[Oneshoot] 3 Infractions

3 Infraction

Author : Lee Hyura

Title : 3 Infractions

Genre : Romance, a bit fluff

Rating : PG-13

Length : Oneshoot

Cast :

  • SNSD Jessica
  • EXO Kai
  • EXO Sehun
  • F(x) Krystal
  • SNSD Yoona
  • EXO Suho

Note : ff ini panjang loh. Tapi yah .. aku agak ga pede sama ff ini karena ff ini aku buat begitu saja tanpa rencana apapun. Jadi maaf aja kalo ff ini ga nyambung, aneh dan karakternya ga jelas .__.v dan asal tau aja, ini sebenernya mau aku jadiin drabble. Eh malah lanjut terus. Makanya awalnya agak macam drabble gitu u.u
DAN POSTER! OMG! Ini adalah gaya poster yang sangat rare diantara poster-poster yang pernah aku buat. Jadi maklum kalo posternya itu aneh ~_~

***

Sooyeon pov.

  1. Pria yang lebih muda is BIG NO NO NO!
  2. Jangan menjalin hubungan dengan playboy.
  3. Pria itu harus single, secara status maupun hati!

Itulah 3 peraturan wajib bagiku. Tapi kini aku terjebak dengan peraturanku sendiri. Itu semua karena dia. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa bersamanya. Dia, pria yang berbanding terbalik dengan ketiga peraturanku.

  1. Dia lebih muda beberapa tahun dariku.
  2. Dia itu flirter! Yah walaupun sampai sekarang, dia tidak terbukti pernah selingkuh.
  3. Dia memang tidak punya pacar apalagi istri. Tapi hatinya milik orang lain.

=== 3 Infractions ===

  1. Younger

Pagi itu ramai oleh perdebatan kami seperti biasa. Kami selalu berdebat. Kapan pun dan dimana pun. Tentu saja aku lelah. Apalagi yang biasa kami perdebatkan adalah hal kecil. Kami memang tidak cocok. Bahkan orang-orang di sekitar kami juga bilang kami tidak pernah terlihat seperti sepasang kekasih.

“Kenapa para wanita suka sekali dandan? Padahal semua bahan kimia itu malah membuat mereka terlihat lebih tua dan merusak wajah mereka,” gerutu Jongin sambil menarik tanganku  menuju mobil.

“Kenapa? Ya supaya dia cantik. Kau juga suka melihat wanita cantik, kan?” sahutku kesal. Oh semoga ini bukan awal dari perdebatan lainnya.

Jongin membuka pintu mobilnya dan mendorongku sedikit kasar ke dalam mobil. Setelah itu, baru lah dia masuk ke mobil dan duduk di kusir pengemudi. Aku tahu dia tidak mau membukakan pintu untukku. Tapi dia harus melakukannya karena itu adalah tata krama wajib keluarganya.

“Oke, supaya mereka cantik. Untuk siapa?”

Aku mengerang pelan sambil memutar mataku. “Ya untuk orang yang dia cintai. Supaya orang yang ia cintai hanya menatapnya dan tidak berpaling pada wanita lain. Kau tidak akan mengerti! Dan kenapa kau malah mempermasalahkan itu? Bukannya kau senang melihat wanita cantik?”

“Iya sih. Tapi tetap saja aneh. Kalau benar mereka dandan untuk orang yang mereka cintai, harusnya mereka hanya dandan saat waktunya untuk bertemu dengan orang yang mereka cintai, kan? Nyatanya para wanita itu dandan di setiap waktu. Kau juga begitu, Sooyeon noona.”

Tanganku terangkat dan terkepal gemas. Dia selalu begitu, selalu melontarkan pertanyaan dan komentar bodoh. Seakan dia hanya ingin aku kehabisan kata-kata. Dan aku penuhi keinginannya tersebut. Akan lebih baik jika aku diam.

Itu kenapa aku tidak pernah mau dengan pria yang lebih muda. Pria yang lebih muda kebanyakan tidak dewasa. Contohnya Jongin. Akhirnya mereka hanya membuatku ingin mencekik mereka.

