[Freelance] Taeyeon’s Diary – My First Love on My Last Winter

MFLOMLWcover 2.

Title : Taeyeon’s Diary – My First Love on My Last Winter

 

Poster and Storyline by : Miyoon_Park (@adzi_fikria)

 

Author : Miyoon_Park (@adzi_fikria)

  

Genre : Romance, Sad, Angst, Tragedy, Friendship, etc.

 

Rating : Teen, PG-13

Length : Oneshoot (7922 Words)

 

Main Cast :

-Byun Baekhyun (EXO) as Byun Baekhyun

-Kim Taeyeon (SNSD) as Kim Taeyeon

-Tiffany Hwang (SNSD) as Hwang Miyoung (Taeyeon’s Friend)

 

Other Cast :

-Lee Jieun (IU) as Lee Jieun

-etc

 

Warning :

Ada manipulasi umur ._.

 

Author’s note :

Ini FF pertama Author yang masih baru di dunia per-FF-an😀 Berhubung Author suka baca FF sad, jadi Author coba bikin FF Sad Ending. Terinspirasi dari berbagai lagu solo Taeyeon *nahlo* Oh ya, Mian kalau FFnya kepanjangan untuk ukuran Oneshoot. Lagi males ngebaginya😄 Mian kalau feel sadnya ga dapet and mian for typos..

Happy Reading ^^

 

-Sabtu, 01 Maret-

Hari ini, hari pertama musim semi. Hari yang menyenangkan bagi sebagian besar warga Seoul. Setelah tiga bulan menjalani musim dingin, musim yang tidak terlalu disukai warga Seoul -karena harus ekstra dalam menjaga kesehatan dan merawat tubuh, dan cuacanya yang ekstrim, tentunya- akhirnya musim semi yang indah dan cerah pun tiba.

Namun kegembiraan musim semi tidak dirasakan oleh namja bermata sipit ini, Byun Baekhyun. Di hari pertama musim semi, ia merasa hidupnya sudah tak berguna lagi. Namja itu berjalan gontai menuju pemakaman, di tengah lautan manusia yang pergi untuk berjalan-jalan di taman untuk menikmati hari ini. Pandangannya sayu dan kosong. Matanya menerawang jauh, mengingat sebuah peristiwa yang melekat di memorinya, walaupun peristiwa itu selalu membuat hati namja itu tercabik-cabik setiap kali mengingatnya.

“Yeoboseyo..?”

“Baekhyun-ssi! Kau di mana?”

“Aku masih di sini, di mana Taeyeon?”

“Bisakah kau ke rumah sakit sebentar saja? Taeyeon di sini..”

“Mwo..? Ada apa?”

 

Tak ada jawaban. Namun, samar-samar namja itu mendengar suara panik dari seberang telepon.

 

Tangani semaksimal mungkin! Nyawa gadis ini masih bisa diselamatkan!

“Taeyeon.. Taeyeon..! Keadaannya kritis..”

“Arrasseo..! Aku akan segera ke sana..!”

Baekhyun berlari keluar dari gedung entertainment itu. Tanpa memperdulikan tatapan sinis dari senior-seniornya di sana, dinyalakannya motor hitam miliknya dan motor itu melesat cepat melewati jalan raya kota Seoul. Tujuan si pengendara hanya satu. Sampai di rumah sakit tepat waktu.

Diparkirnya motor itu di depan rumah sakit begitu saja. Tak peduli teriakan satpam penjaga, ia berlari secepat mungkin, menerobos manusia-manusia yang ada di rumah sakit tersebut. Mencari kamar yang dimaksud.

Tiiit………….

Langkah namja itu terhenti di depan sebuah pusara.Tangannya mengusap-usap pelan pusara yang bertuliskan nama itu, nama sahabat baiknya, nama seseorang yang tanpa ia sadari telah ia sia-siakan. Air matanya mengucur deras seiring dengan turunnya hujan.

 “Saranghaeyo…Taeyeon-ssi.”

-Minggu,9 Desember-

Hariini aku menikmati turunnya salju pertama di musim dingin tahun ini. Aku bersyukur, bisa melihat salju pertama tahun ini yang sangat indah dilihat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berbeda dengan tahun kemarin, salju yang menumpuk di halaman rumahku tidak terlalu tebal.

 

Hari ini aku menanam bunga mawar di kamar ^^ agak aneh bukan? Hari ini musim dingin, namun aku menanam bunga.. ya.. bunga itu, bunga yang kutemukan ditaman kemarin sore, Aku harap dengan perawatan yang ekstra bunga itu bisa tumbuh..

 

Aku tak tahu kenapa, tiba-tiba mataku terfokus pada sesosok namja yang duduk didepan rumahnya –yang terletak di seberang rumahku- pagi ini. Rasanya, aku tidak pernah melihat namja itu sebelumnya.

 

Namja tinggi –jangan bosan dengan kata ini, diary- bermantel coklat itu tampaknya sedang mencatat sesuatu –walaupun aku tak tahu apa yang dicatatnya-.

 

Aku sadar, bahwa aku telah memperhatikannya. Aku tersadar, dia melihatku. Kukucek-kucek mataku perlahan. Aish.. pemandangan yang kulihat masih sama! Bahkan, namja bermata sipit itu tertawa kecil! Tunggu dulu, jangan katakan kalau namja itu tertawa karena melihat tingkahku! Argh…! Kim Taeyeon paboya!!

 

Aku berbalikdan bersandar di tembok dekat jendela kamarku ini. Sungguh, aku benar-benar malu.. sangat malu..

 

Kudekatkan kepalaku ke jendela. Mataku mengintip ke luar. Mencari sosok yang menertawakanku tadi.

 

Mwo..? ke mana dia? Secepat itukah dia menulis?

 

Aku berdiri di sini. Di depan jendela ini. Aku harap aku bisa melihatnya lagi.

***

Yeoja bermata bulat itu membuka jendela kamarnya perlahan. Hari ini yeoja bernama Kim Taeyeon itu mengamati butir-butir salju yang turun di hari pertama musim dingin ini.

Mata bulatnya tiba-tiba menangkap sesosok namja yang nampaknya sedang mencatat sesuatu sambil sesekali melihat ke arah… Taeyeon menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas objek yang dilihat namja itu. Ah! Serumpun bunga. ‘Apa yang diteliti namja itu dari serumpun bunga?’

Tiba-tiba Taeyeon menyadari sesuatu. Namja itu melihatnya. Saat itu juga, jantung Taeyeon bekerja lebih cepat dari biasanya. Berdebar kencang. Digosok-gosoknya matanya karena ia pikir itu hanya halusinasi. Ya! Pemandangan itu berubah sekarang. Sang namja yang tadi hanya melihat Taeyeon tanpa ekspresi, kini tertawa kecil!

“Omo! Taeyeon paboya!!” Taeyeon berseru kecil kemudian bersembunyi di balik dinding di samping jendela kamarnya itu.

“Taeyeon-ah..! cepat turun! Waktunya sarapan..!”

“Ne, eomma!!”

-Senin, 17 Desember-

Dear Diary,

 

Bunga mawar yang kutanam minggu lalu sudah mulai mengeluarkan kuncupnya.. aku senang, akhirnya usahaku tidak sia-sia. ^^ Tunggu.. seharusnya kau tidak boleh senang dulu, aku belum sepenuhnya berhasil.. bunga itu belum mekar seperti yang kuharapkan.

 

Hari ini hari pertamaku sekolah setelah libur menjelang musim dingin.. aku sudah tidak sabar bertemu teman-temanku ^^

 

Sesampainya di sekolah aku mendapat kejutan. Saat pelajaran Lee sonsaengnim, fisika, pelajaran yang cukup menyebalkan bagiku –sehingga saat beliau menjelaskan tanpa kusadari aku melamun-, namja bermata sipit, yang ternyata bernama Byun Baekhyun itu masuk ke kelas..! Sebagai siswa baru! Aku tak tahu ini hanya bayangan angan-anganku atau apa, tapi aku bisa melihat mata sipitnya memandang ke arahku, lagi. Membuat jantungku berdegup kencang, sama kencangnya seperti minggu lalu.

 

Saat istirahat, aku masih sibuk menulis puisi abstrak, tak jelas, tentang pikiranku tentang perasaan yang aku alami. Aku tak peduli panggilan Miyoung yang mengajakku ke kantin. Ya, aku bosan di sana. Hanya dipenuhi ocehan-ocehan yeoja-yeoja yang suka menggosip. Aku lebih suka tempat yang tenang, karena itu akan memudahkanku mencari inspirasi untuk puisi yang akan aku buat.

 

Tanpa kusadari, aku tertidur. Saat itu aku merasakan tubuhku diguncang lembut oleh seseorang, yang kupikir itu Miyoung. Tapi tahukah kau diary, siapa orang itu sebenarnya?

 

Ya. Byun Baekhyun.

 

Kenapa harus namja itu lagi?

 

Pandangan kami berdua bertemu sesaat, sampai aku membenamkan wajahku. Aku malu. Sangat malu. Bahkan saat mengucapkan permohonan maaf pun sambil tertunduk malu.

 

“Gwenchana, lain kali tidurlah yang cukup, ne.”

