senyumanmu yang kau bilang langka itu. Yang kau bilang tak ternilai harganya. Apakah sama ? Apakah dua kali lipat lebih tampan dibanding saat hujan? Andai hujan berhenti, mungkin aku bisa melihatnya.

Kyungsoo memukul dahinya seperti lupa akan sesuatu. Dia masuk ke rumahnya lalu kembali dengan sebuah payung kasa benig lalu memberikannya padaku. “Pulanglah bersama hujan”

Aku menerima payung pemberian Kyungsoo. Aku berpikir, di mana payungku yang sekarang. Padahal aku yakin tadi pagi aku sudah membawanya ke sekolah karena takut mengecewakan Suho.

“Gomawo” jawabku lalu mengambil payung Kyungsoo. “Kyungsoo-ya, besok bolehkah aku ikut pulang bersama Risa dan kamu?”

Aku takut mendengar jawabannya. Kalau kupikir, pertanyaanku sedikit egois. Kalau aku pulang bareng Kyungsoo, Risa akan basah seperti tadi. Tapi ternyata aku salah. Kyungsoo mengangguk.

“Ne, tentu saja. Tapi bawa payung itu besok ke sekolah, ya” ucap Kyungsoo yang mengerti akan kecemasanku terhadap Risa. Aku mengangguk tanda setuju.

Aku berpikir. Artinya, payung Kyungsoo sekarang milikku. Meski hanya payung kasa bening, sangat penting untuk menghindari kebasahan. Payung dan hujan. Sebuah pasangan yang tak terpisahkan. Ada persasaan aneh yang tumbuh di dadaku. Apa ini?

“SooYoung?”

Kyungsoo memecahkan lamunanku. Aku membuka payung Kyungsoo secepat kilat dan tersenyum menghadapnya. “Aku pulang dulu. Gomawo untuk hari ini. Besok aku juga akan membawa uang untuk membayar Risa”

Aku berjalan menuju rumahku yang berlawanan arah dari rumah Kyungsoo. Meski jauh, aku senang aku bisa melangkahkan kakiku ke genangan air yang disebabkan oleh hujan. Hujan, membawa hari yang indah bagiku.

Begitu sampai di rumah, seorang namja bersandar di pagar rumahku mengejutkanku. Dia tampak seperti menunggu seseorang. Dan mungkin orang itu adalah aku meski dia juga kenal dengan Eomma dan Appaku.

“Suho -ssi!” sapaku lalu berlari ke arahnya.

“SooYoung…. Aku mau bicara sesuatu” ucap Suho.

“Ne?” jawabku santai.

Kuperhatikan wajah Suho yang tersipu malu. Aku melihat apa yang dipegangnya. Sebuah benda yang sudah kucari-cari sejak pulang sekolah. “Suho, itu kan payungku…!”

“Akhirnya kau sadar juga, Taeyeon” ucap Suho kesal. “Kenapa kau berhenti mencariku?”

“Ka, kapan aku mencarimu?” tanyaku setengah takut karena tatapan Suho sangat menakutkan.

“Tadi, sepulang sekolah. Kau mencariku kan?! Aku melihatmu membuka satu per satu kelas!” bentak Suho.

Pulang sekolah? Aku membuka satu per satu kelas, berarti waktu itu aku lagi mencari Kyungsoo! “Me, memangnya untuk apa aku mencarimu?”

“Tentu saja untuk mencari payungmu, kan?!” bentak Suho lagi. “Kau tidak membaca kodeku?!”

“Kode apa?!” tanyaku lagi. Baru kali ini aku melihat temanku, Suho terlihat sangat seram sekaligus sedih.

“Aku sengaja mencuri payungmu dari tasmu dan meninggalkan kode di kolong mejamu untuk mencariku. Ada kertas yang teka-tekinya harus kamu pecahkan jika kau ingin mencari payungmu” jelas Suho kali ini lebih tenang.

“Tapi, untuk apa kau mencuri payungku dan memaksaku mencarimu?” tanyaku lalu Suho mendorongku ke pagar dengan tangannya yang sangat kuat itu.

“Karena aku menyukaimu, babo!” teriak Suho lalu melempar payungku ke tanah. Payungku basah karena genangan air di depan rumahku. “Padahal kalau kau berhasil menemukanku, aku ingin menyatakan perasaanku!”

Badanku tidak bisa bergerak dari tempatku sekarang. Suho pergi dengan perasaan kecewa, tanpa payung, dia pulang ke rumahnya.” Suho! Pakailah payung!”

“Tak usah peduli padaku lagi!” bentak Suho lalu berlari dalam hujan.

