Endless Memory [Drabble]

remake cover endless memory

Title            : Endless Memory

Author        : Fadila Setsuji Hirazawa

Genre          : Romance,Sad

Length         : Drabble

Cast             : Look at Cover ^^

~Happy Reading~

[Yuri Side]

“Aku terus mengingatmu…. Sekalipun kau melupakan aku”

***

~Endless Memory~

Kini…. waktu telah berubah. Dinginnya salju telah tergantikan oleh guguran daun maple kering yang berjatuhan. Tanah seakan berubah menjadi merah. Banyak yang telah berlalu. Banyak pula yang mungkin akan terlupakan. Tapi….Kenapa? Kenapa bisa aku masih dengan yakinnya berdiri di sini? Terus mengenang semuanya, sembari berharap dia akan kembali dan mengukir kenangan indah bersama? Sebegitu besarnya perasaanku padanya, hingga aku menjadi seperti ini?

“Oppa!!!!”

“Oppa!!!!”

“Oppa!!!!”

Terus dan terus kuserukan kata itu. Meski airmataku terus saja mengalir, aku tetap saja melakukannya. Berkali kali kuperingatkan diriku sendiri untuk berhenti melakukan hal itu, tetap saja…. hati ini tak menurut dan terus memaksaku untuk melakukannya….

“Saranghae…..”

***

[Kai Side]

“Aku tak begitu mengenalnya….Tapi kenapa aku merasa…. Aku begitu mengenalnya?”

***

Lagi lagi dia seperti itu. Menatapku dengan kilauan mata yang seakan menunjukkan kesedihan mendalam. Sesekali, kulihat dia menyeka matanya saat memalingkan pandangannya dariku. Kenapa? Kenapa dia seperti itu? Mungkinkah dia menangis? Tapi… Yang aku tahu, dia itu sangat tegar dan kuat. Bahkan ketika orang lain menatapnya dengan tatapan benci, dia dengan tegasnya menghadapi mereka.

“Yoong….”

“Wae oppa?”

“Apa Yuri-ah…. Selalu seperti itu?”

“Seperti itu bagaimana?”

“Hm…. Lupakan saja. Bukan apa apa”

Aku kembali menatap deretan kalimat di buku yang berada di atas meja. Aku…..Masih saja memikirkannya…..

***

[Yoona POV]

“Sekalipun harus menjadi orang jahat…. Asal itu demi dirimu, aku akan melakukannya….”

***

Sejak ‘kenangannya’ itu terlupakan… Aku merasa lega. Dengan begitu, Kai tak perlu lagi berkutat dengan obat obat penenangnya itu. Aku tak tahan melihat wajahnya yang begitu menderita saat teringat semua kenangan dalam hidupnya. Hanya saja…. Dia tak benar benar melupakannya. Yang aku tahu…. Setiap kali Kai melihat wajah yeoja itu…. dia akan kembali teringat, meski samar….

“Oppa….. Aku merasa aku…. Adalah orang jahat”

Kuucapkan kata kata itu sambil menyandarkan kepalaku di bahunya. Kami sekarang ini berada di rumah Kai. Kami duduk di balkon(?) sambil memperhatikan jutaan bintang bintang yang menghiasi gelapnya langit malam. Sejak dulu…. Aku selalu mendambakan tempat di sisinya. Dan ketika aku bisa berada di dekatnya…. Dia tetap saja…. Menutup hatinya. Karena memang sejak awal aku tahu, hatinya memang bukanlah untukku…..

“Mwo?”

“Aku…. memang jahat…..”

Aku menatap Kai, memberinya isyarat untuk tak menanyakan alasanku mengucapkan kata kata itu. Dan kembali, kusandarkan kepalaku di pundaknya. Aku berharap, suatu saat nanti…. Aku takkan kehilangan bahu yang sering kujadika sandaran ini. Aku ingin terus memilikinya….

***

[Yuri Side]

Lagi lagi begini…. Mereka kembali menjahiiku dengan meletakkan bangkai tikus di loker dan bangku yag kududuki. Apa mereka sepengecut itu, sampai harus melakukan ini? Kalau tidak suka mereka cukup bicara dan mengajakku berkelahi sekalian. Menurutku itu lebih baik, daripada mereka harus berbuat begini…..

“Tsh, mereka membuatku muak”

Kusingkirkan bangkai tikus itu dan pergi ke taman belakang untuk menguburnya. Aish…. Betapa tidak manusiawi mereka. Tega sekali menjadikan hewan yang tak bersalah untuk dijadikan objek kejahilan mereka terhadapku. Sungguh rendah!

Dengan sekop mini yang sering kubawa, ku gali tanah di sekitar taman dan mengubur bangkai itu.

“Semoga kau tenang disana”

Jika diingat ingat lagi,ini memang bukan pertama kalinya untukku. Dulu di mejaku bahkan mereka meletakkan ular yang hampir saja membunuhku. Jika saja waktu itu Kai tak menolongku…. Aku mungkin akan mati tergigit.

“Oppa…. Kumohon ingatlah aku…..”

Kreekk

Aku terkejut mendengar suara ranting yang patah. Kudapati sosok Kai yang kini berdiri di hadapanku. Aigo…. Mungkinkah dia mendengarnya?

“Kau….. Mengubur bangkai lagi?”Tanyanya

Syukurlah…. Aku pikir dia mendengarnya….

“Sepertinya itu bukan urusanmu”Ucapku ketus. Dengan cepat aku berdiri dan bergegas untuk pergi dari tempat itu sebelum… Aku menangis lagi

“Yuri-ah…..”

Langkahku terhenti saat dia memanggil namaku

“Wae?”

