Oppa…

Image

Title : Oppa…

Author : Im Hyun Ah

Genre : Family Angst

Length : One-Shoot

Rating : PG-15

Cast(s) : SNSD’s Yoona-EXO’s Luhan

Disclaimer : All cast belong to god. This is story belong to me. If you don’t like don’t read. Don’t bash please.

Note : Makasih banget buat temenku Fadila Setsuji yang udah mau buatin covernya, mian saeng aku tahu kamu SeoHan tapi malah disuruh buat cover LuYoon#plak^^v

.

.

####

.

.

“Oppa, kenapa menangisi tanah?” tanya seorang gadis kecil berumur lima tahun pada seorang bocah laki-laki berumur tujuh tahun yang tengah menangis didepan sebuah makam.

“Kau bodoh ya? Appa meninggal” jawabnya ketus.

“Meninggal? Apa itu?” tanyanya polos nan penasaran.

“…” Anak laki-laki itu tak menjawab.

“Umma, meninggal itu apa? Kenapa Oppa bilang Appa meninggal? Kenapa Umma juga menangis?” kini ia bertanya pada seorang wanita paruh baya yang berdiri disampingnya, tangannya menarik pelan kemeja hitam wanita yang dipanggil ‘Umma’ itu.

“Jangan tanya aku” ucap wanita itu sinis dan menyingkirkan tangan gadis kecil itu dari kemejanya, kemudian wanita itu berlalu begitu saja meninggalkan kedua bocah itu.

“Oppa…”

“Jangan panggil aku Oppa, aku membencimu”

.

.

####

.

.

3 Month Later

“Oppa…kenapa kita kesini lagi? Setiap kita kesini Oppa pasti menangis” sosok gadis kecil berkuncir dua bertanya dengan polosnya pada sosok bocah laki-laki yang tengah bersimpuh didepan sebuah makam yang masih basah.

“Umma…Umma…hiks” gumam bocah laki-laki itu disertai isakan. Air mata kian jelas terlihat di pipi putihnya.

“Oppa~” rengek gadis kecil itu lagi sambil menarik kerah bagian belakang kemeja bocah laki-laki itu.

“Aish…berisik” ucapnya ketus sambil melepas genggaman gadis itu pada kerah kemejanya. Gadis kecil itu tersentak kaget, ia menatap bocah laki-laki yang juga tengah menatapnya kesal dengan takut.

“Oppa…mianhe” ucapnya sambil menundukkan kepalanya. Bocah laki-laki itu mendengus, ia menghapus sisa air mata dipipinya dan pergi begitu saja dari tempat yang dipenuhi nuansa kesedihan itu. Melihat bocah laki-laki itu mulai menjauh, gadis kecil itupun segera berlari mengejar sosok itu.

“Oppa…tunggu aku” serunya sambil terus berlari, tanpa sadar ia tersandung batu besar yang terletak didepannya. Tubuhnya jatuh menyentuh tanah, kedua lututnya tergores dan mengeluarkan sedikit cairan merah pekat.

“Oppa~hiks…” ringisnya merasakan perih dikedua lututnya. Bocah laki-laki itu menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya yang terbalut hoodie coklat dan berjalan kearah gadis yang masih terbaring ditanah.

“Bodoh” rutuknya sambil membantu gadis kecil itu berdiri.

“Ugh~perih…hiks” ringis gadis kecil dengan tangis sesegukannya yang lirih. Bocah laki-laki berambut pirang itu membungkukkan tubuhnya membelakangi gadis itu.

“Cepat naik, kugendong” perintahnya dingin. Gadis kecil itu mengedipkan matanya membuat sisa air mata yang masih mengenang dikelopak matanya jatuh membasahi pipinya.

“Jinjja?”

“Ne, cepat” ucapnya tak sabar. Dengan hati-hati gadis kecil itu naik kepunggung bocah itu dan melingkarkan kedua lengannya dileher bocah laki-laki itu. Senyum sumringah tercetak jelas diwajah gadis kecil itu berbanding terbalik dengan wajah kesal bocah laki-laki yang tengah berjalan sambil menggendongnya.

“Oppa…aku menyayangimu”

‘Heh, sayangnya aku membencimu’

.

.

####

.

.