Aku sama sekali tidak memikirkan orang yang menyukaiku. Kalau dipikir-pikir saat aku mencari di kolong mejaku, memang ada secarik kertas tapi kukira itu kertas bekas coret-coretanku saat pelajaran matematika. Ternyata itu kode dari Suho.

Aku mencari Kyungsoo dan mungkin Suho melihatnya. Pasti Suho mengira aku sedang mencarinya. Tak bisa kubayangkan berapa lama Suho menunggu hingga aku datang padahal mungkin aku sudah pulang. Tega sekali aku pada Suho.

Aku memungut payungku yang sudah dilempar Suho ke genangan air. 2 payung yang ternyata kucari-cari harunya menghubungkanku dengan Suho malah memutuskan hubunganku dengan Suho.

Meski alasan Suho mencuri payungku tidak masuk akal, tapi dia melakukannya agar bisa mengeluarkan keberaniannya untuk mengatakan perasaaannya padaku. Dadaku sakit membayangkan jika aku berada di posisi Suho.

Satu hal yang kusadari hari ini, aku menyukai Kyungsoo. Tapi apakah aku yang sudah menyakiti hati Suho bisa mencintai Kyungsoo dengan benar?

*

Setibanya di sekolah,aku langsung mencari sebuah kertas dikolongku. Aku terkejut karena semua perkataan Suho memang benar.

‘Annyeong, aku pencuri payungmu. Kalau kau ingin payungmu kembali, datanglah ke aula tempat orang yang kau tunggu kemarin berlatih basket. Ada hal seru di sana’

Aku membaca berkali-kali tulisan itu serta mengamatinya. Kalau saja kemarin aku tetap mencari payungku –dengan seksama— Suho pasti tidak merasa terluka sekarang.

Hujan lagi. Sudah hampir satu minggu hujan tidak berhenti mengguyur kota ini. Hujan, kumohon berhenti.

Tunggu. Kalau hujan berhenti apa yang akan terjadi pada Risa? Apa yang akan terjadi pada Kyungsoo? Kepalaku pusing. Pikiranku terbagi antara Suho dan Risa serta Kyungsoo. Apa yang harus kulakukan?

“SooYoung-ssi, ada namja mencarimu” ucap salah satu murid jurusan cuaca.

“Baik, aku akan bertemu namja itu. Di mana dia?” tanyaku pada murid itu.

“Dia di depan pintu kelas kita” aku mengangguk lalu menuju pintu kelas.

Aku merasa sangat pusing hari ini. Siapapun yang kutemui, aku berharap dia bisa mencari hiburan yang tepat untukku. Asal jangan hiburan tentang hujan, kumohon berhenti.

“SooYoung-ssi” sapa Kyungsoo sambil tersenyum. Wajar saja senyumannya sangat indah karena sekarang sedang hujan. “Nanti kita akan pulang bersama, kan?”

“Ne, pasti” ucapku lesu.

“Yoboseyo, SooYoung? Gwechanna? Kau tidak enak badan?” tanya Kyungsoo lalu mendekat ke wajahku untuk memastikan keadaan wajahku.

“Ani, Gwechanna” ucapku lalu tersenyum.

“Ini… Pasti gara-gara aku” lanjut Kyungsoo merasa bersalah. “Kau pasti masuk angin karena kita berpayungan bersama. Kau pasti kena air hujan…. Kalau kau tidak biasa, kau tidak usah memaksakan diri pulang bersama aku dan Risa…”

“Aku tidak masuk angin, kok. Aku tetap ingin pulang bersamamu dan Risa! Ingat, Kyungsoo. Aku suka hujan” seruku lalu tersenyum. “Lagipula bukan Kyungsoo namanya kalau sedih saat hujan”

Kyungsoo tertawa lega. Kemudian dia tersenyum lagi. “Annyeong” Kyungsoo lalu kembali ke kelasnya. Setidaknya aku dapat cukup hiburan.

Benar, Choi SooYoung. Masa lalu adalah masa lalu. Tinggalkan itu dan fokus pada Kyungsoo dan Risa serta hujan yang sekarang ini. Mungkin hal yang harus kulakukan adalah membantu kehidupan Risa sekarang. Karena itu aku harus terus tersenyum dan senang. Hujan, kumohon berhenti membuat orang lain cemas padaku.

Waktu menunjukkan jam 1 siang. Seperti perkiraan semua murid, hujan belum juga berhenti. Tapi wajahku tetap mengembangkan senyum. Aku mengambil payung kasa bening yang aku bawa tadi pagi lalu menuju ke kelas Kyungsoo.