***

  1. Flirter

Kami masuk ke salah satu butik terkenal. Tujuannya adalah untuk gaun yang akan ku kenakan saat pernikahan kakaknya Jongin dan mengambil gaun pengantin pesanan. Kami disambut oleh pramuniaga cantik. Wajah jahil Jongin pun muncul. Dasar flirter!

Beberapa gaun diperlihatkan pada kami. Jongin sih menyetujui semuanya. Tapi aku hanya diam. Entah aku setuju atau tidak. Aku juga tidak tahu. Gaun-gaun itu membuatku pusing. Aku sedang tidakmood belanja. Perdebatan kecil kami selama perjalanan tadi, membuatku bad mood.

Ku lirikkan mataku ke sebuah gaun pengantin berwarna putih. Gaun yang cantik. Melihat itu, pikiranku menjadi melayang jauh. Aku membayangkan bagaimana jika hubunganku dan Jongin berlanjut sampai jenjang pernikahan. Rasa sesak menusuk hatiku. Entah kenapa aku takut membayangkan hal itu terjadi.

Aku tersentak pelan dan pikiranku buyar saat Jongin menyikutku. Aku menoleh, mengerjap polos pada Jongin.

“Jadi kau pilih gaun yang mana, Noona?” tanya Jongin.

Ku rengutkan bibirku sambil berpikir sejenak. Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba gaun itu satu persatu.

Aku mengambil salah satu gaun yang menurutku paling cocok denganku lalu masuk ke kamar pas. Setelah mengganti pakaianku dengan gaun itu, aku keluar untuk memperlihatkannya pada Jongin.

“Bagaimana menurutmu—“ ucapku terhenti sejenak lalu dilanjut dengan pelan, “—Jongin…”

Aku diam ditempatku dan menggigit bibir bawahku sambil menggembungkan pipi kesal. Tanganku kembali terangkat sambil terkepal gemas. Bagaimana aku tidak kesal kalau Jongin malah sibuk menggoda pramuniaga cantik itu?

Jongin, ku bunuh kau!

Ini alasan aku tidak suka mempunyai pacar yang flirter, apalagi playboy. Perhatiannya mudah sekali teralihkan. Grrr!

***

  1. Committed

Hari ini, tidak ada yang perlu aku dan Jongin urus bersama. Secara teknis, memang benar. Tapi sebenarnya ada hal yang perlu ku lakukan.

“Kau mau apa sih? Kau mengganggu rencana tidur seharianku, kau tahu?” sungutnya saat aku masuk ke dalam mobilnya dengan puket bunga indah di pangkuanku.

“Mengganggu sebentar, tidak apa, kan? Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Memang kau tidak merindukannya?” sahutku.

Dia terdiam mendengar itu. Aku bisa melihat ekspresi kaget dan sedih di wajahnya. Aku hanya menghela napas panjang dan memutuskan untuk sibuk dengan gadgetku. Jongin juga tahu apa tujuan kami sekarang.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tempat tujuan kami. Aku memasukkanhandphone yang ku mainkan selama di perjalanan ke dalam tas lalu keluar dari mobil. Jongin juga keluar dari mobil. Dia terlihat ragu.

“Kalau kau tidak mau ikut, kau bisa tunggu di sini,” kataku.

Jongin menggeleng. “Aku ikut. Aku merindukannya.”

Aku menarik napas dalam dan mengangguk. Kami menelusuri jalan setapak hingga akhirnya kami memasuki tanah pemakaman. Ya, kami berada di tempat pemakaman. Dan kaki kami berhenti di samping sebuah kuburan. Jongin berada yang paling dekat dengan batu nisan kuburan ini. Dia mengelus batu itu lirih. Aku meliriknya sejenak lalu meletakkan puket bunga yang ku bawa di atas kuburan, puket itu ku sandarkan ke batu nisan.

“Hyoyeon-ah, kami datang,” kataku pelan sambil tersenyum tipis. “Ah, betapa aku merindukanmu. Sudah lama aku dan Jongin tidak berkunjung. Akhir-akhir ini kami sibuk membantu mempersiapkan pernikahan Taeyeon. Kau ingat kan siapa dia? Kakak sepupunya Jongin, Kim Taeyeon.”