“Aku…. Kini benar benar yakin. Kau itu…. Orang yang baik”

Sambil tersenyum, Kai mengambil sesuatu dan perlahan mendekat ke arahku. Dia menyerahkan sekop miniku

“Lain kali jangan lupa membawanya…. Agar aku dapat terus meyakini kau itu…. Orang yang baik, Yuri-ah…”Ucapnya

Oppa…. Kau tahu, aku merasa begitu sesak. Aku ingin menangis dan memelukmu. Tapi…. Aku takkan bisa melakukannya….

“Kai oppa!”

Kulihat Yoona yang baru saja datang. Dia menatapku sekilas, kemudian langsung berlari menghampiri Kai. Aku tak ingin melihat mereka…..

Aku terus berlari walau airmata ini mulai berjatuhan. Aku… Sangat mencintaimu

***

Hingga hari kelulusan tiba…. Dia tak juga mengingatku. Kutatap dirinya yang sedang tertawa bersama yang lainnya dari kejauhan. Mungkin…. Aku memang harus merelakannya.  Mungkin…. Memang kenangannya tentangku haruslah hilang. Dan mungkin… Dengan begitu, Kai akan meraih kebahagiannya….

“Sayonara…..”Ucapku

Aku berlari dengan airmata yang terus berjatuhan. Biarlah… Biarkan aku menangis. Untuk terakhir kalinya, sebelum aku pergi….

***

“Yuri-ah….. Ayo ke Amerika….”

“Terserah kau saja. Toh juga aku tak peduli kau mau membawaku kemana”

PLAK

Tamparan yang cukup keras dilayangkan wanita itu. Ibuku…. Wanita yang paling kubenci ini dengan kejamnya menamparku. Dia….  Begitu teganya membuatku harus kehilangan orang yang kucintai.

“Berani sekali kau berkata begitu padaku. Apa kau tidak ingat aku ini ummamu, hah?!”

“Tsh…. Kau bercanda? Mana ada seorang ibu yang tega membuat hidupku begini? Kau tahu…. Kai harus menanggung derita karenamu?! APA KAU TAHU, HAH?!”

“Cih…. Kau masih menyukainya? Apa kau tahu, dia membuat ayahmu meninggal, eoh?”

“Ani. Itu bukan kesalahan Kai. Itu kecelakaan!”

“Aku tidak peduli! Yang kutahu, Kai yang membuat ayahmu meninggal”

***

Kupandangi deretan pepohonan di sepanjang jalan yang kulewati. Aku berharap….. Bisa melihatnya untuk yang terakhir kali.

BRAAKK

Terdengar suara tabrakan dari arah belakang. Sekilas kulihat beberapa orang berlarian sambil dan berkerumun di sana. Entahlah, hatiku tiba tiba saja rasanya seperti tersentak. Pikiranku langsung tertuju pada Kai…..

Perasaan ini…. Bahkan hingga berada dalam pesawat pun. Aku terus mengkhawatirkannya….

[Yuri Side End]

***

[Kai Side]

Terakhir kali aku melihatnya…. Yaitu saat dimana aku mengalami kecelakaan. Aku berusaha mengejarnya yang saat itu sedang berada di dalam mobil. Waktu itu…. Aku masih belum mengingatnya sebab aku… Mengalami trauma berat, hingga semua kenangan ternasuk dirinya terlupakan. Aku terus menyesalinya. Aku begitu trauma karena umma Yuri yang terus saja menyalahkan aku atas kematian appanya Yuri. Betapapun kerasnya usahaku melupakan semua, tetap saja…. Hingga akhirnya aku mengalami amnesia karena trauma.

“Yuri-ah…. Aku harap kau akan kembali”

Aku terus mengharapkan Yuri kembali.

Yoona…. Telah dengan sukarela mendonorkan kornea matanya sebelum dia meninggal. Aku baru tahu… Alasannya terus berada di sisiku. Dia… Begitu ingin mengukir kenangan indah bersamaku, orang yang dicintainya. Dia juga menceritakan segalanya, termasuk tentang Yuri.

“Yoona-ah…. Kau memberiku kesempatan untuk melihatnya dengan kornea ini. Dan aku…. berharap dengan itu, aku dapat melihatnya sekali lagi”

Setelah mengunjungi makam Yoona, aku pun menyusuri taman yang letaknya tak jauh dari situ. Betapa indah guguran daun maple itu. Andai Yoona tak memberikan korneanya….

“Mungkin aku tak dapat lagi melihatnya….”

Benar…. Mungkin aku tak dapat lagi melihatnya. Dia… Yang kini berdiri menatapku. Dia… Yang sedang tersenyum dengan airmata yang perlahan membasahi kedua sisi wajahnya itu….

Kenangan…. Yang takkan pernah terlupakan

~END~

Annyeong…. Saya bawakan lagi satu FF yang gaje bin laden(?) FF ini sedikit terinspirasi dari pengalaman pribadi seseorang yang saya kenal ^^  Saya sadar tentunya dalam FF ini masih begitu banyak kekurangannya, tapi…. Saya berharap readers dapat memakluminya ^^ Dan Please…. Tinggalkan komentar kalian yah….. ^^ Komentar kalian menunjukkan betapa kalian menghargai hasil karya saya yang masih jauh dari kata bagus ini ^^

7 thoughts on “Endless Memory [Drabble]

  1. Tega amat sih temannya yuri itu jahilin yuri
    Bagus bngt sih yoona nya meninggal kan dia ga bsa ganggu kai lg buat dong sequelnya jebal buat yuri kembali ke korea trus ketemu kai dan mereka menikah

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s