[Series] Calling Out — Chapter 10

calling out 4

Author : Lee Hyura

Title : Calling Out

Genre: Angst, Family, Romance

Rating : PG 15

Length : Series

Cast :

–          SNSD Jessica

–          EXO Kris

–          EXO Luhan

–          Daniel Hyunoo

–          SNSD Seohyun

–          EXO Xiumin

–          EXO Sehun

–          EXO Lay

–          F(x) Victoria

Note: please jangan demo .__.

Previous :

=== Calling Out ===

Saat Jessica membuka mata, entah kenapa kepalanya terasa sangat sakit. Lelah untuk selalu mengeluh, dia memutuskan untuk tetap diam dan hanya menghela napas panjang. Dia hanya mengerjapkan mata selama beberapa menit hingga pusingnya menghilang sambil memikirkan kejadian sebelum ia tertidur. Dia teringat bahwa dia menelepon Luhan semalam. Seketika, pusingnya hilang karena keinginan untuk mendapatkan handphonenya secepat mungkin.

Jessica terdiam setelah ia puas memberantaki kasurnya untuk mencari handphonenya. Benda itu tidak ada atas kasur. Terbukti, walaupun semua barang di atas kasur sudah Jessica lempar dengan sembarang, Jessica tetap tidak menemukannya.

Astaga, dimana benda itu?

Cklek.

Jessica menoleh cepat ke arah pintunya yang dibuka oleh Daniel. Anak kecil itu berlari ke ibunya dengan gaya lucu. Dia sempat berhenti sejenak untuk melihat kamar ibunya yang biasanya rapi, kini kacau balau. Darah Jung yang mengalir di tubuhnya membuatnya tidak begitu peduli dengan kekacauan itu. Dia memanjat naik ke atas kasur Jessica dan duduk di paha Jessica. Jessica memeluknya lembut.

Mommy mencari handphone, ya?” tanya Daniel.

Jessica terkejut mendengarnya. “Kau tahu dimana itu?”

Daddy menyuruhku untuk memberitahu Mommy kalau handphonenya ada di Daddy,” jawab Daniel. Daniel memainkan jarinya di dagu. “Katanya Mommy sedang dihukum. Jadi handphonenya disita. Mommy nakal sih!”

Jessica menggeram pelan. Dia memindahkan Daniel agar duduk di atas kasur lalu turun dari kasur. Melihat ibunya pergi, Daniel segera mengejarnya. Daniel mengurung niatnya untuk mendekati orangtuanya dan memilih untuk bersembunyi saat melihat aura mengerikan dari tubuh Jessica. Jessica sudah berada di depan pintu kamar Kris.

“Kris! Kembalikan handphoneku!” teriak Jessica.

Ketika pintu terbuka, tiba-tiba Jessica ditarik ke dalam kamar. Semuanya terjadi terlalu cepat hingga Jessica tidak bisa memberontak. Jessica mengerjap pelan, menyadari betapa dekatnya wajahnya dengan wajah Kris. Kris menghela napas panjang.

“Berhentilah berteriak di depan anakmu. Dia masih kecil.” Kris mendesah pelan. “Jika kau ingin handphonemu, kau bisa memintanya baik-baik.”

Jessica menggembungkan pipinya. “Aku sedang hamil. Jadi tidak apa-apa kalau—“

“Tidak ada alasan!”

Kris berbalik badan dan meneruskan kegiatannya tadi. Sementara Jessica menggigit bibirnya canggung. Terakhir kali mereka hanya berdua di kamar, Kris memaksakan seks dengannya. Ingatan itu membuat Jessica menjadi sedikit takut.

“Jess?”

Pikiran Jessica pun buyar. Wajah memanas, hatinya sibuk meruntuki dirinya yang berpikir yang macam-macam. Nyatanya Kris tidak akan melakukan itu. Terlebih di saat Kris sudah siap untuk berangkat kerja.