Kim Hyoyeon adalah sahabatku sekaligus kekasih Jongin. Tapi dia harus meninggalkan kami lebih cepat karena kecelakaan yang menimpanya. Sebelum ia meninggal, ia sempat memohon padaku untuk menggantikannya menjadi kekasih Jongin. Tentu saja aku ingin menolak. Tapi melihat betapa putus asa wajahnya saat memohon, aku tidak sanggup untuk menolaknya.

“Sebentar lagi, Jongin akan lulus sekolah dan masuk ke universitas yang sama denganku. Kau senang mendengar itu, kan?” ucapku.

Jongin menoleh mendengarnya. Tapi dia enggan untuk berkomentar. Dia hanya diam.

Aku menjilat bibirku dan melanjutkan, “aku menepati janjiku, kan? Aku tetap bersama Jongin seperti apa yang kau inginkan. Bahkan walaupun aku dan Jongin tidak pernah akur, kami tetap bersama sampai sekarang. Ha! Kami memang tidak pernah berdamai. Sebuah keajaiban jika kami berdamai. Benar?”

Aku tertawa pelan sambil menepuk bahu Jongin seakan menanyakan apa dia setuju atau tidak. Jongin malah menatapku dalam. Tidak biasanya dia seperti itu. Dia membuatku ingin menangis. Aku mengalihkan mataku dari Jongin sambil menggigit bibirku kuat-kuat.

Rasa takut menyelimuti hatiku. Aku takut semua ini tidak akan berhasil. Aku takut semua ini hanya akan membebani Jongin.

Aku segera mengakhiri kata-kataku, “ku harap kau bahagia mendengar berita itu.”

Aku menatap Jongin yang kini sibuk dengan pikirannya sambil menatap batu nisan Hyoyeon. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu. Jadi aku hanya diam sambil menatap wajahnya. Tapi sudah 10 menit berlalu, dia tidak berkata apapun.

“Ada yang ingin kau katakan, Jongin-ssi?” tanyaku lembut.

Jongin menoleh dan menggeleng. “Tidak ada.”

Aku mengangguk mengerti.

Setelah semua selesai, kami kembali ke mobil. Tidak seperti biasanya, suasana selama perjalanan pulang benar-benar hening. Suasana itu yang selalu muncul setelah kami mengunjungi makam Hyoyeon. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Terkadang aku memikirkan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Jongin. Dia selalu menjadi si pendiam Jongin setelah mengunjungi makam Hyoyeon. Matanya memancarkan kesedihan. Aku tahu dia masih mencintai Hyoyeon. Kenyataannya, aku tidak pernah sekali pun memergoki Jongin sedang menggoda wanita lain selama dia berhubungan Hyoyeon. Ku akui dia setia. Tapi beberapa bulan setelah kematian Hyoyeon, dia senang sekali menggoda wanita lain walaupun ada aku di sampingnya.

Sebenarnya apa yang dilihat oleh Jongin dari sosok seorang Hyoyeon yang tidak akan bisa dia lihat di diriku? Terkadang aku ingin menyerah dan memutuskan hubunganku dengannya saat sifat menyebalkannya kambuh jika aku tidak ingat dengan janjiku kepada Hyoyeon. Kenapa dia tidak bisa memperlakukanku seistimewa dia memperlakukan Hyoyeon? Setidaknya dengan menghargaiku pun aku sudah bersyukur.

Itu yang ku benci dari orang yang hatinya dimiliki oleh orang lain, apalagi orang lain itu adalah sahabatku. Aku benci saat dia memperlakukan Hyoyeon lebih istimewa dariku. Aku benci saat pikirannya didominasi oleh Hyoyeon, bukan aku. Aku benci harus menerima kenyataan hatinya milik Hyoyeon. Aku sangat benci.

“Sooyeon noona.”

Pikiranku buyar saat mendengar suara berat Jongin memanggil namaku. Aku menoleh dan menatapnya linglung. Dia tersenyum tipis, membuatku mengerjap beberapa kali.