 

Aku menangkap bunyi suaranya. Mengingat suara seraknya itu. Aku harap, aku bisa mendengarnya lagi. Aku menyukainya! ^^

 

***

Taeyeon membuka jendela kamarnya. Dari jauh ia melihat namja bermata sipit yang dilihatnya minggu lalu itu menggunakan seragam sekolah. Jantung Taeyeon kembali berdebar kencang. Ia terpaku di tempat itu tanpa ia sadari, memperhatikan sang namja yang tersenyum padanya tanpa ekspresi.

“Aish..!” Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Ia sadar, sudah waktunya untuk berangkat sekolah. Ia juga menyadari, kalau namja itu tertawa lagi, seperti kejadian minggu lalu.

***

“Anak-anak, kita kedatangan siswa baru.” Ujar Lee Sonsaengnim.

Seluruh kelas gaduh sejenak. Kata “Siapa ya” mengisi setiap sudut kelas.

“Harap tenang, anak-anak!” Gertakan Lee Sonsaengnim sukses membuat semuanya terdiam.

“Taeyeon…” Miyoung menyenggol sikut Taeyeon dengan sikutnya,mencoba menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Eh, wae Miyoung?”

“Byun Baekhyun, silakan masuk.” Panggil Lee Sonsaengnim.

Seorang namja masuk ke dalam kelas. Suasana kelas kembali penuh dengan suara bisik-bisik

“Annyeonghaseyo.” Ujar Baekhyun membungkukkan badannya kemudian terdiam sejenak. Pandangannya tertuju kepada seorang yeoja bermata bulat yang duduk di bangku paling depan. Ia merasa mengenal yeoja itu.

Sang yeoja yang tak lain adalah Taeyeon tersentak kaget. Itu…

“Byun Baekhyun imnida.. Bangapseumnida..” Namja itu membungkukkan badannya sekali lagi.

Namja bermata sipit!

Spontan Taeyeon menundukkan kepalanya. Ia sadar kini wajahnya telah memerah.

“Silakan duduk di sebelah sana, Baekhyun.” Kata Lee Sonsaengnim sambil menunjuk bangku yang terletak lumayan di belakang.

“Ne, Sonsaengnim.” Jawab Baekhyun kemudian duduk di bangku yang dimaksud. Ia bersyukur bisa duduk di tempat itu. Dari situ, ia lebih leluasa melihat tingkah laku sang yeoja bermata bulat, yang dianggapnya aneh saatpertama berte.. bukan! Bertatap mata.

Teng~ Teng~ Teng~!

Bel istirahat berbunyi, membangunkan semua murid dari pekerjaannya masing-masing. Kelas kembali gaduh dengan suara murid-murid yang menyimpan alat-alat tulisnya ke dalam tas. Sebagian siswa berbisik tentang bel istirahat yang kali ini berbunyi lebih cepat sepuluh menit dari biasanya, sebagian lagi berbisik tentang betapa membosankannya pelajaran fisika hari ini, ada juga yang berbisik tentang murid baru bernama Byun Baekhyun itu, sementara sisanya memilih diam, termasuk Taeyeon.

***

Yeoja berambut sebahu yang duduk di samping Taeyeon menepuk pundak Taeyeon pelan. “Taeyeon-ah, aku mau ke kantin, kau ikut?” Ujar sang yeoja dengan senyum khasnya. “Ani, Miyoung-ah. Kau pergi saja duluan.” Taeyeon menjawab datar. Tangannya masih menuliskan sesuatu di lembar-lembar buku hariannya, merangkai kata-kata indah yang ada di di imajinasinya, tanpa menghiraukan yeoja bernama Hwang Miyoung yang sudah tampak kesal itu.

“Aish..” Yeoja cantik itu memanyunkan mulutnya. Berharap sahabatnya yang cuek itu memperhatikannya, namun sepertinya usahanya itu sia-sia. Yeoja yang disapanya masih asyik dengan dunianya sendiri.

“Ya sudah, aku duluan ne, Taeyeon-ah.” Ujar Miyoung. Taeyeon dapat mendengar suara langkah kakinya yang berjalan ke luar kelas. Kini, kelas sudah sepi. Ia suka suasana ini. Imajinasinya dapat berkembang cepat, dapat memberikan inspirasi untuk karya tulisnya hari ini.

Taeyeon masih asyik merangkai kata-kata indah di buku hariannya tanpa menyadari bahwa kini yang ada di kelas bukanlah ia sendiri, tapi dua orang. Ia, dan namja bermata sipit yang duduk di bangku yang sedikit jauh di belakang. Namja itu membuka buku kecilnya, buku yang sama dengan hari itu, saat Taeyeon melihatnya ‘mencatat’ sesuatu dari serumpun bunga. Tidak, ia bukan ‘mencatat’ sesuatu saat itu. Ia menggambar.

Saat ia hampir menyelesaikan gambarnya, saat ia berniat memperhatikan kembali objek yang ia gambar –bunga di sudut meja guru- ,alangkah terkejutnya ia melihat yeoja yang berada di depannya sudah tertidur pulas di tempatnya.

Baekhyun berjalan perlahan ke arah meja yeoja itu, berusaha seperlahan mungkin, agar tidak mengagetkan yeoja itu. Disibakkannya rambut yang menutupi wajah yeoja manis itu. Tampak matanya sudah terpejam, menandakan ia sudah terbang ke alam mimpi.

“Nghh..”

 “Yak.. Bangun..” Ujarnya pelan sambil mengguncang tubuh yeoja yang sedang tertidur itu perlahan. “Lima menit lagi, Miyoung-ah..” sang yeoja malah mengingau kemudian membenamkan kepalanya di antara kedua tangan mungilnya, membuat Baekhyun tertawa geli.

Taeyeon kenal benar suara tawa Miyoung. Sontak matanya membuka saat menyadari bahwa orang yang tertawa tadi bukanlah sahabatnya. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat sumber suara tawa sekaligus orang yang mencoba membangunkannya tadi. Ya, seorang namja, namja yang masih tertawa geli di hadapan Taeyeon.

“Err.. Mi-mianhae.. aku kira kau Miyoung..” Taeyeon menundukkan kepalanya menahan malu. Kenapa namja ini lagi? Sudah berapa kali aku malu dibuatnya? Namja itu, namja bermata sipit yang tertawa kecil saat ia memperhatikan namja itu minggu lalu. Namja itu juga, namja baru di kelasnya yang memperhatikannya tadi pagi. Dan masih namja yang sama, yang membuat jantungnya bekerja lebi cepat dari biasanya. Namja itu, namja bernama Byun Baekhyun. Ya. Namja sipit bernama Byun Baekhyun.

“Gwenchana. Lain kali, tidurlah yang cukup ne.” Jawab Baekhyun seraya memberikan seulas senyumnya kemudian namja itu berjalan kembali ke tempat duduknya.

“Tunggu..”

“Hmm?” Baekhyun berhenti sejenak kemudian berbalik menatap sumber suara itu, yang menatap iris Baekhyun lekat-lekat. “Namamu, Byun Baekhyun, kan?” Taeyeon sadar ia telah menanyakan hal bodoh. Namja itu sudah memperkenalkan dirinya beberapa jam yang lalu, kan? Jadi, kenapa ia bertanya lagi? Bodoh! Tapi baginya itu bukan hal bodoh, hanya saja ia ingin mengurangi rasa gugup saat berbicara dengan namja itu.

“Nee. Bukannya aku sudah memperkenalkan diriku tadi? Kau tidak dengar, Kim Tae..yeo..yeon. Kim Taeyeon?” Jawab Baekhyun yang makin menyipitkan matanya saat membaca tulisan yang terdapat di baju seragam Taeyeon.

“Er… aku hanya memastikan. Mianhae.” Taeyeon memberikan senyum tipisnya. Kemudian mereka berdua kembali sibuk dengan dunianya masing-masing. Yang satu kembali menuliskan kata-kata di imajinasinya ke dalam buku hariannya, sementara yang satunya lagi sibuk melukis ulang objek yang sama.

-Kamis, 20 Desember-

Annyeong, Diary ^^

 

Kau tidak bosan, kan,mendengar ceritaku? Ya. Ini tentang namja itu lagi ^^

 

Semenjak peristiwa tiga hari yang lalu, namja itu seperti mengajakku berteman. Ia lebih sering meminta tolong kepadaku dibanding dengan Park Chanyeol, teman sebangkunya. Kami juga sering pulang bersama, karena rumahku sejalan dengan rumahnya.

 

Cita-citanya unik, Diary. Ia percaya suatu saat namanya akan dikenal dunia sebagai orang yang telah mengalahkan Pablo Picasso dan Leonardo Da Vinci. Tekadnya hebat. Cukup hebat untuk membuatku terpesona lagi karenanya.

 

Dan kau tahu, Diary? Dia menanyakanku tentang tujuanku, tujuanku menekuni hobi yang selama ini hanya jadi pelampiasanku. Menulis puisi. Aku benar-benar tidak tahu. Tidak! Suatu saat, pasti aku akan mengetahuinya. Aku tak akan lelah mencari tahu tentang itu =)

 

Aku bahagia, Diary. Aku bahagia bisa dekat dengannya! ^^

***

“Taeyeon-ssi!”