Matanya Jessica membulat ketika matanya melihat benda yang digenggam oleh Kris sekarang. Handphonenya. Jessica langsung mencoba meraihnya. Terima kasih banyak untuk perbedaan tinggi mereka sehingga Kris bisa menjauhkan handphone itu dari jangkauan tangan Jessica tanpa usaha.

“Kris! Kembalikan!” rengek Jessica. “Kris—“

Jessica terbelalak. Tubuhnya membeku. Itu semua karena Kris menciumnya tiba-tiba.

“Aku akan kembali benda ini jika kau jadi anak baik hari ini,” bisik Kris di permukaan bibir Jessica. Matanya menatap mata Jessica tegas.

>>>

Ini tidak seperti hari biasanya, Seohyun tetap berada di kasurnya walaupun dia sudah terbangun sejak 2 jam yang lalu. Hanya berguling ke sana kemari. Tidak ada hal penting yang ia lakukan. Juga, tidak ada hal yang ingin dia lakukan hari ini.

“Tring~ jin Sehun datang untuk mengabulkan permintaan putri Seohyun~” seru Sehun dari luar rumah Seohyun. Tepatnya, di luar jendela kamar Seohyun.

Seketika Seohyun melompat dari kasur dan membuka jendela kamarnya.

Bugh!

“Aw!”

Seohyun menutup mulutnya, antara terkejut dan ingin tertawa. Ia tidak menyangka Sehun tepat berada di depan jendela sehingga daun jendela itu menghantam wajah Sehun cukup keras. Namun sedetik kemudian, dia sibuk menahan air matanya. Rasa rindu yang terlalu besar kepada Sehun membuatnya ingin menangis saat melihat wajah konyol kekasihnya itu.

“Omo, Sehun-ah! Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Seohyun, setelah ia berhasil menguasai dirinya.

Sehun melakukan senam wajah sejenak untuk mengecek apa ada otot wajahnya yang kehilangan fungsi karena kejadian tadi. Merasa semua otot wajahnya baik-baik saja, Sehun tersenyum lebar kepada Seohyun. Sesenang mungkin agar Seohyun tidak khawatir soal wajahnya.

“Aku sudah menekan bel berkali-kali tapi kau tidak membuka pintu juga. Jadi aku memanggilmu dari sini. Ternyata wajahku harus menjadi tumbal rupanya,” jelas Sehun.

“O-oh.. maafkan aku. Aku segera membukakannya untukmu,” seru Seohyun.

Sehun dengan cepat menahan tangan Seohyun. Seohyun menatap tangannya dan Sehun bingung. Sebagai jawabannya, Sehun menumpukan kedua tangannya di kusen jendela lalu melompat masuk ke dalam kamar Seohyun.

“Ini terlalu mudah rupanya. Sepertinya kau perlu meninggikan jendelamu. Aku takut—Noona, kau baik-baik saja?”

Sehun sedikit terkejut ketika Seohyun memeluk sangat erat. Seakan Sehun akan jatuh ke jurang yang paling dalam jika Seohyun merenggangkan pelukannya sedikit saja.

“Noona?”

Seohyun menggeleng cepat. “Tentu saja aku tidak baik-baik saja! Kau menghilang begitu saja. Bagaimana caranya aku tetap baik-baik saja?! Katakan!”

Sehun tersenyum kecil mendengar keluhan kekasihnya itu. Jarang-jarang Seohyun protes tentang keberadaannya secara frontal. Biasanya Seohyun hanya akan merajuk tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya kali ini, Sehun hilang di waktu yang salah.

“Sesuatu terjadi?” tanya Sehun.

“Aku lelah..” gumam Seohyun sambil mulai terisak.

“Lelah?”

“Aku lelah menanggup rahasia Jessica eonni. Aku juga lelah berbohong kepadamu..”

Sehun berusaha keras untuk menahan tawanya dengan menggigit bibirnya. “Hm, soal rencanamu ingin wajib militer karena kau ingin jadi duta besar?”