Jongin menunjuk ke arah luar jendela. “Sudah sampai di depan rumahmu.”

Aku membulatkan bibirku sambil mengangguk kikuk. Aku segera merapikan diri lalu membuka pintu. Akan tetapi, niatku untuk membuka pintu terpaksa harus dikubur saat Jongin meraih tanganku. Aku menatapnya bingung.

“Apa kau merasa terbebani? Maksudku, apa hubungan ini tidak membebanimu? Aku tahu kau pasti mempunyai orang kau sukai,” gumam Jongin sambil menatap tanganku yang digenggam olehnya lalu menatapku dalam.

Aku mengangkatkan alisku tak mengerti. “Tumben sekali kau bertanya tentang itu.”

“Aku pikir, apa tidak sebaiknya kita lepas dari janji yang mengikat kita itu? Ku yakin Hyoyeon noona juga tidak akan senang jika kita tidak bahagia dengan hubungan kita sekarang. Aku tidak mau kau terbebani soal ini.”

Aku menarik napas dalam. Rasa sesak menekan dadaku dan memaksa air mataku keluar. Untung saja aku bisa menahan air mataku.

“Aku tahu yang sebenarnya keberatan itu kau, kan?” aku melempar balik kata-kata itu padanya.

Dia hanya tersenyum tipis.

***

Author pov.

Seperti pagi biasanya, Sooyeon menghabiskan waktunya di kantin kampus yang dekat dengan fakultasnya sambil menikmati roti kejunya dan secangkir coffee latte. Dia biasa sarapan di kampus. Itu semua karena dia harus mengantarkan Soojung ke sekolahnya yang kebetulan berada di dekat kampus Sooyeon. Daripada dia bulak-balik, lebih baik Sooyeon langsung saja ke kampusnya.

Yoona dan Suho muncul dari tempat photocopy sambil membawa beberapa lembar kertas di tangan mereka. Mereka mengambil tempat duduk di depan Sooyeon. Yoona dan Suho saling bertukar pandangan bingung karena Sooyeon tetap asik dengan pikirannya sehingga tidak menyadari kehadiran mereka. Suho mengibaskan tangannya di depan wajah Sooyeon. Tapi temannya itu tetap tidak sadar. Yoona bangkit dari duduknya dan mendorong bahu Sooyeon.

“Yah, Jung Sooyeon! Sadarlah!” sentak Yoona.

Sooyeon mengerjap pelan saat otaknya kembali bekerja dengan benar lalu melempar pandangan bingung kepada 2 temannya itu. Dia memaksakan senyuman lebar. Yoona mengernyit, antara bingung dan kesal.

Yoona berdecak, “esh, tidak usah memaksakan senyum seperti itu. Itu malah meyakinkanku kalau kau sedang ada masalah.”

Sooyeon tidak membalas. Dia mengunyah potongan roti terakhirnya. Tanpa ia katakan pun, Yoona sudah tahu isi pikirannya. Itu karena memang sejak kematian Hyoyeon, Yoona menjadi tempat curahan hati Sooyeon. Dan pemuda di samping Yoona, Sooyeon tidak perlu berkomentar banyak soalnya. Suho adalah pengamat yang baik. Dia selalu mengerti kondisi di sekitarnya tanpa ada seorang pun yang menjelaskan kepadanya.

“Aku putus dengan Jongin,” ujar Sooyeon pelan, matanya menatap jarinya yang bermain di bibir cangkir.

Yoona menutup mulutnya. “Omo! Bagaimana bisa? Bagaimana dengan perjanjian kalian dan Hyoyeon itu?”

“Kami memutuskan untuk membatalkan perjanjian itu. Jadi kami tidak menjalin hubungan spesial lagi,” jelas Sooyeon.

Yoona dan Suho kembali saling berpandangan seakan mereka berdiskusi melalui pandangan itu sedangkan Sooyeon sibuk dengan cangkirnya. Yoona menghela napas panjang sambil meraih cangkir Sooyeon dan menariknya menjauh dari Sooyeon. Sooyeon mengerang protes.