Aku berhenti di depan kelas Kyungsoo lalu mengintip sedikit. Kelasnya sepi tapi Kyungsoo sendirian di situ, duduk di bangku yang paling dekat dengan jendela, dan seperti biasa, tersenyum melihat hujan.

“Kyungsoo-ya” sapaku lalu mendekat padanya. Dia mengangguk lalu aku duduk di depannya, sebuah bangku yang juga dekat jendela agar aku bisa melihat hujan. “Kenapa kau masih di sini?”

“Risa belum menjemput” ucap Kyungsoo sambil melihat hujan.

Aku lupa kalau Risa belum tentu bisa menjemput tepat waktu. Yah, ini termasuk resiko kalau aku mau pulang bareng Kyungsoo dan Risa.

Aku berpikir lagi. Suho. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Biasanya dia pulang bersamaku, tapi sekarang?

“SooYoung?”

“Ah, Ne” jawabku pada Kyungsoo. Fokus, SooYoung. Fokus. “Sekitar jam berapa Risa akan datang?”

“Biasanya dia datang jam setengah 2 sih. Tapi paling lama jam 2” jelas Kyungsoo. “Apa yang membuatmu tidak tersenyum meski sudah melihat hujan?”

“Tidak ada apa-apa” jawabku berbohong.

“Aku tau kau sedang punya masalah. Ceritalah” lanjut Kyungsoo.

“Aku… Sedang bertengkar dengan temanku” ucapku.

“Bertengkar? Kenapa bi—“

“Aku orang yang tidak peka. Padahal dia selalu ada untukku, tapi seakan-akan aku tidak menyadari kehadirannya” ucapku memotongnya. Air mataku menetes.

“Jangan menangis, SooYoung-ssi” ucap Kyungsoo lalu mengusap kepalaku.

“Aku sama saja seperti orang yang membenci hujan, Kyungsoo. Orang-orang tidak peka terhadap hujan padahal hujan membawa banyak berkah. Tanpa hujan, kita tidak bisa mandi, minum dan sebagainya. Tapi seakan-akan orang-orang tidak menyadari kehadirannya” lanjutku sambil menangis. “Aku tak pantas menyukai hujan, Kyungsoo-ya…”

“SooYoung-ssi bukan orang seperti itu. Kau menyukai hujan artinya kau mensyukuri karunia-Nya” ucap Kyungsoo. “Biarkan temanmu merasa tenang lebih dahulu, baru kau bisa mengajaknya berbicara”

“Ne” jawabku terisak-isak.

“Sudah, jangan menangis SooYoung-ssi” ucap Kyungsoo sambil tersenyum lalu mengusap air mataku.

“Kyungsoo-ya, bagaimana pendapat Kyungsoo-ya tentang orang-orang yang tidak menyukai hujan?” tanyaku.

Hanya pertanyaan ini yang terlintas dalam pikiranku. Kyungsoo tidak pernah cerita tentang orang-orang yang membenci hujan.

“Bagiku mereka seperti orang yang belum bangun dari tidurnya. Mereka tidak melihat kenyataan, mereka berusaha menentang kenyataan. Tapi terkadang ucapan mereka tentang hujan itu benar” jelas Kyungsoo sambil melihat hujan.

“Tapi mereka selalu menyalahkan hu—“

“Memang, SooYoung-ssi. Orang-orang sering menyalahkan hujan” potong Kyungsoo. “Tapi justru karena itulah aku tersenyum. Tuhan memberi peringatan pada mereka”

“Tapi orang-orang tidak menyadarinya” ucapku kesal.

“Kan ada kita” ucap Kyungsoo menggenggam tanganku sambil tersenyum. “Setidaknya, kita adalah langkah awal”

Benar kata Kyungsoo. Ada kami lebih baik daripada tidak ada orang sama sekali. Aku bersyukur bisa bertemu Risa dan Kyungsoo. “Gomawo, Kyungsoo-ah”

“Cheonma” jawab Kyungsoo. “Jam berapa sekarang, SooYoung-ssi?”

“Ngh…. Jam 2… Mau setengah tiga” ucapku lalu aku kaget. “Risa…. Sudah jemput kita belum?!”

“Aku tidak tau” Kyungsoo menggeleng. “Sebaiknya kita  ke depan sekolah”

Aku mengangguk lalu mengikuti Kyungsoo yang berjalan ke depan sekolah. Risa pasti sudah di depan menunggu kami. Aku jadi merasa bersalah. Kalau aku tidak ada di sini, kalau aku tidak mengobrol dengan Kyungsoo, kalau aku tidak mengenal Kyungsoo, pasti Risa tidak akan menunggu lama.