Seohyun mengangguk.

“Aku tahu kau berbohong. Miyoung noona yang memberitahuku. Lagipula kau memang tidak bisa berbohong, Noona. Aku langsung tahu kau bohong saat pertama kali kau bilang. Yah tapi aku ikuti saja permainanmu,” jelas Sehun. “Karena kau tidak juga jujur, ya aku menghukummu dengan cara menghilang untuk beberapa hari.”

Seohyun cemberut mendengarnya. Dia mencoba melepaskan pelukannya tapi kini malah Sehun yang memeluknya erat.

“Lepaskan aku!” kesal Seohyun.

Sehun menggeleng. “Tidak. Biarkan kita seperti ini untuk beberapa saat.”

>>>

My my, ada apa dengan sepupu tercintaku ini?” pekik Victoria, berpura-pura terkejut saat ia masuk ke dalam kamar Luhan.

Luhan memutar matanya. Sepupunya yang paling dekat dengannya itu memang senang menggodanya. Luhan sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya di saat kondisi hatinya masih tidak stabil. Luhan mengacuhkannya dan tetap memainkan pensilnya di atas kertas.

Victoria mengerucutkan bibirnya, tidak terima diacuhkan oleh Luhan. Dia meraih kertas itu dan membentuknya menjadi bola kasar lalu ia lempar ke tempat sampah di samping meja yang dipakai oleh Luhan.

“AH JIEJIE! What’s wrong with you?!” geram Luhan.

Victoria mengetuk kepala Luhan dengan kepalan tangannya. Wajah geramnya membuat Luhan menutup bibirnya erat.

“Kau tidak pernah meneleponku sekali pun saat kau di Korea. Saat pulang, kau malah bertingkah seperti ini? Oh come on, Luhan! Aku selalu ada untukmu~ kenapa kau tidak pernah cerita tentang Jessica dan Daniel kepadaku?” protes Victoria.

“Jie—ha?” Luhan menoleh bingung. “K-kau tahu soal Jessica dan Daniel?”

Victoria menyengir polos. “Karena kau tidak pernah meneleponku, aku berpikir pasti ada sesuatu terjadi kepadamu. Jadi aku mengirim orang untuk mencari tahu apa yang terjadi kepadamu. Aku pun tahu soal kedekatanmu dan Jessica yang tidak normal. Itu membuatku penasaran. Jadi… yah, kau tahu lah~”

Luhan menghela napas lemas sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Victoria menepuk kepala Luhan penuh kasih.

“Tidak semua istri dapat direbut, Lu. Jika kau memang mencintai Jessica, kau boleh saja tetap mencoba merebutnya. Tetapi itu tidak adil bagi Kris. Apalagi Daniel. Masa anak sekecil itu harus melihat orangtuanya berpisah?” ceramah Victoria.

Mendengar itu, Luhan kembali jengkel. Ia kira Victoria benar-benar tahu kalau Daniel adalah anak kandungnya bukan Kris. Namun sepertinya Victoria mengiranya selingkuh dengan Jessica dan berusaha untuk menghancurkan pernikahan Jessica.

“Jiejie, sebenarnya kau salah paham,” desah Luhan.

Victoria menggeleng pelan. “Tidak usah mengelak. Aku tahu kok. Pasti berat melihat mantan kekasihmu menjadi istri orang lain. Apalagi sebenarnya hubungan kalian belum resmi berakhir, kan?”

Luhan mengacak rambut frustasi. “Demi Tuhan, kau salah paham!”

Victoria terkekeh pelan. Sudah lama sekali ia tidak melihat Luhan sefrustasi itu. Sebenarnya dia harus segera kembali ke kantor untuk rapat bersama beberapa petinggi di kantor pusat Lu Construction and Architecture. Sayang sekali wajah frustasi Luhan lebih menarik dibandingkan rapat itu sehingga Victoria melupakannya.