“Bukannya itu yang kau mau? Kau sudah lama ingin terbebas darinya, kan? Kau tidak mau melanggar peraturan cintamu itu, kan?” celetuk Yoona.

“Iya, benar. Tapi aku… entahlah. Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku malah tidak merasa menyesal karena sudah melanggar 3 peraturan itu.” Sooyeon menutup wajahnya frustasi. “Bagaimana ini? Aku mau menangis!”

“Memang kau menyukainya?” tanya Suho.

Sooyeon menggeleng. “Molla, Joonmyeon. Molla.”

Suho mengulum bibirnya dan tersenyum tipis saat mendengar Sooyeon memanggil nama aslinya. Sooyeon melakukan itu hanya saat emosinya tidak stabil. Tidak hanya Sooyeon, Yoona juga. Kenyataannya Yoona lah yang menularkann kebiasaan itu kepada Sooyeon.

“Apa kau menyesal karena sudah membatalkan perjanjian itu?” tanya Yoona hati-hati.

Sooyeon menurunkan tangannya. Dia merengut. “Sepertinya. Tapi rasa ini lebih ke rasa tidak rela. Aku tidak rela melepas Jongin. Dan aku tidak tahu kenapa. Dia tidak lebih dari remaja menyebalkan yang selalu membuatku emosi dan terobsesi untuk mencekiknya.”

>>>

Brak!

Suara dobrakan pintu membuat perhatian kelas itu tertuju ke ambang pintu. Padahal kelas itu sedang sibuk membicarakan festival sekolah, mendiskusikan apa yang akan mereka tampilkan. Di ambang pintu, Soojung berdiri sambil melipat tangannya dingin. Ya, dia lah yang membuat kelas itu sunyi dan memerhatikannya.

“Kim Jongin, aku perlu bicara denganmu!” teriak Soojung.

Jongin mengacak rambutnya kesal. Dia tidak berpindah posisi. Dia malah sengaja mengambil alih perhatian teman-temannya lagi agar dia bisa berpura-pura tidak mendengar teriakan Soojung.

“Kim Jongin!” bentak Soojung gemas.

Jongin menatap Sehun memelas seakan meminta bantuan. Bagaimanapun, Sehun adalah kekasih Soojung. Mungkin Sehun bisa membantu Jongin dari kebuasan Soojung. Sehun mengangguk dan bangkit menuju Soojung.

“Yah, Soojung-ah, ini bukan kelasmu, jadi jangan seenaknya berteriak di kelas orang lain!” omel Sehun. “Kalau kau ada masalah dengan Jongin, kau bisa—“

Soojung meletakkan telunjuknya di bibirnya kesal. “Ssshhh… kau diam saja, Oh Sehun! Kau tidak tahu apa-apa! Dan kau, Kim Jongin, jangan sampai aku yang menarikmu keluar!”

Mendengar itu, Jongin terpaksa bangkit dan menghampiri Soojung dengan malas-malasan. Memang dia tidak bisa berharap pada Sehun soal Soojung. Tanpa babibu, Soojung langsung menarik tangan Jongin menjauh saat Jongin sudah sampai di hadapannya. Sehun menatap hampa kepergian sahabat dan kekasihnya itu.

>>>

“Demi apapun Kim Jongin, kau bodoh sekali! Kenapa bisa kau malah melepaskan Sooyeon eonni? Otakmu itu terbuat dari apa sih? Aku tidak mengerti denganmu!” omel Soojung, sesampainya mereka di depan gudang penyimpanan agar tidak seorang pun yang mendengar mereka.

Jongin bersandar di dinding sambil memperhatikan sepatunya seakan sepatunya adalah benda terhebat di dunia. Dia tidak berniat menanggapi Soojung. Percuma dia berbicara karena dia malah membuatnya semakin mudah ditebakkan oleh Soojung. Kemampuan psikologi Soojung cukup hebat sehingga tidak ada yang aneh jika cita-cita gadis itu adalah psikolog. Kekurangannya adalah emosi Soojung yang masih labil.