12 Years Later

Pagi yang cerah menyapa. Diawali dengan kicauan burung kecil menjadi musik pagi yang indah. Cahaya matahari pagi dengan mudahnya menyusup kedalam sebuah ruangan kamar seorang pemuda yang masih bergelut di kasurnya. Ia sama sekali tak terganggu dengan silaunya cahaya alami itu. Disampingnya berdiri seorang gadis cantik berpakaian seragam sekolah yang tengah membawa sebuah nampan. Gadis itu menatap pemuda yang masih tertidur pulas itu dengan senyuman geli.

“Kau lucu kalau sedang tidur Oppa” gumamnya dengan kikikan kecil. Ia kemudian meletakkan nampan yang sedari tadi dipegangnya diatas meja kecil disamping ranjang. Perlahan ia menggoyang-goyangkan tubuh sang pemuda mencoba membangunkannya.

“Oppa…Ireona~ini sudah pagi” ucapnya halus.

“…” Tak ada respon. Pemuda itu masih tenggelam dialam mimpinya.

“Oppa~”

“Ngghh” lenguh pemuda itu, ia membuka setengah matanya yang masih terlihat sayu, kemudian menutupnya kembali sembari mengubah posisinya menjadi membelakangi gadis itu dan memeluk gulingnya. Gadis itu menggeram kesal. ‘Tak ada cara lain, aku harus membangunkan Oppa dengan cara ekstrim itu”

Gadis itu kemudian melepas sepatunya dan merangkak naik keatas ranjang. Ia memposisikan diri disebelah tubuh pemuda itu dan mendekatkan bibirnya ketelinga pemuda itu.

“OOOPPPPAAA….BANGUN RUMAH KITA KEBAKARAN” teriaknya sekencang mungkin yang langsung membuat siempunya telinga terbangun dengan tidak elitnya.

“Hehehe, akhirnya kau bangun juga Oppa” pemuda itu lantas menolehkan kepalanya saat mendengar kekehan kecil itu. Wajahnya langsung berubah merah saat melihat siapa yang sudah menganggu tidurnya.

“Kau…” ucapnya dengan nada berbahaya. Sadar jika situasi sudah tidak aman, ia segera melompat dari ranjang itu, mengambil sepatunya dan langsung melesat keluar dari kamar yang diliputi atmosfir mencekam.

“Ya!!! Xi Yoona, beraninya kau”

.

.

####

.

.

Setelah membersihkan diri sekitar kurang lebih 20 menit, akhirnya Luhan-pemuda yang dibangunkan- dan juga Yoona-gadis yang membangunkan- kini sedang berada dilantai bawah rumah mereka tepatnya diruang makan. Masih tersisa waktu sekitar 15 menit untuk mereka mengisi tenaga dengan sarapan sederhana buatan Yoona, berupa nasi goreng keju dan milshake vaniila.

“Oppa~bagaimana masakanku? Enak kan?” tanya Yoona pada kakaknya itu.

“Hn” jawab Luhan tak jelas. Yoona tersenyum mendengar sahutan kakaknya itu.

“Oppa~hari ini aku akan pulang terlambat, tidak apakan?”

Luhan meneguk minumannya dan menatap Yoona “Kenapa akhir-akhir ini kau sering pulang terlambat?” tanyanya dengan tatapan penuh introgasi. Yoona langsung kikuk ditanya seperti itu oleh Luhan.

“I-itu, kami sedang melakukakan kegiatan belajar kelompok karena sebentar lagi ujian kenaikan” jawab Yoona sebisa mungkin menutupi kegugupannya. Luhan memincingkan matanya, menelisik wajah ‘adik’nya yang terlihat tegang itu.

“Kau sedang tidak membohongiku kan?”

“A-aniyo” jawab Yoona kikuk. Luhan merotasikan kedua bola matanya. Ia meletakkan sendok dan garpu diatas piringnya yang sudah bersih.

“Hn. Aku berangkat duluan” ucapnya sambil bangkit dari kursi dan langsung menyambar kunci mobil serta jaket yang tersampir disandaran kursi. Yoona mengangukkan kepalanya menatap Luhan.

“Hati-hati dijalan Oppa” ucapnya namun tak begitu didengarkan Luhan.

Yoona pun segera bergegas membereskan meja makan selagi masih ada waktu sebelum ia berangkat kesekolah.