Aish, Choi SooYoung. Padahal aku bersyukur bisa bertemu mereka, tapi apakah mereka merasa seperti itu? Hujan, kumohon berhenti membuatku gelisah. Hujan, kumohon berhenti.

Kami berhenti di depan sekolah. Tidak ada sosok Risa di sana. Nafasku dan Kyungsoo terengah-engah.  Suasana hening, hanya tetesan hujan yang terdengar.

“Risa tidak ada….” Ucap Kyungsoo pelan. “Padahal biasanya dia menjemputku, dia tidak pernah lupa”

“Payung Risa ada di sini….” Sahutku pada Kyungsoo sambil menunjuk payung Risa.

“Ada apa dengan Risa….?” Tanya Kyungsoo memasang raut wajah sendu.

Aku memperhatikan sebuah kertas di lantai. Aku memungutnya. Kertasnya sedikit basah mungkin karena terkena cipratan air hujan. Aku membaca tulisan di surat itu. Raut wajahku langsung menunjukkan rasa takut. “Kyungsoo!”

“Yoboseyo, SooYoung-ssi?” tanya Kyungsoo tapi aku menggeleng dan menyerahkan kertas itu padanya. Kyungsoo menunjukkan eskpresi bingung lalu mengambil kertas itu.

‘Anak ini kuculik. Kalau kau mau mendapatkan dia kembali, datanglah ke belakang gudang sekolah. Jangan lupa dengan bukti payung anak ini’

“Risa diculik, Kyungsoo-ya! Risa diculik, apa yang harus kita laku—“

“Diam, SooYoung-ssi!” bentak Kyunsoo padaku. Dia menangis.

Kyungsoo menangis. Mungkin ini pertama kalinya menangis saat hujan turun. Akupun ikut-ikutan menangis. Kyungsoo mendekat padaku, mengusap air mataku. Seakan dia ingin berkata kalau aku tidak boleh menangis karena ini bukan salahku.

Suasana hening. Sesekali terdengar tangisan Kyungsoo yang sudah berusaha dia tahan dan isakan ku karena aku tidak bisa berhenti memikirkan keadaan kami saat ini. Tetesan hujan melengkapi kesedihan.

Hujan, kumohon berhenti. Hujan, kumohon berhenti menemani kami dalam kesedihan. Hujan, kumohon berhenti. Hujan, kumohon berhenti membuat Kyungsoo menangis. Buatlah dia tersenyum seperti biasanya.

“Mianhae, Kyungsoo-ya” ucapku pelan.

“Kamu tidak salah, SooYoung-ssi” jawab Kyungsoo mengusap air matanya lalu aku menggeleng.

“Bukan itu maksudku. Mianhae, aku mewakili hujan. Mianhae karena tidak bisa membuatmu tersenyum” ucapku dengan nada sedih.

“Hujan tidak salah, SooYoung-ssi. Ini salahku. Seandainya kita datang lebih ce—“

“Mewakili hujan, aku ingin berkata, ini bukan salahmu. Jangan berkata seandainya” ucapku.

Meski aku tidak tau perasaan hujan, tapi aku yakin hujan ingin berkata seperti ini. Aku teringat kata-kata orang-orang saat hujan turun.

‘Seandainya saja hujan tidak turun!’

‘Seandainya saja hujan tidak ada!’

‘Seandainya hujan tidak pernah terjadi!’

“Berandai-andai tidak mengubah apapun, Kyungsoo-ya. Ayo kita cari Risa” ucapku lalu mendekat pada Kyungsoo. “Kita bisa, Kyungsoo-ya”

“Baiklah, SooYoung-ssi” ucap Kyungsoo lalu tersenyum. “Ayo kita cari Risa”

Aku dan Kyungsoo tidak menyusun strategi apapun. Kami takut penculik malah mewaspadai gerak-gerik kami jika kami menyusun strategi. Kami datang ke belakang gudang sekolah.

Seorang anak yang tangan dan kakinya diikat merintih kesakitan. Mulutnya diperban, tak sanggup memanggil nama aku dan Kyungsoo begitu kami terlihat olehnya. Tatapannya terlihat sedih, pasti pertama kalinya dia diculik.

“Datang juga kalian”

“Apa maumu, Suho?!” bentakku.

Hujan terus menetes. Aku dan Kyungsoo basah. Baekhyun terlihat puas akan kedatangan kami, Risa terlihat takut melihat apa yang akan terjadi. Hujan menjadi saksi.