Langkah Taeyeon terhenti mendengar suara serak yang memanggil namanya. Taeyeon memalingkan kepalanya ke belakang untuk mengetahui sumber suara itu. Tampak Baekhyun sedang berlari mengejarnya. Perasaan itu timbul lagi. Detak jantungnya mulai tidak normal lagi.

“Nde? Waeyo Baekhyun-ssi?” Taeyeon berusaha menghilangkan rasa gugupnya untuk menjawab panggilan namja itu.

“hh.. hh..” Baekhyun terengah-engah sembari menempelkan tangannya di dada. “Ayo, kita pulang sama-sama.”

Taeyeon mengernyitkan dahinya. “Kenapa tidak bersama teman-temanmu?”

“Yak.. Kau ini. Baru tiga hari aku masuk di sini. Temanku cuma kau dan Chanyeol. Lagipula, rumah kita searah, kan?”

“Apa aku pernah bilang mau berteman denganmu?” Taeyeon tersenyum jahil.

Wajah Baekhyun berubah cemberut. “Ya sudah, kalau kau tidak mau berteman denganku. Aku pulang sendiri saja.” Ujar Baekhyun kesal seraya berjalan mendahului Taeyeon.

“Aniya Baekhyun-ssi! Aku cuma bercanda.” Taeyeon tertawa geli sambil berlari mengejar Baekhyun. “Kau ini begitu saja sudah marah, pantas saja kau sulit mendapatkan teman.”

“Hmm, arra.” Ujar Baekhyun seraya memamerkan senyumannya, sukses membuat Taeyeon salah tingkah. Perjalanan hening sejenak, sampai Taeyeon memulai pembicaraan.

“Baekhyun-ssi, dari mana kau tahu rumah kita searah?”

Baekhyun tertawa kecil. “Dari mana, ya? Tanya saja kepada yeoja bermata bulat yang bersembunyi saat melihatku tertawa.”

Wajah Taeyeon seketika memerah. “Yak!! Baekhyun-ssi!!” Taeyeon menjitak tangan Baekhyun. “Kau mengejekku eoh?! Bagaimana kau tahu kalau yeoja itu aku?”

 “Hahaha.. Si yeoja akhirnya mengaku juga” Baekhyun tertawa semakin keras dan dibalas Taeyeon dengan jitakan keras di kepala Baekhyun.

“Yak.. Appo!” Ujar Baekhyun seraya mengusap-usap kepalanya yang dijitak Taeyeon.

“Aku serius Baekhyun-ssi, bagaimana kau tahu kalau yeoja itu aku?”

“Nde. Mata bulat dan kulit putih pucatmu itu yang membuatku mudah mengenalimu.”

“Kalau kau, bagaimana kau tahu kalau namja yang tersenyum padamu itu aku?”

“Karena mata sipitmu itu.. aku juga curiga karena aku tak pernah melihatmu di lingkungan ini sebelumnya.”

Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham. Tiba-tiba Baekhyun menyadari sesuatu kemudian tertawa kecil. Taeyeon terheran-heran melihat tingkah namja itu. “Waeyo Baekhyun-ssi? Ada yang lucu?” Tanyanya keheranan.

Baekhyun tersenyum. “Aniyo, aku baru menyadari kalau kita saling mengenal karena mata.”

“Ne.. kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?” Sahut Taeyeon yang kemudian ikut tertawa.

“Ngomong-ngomong, Taeyeon-ssi, apa kau suka menulis puisi?”

Taeyeon terkekeh. “Nde. Entah kenapa aku suka merangkai kata-kata aneh yang ada di dalam pikiranku ini.”

“Bagaimana denganmu, Baekhyun-ssi? Apa kau juga suka menulis?”

“Ani, aku benar-benar tidak berbakat untuk merangkai kata-kata indah sepertimu.”

Taeyeon terdiam. Lalu, apa yang ia lakukan saat itu?

“Aku pikir kau suka menulis, karena hari itu aku melihatmu membawa buku catatan kecil kemudian memperhatikan bunga.” Ujar Taeyeon. Baekhyun tersenyum.“Aku suka melukis, tapi karena papan kanvas sulit dibawa-bawa, jadi aku lebih sering menggambar. Saat itu, aku sedang menggambar bunga itu di buku catatanku. Aku berusaha melatih kemampuanku di manapun aku berada dengan menggambar di buku itu.”

Baekhyun mengepalkan tangannya dan memandang ke langit. “Suatu saat nanti, namaku akan dikenal dunia sebagai pelukis yang mengalahkan Leonardo Da Vinci dan Pablo Picasso!”

‘Namja itu, benar-benar telah mencuri perhatianku. Mulai dari wajahnya, sikapnya, dan sekarang tekadnya. Besok, apa lagi yang akan membuat perhatianku selalu tertuju padanya?’

“Bagaimana denganmu, Taeyeon-ssi? Apa yang memotivasimu sehingga kau suka menulis puisi?”

Taeyeon terdiam. Selama ini ia sama sekali tidak pernah memikirkan tujuannya membuat puisi-puisi itu. Ia hanya menulis untuk melampiaskan perasaannya, kekesalannya, kebahagiaannya, dan hanya sekedar hiburan. Bukan karena ingin mencapai tujuan yang besar.

Baekhyun menatap Taeyeon yang tengah melamun memikirkan pertanyaannya itu. “Taeyeon-ssi?” Tanya Baekhyun sekali lagi.

“Aku belum punya jawabannya sekarang.”

 “Tenang saja Baekhyun-ssi. Suatu saat nanti aku akan memberi tahu alasannya.” Kini Taeyeon tersenyum optimis.

-Minggu, 20 Januari-

Tak terasa persahabatanku dan Baekhyun sudah berjalan selama sebulan. Tanpa melupakan Miyoung, tentunya. Miyoung tetap sahabat terbaikku, walaupun Baekhyun adalah namja yang aku sukai.

 

Pagi ini, ia mengirim pesan kepadaku, mengajakku ke rumahnya. Tentu saja aku menolak, karena dari dulu aku tak pernah keluar rumah selain ke sekolah dan rumah sakit. Eomma melarangku karena ia tidak mau aku bermain di luar. Alasan yang konyol. Mungkinkah aku yang sudah kelas 3 Seoul High School ini masih suka bermain-main di luar?

Tanpa kuduga, namja itu sudah datang ke rumahku dan mengetuk pintu kamarku. Aku tersentak, diary, apalagi saat aku mendengar suara khasnya itu.

 

Kubuka pintu perlahan dan dia langsung masuk ke ruanganku. Ia bercerita padaku tentang audisi yang akan ia ikuti, karena desakan orang tuanya. Jika ia lolos audisi itu maka iaakan menjadi trainee di sebuah agensi ternama di Seoul, sebagai penyanyi. Dan itu otomatis menghancurkan impiannya untuk menjadi pelukis.

 

Aku menyemangatinya danberkata bahwa ia tetap bisa menggapai impiannya walaupun ia menjadi penyanyi. Aku percaya itu. Ia memang berbakat, dengan suara khasnya itu ia akan menjadi seorang penyanyi yang sukses. Dan ia mempercayai kata-kataku. Bahkan, ia memintaku menulis lagu untuk ia nyanyikan nanti ketika audisi.

 

Fighting, Baekki!! Kau pasti bisa!

***

Drrt Drrt Drrt

Taeyeon yang sedang menyiram bunga mawarnya itu segera mengambil ponselnya di atas tempat tidur.

1 message

Baekhyun

06:00am KST

Mata Taeyeon membulat membaca nama pengirim dilayar ponselnya. Apa yang terjadi sehingga namja itu mengirimkan pesan pagi-pagi begini?

Sender: Baekhyun

Message:

Taeyeon-ssi, bisakah kau ke rumahku pagi ini?

Dahi Taeyeon berkerut membaca pesan tersebut. Ada apa dengan namja itu? Rasanya Taeyeon sudah pernah bercerita tentang eommanya yang melarang Taeyeon keluar rumah selain ke sekolah atau ketika mengerjakan tugas kelompok. Apa ia lupa?

Send to : Baekhyun

Message:

Mianhae Baekhyun-ssi, aku tidak bisa. Kau ingat, kan? Eomma melarangku keluar rumah jika tidak ada hal penting.

Taeyeon merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan.

“Taeyeon-ssi!!!”

Mata Taeyeon membulat saat mendengar suara itu. Ya, itu suara Baekhyun.

Dibukanya pintu kamar perlahan. Tampak Baekhyun sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Boleh aku masuk? Ada yang ingin kubicarakan.” Tanya Baekhyun sambil menatap lekat-lekat mata Taeyeon.

“Hmm, baiklah. Silakan masuk.” Taeyeon memberi jalan kepada Baekhyun untuk masuk, kemudian duduk.

Baekhyun juga ikut duduk.”Taeyeon-ssi, apa kau percaya aku bisa menggapai cita-citaku sebagai pelukis?” Tanya Baekhyun tiba-tiba.

Taeyeon terkejut dengan pertanyaan Baekhyun. Baekhyun yang ia kenal tidak seperti itu. Baekhyun yang ia kenal selalu yakin kalau ia bisa mencapai impiannya.