Semenjak kepergian orang tua mereka 12 tahun yang lalu, Luhan dan Yoona tinggal bersama dirumah peninggalan Appa mereka. Seluruh warisan yang ditinggalkan orang tua mereka masih dikelola oleh pengacara kepercayaan keluarga Xi. Sekarang ini Luhan sedang menempuh studynya di Seoul University sebagai modal untuknya mengelola perusahaan ayahnya kelak. Sementara Yoona masih menempuh pendidikan di SM High School. Ia merupakan bintang kelas disekolahnya. Walau bersaudara entah mengapa Luhan selalu bersikap dingin dan kasar pada Yoona, tidak jarang ia memaki atau memukul Yoona jika pemuda itu sedang kesal. Yoona yang mendapat perlakuan seperti itu bukannya benci, marah atau semacamnya pada kakaknya itu, ia justru menganggap itu sebagai hukuman atau peringatan untuknya karena kesalahan yang ia buat. Ia sangat menyayangi Luhan, karena hanya Luhan keluarga satu-satunya didunia ini.

.

.

####

.

.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 saat Yoona sampai dirumahnya. Saat memasuki kediamannya dilihatnya beberapa mobil dan motor terparkir di halaman rumahnya. Yoona mengernyitkan dahinya.

‘Apa Oppa kedatangan tamu?’

Gadis itupun segera membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk kedalam. Betapa kagetnya ia melihat pemandangan di ruang tengah rumahnya yang hampir seperti kapal pecah. Pembungkus snack dan kaleng-kaleng minuman terlihat berserakan dilantai dan meja. Ada sekitar tujuh orang laki-laki seumuran Luhan ditempat itu. Mereka nampak sibuk dengan urusan mereka, ada yang tengah beramin PS, bermain kartu, karaoke dan yang paling membuat Yoona tercengang adalah ada yang tengah berciuman panas dengan seorang wanita dikursi itu. Sementara Luhan hanya duduk diam dikursi sambil matanya fokus pada layar laptopnya. Yoona bingung harus bagaimana, ia berusaha memanggil Luhan namun suaranya teredam dengan kerasnya suara orang yang tengah berkaraoke diruangan itu. Tiba-tiba seorang pemuda berkulit agak gelap, berjalan kearahnya dengan langkah linglung.

“Ah…sepertinya kita kedatangan tamu! Siapa namamu gadis manis?” Yoona langsung memalingkan wajahnya saat menghirup bau alcohol yang menguar dari rongga mulut pemuda itu.

“Hei, kenapa diam?” pemuda itu merangkul bahu gadis itu dan menyentuh dagunya. Yoona segera menepisnya dan mendorong tubuh pemuda itu hingga jatuh kelantai. Gadis itupun langsung berlari kekamarnya yang terletak dilantai atas. Dikuncinya rapat-rapat pintu kamarnya. Ia mengatur nafasnya yang memburu. Yoona duduk dikasurnya sambil memeluk kedua lututnya, ia tak habis pikir kenapa kakaknya membawa orang-orang seperti itu. Orang-orang yang menurut Yoona berbahaya.

.

.

####

.

.

Luhan menatap foto berukuran besar yang terpampang di ruang tamu rumahnya dengan tatapan kosong. Foto yang menampilkan sosok kedua orang tuanya dalam balutan busana pengantin. Lalu pandangannya beralih pada sebuah foto yang terletak diatas lemari kecil dibawahnya. Foto yang sangat ia benci. Foto yang rasanya ingin ia bakar saat ini juga, andai saja dalam foto itu tak ada sosok memuakkan itu ia tak akan sebenci itu.