“Aku hanya ingin membuatmu merasakan hal yang sama sepertiku” ucap Suho. “Bajumu basah dan begitu sampai di rumah, kalian akan dimara—“

“Itu pasti bukan asalanmu yang sebenarnya”  potongku. “Kalau mau balas dendam, jangan libatkan Risa dan Kyungsoo”

“Siapa dia?” tanya Kyungsoo kebingungan.

“Dia Suho, dia teman sekelasku yang juga jurusan cuaca” jawabku masih menatap tajam mata sipit Suho. Dengan penuh kebencian.

“Apa dia orang yang kau maksud sebagai temanmu… Yang bertengkar denganmu?” tanya Kyungsoo lagi.

“Ne” jawabku pelan.

“Kenapa, kalian penasaran denganku? Apa kalian jadi fansku sekarang? Fans seorang Kim Joon Myeon?” tanya Suho meremehkan kami.

“Kau gila, Suho” ucapku. “Lepaskan Risa”

“Sebaiknya kau diam dan dengarkan ceritaku, SooYoung-ssi” ucap Suho. “Mungkin kau sudah lupa tapi akan kubuat kamu mengingatnya”

“Kami tak punya waktu untuk mendengarkan ceritamu” sahut Kyungsoo kesal.

“Tenang saja, ini tidak akan lama. Karena 3 tahun yang lalu….”

#FLASHBACK

“Apa anak itu selamat?!” teriak orang-orang berkerumun.

Seorang namja muda yang dilindungi seorang yeoja. Yeoja itu sudah mati, sedangkan namja itu mengalami luka ringan.

“Ne, anak itu selamat…. Cuma Ahjumma—“

“Istriku!” teriak namja lain lalu menerobos kerumunan dan mengangkat yeoja yang tergeletak itu.

Namja itu menangis, menatap istrinya yang terluka karena tumpukan kayu yang dipakai untuk pembangunan.

“Ahjussi, sekarang hujan, cuaca buruk. Kita harus meng-evakuasi ahjumma ini dan anak namja ini ke rumah sakit, secepatnya” ucap petugas ambulan.

Namja tua itu hanya bisa mengangguk dan mengikuti ambulan yang pergi ke rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, orang tua namja muda itu sudah tiba di rumah sakit.

“Bagaimana…. Keadaan anak kami, dokter?!” tanya Appa namja itu.

“Mari kita periksa dulu” ucap dokter.

Sementara itu  yeoja yang melindungi anak itu sedang diperiksa oleh dokter lain. Banyak darah bercucuran.

“Bagaimana keadaanya?” tanya namja tua itu.

“Keadaaannya benar-benar parah” ucap dokter. “Suster, ceritakan kejadiannya”

“Saat itu turun hujan… Seorang namja sedang bermain di dekat tempat pembangunan. Ahjumma ini melihat namja yang masih muda itu hampir ditindih oleh kayu pembangunan. Ahjumma itu berlari lalu melindungi namja itu”

“Siapa nama namja itu?” tanya dokter.

“Saat ini namja itu sedang diperiksa. Namanya…. Do Kyungsoo” ucap suster.

“Bagaimana keadaan Do Kyungsoo?” tanya dokter lagi.

“Dia mengalami pendarahan di mata sehingga kedua matanya menjadi buta…” ucap suster dengan nada sedih.

“Kalau begitu, donorkan mata ahjumma ini ke Do Kyungsoo, secepatnya” perintah dokter.

“Tunggu dokter! Maksud anda—“

“Ya, Tuan Choi. Istri anda tidak bisa ditolong lagi. Dia masih sadar sekarang, tapi—“

“Dokter! Tolong!” teriak namja yang ternyata Appa SooYoung itu. “Jangan biarkan istri saya dalam keadaan seperti ini!”

“Lakukan donor mata, secepatnya” ucap dokter itu tanpa menghiraukan Appa SooYoung.

#FLASHBACK END—-

“Jadi begitulah ceritanya” ucap Suho.

“Jadi maksud Suho….. Kyungsoo menerima donor mata dari Eommaku?!”

Aku menoleh ke arah Kyungsoo yang sama bingungnya. Kalau kuperhatikan, mata Kyungsoo memang mirip dengan mata Eommaku. Tapi kenapa baru sekarang Suho bercerita…?

“Appamu minta tolong padaku agar aku selalu melindungimu hingga kita menikah. Appamu tidak ingin kau berdekatan dengan Kyungsoo” lanjut Suho.

‘SooYoung, jangan bermain di hujan!’

‘Waeyo, Appa?’

‘Hujan membawa celaka, hujan tidak bagus untukmu’

Jadi itukah alasan Appa tidak pernah membiarkanku bermain hujan? Itukah sebab aku tidak punya pengalaman banyak bersama hujan?