 

#flashback

 

“Omo.. Baekhyun-ssi.. Pialamu banyak sekali..!” Seru Taeyeon yang sedang memandangi deretan piala di lemari Baekhyun.

Taeyeon membaca tulisan yang tertera di piala-piala tersebut. “Semuanya lomba melukis!” Serunya lagi.

Namja yang sedang duduk itu hanya tersenyum melihat ekspresi yeoja yang meneliti piala-piala di lemarinya.

“Waah!!” Seru Taeyeon saat melihat koleksi lukisan Baekhyun yang disimpan di dekat lemarinya.

“Baekhyun-ssi!!! Ini banyak sekali!!”

Taeyeon meraba lukisan-lukisan itu. “Dan semuanya..indah..” Ujarnya pelan.

#flashback end

 

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Aku takut impianku hancur.”

“Kenapa kau berpikiran seperti itu Baekhyun-ssi?”

Baekhyun menghela nafasnya. “Pagi ini, ayahku ditelepon oleh seseorang dari agensi besar di kota ini. Orang itu menawarkan kepada ayahku agar aku menjadi trainee di perusahaannya, sebagai penyanyi.”

Taeyeon terdiam mendengar cerita itu.

Baekhyun melanjutkan ceritanya. “Ayahku menerimanya, tanpa menanyakan pendapatku. Dan di akhir musim dingin nanti aku akan menjalani audisi. Kalau aku menjadi penyanyi, artinya impianku sebagai pelukis akan hancur…”

Taeyeon menjawab datar. “Kau bukan Baekhyun yang kukenal.”

Baekhyun tersentak mendengar perkataan itu. Matanya menatap Taeyeon, seakan menanyakan maksud perkataan Taeyeon.

“Baekhyun yang kukenal tidak seperti ini.Baekhyun yang kukenal sangat optimis yang sungguh-sungguh. Baekhyun yang kukenal tak pernah menyerah!” Seru Taeyeon.

Baekhyun terdiam. Ia menyadari kebenaran kata-kata itu. Ia memang terlalu cepat menyerah.

“Lalu, menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”

“Kau harus menjalani audisi itu.” Jawab Taeyeon singkat.

“Dan melupakan impianku sebagai pelukis? Tidak akan.” Bantah Baekhyun.

“Aku tidak bilang kau harus melupakan impianmu. Aku yakin kau pasti bisa menjalani keduanya, mencapai impianmu dan mencapai impian ayahmu.”

“Satu pertanyaan lagi. Kenapa kau yakin aku bisa melakukannya?”

“Karena kau Byun Baekhyun. Orang yang tak pernah menyerah sebelum impiannya tercapai. Selama kau tetap menjadi dirimu yang pantang menyerah, aku yakin kau pasti bisa.”

Baekhyun terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Terima kasih, Kim Taeyeon. Aku akan membuktikan perkataanmu.” Jawabnya pelan.

Taeyeon mengangguk sembari tersenyum. “Er,Taeyeon-ssi, bisa aku minta pertolonganmu sekali lagi?” Tanya Baekhyun

“Apa itu?”

“Maukah kau membuatkan lagu untuk kunyanyikan saat audisi nanti?”

Taeyeon tersentak. “Mwo?? Aku??”

“Ne. Aku percayakan itu padamu. Aku pulang dulu nde..” Baekhyun segera berlari ke luar kamar Taeyeon, meninggalkan Taeyeon yang matanya masih membulat akibat kata-kata Baekhyun tadi.

“Aku.. membuat lagu untuknya…?”

 

-Jumat, 1 Februari-

Dear Diary,

 

Rasanya,aku ingin menangis sekeras-kerasnya hari ini. Aku tak dapat melihat wajahnya lebih lama lagi. Aku benci ini. Kenapa harus aku yang mengalaminya? Kenapa bukan orang lain saja? Takdir benar-benar menyakitkan. Haruskah secepat ini?

 

Tadipagi, di sekolah, tiba-tiba dadaku terasa sesak. Sangat sesak. Tak lama kemudian, semuanya terlihat kabur dan lama-lama menjadi suram. Gelap. Yang pertama aku lihat setelah itu adalah wajah panik eomma, kemudian wajah Miyoung,sepertinya saat itu aku berada di kamar. Eomma bilang, setelah kejadian itu aku pingsan dan Miyoung mengantarku ke rumah, bersama Shin Ahjussi -satpam sekolah- dengan mobil Shin Ahjussi. Untunglah saat itu, dia –Baekhyun- tidak masuk sekolah. Entah karena apa, aku pun tak tahu. Tapi, ini benar-benar kebetulanyang menyenangkan, setidaknya mampu membuat perasaanku lebih baik, karena dia tidak akan panik dan mengkhawatirkanku.

 

Ternyata kejadian pagi itu adalah awal dari takdir buruk yang akan kujalani. Tumor itu, tumor jinak yang sempat hinggap di tubuhku beberapa tahun lalu, datang lagi,lebih ganas dari sebelumnya.

Kali ini, peluangku untuk sembuh sangat kecil, dokter memprediksikan umurku hanya akan sampai pertengahan bulan Februari ini. Aku tidak terima. Aku tidak terima jika keadaannya seperti ini..

 

Tuhan, tolong, berikan aku kesempatan untuk hidup,

Agar aku masih bisa bersamanya,

Agar aku bisa melihatnya bahagia.

***

“Uhuk.. uhuk.. uhuk..”

Miyoung sudah merasa terusik ketenangannya sejak suara batuk itu terdengar sedari tadi. Ia tahu, suara itu berasal dari sahabat baiknya yang keras kepala, Taeyeon. Ia sudah bilang berkali-kali kepada sahabatnya itu agar pergi ke ruang UKS untuk minum obat, namun sahabatnya itu menolak berkali-kali sebanyak permintaan Miyoung, lebih banyak mungkin.

“Taeyeon-ah, ayo kita ke UKS, nanti aku ikut mengantarmu..” Bisik Miyoung perlahan, takut suaranya terdengar oleh Min Sonsaengnim, guru matematika yang menurut kebanyakan siswa merupakan satu-satunya guru wanita yang lebih menyeramkan dari Kepala Sekolah.

“Aniya.. uhuk.. uhuk.. Aku belum menyelesaikan soalnya.. Nanti aku akan ke UKS sete.. uhuk.. uhuk.. setelah soalnya selesai..”

Miyoung menatap cemas sahabatnya yang kini tengah mengerjakan soal sembari menutup mulutnya untuk meredam suara batuk yangberkali-kali keluar dari mulutnya itu. Itu bukan soal yang mudah, bukan soal dengan jumlah yang sedikit. Bahkan Lee Jieun, juara pertama di kelas mereka sekaligus satu dari sedikit siswa pecinta matematika di Seoul High School saja,terlihat kewalahan menyelesaikannya. Apalagi Taeyeon. Memang benar, nilai Taeyeon dan Jieun memang tidak berbeda jauh, sehingga menyebabkan Taeyeon selalu mendapat peringkat tepat di bawah Jieun, peringkat kedua. Namun, Taeyeon bukan pecinta pelajaran hitung-hitungan seperti Jieun, bahkan ia cenderung membencinya.

“Uhuk.. uhuk..”

Taeyeon merasakan sedikit cairan telah menempel di tangan mungilnya. Cairan yang selalu sama, yang selalu keluar dari mulutnya saat ia batuk seperti ini juga, sejak dua minggu yang lalu. Cairan merah, amis, dan kental. Darah.

“Taeyeon-ah…”

Taeyeon mencengkram mejanya kuat. Ia nampak kepayahan, seperti mencoba menarik nafas sebanyak-banyaknya, namun tak mampu. Dadanya sangat sesak sekarang. Dahinya mengeluarkan keringat dingin. Wajahnya mulai memucat. Taeyeon merasa pandangannya mulai buram, kabur, kemudian menghitam. Samar-samar terlihat wajah panik Miyoung yang mengguncang-guncang tubuhnya saat itu.

***

 

Taeyeon membuka matanya. Terlihat wajah eommanya, dan seseorang di belakang eommanya.. itu.. Miyoung. Ia merasa berada di ruangan yang berbeda, namun familiar. Tempat tidur ini.. Lemari ini.. Ini kamarnya.

“Taeyeon-ah, sudah enakan?” Tanya eommanya lembut.

“Nde, eomma.”

Eomma Taeyeon mendesah lega. “Miyoung, tolong temani Taeyeon sebentar, ne? Ahjumma mau berbelanja sebentar.” Ujarnya seraya menatap Miyoung.

“Nde, ahjumma.”

Eomma Taeyeon mengecup kening Taeyeon kemudian keluar dari kamar.

“Kenapa aku bisa berada di sini? Bagaimana tugas matematikaku tadi?” Tanya Taeyeon tiba-tiba.

Miyoung mendecak kesal seraya menatap Taeyeon tajam  Anak ini, dalam keadaan gawat seperti ini masih dia masih saja memikirkan tugas matematika yang menyebalkan itu. Harusnya, Taeyeon lebih memikirkan kesehatannya, dibanding tugas matematika itu.

“Eh.. kenapa kau menatapku seperti itu Miyoung-ah?” Tanya Taeyeon salah tingkah.