“Jadi apa yang terjadi antara kau dan Jessica selama di Korea jika aku salah paham, hm?” tanya Victoria sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan, tangannya tertumpu di atas meja.

Luhan mendorong kening Victoria dengan telunjuknya agar Victoria menjauh. “Yang pasti ini bukan yang seperti yang kau pikirkan.”

“Baiklah, ini memang bukan yang seperti ku pikirkan. Baiklah! Baik!” gerutu Victoria.

Luhan tersenyum kecil melihat tingkah sepupunya. Matanya melirik jam dinding di kamarnya sambil menggigit bibirnya untuk menahan senyum. Tentu dia tahu Victoria harus menghadiri rapat itu. Ayahnya juga menghadiri rapat itu. Itu rapat yang penting untuk para petinggi di perusahaan keluarganya. Jika Victoria terlambat, Victoria akan berada dalam masalah yang berat. Cukup untuk menghukumnya karena sudah ikut campur urusan Luhan. Berbeda dengan Victoria yang menjabat sebagai direktur keuangan, Luhan hanya menjadi salah satu arsitek perusahaan itu. Jadi Luhan tidak perlu datang ke rapat itu.

“Ah~” seru Luhan. “Kau harus menghadiri rapat, kan? Kau tidak pergi?”

Victoria memutar matanya. “Jangan membelokan topik!”

Luhan menatap Victoria jenaka. “Aku hanya mengingatkanmu karena kau hanya mempunyai waktu 20 menit sebelum rapat dimulai. Dan setahuku, ayahku memintamu untuk berada di sana 10 menit sebelum rapat di mulai, kan?”

Victoria langsung melirik jam tangan. Sedetik kemudian, dia sudah keluar dari kamar Luhan menuju mobilnya.

“Setidaknya aku bisa tenang sampai jam 12 nanti,” gumam Luhan.

>>>

Kris mengernyit bingung saat ia melihat sosok asing di ruang kerjanya. Seperti biasa, Minseok sudah berakrab ria—tepatnya sok akrab—dengan sosok asing itu.

“Pengganti Luhan?” tanya Kris ketika perhatian kedua orang itu teralih kepadanya.

Pria asing itu mengangguk. “Ya. Perkenalkan, namaku Yixing.”

“Hm, baiklah Yixing-ssi—“

“Cukup Yixing. Aku adalah sepupunya Luhan dan ku dengar dia cukup dekat dengan kalian. Jadi, yah, kau tidak perlu terlalu formal denganku. Karena aku yakin kita akan bisa cepat akrab juga,” sela Yixing cepat sambil memperlihatkan lesung pipinya.

Kris tersenyum kaku. Oh sepupu Luhan…

>>>

Damn, Luhan! Aku terlambat 15 menit! Jalanan dekat kantor macet. Untung saja mereka menerima alasanku,” keluh Victoria sambil menghempaskan tubuhnya di kasur Luhan.

Luhan menggeleng pelan. Jarinya asik bergerak di layar IPadnya sambil sesekali mengambil snack dari toples dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia sudah terbiasa mendengar semua keluhan Victoria. Wanita itu senang sekali mengeluh akan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Padahal segalanya terjadi karena sikapnya juga.

“Belum lagi rapat itu panjang sekali dan membosankan. Aku hampir saja tidur jika aku tidak melihat tatapan ganas ayahmu. Heu,” lanjut Victoria.

Luhan terkekeh pelan mendengar.

“Dan untuk mengusir kebosanan, aku membayangkan apa saja yang kau lakukan dengan Jessica di Korea,” tambah Victoria.

“Uhuk!”

Luhan terbatuk mendengarnya. Sepertinya Victoria memang tidak pernah bisa berhenti menggodanya. Dia segera keluar dari kamar dan kembali dengan segelas air.

“Sialan kau, Vic!” protes Luhan. “Berhenti membicarakan itu!”