Satu fakta yang harus diketahui. Xi Luhan sangat membenci adiknya Xi Yoona. Mungkin kedengaran aneh dan tak wajar. Bagaimana mungkin seorang kakak membenci adiknya? Namun itulah kenyataan sebenarnya. Luhan sangat membenci gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu. Mereka memang satu ayah, tapi tidak dengan ibu. Yoona adalah anak dari selingkuhan ayahnya yang diajak ayahnya tinggal bersama Luhan dan ibunya. Ketentraman keluarga itu mulai goyah semenjak datangnya gadis itu. Luhan masih ingat jelas bagaimana ayah dan ibunya sering bertengkar hanya karena ibunya yang tak mau Yoona tinggal disini. Terkadang ayahnya menggunakan kekerasan pada ibunya hanya untuk membela Yoona, Luhan yang awalnya bersikap baik pada adik tirinya itu perlahan merubah sikapnya menjadi dingin dan tidak peduli. Ia sungguh kesal dengan gadis itu, karena sewaktu kecil Yoona begitu dimanjakan. Ia selalu disayangi bahkan kasih sayang ayahnya untuk Yoona melebih dirinya. Perasaan benci kian tumbuh dalam dirinya saat menerima kenyataan ayahnya meninggal karena menyelamatkan Yoona dari kecelakaan kereta 12 tahun lalu. Lagi-lagi Yoona, ia begitu benci sosok itu. Bahkan ayahnya lebih memilih menyelamatkan nyawa gadis ‘sialan’ itu. Sebesar apa kasih sayang ayahnya untuk Yoona?. Semenjak kepergian ayahnya, ibunya jadi sering berpergian entah kemana, sering mabuk dan membawa pria yang berbeda setiap harinya kerumah. Luhan benci keadaan saat itu, ditambah Yoona yang saat itu berumur lima tahun selalu menempel padanya. Ingin sekali saat itu ia menendang gadis itu, namun jika melihat wajah Yoona yang begitu mirip ayahnya ia jadi tak bisa melakukannya. Luhan begitu mengagumi ayahnya. Tiga bulan kemudian, ibunya meninggal karena overdosis obat-obatan terlarang. Satu lagi pukulan untuk pemuda itu, lagi-lagi ia ditinggalkan orang yang disayanginya. Dan semenjak itu rasa benci dalam dirinya kian membesar, mengalir bersama liquid kental didalam tubuhnya dan merasuk hingga kepersendiannya hingga ke otak. Menutup pintu hati pemuda itu dan membawanya kedalam kebencian tak berujung.

Drrt…Drrt…

Getaran ponselnya menyadarkan Luhan dari lamunan panjangnya. Ia meraih ponsel touchscreen miliknya dan menyentuh layar bertuliskan ‘accept’

“Yeoboseo” sapanya langsung pada orang yang berada diseberang sana.

“…”

“Ne, besok akan segera kuantar”

“…”

“Ya, ditempat biasa”

“…”

“Tenang saja, kuyakin kau akan menyukainya” selesai mengatakan itu Luhan langsung memutus sambungan telepon itu dan menyeringai.

.

.

####

.

.

Yoona terbangun dari tidurnya tepat pukul lima lebih tiga pulu. Deru nafas gadis itu terlihat tak beraturan ditambah peluh yang membasahi pelipis dan sekujur tubuhnya. Mimpi buruk yang dialaminya benar-benar menganggu tidur nyenyaknya. Tapi sisi positifnya ia tidak harus telat bangun karena harus menyiapkan sarapan untuk Luhan. Setelah merenggangkan otot-otot tubuhnya gadis itu segera beranjak dari ranjangnya untuk membersihkan diri.

.

.

####

.

.

Hari Minggu memang adalah hari yang tepat untuk bersantai. Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi Yoona, gadis itu justru menghabiskan waktunya untuk mengerjakan setumpuk tugas-tugasnya yang terbengkalai selama seminggu. Baru saja gadis itu akan menyalakan laptopnya sebuah suara yang sangat ia kenali mengusik pendengarannya.

“Yoong” Yoona lantas menolehkan kepalanya keasal suara. Tepat diundakan tangga terakhir berdiri Luhan dengan penampilan kerennya yang mampu membuat setiap wanita jatuh hati. Yoona mengedipkan matanya beberapa kali, ini pertama kalinya Luhan memanggilnya ‘Yoong’ ditambah lagi Luhan tersenyum. Senyum yang tak pernah Yoona lihat selama 12 tahun terakhir ini.

“Ne, Oppa” sahut Yoona balas tersenyum.

“Kau sedang sibuk?” tanya Luhan lembut sambil berjalan menghampiri Yoona yang tengah duduk di sofa ruang tamu.

“Begitulah Oppa, ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan” jawab Yoona jujur.

“Hah, sayang sekali padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan”

“Jalan-jalan? Benarkah Oppa?” tanya Yoona dengan wajah berbinar. Luhan hanya menganguk dengan senyum andalannya.

“Aku mau Oppa, kalau begitu aku siap-siap dulu ya” Yoona bergegas membereskan laptop dan buku-bukunya.

“Lalu tugas-tugasmu?” tanya Luhan menghentikan sejenak pergerakan Yoona.

“Ah, itu bisa kukerjakan lain waktu” jawab Yoona seadanya. Ia kemudian segera berlari menuju kekamarnya. Gadis itu sangat senang hari ini. Sikap Luhan yang tiba-tiba menjadi lembut entah mengapa membuatnya sangat bahagia. Yoona tak henti-hentinya tersenyum saat itu bahkan saat sudah berada didalam mobil ferrari Luhan.