“Kau ini! Padahal keadaanmu sudah gawat sepertiini, masih saja memikirkan tugas matematika itu! Harusnya kau bertanya, ‘Aku sakit apa? Kenapa aku bisa pingsan?’ , ini malah bertanya tentang tugas matematika tak penting itu! Kami mencemaskanmu, tau!” Cerca Miyoung.

Taeyeon menunduk diam. Sahabatnya itu selalu tampak menyeramkan saat marah. Ia paham, Miyoung sedang berkata serius. Mereka semua mencemaskannya. Sebenarnya Taeyeon bertanya seperti itu hanya untuk mencairkan suasana, agar Miyoung tidak terlalu mencemaskan keadaannya. Namun, sepertinya kali ini Miyoung benar-benar cemas, sampai menganggap serius guyonannya itu.

“Ayo kita periksa ke dokter.” Ujar Miyoung tiba-tiba.

“Mwo..? Bagaimana kalau eommaku marah?”

“Ani. Dia tidak akan marah. Sebentar saja.” Jawab Miyoung seraya memapah Taeyeon dan keluar, mencari tumpangan untuk mengantar mereka ke rumah sakit.

***

Dokter di rumah sakit itu menghela nafas. “Sepertinya ada tumor yang bersarang di tubuhmu, Agassi, tepatnya diparu-parumu.”

Taeyeon dan Miyoung saling berpandangan. Sudah lima rumah sakit yang mereka datangi, dan semuanya member jawaban yang sama. Kesimpulannya, Taeyeon mengidap kanker paru-paru.

“Apa anda yakin, dokter?” Tanya Miyoung dengan wajah tak percaya.

“Nde. Dia mengatakan bahwa ia sudah mengalami gejala awal berupa batuk berdarah, sesak nafas, dan lain-lain sejak dua minggu yang lalu.”

Dokter kemudian memberi isyarat kepada Taeyeon agar meminta Miyoung keluar. Taeyeon mengerti. Sekarang, hanya ia dan dokter itu yang berada di ruangan ini.

“Agassi, aku takut perkiraanku ini benar. Aku sama sekali tidak ingin kau kecewa, namun aku harus memberitahukan ini, karena ini kewajibanku sebagai seorang dokter.”

“Ada apa, dokter? Katakan saja, saya akan berusaha untuk menerima perkataan anda, walaupun itu berarti buruk bagi saya.”

Sang dokter menarik nafas dalam. “Penyakit kanker yang Agassi derita ini sudah mencapai stadium tiga. Aku takut, umur Agassi hanya sampai pertengahan Februari ini. Sangat sedikit pasien yang mampu bertahan dari penyakit ini.”

Taeyeon hanya bisa terdiam. Sampai pertengahan Februari ini.. artinya..kira-kira hanya dua minggu waktunya untuk bersama Baekhyun. Mungkin, ia tak bisa melihat wajah bahagia Baekhyun saat mengikuti audisi. Mungkin, ia tak bisamendengar suara serak-serak khas Baekhyun itu lagi. Dan mungkin saja, umurnya bisa lebih pendek lagi dari perkiraan dokter itu.

“Joeseonghamnida, Agassi. Aku harap perkiraanku ini salah.”

Taeyeon berusaha tegar. Ia berusaha memaksakan untuk tersenyum saat wajahnya sudah tak kuasa menahan tangis. “Animnida, dokter. Aku malah berterimakasih karena kau mau memberitahuku semuanya. Kamsahamnida.”

Taeyeon membungkuk kemudian berlari menuju sahabatnya, Miyoung yang sedang menunggu di luar rumah sakit, sambil mencari taksi untuk ditumpangi mereka berdua agar bisa pulang.

***

Taeyeon dan Miyoung sama-sama tak mampu berkata-kata lagi. Mereka berdua sama-sama merenung, mengingat momen-momen terakhir yang mereka lalui bersama. Air mata menggenang di pelupuk mata keduanya, karena sudah tak sanggup menahan kepedihan, tak sanggup menerima kenyataan bahwa mereka harus terpisah karena sesuatu yang bernama ‘penyakit’ dan mampu membawa kepada ‘kematian’.

“Aku ingin seperti bunga itu…” Taeyeon memecah keheningan.

 “…Dia bunga yang kuat, dari hari pertama musim semi aku merawatnya, namun bunga itu tidak pernah layu. Bunga itu tetap bertahan sampai sekarang..”

Miyoung mengambil pot bunga itu kemudian duduk disebelah Taeyeon. “Taeyeon-ah, menurutmu mengapa bunga mawar ini bisa bertahan sampai saat ini?”

“Karena aku selalu merawatnya dengan tulus.” Jawab Taeyeon sembari tertawa kecil.

“Nde, kalau begitu, untuk bisa bertahan seperti bunga ini, apa yang harus kau lakukan?”

Taeyeon terdiam, merenung. Ia sadar, selama ini teman-teman dan keluarganya selalu mendukungnya apabila ia menghadapi masalah. Mereka sudah membuat Taeyeon berada di lingkungan yang baik, sama seperti yang dilakukan Taeyeon terhadap bunga itu.

‘Sekarang, apa lagi aku butuhkan untuk bertahan?’

‘Hal yang membedakanmu dengan bunga itu adalah hati, yang bisa memberi kekuatan jika kau memiliki tekad yang kuat dengan hatimu.’

“Apapun yang terjadi, aku akan tetap bertekad untuk sembuh. Aku akan berusaha untuk melawan penyakitku. Demi keluarga dan teman-teman yang selalu mendukungku.” Ujar Taeyeon akhirnya.

Miyoung tersenyum haru. “Aku akan selalu mendukung sahabatku, karena aku tak mau kehilangan dia.”

Mereka berdua saling berpandangan kemudian tersenyum. Larut dalam perasaannya masing-masing.

“Oh, ya! Miyoung-ah, apa tadi Baekhyun masuk sekolah?” Tanya Taeyeon tiba-tiba.

Miyoung tersenyum jahil. “Aniyo. Memangnya kenapa Taeyeon-ah? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Eh.. aku cuma bertanya saja, kok..”

“Kenapa menanyakan dia?”

“Dia, kan, sahabatku juga. Aku takut kalau dia mencemaskan keadaanku. Dia akan mengikuti audisi akhir Februari ini. Aku tak mau mengganggu pikirannya..” Jawab Taeyeon salah tingkah.

“Taeyeon-ah, tolong jawab dengan jujur pertanyaanku ini. Kau menyukai Baekhyun, kan?”

Wajah Taeyeon memerah seketika. “Eoh…?! Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu Miyoung-ah? Apa aku terlihat menyukainya?”

Miyoung tertawa kecil. “Bukan hanya terlihat, Taeyeon-ah. Tapi sangat terlihat! Kau beruntung, hanya aku yang menyadari perasaanmu terhadapnya. Siswa-siswi di kelas kita, di sekolah kita, belum ada yang mencurigai hubungan dekat di antara kalian. Jadi, kau aman.”

“Jawab aku, Taeyeon-ah. Kau menyukai Baekhyun, kan?”

“Nde..” Jawab Taeyeon seraya tersenyum malu setelah terdiam lama.

***

-Senin, 4 Februari-

Bunga mawar di jendela kamarku sudah mekar sepenuhnya. Aku takut bunga itu akan layu, jadi aku memutuskan untuk mengeringkan bunga itu, agar tetap bisa kusimpan.

 

Akhirnya, setelah dua hari tidak masuk sekolah, dia masuk sekolah di hari senin ini. Aku senang, karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihat wajah teduhnya lagi, apalagi tadi ia mengajakku duduk bersama di taman sekolah, tempat berbagai pasangan di sekolah kami menumpahkan perasaan mereka. Aku harap, saat itu, ia juga melakukan hal yang sama dengan mereka. Aku harap, ia juga menyukaiku, kemudian mengungkapkan perasaannya padaku di tempat ini.

 

Namun apa yang aku dapat?

 

Rasa sakit. Kecewa. Sedih. Ia sudah menyukai orang lain. Orang yang notabene memang lebih sempurna dariku, sainganku satu-satunya di sekolah ini. Lee Jieun.

 

Kenapa harus dia?

 

Bagi banyak orang, mungkin wajar-wajar saja jika namja yang hampir sempurna seperti Baekhyun juga menyukai yeoja yang hampir sempurna juga, Jieun. Namun, hal itu sangat tak wajar di mataku. Apakah ia tak mengerti sama sekali perasaanku, perasaan yeoja yang sudah sedekat ini padanya?

 

Aku sadar aku memang harus menerima keadaan ini. Baekhyun memiliki hak sebagai seorang namja untuk menyukai seorang yeoja, dan aku sama sekali tidak berhak untuk membatasi pilihannya. Bagaimanapun, seharusnya aku bersyukur karena telah dianggap sebagai sahabatnya. Ya. Aku harus mampu menahan perasaan sakit ini. Aku bahagia, walaupun ia bersama yeoja lain, aku harus rela, asalkan ia bahagia.