Victoria tersenyum kecil mendengar Luhan memanggil namanya. Itu artinya Luhan sungguh-sungguh kesal kepadanya, bukannya kesal yang seperti tadi pagi. Victoria membalikkan tubuhnya dan bersendagu sambil memperhatikan Luhan yang sedang meneguk airnya.

“Baiklah, jadi bagaimana nasibmu sekarang? Bukannya kau sudah kembali ke kantor hari ini, ya?” tanya Victoria.

Luhan duduk di kursinya tadi sembari menghela napas panjang. “Tidak ada pekerjaan untukku. Jadi aku memutuskan untuk tidak pergi.”

“Kau tidak mengecek pekerjaanmu yang di Korea? Mungkin Yixing mendapatkan kesulitan saat melanjutkan pekerjaanmu itu?” tanya Victoria lagi.

“Tidak. Ku yakin adikmu itu mengerti akan semua berkas yang ku berikan kepadanya. Bagaimanapun, dia lebih pintar daripadamu. Jadi—aw!”

Luhan meringis karena Victoria melemparinya bantal.

Okay, aku minta maaf. Walaupun aku penasaran, aku tidak bisa meneleponnya. Lagipula ini hari pertamanya. Aneh jika aku sudah meneleponnya. Mengerti?” jelas Luhan.

Victoria mengangguk cepat. Tapi Luhan tahu Victoria sebenarnya belum puas.

“Aku tahu kau penasaran dengan hubunganku dan Jessica,” desah Luhan pelan.

Victoria mengangguk semangat.

“Tapi berjanjilah kau tidak akan menceritakannya ke siapapun!”

Victoria berdecak kesal. “Kapan aku membongkar rahasiamu, Tuan Lu yang terhormat?”

>>>

Baru saja Kris melangkahkan kakinya di lantai rumah, Jessica sudah berlari menghampirinya sambil memasang ekspresi memelas. Alis Kris terangkat bingung. Kris tahu Jessica sedang meminta handphonenya kembali tapi ia tidak menyangka ia bisa membuat Jessica berekspresi semelas itu. Dia baru sadar betapa Jessica tidak bisa dipisahkan dari handphonenya.

Handphoneku?” tagih Jessica.

“Aku belum mengatakanmu sebagai anak baik hari ini,” balas Kris.

Jessica menggembungkan pipi. “Tentu saja! Aku sudah besar bukan anak-anak lagi.”

“Hm?”

“Baiklah~”

Jessica menyerah. Dia mengambil tas laptop Kris membawanya ke dalam kamar Kris. Kris tersenyum kecil melihatnya. Kini pandangannya beralih ke anak kecil yang berlari dengan semangat ke arahnya. Dia merentangkan tangannya sambil sedikit membungkuk untuk memeluk Daniel sesampainya Daniel di hadapannya. Kini Kris tidak terlalu mempedulikan fakta bahwa Daniel bukan anaknya. Masa bodo dengan itu. Selama ini Kris lah yang membesarkan Daniel, bukan Luhan. Itu sudah menjadi bukti bahwa Kris lah yang lebih pantas menjadi ayahnya Daniel. Setidaknya itu lah yang ia pikirkan.

Jessica kembali ke hadapan Kris untuk melepaskan dasi Kris. Jessica menoleh bingung karena Daniel menutup matanya tiba-tiba.

“Ada apa dengan matamu?” tanya Jessica.

“Mataku baik-baik saja. Aku hanya takut Daddy melakukan sesuatu lagi kepada Mommy di depanku,” jawab Daniel.

Jessica melototi Kris seakan menyalahkan Kris yang dibalas senyuman menahan tawa dari Kris. Jessica menjadi tambah sebal melihatnya.

“Apa yang lucu?” tanya Jessica sinis.

Kris memainkan alisnya. “Lucu. Aku merasa seperti mempunyai dua anak.”