“Oppa, kita mau kemana?” Yoona menolehkan kepalanya kesamping kiri. Tepatnya kearah Luhan yang tengah menyetir. Jalanan Seoul pagi itu nampak tak begitu ramai, padahal biasanya di hari libur seperti ini akan banyak kendaraan yang memadati jalan.

“Kau maunya kemana?” tanya Luhan tanpa menoleh. Ia tetap fokus pada jalanan didepannya.

Yoona nampak berpikir sebentar. Lalu ia menjentikkan jemarinya dan tersenyum riang kearah Luhan. “Bagaimana kalau kita ke Namsan Tower saja Oppa?”

“Namsan Tower?” ulang Luhan dengan sebelah alis terangkat.

“Ne. Sekalian aku ingin mengerjakan tugas Oppa, aku kebagian memotret seluruh bagian Namsan Tower, maka dari itu aku membawa kamera” ucap Yoona sambil memperlihatkan kamera jenis polaroid yang sedari tadi menggantung dilehernya. Luhan hanya menganguk, ia baru menyadari jika Yoona membawa kamera.

Hanya butuh waktu sekitar 20 menit bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan, Namasan Tower. Yoona segera turun dari mobil disusul Luhan, gadis itu terlihat sangat gembira. Ia langsung memotret seluruh bagian luar Namsan Tower. Luhan pun tak luput dari jepretan kameranya.

“Oppa, lihat kau tampan sekali” seru Luhan memperlihatkan hasil jepretannya. Luhan pun berjalan kearah Yoona untuk melihat hasil foto gadis itu. Lumayan pikir Luhan. Kemudian kedua bersaudara itu pun berkeliling sepanjang kawasan Namsan Tower dengan Yoona yang mengabadikan setiap moment mereka dengan kamera polaroidnya.

“Hehehe…Oppa, fotonya bagus-bagus” ucap Yoona sambil mengamati satu persatu foto yang diambilnya selama hampir tiga jam. Mereka kini sedang duduk disalah satu bangku taman didekat Namsan Tower. Luhan yang duduk disebelah Yoona hanya menoleh sambil tersenyum tipis. Ia kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan Yoona yang masih sibuk dengan fotonya.

Luhan kembali dengan membawakan dua botol minuman dan sebungkus Hot Dog.

“Ini untukmu” ucap Luhan seraya menyerahkan sebotol minuman dan makanan yang baru dibelinya pada Yoona.

“Eh?” Yoona menerima pemberian Luhan dengan sedikit bingung.

“Oppa, kau tidak makan?” tanya Yoona begitu melihat Hot Dog yang dibeli Luhan hanya satu, itupun diberikan pada Yoona.

“Aku tidak lapar. Kau makanlah” ucap Luhan sambil tersenyum dan menepuk pucuk kepala Yoona pelan. Yoona terdiam, rasanya sikap Luhan hari ini begitu berbeda, sangat hangat. Yoona tak tahu apa yang membuat kakaknya berubah drastis seperti ini. Apa kepalanya terbentur sesuatu? Pikir Yoona bingung.

Tak terasa mereka menghabiskam waktu hingga pukul 7 lebih 30 malam. Banyak hal yang mereka lakukan, seperti belanja baju dan keperluan rumah, bermain di Time Zone dan terakhir makan malam di restoran Jepang kesukaan Yoona.

Kini kedua bersaudara itu sedang dalam perjalanan pulang. Suasana hening menyelimuti keduanya. Yoona nampak tersenyum senang sembari sesekali melirik kearah Luhan yang sedang fokus menyetir. ‘Sesuatu’ yang berada disamping kirinya ia perhatikan dengan senyum yang belum lepas dari wajahnya. Sementara Luhan ia tetap berkonsentrasi dengan jalanan didepannya. Walau sebenarnya pikiran pemuda itu sedang melayang jauh entah kemana. Hari ini entah mengapa ia merasakan perasaan senang yang tidak biasanya. Ia begitu asing dengan perasaan ini.

Mobil mewah itu kemudian berhenti dipersimpangan jalan yang terlihat sepi. Tak ada penerangan sama sekali di wilayah yang tak Yoona kenali tersebut. Luhan kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan menatap Yoona dengan tatapan datarnya yang seperti biasa. Yoona terkesiap, kenapa ekspresi wajah Luhan tiba-tiba berubah seperti itu.

“Ikut aku” ucap Luhan seraya menarik tangan Yoona dan keluar dari mobil itu. Yoona yang tak bisa melawan, hanya bisa pasrah mengikuti Luhan walau kadang ia meringis karena cengkraman Luhan pada pergelangan tangan Yoona yang begitu kuat.