 

***

Taeyeon masih terus menatap pintu kelas mereka, berharap ‘seseorang’ itu datang. Satu persatu siswa dan siswi masuk melewati pintu itu, namun ‘seseorang’ yang Taeyeon tunggu masih belum menampakkan dirinya. Lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Taeyeon hampir kehabisan harapan. Sepertinya, ‘seseorang’ itu tidak datang lagi, sama seperti dua hari sebelumnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari pintu kelas itu, langkah kaki yang terkesan terburu-buru. Spontan kepala Taeyeon menggeleng ke arah pintu coklat itu, matanya menatap tajam. Semoga, itu adalah langkah kaki ‘seseorang’ yang ia tunggu.

Benar saja. Itu memang ‘seseorang’ yang ia nantikan. Namja itu tampak kelelahan, masih dengan wajah kelelahan itu ia berlari menuju tempat duduknya. Taeyeon tersenyum senang. Akhirnya, ‘seseorang’ itu datang.

***

“Taeyeon-ssi, maukah kau menemaniku duduk di taman sekolah?”

“Mwo? Aku?”

“Ne… Kim Taeyeon…” Ujar Baekhyun seraya menggandeng tangan Taeyeon yang tengah memasang wajah tak percaya. Taeyeon merasa begitu hangat saat tangan mereka bersentuhan, saat tangan Baekhyun menggenggam tangan mungilnya. Ia berharap, ini bisa ia rasakan lebih lama.

Langkah kaki keduanya terhenti di depan sebuah bangku yang terletak di bawah pohon akasia yang dahan dan rantingnya diselimuti salju tipis. Setelah mereka berdua duduk, Baekhyun mengeluarkan buku sketsanya dari saku celananya. Baekhyun menggambar sketsa wajah Taeyeon dengan teliti,tanpa disadari oleh Taeyeon. Ia bermaksud menghadiahkan lukisan potret diri kepada sahabatnya, jika ia berhasil mengikuti audisi. Sementara, Taeyeon sibuk mencoba merangkai kata-kata yang akan ia tulis sebagai syair lagu yang akan dinyanyikan Baekhyun nanti. Ini sedikit sulit baginya, karena mau tak mau ia harus menggunakan sudut pandang pria. Sebenarnya ia sudah mendapatkan inspirasi, tinggal mengubah sudut pandangnya saja.

Tangan mungil Taeyeon mulai menggerakkan pena di atas lembaran buku hariannya itu, menari, meninggalkan kesan berupa kata-kata indah. Sesekali ia menutup mulutnya, berusaha meredam suara batuk yang selalu ingin keluar.

Girl, I can’t explain what I feel

Oh.. baby.. My baby baby baby baby yeah..

A long day feels like as if it was only a second

Everyday seems like a story that was written for you

This scene is a romantic love story, the next scene is an action movie main male character

I act as the only hero in your heart

 

Bait pertama lagu itu selesai. Begitu juga Baekhyun, ia juga telah selesaimenggambar sketsa lukisan Taeyeon yang sedang menulis. Mereka berdua menutup bukunya bersamaan, terdian sejenak, kemudian sama-sama tertawa geli saat menyadarinya. Suasana begitu hening sampai Baekhyun membuka pembicaraan.

“Taeyeon-ssi, apa kau pernah jatuh cinta?” Tanyanya pelan sembari menatap iris hitam Taeyeon lekat-lekat.

“Mwo? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Aniya.. aku hanya ingin bertanya saja.”

Taeyeon terdiam lama. “Nde, tentu saja. Bagaimana denganmu?” Jawabnya pelan seraya menundukkan kepalanya, agar Baekhyun tak bisa melihat rona kemerahan di wajah putihnya itu.

“Aku? Sama denganmu. Bahkan aku sedang mengalaminya sekarang.” Ujar Baekhyun kemudian tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang mungkin sama sekali tidak gatal.

“Mwo? Dengan siapa?” Tanya Taeyeon hati-hati.

“Kau dulu.”

“Aku menyukai seseorang yang dekat denganku, namun.. uhuk.. uhuk..”

Baekhyunmenggeleng cepat, membuat Taeyeon menutup mulutnya spontan.

‘Semoga ia tidak menyadarinya’

“Kau baik-baik saja?”

“N-nde.. a-aku tak apa-apa.” Jawab Taeyeon gugup.

Baekhyun menggenggam erat tangan Taeyeon, sembari menatap wajahnya, membuat tubuh Taeyeon seakan terkena sengatan listrik, membuat semuanya terasa berbeda.

“Kau kedinginan? Wajahmu tampak pucat.”

“Aniyo. Bagaimana denganmu?”

Baekhyun menghela nafas panjang. “Aku rasa aku menyukai.. Jieun. Lee Jieun.”

Taeyeon merasa tubuhnya disambar petir. Saraf-saraf di tubuhnya seakan lumpuh seketika. Ia tak mampu menahan sakit seperti ini. Bagaimana bisa.. Baekhyun.. dan.. Jieun.. Bahkan Baekhyun sama sekali tidak menyadari perkataannya tadi.

‘Memang, memang wajar jika seorang namja seperti Baekhyun menyukai Lee Jieun, yeoja yang pintar, cantik, sopan, serta memiliki bakat yang luar biasa. Namun, haruskah namja yang menyukai Jieun itu adalah orang yang aku sukai? Kenapa bukan namja lain saja? Apa Baekhyun benar-benar telah jatuh cinta kepada Jieun sampai tak mengerti perkataanku tadi?’

“Kaukenapa, Taeyeon-ssi?” Tanya Baekhyun setelah menyadari perubahan sikap Taeyeon yang bisa dibilang tiba-tiba. Kenapa dengan sahabatnya ini?

Taeyeon menggeleng seraya tersenyum kecil. “Aniyo, Baekhyun-ssi. Kurasa kau menyukai yeoja yang tepat. Jieun adalah yeoja yang hampir sempurna, sangat sesuai denganmu.” Jawabnya lirih.

“Aku harap kau juga menyukai namja yang sempurna, agar ia bisa membuatmu bahagia.”

Taeyeon hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang tersenyum miris. Kau memang namja yang sempurna, “Baekhyun-ssi, kau selalu membuatku bahagia.. dan sekarang, mungkin saatnya aku yang berkorban agar kau bisa bahagia..” Gumamnya pelan.

***

Kamis, 14 Februari

Selesai! Akhirnya.. lagu itu. mungkin satu-satunya kenangan terakhirku untuknya, bisa selesai juga. Begitu juga bunga mawar di jendela itu, baru saja selesai kukeringkan dan kusimpan di cover depan buku ini. Agak konyol memang, sudah sepuluh hari yang lalu aku berkeinginan untuk mengeringkan bunga itu, namun karena ada penghalang yang bernama ‘rasa malas’, bunga itu baru selesai kukeringkan sekarang.

 

Untunglah, ‘rasa mala situ tak hadir sama sekali saat aku menulis lagu untuknya. Karena, ya, kupikir rasanya sangat sulit mengerjakan suatu pekerjaan yang dilakukan karena terpaksa. Hasilnya selalu tidak sebaik saat kau mengerjakannya dengan tulus, dengan sepenuh hati.

 

Sejujurnya, aku masih takut, jika prediksi dokter itu benar. Namun aku, Miyoung, dan eomma akan selalu berusaha untuk mematahkan prediksi itu, agar aku bisa melihat dunia lebih lama lagi. Walaupun, kadang aku ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini saat melihat Baekhyun dan Jieun bersama. Benar, ternyata aku memang tak sanggup melihatnya bahagia dengan yeoja lain. Namun, bagaimanapun aku harus menerimanya, karena pilihan Baekhyun sama sekali tidak salah.

 

Bahkan saat menulis lirik ini, diary,aku berusaha keras mengingat perasaanku setiap bersamanya. Memang, sulit untuk melakukannya di saat perasaanku sudah hancur seperti ini, karena setiap aku mengingat momen-momen berharga itu, wajah Jieun selalu terlihat, seperti membayangiku. Padahal sebenarnya Jieun tidak bersalah, ia bahkan tak tahu perasaan Baekhyun kepadanya. Jieun selalu fokus dengan pelajaran di sekolah. Walau sudah belasan namja yang mengungkapkan perasaannya kepada Jieun, ia tak menghiraukannya sama sekali. Ia bahkan tak mempunyai teman namja, hanya punya penggemar.

 

Semoga saja Jieun melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan pada namja lain, pada Baekhyun nantinya.

 

Tunggu.

 

Aigooo! Apa yang kau pikirkan Kim Taeyeon! Bukannya mendukung sahabatmu, kau malah berharap ia gagal! Sahabat macam apa kau ini!!

 

Kim Taeyeon paboya!!!

 

Tuhan, apa ini efek dari mimpiku semalam?

Semoga malam ini aku tak mengalaminya lagi.

 

***

“Baekhyun-ssi!!”

Taeyeon sudah memanggil namja yang dicintainya itu berkali-kali, namja itu berada jauh di depannya, sama sekali tak menggubris panggilan dari Taeyeon.

“Byun Baekhyun!!”

Namja itu tetap berjalan lurus ke depan.

Taeyeon tak tahan lagi. Kakinya tergerak spontan mengejar namja yang tampaknya, berusaha menjauh darinya.

“Jieun-ah!”

Langkah Taeyeon terhenti seketika, saat mendengar nama yang dipanggil oleh namja yang sangat dicintainya itu. Sekarang terlihat seorang yeoja, yeoja yang selalu menghantui pikiran Taeyeon setiap hari.