“Kau tau sendiri kalau Appamu membenci hujan. Aku juga begitu, SooYoung. Aku jadi mengerti perasaan Appamu yang ingin melindungimu dari hujan serta perasaanku yang ingin melindungimu dari Kyungsoo” lanjut Suho.

Suasana hening. Aku terbayang kejadian 3 tahun lalu saat Eomma menyanyikan lagu yang selalu Beliau nyanyikan sejak aku masih bayi hingga hari-hari sebelum dia dijemput ajalnya.

Just close your eyes the sun is going down

You’ll be alright no one can hurt you now

Come morning light you and I’ll be safe and sound

Hanya sebatas itu lagu cipataan Eomma. Tapi setelah Eomma pergi, aku sering mendengar Appa menyanyikan lagu itu dengan lirik tambahan yang dibuatnya.

Don’t you dare look out your window

SooYoung, everythings on rain

The world outside the door keeps ragin on

Hold on to this lullaby until the rain stop

“Maka dari itu, SooYoung” ucap Suho. “Jauhi Kyungsoo!”

Aku berpikir lagi. Apakah mengikuti Suho, mengikuti orang yang membenci hujan akan membuatku bahagia? Apakah menjauhi Kyungsoo, menjauhi orang yang bersyukur akan datangnya hujan akan membuatku lebih bahagia?

“Jangan, Taeyeon unnie!” teriak Risa. Mulutnya kemerahan karena dia berusaha membuat perban di mulutnya terbuka. “Ingatlah hujan!”

Hujan. Rasanya terlambat sekali jika mengingat aku baru mengerti apa itu hujan saat seperti ini. Apa gunanya masuk jurusan cuaca kalau aku tidak mengerti apa itu hujan? Hujan. Sebuah siklus air yang terjadi secara alami. Hujan. Hujan. Hujan.

Hanya beberapa kata yang terlintas di pikiranku. Rain, please stop. Hujan, kumohon berhenti. Kumohon apa? Apakah Hujan, kumohon berhenti membasahi kami? Hujan, kumohon berhenti turun?

Salah. Hujan tidak bisa disalahkan. Hujan, kumohon berhenti membuat orang lain sedih. Hujan, kumohon berhenti membuat raut wajah sedih, buatlah raut wajah yang gembira akan kedatanganmu.

Kuperhatikan satu-satu orang di sini. Suho dengan tatapan sinisnya, Kyungsoo dengan tetapan yang merasa bersalah sedangkan Risa dengan tatapan yang terlihat tidak terima.

Hujan, kumohon hentikan raut wajah mereka. Buatlah menjadi raut wajah penuh kebahagiaan. Kebahagiaan atas apa yang terjadi di masa lalu.

“Suho. Aku ingin bertanya” ucapku lalu tersenyum.

“Apa?” sahut Suho.

“Mengapa kau membenci hujan?” tanyaku.

“Bukankah sudah pernah kujelaskan? Itu semua kare—“

DOR!

Aku berusaha mendengarkan dengan baik.  Pendengaranku tidak salah. Bunyi pistol. Tapi siapa yang ditembak dan siapa yang melakukannya?

Suho langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, membiarkannya basah karena genangan air. Kuperhatikan sekelilingku. Polisi!

“Kalian…. Baik-baik saja?!” tanya salah satu polisi.

Pasukan polisi itu melirik ke kanan dan ke kiri. Salah satu dari mereka melepaskan ikatan Risa. Mau apa pasukan polisi ke sini?

“Ada seorang murid yang menemukan sebuah kertas di depan sekolah kalian dan melaporkannya pada kami kalau ada penculikan” jelas polisi itu.

Aku dan Kyungsoo berpandangan. Kami meninggalkan kertas itu di depan sekolah. Betapa bodohnya kami.

“Tolong, jangan sakiti Suho! Kami semua baik-baik saja, tidak ada yang terluka!” ucapku memohon pada polisi.

“Hmm… Sebaiknya kita tanyakan pada korban” polisi itu mendekat pada Risa. “Apa yang dilakukan orang yang barusan kami tembak padamu?”

Aku dan Kyungsoo saling bergandengan tangan. Apakah Risa berani berbohong pada polisi untuk menyelamatkan Suho? Kumohon Risa… Hujan… Hujan, kumohon berhenti membuat Baekhyun tersiksa…

“Oppa itu…. Membenci hujan” ucap Risa sambil tersenyum. “Oh iya, pak polisi kebasahan tuh. Mau tidak Risa antar pulang dengan payung Risa?”