“Oppa~kita mau kemana?” tanya Yoona sambil menatap sekelilingnya. Tempat itu begitu sepi dan gelap, pohon-pohon besar yang tumbuh menjulang disepanjang jalan menambah kesan mencekam di tempat itu. Luhan tak menjawab ia terus saja menyeret Yoona dengan kasar. Tak mempedulikan jeritan gadis itu dibelakangnya. Tekadnya kini telah bulat, walau sebenarnya ada sedikit rasa yang menahannya untuk melakukan ini. Hatinya benar-benar telah tertutup.

Akhirnya mereka sampai ditempat yang menurut Yoona sangat berantakan. Sebuah gudang tua yang tak terurus lagi. Banyak barang-barang yang sudah tak terpakai lagi terbengkalai ditempat itu, dinding bangunan itu juga nampak retak termakan usia. Lantainya begitu kotor dan berdebu bahkan sudah ditumbuhi tumbuhan hijau liar.

“Kau terlambat sepuluh menit, Tn. Xi” terdengar sebuah suara berat dari arah belakang Luhan dan Yoona. Saat mereka membalikkan tubuhnya, terlihat empat orang bertubuh besar dan berwajah sangar berdiri sambil bersedekap. Luhan tersenyum tipis kearah mereka, membuat Yoona mengernyit bingung. ‘Oppa kenal mereka?’

“Maaf…ada sedikit urusan tadi” balas Luhan tenang. Ia masih terus menggenggam tangan Yoona.

Orang-orang berbadan besar itu kemudian beralih menatap Yoona dengan seringai menyeramkan mereka. Sontak membuat gadis itu melangkah mundur dan bersembunyi dibalik tubuh Luhan.

“Oppa mereka siapa?” bisik Yoona pelan dengan wajah ketakutan. Ia tak menyangka kakaknya bisa mengenal orang-orang mengerikan ini.

“Kau akan tahu nanti” jawab Luhan dengan seringai.

“Apa itu gadis yang kau janjikan?” tanya salah seorang dari mereka sambil menunjuk Yoona. Yoona menggerakkan kepalanya bingung. Kenapa orang itu menunjuknya.

“Ne, bagaimana?” Luhan menarik tangan Yoona agar berdiri disampingnya.

“Sempurna. Aku yakin bos kami akan menyukainya” ucap orang itu “Apa bisa dimulai?”

“Silahkan saja” ucap Luhan sambil melepas genggaman tangannya pada Yoona dan sedikit mendorong tubuh gadis itu kearah empat orang itu.

“Oppa~kenapa?” tanya Yoona dengan wajah yang serasa ingin menangis. Luhan mendecih ia mencengkram kedua bahu gadis itu dan menatapnya tajam.

“Kenapa? Kau masih bertanya kenapa? Apa kau tidak mengerti? Aku ingin menjualmu pada orang-orang ini” bentak Luhan dengan senyuman sinisnya. Mata Yoona terbelalak kaget.

“Oppa i-ngin menjualku? Kenapa Oppa? Kenapa kau melakukan ini? Apa salahku? Kenapa kau tega melakukan ini?” Yoona tak mampu membendung air matanya, jadi sikap baik Luhan selama hampir sehari ini ada alasannya. Pemuda itu merencanakan sesuatu yang jahat padanya.

“Apa kau bodoh gadis sialan? Dari dulu aku sangat membencimu. Semenjak kedatanganmu kerumah keluargaku semuanya jadi berantakan. Kau sama saja seperti ibumu yang tidak tahu diri itu. Kau pengganggu keluargaku. Bodoh” teriak Luhan dengan wajah merah padam. Ia menatap Yoona dengan sorot kebencian yang amat dalam.

“Maksudmu apa?”

“Asal kau tahu kau itu bukan adikku. Kau bukan adik kandungku. Kau hanyalah anak haram yang lahir karena ketidaksengajaan. Takdir sebenarnya tak menggariskanmu lahir. Ibumulah yang menggoda ayahku. Tapi kenapa kau hadir dalam keluarga kami? Kenapa kau tak mati saja bersama ibumu?” racau Luhan dengan tatapan yang menyiratkan kebencian yang sangat mendalam. Yoona terdiam, pengakuan Luhan benar-benar menjadi pukulan baginya. Rasanya seperti dihujam oleh ratusan benda tajam. Jadi ini alasan mengapa sejak dulu Luhan dan Ummanya tak pernah bersikap baik padanya.