Jessica menarik dasi Kris yang sudah terlepas lalu menyentil kening Kris dan pergi meninggalkan mereka berdua. Kris menggerutu pelan sambil mengelus keningnya.

Dad~”

Kris menoleh ke arah Daniel. Matanya membulat ketika jari-jari kecil Daniel melakukan hal yang dilakukan Jessica tadi. Kris terkejut. Detik berikut, Daniel sibuk tertawa karena jari-jari Kris yang menggelitikinya.

>>>

Kris menjilat bibirnya saat ia kembali berhadapan dengan wajah melas Jessica. Kris tidak begitu memperhatikan bagaimana hubungan Jessica dengan handphonenya itu hingga Jessica merasa sangat kehilangan seperti itu.

“Aku sudah menjadi anak baik hari ini. Aku tidak mencari masalah kok. Ayolah kembalikan Booblue kepadaku,” rajuk Jessica.

“Booblue?” Kris tersenyum geli.

Jessica menggembungkan pipinya. “Itu nama handphoneku. Ada masalah?”

Kris tertawa seraya mengacak rambut Jessica lembut kemudian pergi ke kamar untuk mengambil barang yang ditagih oleh Jessica. Sekembalinya dari kamar, Kris duduk di tempatnya tadi sambil memperhatikan benda itu. Tidak ada warna biru untuk fisiknya.

“Dulu handphoneku selalu aku letakkan di tas kecil bewarna biru. Itu sebabnya aku memanggilnya Booblue,” jelas Jessica seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kris.

“Oh…” Kris mengangguk mengerti. “Tas kecil yang selalu kau bawa kemana-mana itu?”

“Yup! Tas itu karya sulaman pertamaku. Makanya aku selalu membawanya kemana pun aku pergi.”

“Pantas modelnya aneh. Aku sampai penasaran toko apa yang menjual tas dengan model seaneh itu.”

Bugh!

Jessica memukul kepala Kris dengan bantal sofa dengan geram. Kris merintih pelan sambil mengelus kepalanya. Dia bermaksud untuk becanda. Tapi sepertinya emosi Jessica benar-benar sensitif. Ugh~

“Aku tidak akan menghamilimu lagi lain kali. Kau selalu menyiksaku saat hamil,” gerutu Kris.

Kris memutuskan untuk bangkit dan kembali ke kamarnya, meninggalkan Jessica yang memasang wajah bodoh. Jessica kebingungan melihat kepergian Kris padahal Booblue-nya belum dikembalikan oleh Kris.

“Ya, Kris! Kembalikan Booblue-ku!” protes Jessica.

“Bukan itu perjanjiannya, Jess. Kau sudah berjanji untuk menjadi anak baik hari ini tapi kau tidak menepatinya~” sahut Kris.

Jessica menatap bantal sofa yang ia gunakan untuk memukul kepala Kris tadi. Ingin rasanya Jessica menggigit bantal itu hingga robek.

“Tapi itu salahmu yang membuatku emosi! Argh!! Kau tidak adil!!”

=== Calling Out ===

Lagi kena writer block nih. Jadi maaf ya kalo pendek😦 dan maaf untuk typo. Hehe

Bonus Krissica cute moment for you ^.^ thank you for supporting me by giving comments😀

Sebenarnya aku pengen ngepost ff ini di blog pribadiku aja. Ga usaha di sini. Tapi aku udah janji sama pengunjung blog ini. Jadi yah begitu deh. Kalo ffku yang lain, tetap aku publish di blogku aja. Jadi yang nunggu ffku yang lain, silahkan ke blogku aja

72 thoughts on “[Series] Calling Out — Chapter 10

  1. Hello All saya readers baru nih ceritanya seru banget cuma di chapter ini aja aku comment di chapter sebelun nya belom pernah untuk aku ini bener bener bagus

  2. Pasangan Ɣªήğ aneh Ɣää
    =))‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​=)) ..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s