“Ne Baekhyun-ssi?”

Baekhyun berlutut seraya memberikan sebuket bunga kepada yeoja bernama Lee Jieun itu.

“Would you be my girlfriend?”

Taeyeon merasa langit telah runtuh menimpanya. Tubuhnya tak kuasa bergerak. Lidahnya tak mampu lagi berucap.

Yeoja manis yang diberikan bunga itu tersenyum manis sembari mengambil bunga yang diberikan kepadanya.

“Yes, I do.”

Taeyeon berusaha berlari secepat mungkin, menghampiri mereka berdua, namun tubuhnya seperti didorong sesuatu. Terdorong ke belakang, terus ke belakang, menjauh,menjauh dari dua sejoli di depannya. Tangis Taeyeon seketika pecah. Ia memberontak, namun tak bisa. Ia berusaha berlari ke depan, namun ‘sesuatu’ itu mendorong lebih kuat.

“BAEKHYUN-SSI…..!!!!”

Ia berteriak sekuat-kuatnya, sekuat yang ia bisa. Sulur-sulur keluar dari tanah, melilit tubuhnya, membenamkan dirinya ke dalam tanah.

“TOLONG AKU BAEKHYUN ………!!”

“JEBAL…Hiks.. hiks..”

“Baekh—”

Tubuh yeoja malang itu kini terbenam sempurna.

***

“ANDWAE!!!”

Taeyeon terbangun dari tidurnya. Mata bulat yeoja manis itu sudah basah oleh air mata. Ada apa ini.. kenapa harus mimpi yang seperti ini…

“Tuhan..apa ini kenyataan yang akan aku alami…”

***

“Taeyeon-ah..”

“Nde..wae Miyoung..”

Taeyeon menjawab sapaan Miyoung, namun matanya masih tertuju pada namja yang sedang mengobrol dengan Lee Jieun di bangku taman. Pemandangan yang selalu mengganggu pikirannya sejak seminggu yang lalu.

“Kau punya masalah?”

Taeyeon hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tubuhnya semakin terasa lemas begitu melihat namja yang dicintainya bersama yeoja lain. Namun, Taeyeon tak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya dari namja itu, meski hal itu membuatnya sakit.

Miyoung berdiri di samping Taeyeon di koridor kelas mereka. “Kau cemburu?”

Taeyeon hanya menghela nafas panjang seraya mengangguk pelan.

“Aku akan bilang kepada Jieun untuk berhenti mendekati Baekhyun.” Ujar Miyoung seraya berjalan ke arah Baekhyun dan Jieun.

“Gwenchana, tak usah.”

“Waeyo? Karena ini kau selalu lesu. Ini demi kesehatanmu.”

“Andwae.. Baekhyun menyukai Jieun.”

Miyoung tersentak. “Dari mana kau tahu?”

“Ia sendiri yang menceritakannya padaku.”

***

-Rabu,27 Februari-

 

Aku sama sekali tak menyangka, aku mampu bertahan sampai hari ini. Seperti ada yang memberi semangat khusus bagiku untuk menjalani hidup. Walaupun setiap hari aku harus berusaha bertahan saat melihat mereka berdua bersama, padahal mereka hanya berdiskusi soal pelajaran. Meski begitu, aku tetap sanggup tersenyum saat melihatnya, bukan karena melihat mereka berdua bersama, namun karena melihat dia bahagia.

 

Besok dia akan menjalani audisinya. Dia mengajakku ikut, namun satu hal yang membuatku heran, ia tak mengajak Jieun. Katanya ia ingin membuat kejutan untukku dan Jieun.

 

Namun itu sudah tak penting, yang penting, aku sudah merelakannya sekarang. Aku senang saat melihatnya bahagia.

 

Entah kenapa, pikiranku tiba-tiba melayang,membawaku ke kejadian hari itu, saat ia menanyakan kepadaku, apa yang memotivasiku untuk menulis puisi. Aku akui, dulu aku melakukannya hanya sebagai pengisi waktu, karena aku tak bisa seperti remaja lainnya. Aku tak bisa bebas,aku tak bisa menikmati hari-hariku bersama teman-teman, kecuali dengannya. Aku terkurung di rumah karena penyakit yang bisa datang kapan saja. Memang, keadaanku sekarang jauh lebih buruk dari keadaanku dulu. Namun, kurasa hidupku sekarang sedikit lebih berarti.

 

Walaupun ada perasaan yang mengatakan kalau hidupku tak lama lagi.

 

Ini akan jadi tulisan terakhirku di sini, diary. Sebelumnya aku mohon maaf, aku tak ingin riwayatku diketahui oleh orang lain.. jadi kuputuskan untukm enguburmu. Di tempat di mana aku dan dia duduk bersama. Di tempat di mana aku mengalami kejadian terindah selama aku hidup.

 

Aku bersyukur masih diizinkan untuk melihat sahabatku, orang tuaku, dan melihatnya lebih lama. Kuharap, aku bisa melihatnya lagi di saat terakhirku. Melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Aku bisa bertahan sampai sekarang, karena dia.

 

The reason why I’m still here is because of you, Byun Baekhyun.

 

Biarlah riwayatku tetap menjadi rahasia, tetap tersimpan rapi di sini. Aku tak berharap kau mengetahui semuanya, Byun Baekhyun.

 

Aku hanya berharap kau tahu bahwa alasanku, yang membuatku tetap bertahan sampai saat ini adalah kau,

Hanya ingin kau tahu kalau aku mencintaimu.

 

Aku mencintaimu. Selamanya.

 

***

-Kamis, 28 Februari-

 

“Peserta nomor 17, Byun Baekhyun. Silakan.”

Baekhyun maju dengan langkah mantap. Sesekali dilihatnya wajah sahabatnya yang tampak pucat itu. Sangat pucat, jauh lebih pucat dari biasanya, namun senyum yang ada di wajah yeoja bermata bulat itu tak pernah memudar.

“Girl, I can’t explain what I feel

Oh.. baby.. My baby baby baby baby yeah..

 

A long day feels like as if it was only a second

Everyday seems like a story that was written for you

This scene is a romantic love story, the next scene is an action movie main male character

I act as the only hero in your heart

 

I lost my mind when you walk into my sight

The whole world around you get in slow motion

Please tell me if this is love


Love is everywhere, it lets me forget hurt, help take away sadness, learn to care

Fought before, cried before, still can hug

Please tell me if this is love..”

“Uhuk..Uhuk..”

Hidung Taeyeon mulai mengeluarkan darah. Miyoung yang duduk di samping Taeyeon panik seketika. “Taeyeon-ah.. Taeyeon-ah.. Hidungmu berdarah..!”

“..When I hold your hand, the whole world envies

When you kiss me, I realize that this feeling will never change

They say forever, maybe not anymore

However you trusted that I would love you no matter what, you will slowly understand..”

 

“Gwenchanayo.. Uhuk.. Uhuk..”

Miyoung tak henti-hentinya mengelap darah yang keluar dari hidung Taeyeon dengan tisu yang dibawanya.

“Taeyeon-ah.. kalau kau tak mampu sebaiknya pulang saja..”

“Aniyo..Aku baik-baik saja Miyoung-ah..” Jawab Taeyeon lirih. Suaranya terdengar lemah. Sangat lemah.

“…I don’t know why, nothing can replace this feeling

Love is unexpected, you let me become the best man

As long as I’m by your side, life becomes glorious…”

 

Pandangan Taeyeon memudar. Kemudian gelap. Dan semuanya menjadi hitam.

“…Tonight, I thought of when you opened the curtains and made a wish to the stars

Like a fairytale happy ending, happily ever after

From now on, do things for you, feel distressed for you, wait for you, I will never leave

I  just want to give you my whole life’s love~”

 

“Taeyeon-ah!!”

Miyoung dibantu beberapa orang lainnya menggendong Taeyeon ke dalam mobil. Secepat mungkin, mobil itu melaju menuju rumah sakit umum Seoul.

 

 

“…When you hold my hand, the whole world envies

When you kiss me, I finally realize this feeling will never change


My babe, baby babe, baby baby-

I can’t not think of you, whether this is love…”

 

Diruang UGD, Taeyeon terbaring lemah. Miyoung dan ibunya menunggu dengan cemas  di ruang tunggu. Sementara itu tim medis berjuang keras untuk menyelamatkan nyawa Taeyeon yang keadaannya sudah sangat kritis.

 

“…I just want to let you laugh like an innocent child

I just want to give you friend-like comfort


My babe, baby babe, baby baby-

Please tell me what is love…”

 

Tepuk tangan meriah menggema di ruangan audisi begitu Baekhyun selesai menyanyikan lagunya.

“Baiklah, kami semua sepakat. Kau lolos! Chukkhae Baekhyun!”

Baekhyun tersenyum haru. Matanya menerawang ke setiap sudut ruangan.

‘Oh, tidak. Di mana Taeyeon?’

***

“Dokter, detak jantung pasien semakin melemah!”

‘The reason why I’m still here is..

Because of you.’

Kata-kata itu terus menggema di dalam hatinya sehingga memberi kekuatan tersendiri baginya untuk bangun.

‘Di mana aku?’