Pasukan polisi itu kebingungan. Aku dan Kyungsoo berpandangan tidak percaya dengan ucapan Risa. Bahagia sekali menjadi anak polos seperti Risa.

“Baiklah, sepertinya orang ini tidak bersalah. Kita harus membawanya ke rumah sakit. Untung kita tidak menembak organ vitalnya” ucap polisi lega. “Kalian, ikutlah bersama kami”

Aku dan Kyungsoo mengangguk sedangkan Risa masih tersenyum dalam hujan. Hujan mengantar kami ke rumah sakit yang tidak begitu jauh.

Aku, Kyungsoo dan Risa menunggu hasil pemeriksaan dokter dengan harap-harap cemas. Tak lama kemudian dokter keluar dan mengatakan kalau Baekhyun mengeluarkan darah sangat banyak dan satu-satunya cara untuk menolongnya adalah donor darah.

“Kamu tau golongan darah Suho?” tanya Kyungsoo lalu aku berpikir sejenak kemudian mengangguk.

“Golongan darahnya O” ucapku.

“Aku tidak bisa mendonorkan darah pada Suho. Golongan darahku A” jawab Kyungsoo.

“Golongan darahku O, biar aku saja yang jadi pendo—“

“Risa juga golongan darahnya O” ucap Risa sambil tersenyum. “Risa saja yang jadi pendonor”

“Ta, tapi Risa… Kau masih terlalu kecil untuk melakukan hal seperti i—“

“Siapa tau melalui darah Risa…. Oppa itu jadi mencintai hujan” jawab Risa bangga dengan senyumannya.

“Kau baik hati sekali, Risa. Baiklah, lakukanlah!” balas Kyungsoo semangat dengan senyumannya.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipirkan Risa. Tapi aku jadi merasa bersyukur bisa bertemu mereka berdua. Aku bersyukur akan datangnya hujan yang membuatku bisa mengenal mereka. Hujan, kumohon berhenti membuatku merasa sesenang ini. Buatlah aku merasa bahagia akan kehadianmu dengan lebih…

“Bolehkan, unnie?” tanya Risa masih dengan senyumannya.

“Baiklah, kau boleh jadi pendonor” jawabku lalu tersenyum. Mungkin inilah senyuman pertamaku yang kutunjukkan saat hujan turun.

Risa memasuki ruang dokter dengan semangat. Aku menundukkan wajahku, merasa kalah oleh Risa. Kyungsoo merangkul tubuhku dengan lengannya yang begitu kuat dan membiarkanku bersandar di bahunya.

“Gomawo, SooYoung-ssi” ucap Kyungsoo padaku lalu aku mengangguk.

“Kyungsoo-ya, apa yang akan kau lakukan jika masa-masa yang turun hujan sepanjang hari ini berhenti?”

“Kalau masa-masa ini berakhir, aku ingin sekali menghabiskan waktuku untuk menunjukkan senyuman langkaku” ucap Kyungsoo. “Aku juga ingin membantu Risa”

“Aku ingin melihat senyuman langkamu itu” sahutku.

“Tapi sayangnya senyuman itu hanya akan kutunjukkan pada yeoja yang kusukai” ucap Kyungsoo membuatku kaget.

“Siapa… Yeoja yang kau sukai itu?” tanyaku gugup.

“Tebak, ya… Dia sangat perhatian, sepenuh hati dan peduli. Meski sering berbuat kesalahan, tapi itu membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku pada… Ya, SooYoung! Kenapa kau menangis?!”

“Habis…” aku mengusap air mataku. “Aku tidak ingin Kyungsoo bersama yeoja itu…. Pasti aku tidak bisa pulang bareng Kyungsoo lagi”

“Kenapa tidak ingin? Padahal Yeoja ini adalah Yeoja yang sekarang dengan santainya bersandar di bahuku”

Aku berdiri tegak membuat kepalaku tidak bersandari di kepala Kyungsoo lagi. Aku mentapnya dengan pandangan tidak percaya. Dia mendekat padaku lalu mencium keningku singkat.

“Apa kau tau apa yang ingin aku ucapkan sekarang?” tanya Kyungsoo. “Bahasa inggrisnya Saranghaeyo”

“I Lo—“

“Yap!” ucap Kyungsoo lalu memelukku sangat erat. “I Love You, saranghaeyo SooYoung”

Air mataku mentes. Aku membalas pelukan Kyungsoo. Kehangatan tubuhnya, semakin melengkapi senyumannya yang bagaikan matahari itu. Dia seperti matahari di tengah-tengah hujan, yang memberikan petunjuk padaku untuk berjalan ke arah yang benar.