“Oppa…” Yoona memanggil Luhan dengan lirih.

“Tch…jangan panggil aku dengan sebutan itu! Lebih baik kau pergi bersama mereka” ucap Luhan kasar dan mendorong tubuh adiknya itu kearah orang-orang bertubuh besar itu.

“Oppa…” jerit Yoona saat tubuhnya ditarik paksa oleh orang-orang tersebut. Luhan hanya mendecih dengan senyum sinisnya itu.

“Oppa…maaf jika hiks…kehadiranku menganggumu tapi kumohon hiks jangan lakukan ini” seru Yoona dengan teriakannya yang pilu, namun itu tak berarti apa-apa karena Luhan dengan santainya mengambil secarik kertas dari tangan salah seorang itu dan melangkah pergi menjauhi Yoona.

“OPPAAAA…” teriak Yoona sekali lagi. Luhan benar-benar telah pergi, ia tak peduli dengan gadis itu. Air mata terus mengalir dari kedua kelopak matanya. Tubuhnya tak bisa bergerak karena dikunci oleh beberapa lengan besar orang-orang itu. Gadis itu tak dapat melakukan perlawanan saat orang-orang tersebut membekap mulutnya dan membawanya entah kemana.

.

.

####

.

.

Luhan memasuki mobilnya sambil melempar entah kemana cek yang diberikan orang tadi. Ia memang tak begitu mempedulikan bayaran atas adiknya itu, tujuan utamanya hanya menyingkirkan gadis yang dianggapnya mengganggu itu dari hidupnya. Lagipula ia sudah banyak uang dari warisan ayahnya jadi untuk apa cek itu?. Luhan menghembuskan nafasnya perlahan. Dipejamkan kedua kelopak matanya seraya tangannya memijat pelipis sendiri. Bayangan wajah Yoona saat menangisinya melintas dikepalanya membuat pemuda itu dengan paksa membuka kelopak matanya, ia mendengus. Kenapa ia mengingat gadis itu lagi?

Baru saja pemuda itu akan menghidupkan mesin mobilnya pandangannya langsung jatuh pada sebuah kotak berukuran sedang dengan bungkusan berwarna biru dan secarik kertas diatasnya. Bungkusan itu terletak tepat dibangku yang diduduki adiknya tadi. Apa itu barang milik gadis itu. Ragu, Luhan mengambil kotak itu dan membukanya kasar. Ia kemudian mengambil benda yang berada didalamnya, mata Luhan terbelalak sebuah jam tangan mewah sewarna batu obsidian dengan sulur-sulur perak di setiap sisinya. Ini jam tangan incarannya, kenapa bisa ada disini. Dengan hati yang tak tenang Luhan membaca tulisan yang ada dikertas itu.

SaengilChukahamnida Oppa

Semoga kau semakin tampan, pintar dan disayangi semua orang.

Hehehe…ini hadiah dariku

Aku tahu kau sangat menginginkan jam tangan itu kan? Maka dari itu dua bulan sebelum kau ulang tahun aku bekerja separuh waktu di cafe milik Appa temanku.

Dipakai ya Oppa

Aku mendapatkannya susah-susah lho

Hehehe…Aku menyayangimu Oppa

~Yoona~

.

.

####

.

.

Tak terasa air mata mulai berjatuhan dari kelopak mata Luhan saat mengingat kenangan itu. Tiga tahun sudah ia hidup dalam penyesalan yang tak kunjung usai. Walau sekarang ia telah menjadi orang sukses karena berhasil memajukan perusahaan peninggalan ayahnya namun tetap saja ia merasa sebagai orang tercacat didunia. Bagaimana tidak? Disaat ia menikmati seluruh fasilitas ayahnya, gadis itu entah berada dimana. Gadis yang merupakan adik tirinya yang entah bagaimana keadaannya. Luhan masih ingat bagaimana wajah bahagia gadis itu saat diajak jalan-jalan olehnya, ingat bagaimana senyum manis itu senantiasa terkembang saat memotret dirinya dan ingat bagaimana jeritan gadis itu yang menyuarakan namanya dalam ketidakberdayaan.