Taeyeon membuka matanya.

‘Tempat apa ini?’

Ia kini berada di ruangan yang tak berujung. Putih. Semuanya putih. Dari sini ia bisa melihat tubuhnya yang dipenuhi alat-alat medis, ia bisa melihat wajah panik tim medis, Miyoung, dan eommanya.

‘Apa aku sudah mati?’

‘Tidak, aku tak boleh mati sebelum melihat wajahnya untuk yang terakhir kali.’

‘Aku harus mampu bertahan.’

Miyoung memencet tombol-tombol di ponselnya berulang kali. Raut wajahnya menyiratkan perasaannya sekarang. Cemas, takut, dan kesal.

“Kenapa tidak mau tersambung…!!”

Alat pendeteksi kerja jantung yang terletak di samping Taeyeon kembali bekerja normal. Kesadarannya mulai pulih.

Hati Miyoung bersorak setelah mendengar suara dari seberang telepon.

“Yeoboseyo..?”

“Baekhyun-ssi! Kau di mana?”

“Aku masih di sini, di mana Taeyeon?”

“Bisakah kau ke rumah sakit sebentar saja? Taeyeon di sini..”

“Mwo..? Ada apa?”

Tak ada jawaban. Namun, samar-samar namja itu mendengar suara panik dari seberang telepon.

 

Tangani semaksimal mungkin! Nyawa gadis ini masih bisa diselamatkan!

“Taeyeon.. Taeyeon.. Keadaannya kritis..”

“Arrasseo..! Aku akan segera ke sana..!”

Tim medis berusaha semakin keras begitu melihat harapan hidup pada diri Taeyeon. Walau matanya belum terbuka, namun detak jantungnya sudah mulai normal.

“The reason why I’m still here is because of you..”

Baekhyun berlari keluar dari gedung entertainment itu. Tanpa memperdulikan tatapan sinis dari senior-seniornya di sana, dinyalakannya motor hitam miliknya dan motor itu melesat cepat melewati jalan raya kota Seoul. Tujuan si pengendara hanya satu. Sampai di rumah sakit tepat waktu.

Diparkirnya motor itu di depan rumah sakit begitu saja. Tak peduli teriakan satpam penjaga, ia berlari secepat mungkin, menerobos manusia-manusia yang ada di rumah sakit tersebut. Mencari kamar yang dimaksud.

Miyoung tersenyum haru melihat sosok yang berlari ke arahnya.

“Taeyeon.. di dalam..”

Tak perlu aba-aba, namja itu menerobos masuk ke ruangan UGD.

‘Alasanku tetap bertahan adalah karenamu..

Sekarang aku bisa pergi dengan tenang..

Saranghae.. Byun Baekhyun…’

Detak jantung Taeyeon kembali melemah.. makin melemah.. makin melemah.. dan..

Tiit…………………………………..

Baekhyun terpaku di depan ranjang rumah sakit yang di atasnya terbaring sahabat terbaiknya. Sahabatnya yang kini sudah terbujur kaku, dengan wajah pucat namun masih menyunggingkan senyum khasnya. Tak kuasa menahan duka, namja itu menggenggam erat tangan yeoja bermata bulat yang sangat berarti baginya. Berkali-kali ia mencium tangan itu, hingga basah oleh air matanya.

Di belakangnya, berdiri Miyoung dan eomma sang yeoja yang sama-sama tak kuasa menahan tangis. Eomma Taeyeon berjalan gontai kearah anaknya, memeluk erat tubuh mungil anaknya yang sudah tak bernyawa. Menumpahkan tangisnya di sana.

Baekhyun dan Miyoung menunduk dalam, bukan untuk menyembunyikan tangisan mereka, namun untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sahabat yang mereka sayangi.

***

Baekhyun membuka amplop yang sebenarnya sudah diberikan Taeyeon bersamaan dengan saat ia memberikan lirik lagu kemarin. Terdapat selembar kertas yang terlipat dan sebuah bunga mawar kering. Tangannya bergetar saat membaca tulisan tangan yeoja itu.

Selasa, 26 Februari

 

Annyeong Baekhyun-ssi!

 

Sebelumnya aku mohon maaf baru memberitahumu sekarang. Mungkin, kau baru akan tahu saat aku tak bisa melihatmu lagi. Aku hanya tak ingin kau cemas,karena aku tahu benar sifatmu yang mudah panik itu.

 

Sebenarnya, aku menderita kanker paru-paru. Tolong jangan kaget.

 

Penyakit inilah yang membuatku sering batuk-batuk setiap hari. Bukan karena cuaca musim dingin. Tapi karena penyakit ini.

 

Sejujurnya, aku sempat merasa tak punya harapan untuk hidup lagi, begitu mendengar ucapan dokter yang memeriksaku, bahwa hidupku hanya sampai pertengahan Februari lalu.

 

Tapi aku berusaha bertahan. Kenapa? Karena kau.

Alasanku tetap di sini adalah karenamu.

Bagiku, kau lebih dari sekedar sahabat.

 

Aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Dan saat aku tahu bahwa kau menyukai yeoja lain yang lebih sempurna dariku, membuatku ingin mengakhiri hidupku secepatnya.

 

Namun, lagi-lagi, aku mampu bertahan.

Kenapa? Karena dirimu.

 

Aku ingat dengan pertanyaanmu saat itu, saat kau menanyakan alasanku untuk menulis puisi.

Dulu, aku menulis hanya untuk menghilangkan kebosanan. Namun, sejak kau meminta padaku untuk menulis lirik saat itu, aku menulis untuk dirimu. Untuk membuatmu bahagia. Dan sejak saat itu, aku merasa hidupku lebih berarti.

 

Melihatmu tersenyum, dapat memberiku tenaga untuk menjalani kehidupan. Walaupun kau tersenyum bersama orang lain.

 

Semuanya karenamu.

 

Terima kasih karena telah mengisi hidupku, karena telah membuatku mampu bertahan. Maaf, aku hanya bisa memberimu bunga mawar kering itu sebagai kenangan dariku. Kuharap kau mau menyimpannya. Itu bunga yang kurawat dan kuawetkan sendiri.

 

Kuharap, kau bisa mencapai impian besarmu,

Kuharap, kau bisa bahagia bersama yeoja yang kau cintai.

Tolong, jangan lupakan aku yang pernah hadir dalam hidupmu.

 

Saranghaeyo…!

 

***

Baekhyun masih duduk di samping pusara itu.

“Taeyeon-ssi..”

“Mianhaeyo, aku memang bodoh. Sangat bodoh sehingga aku sama sekali tak mengerti perasaanmu. Terlalu bodoh hingga aku tak mau mengakui perasaanku..”

“Yeoja yang aku cintai hanyalah dirimu.. dan bodohnya, aku terlalu malu untuk mengungkapkannya, hingga aku tak sadar nama itu terucap dari mulutku..”

Baekhyun tersenyum miris. Air mata masih mengucur deras dari matanya. “Aku bodoh, kan? Seharusnya aku katakan itu dari awal..”

“..Tapi aku malah menyia-nyiakan dirimu..”

“…Mianhae.”

Namja itu mengeluarkan sebuah lukisan dari tasnya. Lukisan yang seharusnya ia berikan sejak dulu.

“Aku membuatkan ini untukmu.. sebenarnya aku ingin memberikannya setelah audisi, namun.. kau terlalu cepat pergi..”

 

“Kumohon datanglah.. alasanku berada di sini adalah karena dirimu.. karena aku mencintaimu..”

“Aku mencintaimu..”

 

-END-

N.B : Lagu yang dinyanyiin Baekhyun itu ‘What Is Love’nya EXO🙂

Akhirnya selesai juga😀 Gimana? Kacau ya? Mian deh kalau kacau. Maklum author masih baru ._.v Jangan lupa commentnya ya..😀

 

76 thoughts on “[Freelance] Taeyeon’s Diary – My First Love on My Last Winter

  1. Thor, AKU NANGIS TERBAHAK BAHAK! -_- Thor ih beneran Terharu banget bacanya TT.TT Bikin ff Baekyeon lagi ya Thor😀

  2. Aaaa~~ mimin, ceritanya sangat menyayat-nyayat hati ku, aku bahkan nangis sampai air mataku hampir habis #LebayModeOn
    tapi jujur, ceritanya sangaat bagus! Kalau bisa bikin yang lebih sad sama angst lagi ya! Akhir-akhir ini aku lagi pengen nangis..
    Annyeong!

  3. DEMI APA AKU NETES BACANYA :” suasana galau gini gereget bgt baca ff angst :”””” bagus banget ceritanya. kata2nya taeyeon dalem banget duh <///3 ikutan potek tau ga………. udah thor, sekian dari saya. makasih banget deh udah bikin netes huee/?

  4. Thor aku bacanya sampe “crying” loh. Aku aja gak sadar air mata aku netes -_- #pabo ._.v tapi daebak thor aku suka ffnya. Walau bikin aku “crying” tp daebak😀

  5. Author~ Bagus happy ending ‘-‘)/
    kalau kaya gini aku nangis sejadi-jadinya T_T
    Tapi ini DAEBAK ‘-‘b
    Buat ff BAEKYEON lagi ne? xD
    aku selalu setia😀😀

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s