“Saranghaeyo, Kyungsoo-ya…!”

*

“Annyeong Risa! Suho!” sapaku. “Hari ini aku membawakan banyak mainan dari rumahku yang sudah lama tidak kumainkan, aku ingin memberikannya pada Risa!”

Masa-masa diguyur hujan berhari-hari sudah berakhir dan mungkin akan datang lagi tahun depan. Sudah 1 bulan sejak kejadian itu. Suho boleh keluar dari rumah sakit 1 minggu kejadian itu. Dia minta maaf pada kami, lalu meminta pada Appa dan Eommanya untuk mengangkat Risa sebagai adik angkatnya.

Risa sangat sungkan berada di rumah Suho, akhirnya dengan bantuan dari orang tua Kyungsoo, Appaku dan orang tua Suho, kami membelikan rumah untuk Risa dan saudara-saudanya.

Hampir setiap hari aku, Kyungsoo dan Suho mengunjungi Risa. Baekhyun selalu datang pertama kali. Aku dan Kyungsoo selalu datang bersama dan sesekali aku membawa oleh-oleh untuk Risa.

“Yah, kalau mainan seperti itu aku bisa membelikannya lebih banyak! Apalagi punyamu udah jelek, SooYoung-ah!”

“Aish, jahat sekali kau Kim Joon Myeon” ucapku kesal.

“Gomawo, unnie!” Risa lalu mengambil mainan itu.

“Lalu, bagaimana dengan Ahjussi?” tanya Suho.

“Setelah kujelaskan, Appa akhirnya mau merestui hubunganku dengan Kyungsoo. Appa juga bilang kalau dia tidak sanggup berbuat apa-apa karena aku terlanjur mengetahui kenyataan” jelasku.

“Yah, setidaknya kita bersama sekarang, SooYoung-ssi” sahut Kyungsoo lalu merangkulku.

“Kau tidak bisa berhenti mencintai Kyungsoo?” tanya Suho lalu aku menggeleng. Kyungsoo tertawa sedangkan Suho memasang muka cemberutnya. “Padahal aku ingin menyatakan perasaan lagi padamu”

“Mianhae, Suho-ah” ucapku lalu tersenyum. “Kyungsoo adalah orang yang kucintai sama seperti aku mencintai hujan”

“Tapi berkat darah Risa, Oppa Suho sudah menyukai hujan, lho!” sahut Risa sambil tersenyum.

“Jaga baik-baik SooYoung, Kyungsoo. Kalau kau membuatnya menderita dan sampai datang ke tempatku, kau tidak akan kumaafkan” ucap Suho lalu Suho tertawa puas.

Kurasa itu tidak akan pernah terjadi karena senyuman Kyungsoo selamanya akan menguatkanku. Dan aku ingin sekali tersenyum di samping Kyungsoo, selamanya.

“Oh iya sebentar lagi ujian semester tuh. Belajar bareng yuk?” ajak Kyungsoo semangat.

“MWO?!” ucapku dan Suho bersamaan.

Hujan. Kalau menurut anak kecil, hujan adalah tangisan para Dewa dan Dewi. Kalau menurut anak remaja yang sekarang sudah mulai mengerti, kadang mereka membuat candaan kalau hujan adalah air mandi para Dewa. Tapi para ahli cuaca berkata hujan adalah sebuah siklus air. Air adalah sumber daya alam yang bisa diperbarui, salah satunya dengan hujan. Dibutuhkan sinar matahari untuk melakukannya. Yah, siklus hujan sangatlah panjang. Para ahli memang sudah tahu apa itu hujan.

Hujan, mengantarkanku pada kenyataan, membuatku sadar kalau setiap ciptaan Tuhan pasti ada gunanya. Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa suatu alasan. Hujan salah satunya.

Hujan menjadi saksi, hujan menjadi pendamping dan hujan menjadi sahabat. Karena itu Hujan, kumohon berhenti membuat orang lain berpikir kalau kau itu sangat merepotkan. Buatlah orang lain menyukaimu seperti aku menyukaimu.

RAIN, PLEASE STOP//THE END.

Mungkin ada yang pernah baca versi Taeyeon-Kyungsoo-Baekhyun .__. Karena tugas Author di sini meramaikan wp ini dengan cast jarang, Author mengubah cast menjadi Sooyoung-Kyungsoo-Suho. Silahkan tinggalkan comment~ Gomawo ne *bow*

23 thoughts on “[OneShot] Rain, Please Stop….

  1. Thor sebelumnya maaf karena kalau nggak salah aku juga pernah baca ff ini di blog yg lain tapi castnya baek ,do,ama taeng thor

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s