Penyesalan memang selalu datang diakhir itulah yang dirasakan Luhan. Ia menyadari walau mereka tak lahir dari satu rahim tapi mereka mempunyai ikatan darah. Rasa sayang itu tentulah ada walau Luhan terlambat menyadarinya. Padahal sewaktu ia menghabiskan waktu bersama Yoona saat itu ia merasakannya namun rasa benci dihatinya tak bisa dibendung. Berhari-hari setelah kejadian itu ia mencoba mencari gadis itu berharap masih ada kesempatan untuknya meminta maaf, namun nihil bak ditelan bumi gadis itu menghilang.

Kini Luhan menyadari ia merindukan gadis itu. Ia merindukan sapaan hangat dipagi hari gadis itu, merindukan masakan gadis itu, senyum hangat gadis itu saat menyambut kepulangannya dan suara lembut gadis itu saat memanggilnya…Oppa. Ia merindukan semua tentang gadis itu. Kenangan satu-satunya bersama adiknya hanyalah foto-foto hasil jepretan polaroid yang sekarang tengah digenggam Luhan, dan tak lupa jam tangan hitam yang selalu dipakai Luhan kemanapun ia pergi.

“Hhh…” Luhan mendesah berat. Ia menyimpan kembali kumpulan foto itu disebuah kotak dan diletakkan di dalam laci meja kerjanya. Pemuda dengan kemeja putih itu melirik jam tangan hitamnya yang melingkar dipergelangan tangan.

17.00. Itulah angka yang tertera pada layar kaca jam itu. Luhan kemudian meraih kunci mobil yang terletak diatas meja. Setelah itu ia segera keluar dari ruangan kerjanya untuk menuju kesuatu tempat.

.

.

####

.

.

Luhan memarkirkan mobil Porsche miliknya ditempat yang telah disediakan di taman itu. Ia kemudian memasuki area taman yang dipenuhi pepohonan hijau dan berbagai bunga yang indah. Luhan memilih duduk di salah satu bangku taman yang dekat dengan danau buatan kecil. Beginilah kegiatan pemuda itu selama tiga tahun terakhir ini, setelah bergelut dengan pekerjaannya ia pasti akan selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi taman ini. Taman dimana ia diperlihatkan keindahan danau oleh Yoona, tempat yang sering dikunjungi adiknya sewaktu mereka SD dulu. Tempat dimana ia selalu membuat Yoona menangis dengan ucapan kasarnya. Mengingat itu lagi-lagi membuat Luhan merasakan sakit melanda hatinya.

Luhan tersentak kecil saat merasakan sesuatu mengenai ujung kakinya yang terlapisi sepatu, ia menurunkan tatapannya pada kakinya dan dilihatnya sebuah tongkat bertengger disana. Digerakkan kakinya membuat pemilik tongkat itu kaget.

“Jeosanghamnida” sebuah suara bening seorang gadis langsung membuat Luhan menoleh keasal suara. Luhan membeku, dunia seolah terhenti baginya. Tatapan matanya tak beralih sedikitpun dari objek didepannya. Apalagi saat melihat tatapan kosong gadis itu dan tongkat ditangannya membuat Luhan serasa dijatuhi sebuah batu besar, rasa bersalah kian terasa berbaur dengan kerinduannya selama tiga tahun itu. Tak tahan Luhan segera mendekap tubuh gadis itu, memeluknya erat seolah tak ingin dilepaskan. Air mata tak dapat lagi dibendung, biarlah ia dianggap lelaki cengeng asal ia bisa seperti ini, memeluk gadis yang selalu disakitinya ini dengan penuh kasih. Gadis itu tersentak kaget saat Luhan memeluknya, sebisa mungkin ia mendorong tubuh Luhan.

“Nu-nuguseyo?”

“Mianhe…mianhe…Yoong…mianhe” tubuh gadis yang tak lain adalah Yoona itu menegang saat mendengar suara yang sangat dikenalinya itu. Suara yang selama tiga tahun ini tak pernah didengarnya, suara seseorang yang pernah menyakitinya, suara orang yang ia benci sekaligus ia sayangi. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipinya, ia begitu rindu dengan sosok ini walau sekarang ia tak dapat melihat raga kakak tercintanya, tapi bau tubuh ini tak bisa dilupakannya. Ia pun dengan tangan bergetar mengangkat kedua lengannya dan membalas pelukan itu, meluapkan semuanya dengan pelukan dan air mata yang terus mengalir.

“Oppa…”

Dan itulah kata yang selalu ingin Luhan dengar dari adiknya.

.

.

###

.

.

END

***

Semoga FFnya gak mengecewakan

Comment yoo ^_____^

44 thoughts on “Oppa…

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s