“Ku mohon, biarkan aku mengerti…” kini nada bicara Soojung menjadi lembut.

Jongin melirik Soojung sekilas lalu mendesah pelan. “Aku tidak mau perjanjian itu membebaninya. Lagipula dia membenciku. Aku tidak mau dia tersiksa bersamaku.”

“Bodoh! Bagai—“

“Aku pernah membaca diarinya saat aku masuk ke kamarnya, Jung,” sela Jongin cepat sebelum Soojung memakinya. “Aku tahu semua pikirannya tentangku. Aku juga tahu tentang peraturan cintanya yang sangat bertolak belakang denganku. Kau pikir kakakmu akan bahagia jika terus bersamaku? Apa Hyoyeon noona bahagia jika melihat sahabatnya tersiksa karena permintaannya?”

Soojung menarik napas dalam. Kepanikan dan emosi di dirinya membuatnya sulit untuk berpikir. Jika sudah seperti ini, dia harus menenangkan diri. Kalau tidak, dia akan mengambil keputusan yang salah. Dia duduk di lantai berdebu, menghadap Jongin. Kepalanya mendongak agar mata mereka bertemu. Soojung menganalisis emosi yang dipancarkan oleh mata Jongin.

“Kakakku memang terbukti selalu jujur tentang dirinya. Tapi dia juga terlalu bodoh untuk mengenali dirinya sendiri. Jangan terlalu percaya dengan apa yang ia katakan tentang dirinya sendiri,” ujar Soojung. “Coba kau buktikan sendiri apa cintamu terbalaskan atau hanya bertepuk sebelah tangan.”

Jongin terbelalak mendengarnya. “I-itu.. aku… kakakmu… tidak mencintai…”

Soojung tertawa mendengar Jongin yang kesulitan mengolah kata karena panik. Jongin mendesis.

“Yah! Aku tidak bilang kalau aku menyukai kakakmu!”

Soojung menatapnya seakan mengejek. “Ha! Aku dan Sehun pun tahu bagaimana isi hatimu, bodoh!”

***

Sudah beberapa hari ini, Sooyeon dan Jongin tidak bertemu. Sooyeon tidak mendengar berita apapun tentang Jongin, begitu pula sebaliknya. Orang-orang di sekitar mereka memang sengaja untuk tidak membahas apapun tentang hubungan mereka yang sudah berakhir itu. Sooyeon disibukkan dengan tugas-tugas dan praktek kuliahnya sedangkan Jongin sibuk dengan festival sekolahnya.

Yoona pernah mencoba membahas sedikit tentang Jongin. Reaksi Sooyeon tidak lebih dari seseorang yang mendengar berita yang mengagetkan. Itu bukti kalau dirinya sedang sensitif soal Jongin. Suho meminta Yoona agar tidak membahas Jongin lagi karena itu. Tidak berbeda dengan Jongin saat Sehun dan Soojung mencoba menyinggung sesuatu soal Sooyeon.

***

Jam istirahat di hari Kamis itu dimanfaatkan oleh Soojung untuk melirik kelas Sehun, melihat bagaimana persiapan kelas itu untuk festival sekolah yang tinggal 2 hari lagi. Terlihat para penghuni kelas itu sedang sibuk membuat hiasan kelas. Sepertinya kelas itu akan mengusung tema hutan. Tema cukup sulit dan merepotkan. Untung saja sekolah sengaja mentiadakan kegiatan belajar sejak hari Rabu.

Soojung tersenyum tipis saat melihat Sehun yang sedang sibuk merakit pohon buatannya. Dia memutuskan untuk menghampirinya dan berjongkok di sampingnya. Sehun menoleh saat merasakan kehadirannya dan tersenyum sembari melanjutkan pekerjaannya.

“Sendiri saja, eh?” tanya Soojung.

“Begitulah. Yang lainnya juga sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing,” jawab Sehun.

Soojung memutar kepalanya untuk melihat keadaan kelas itu. “Kelasmu memang sibuk sekali.”

“Memang kelasmu tidak sibuk?”

“Sibuk sih. Tapi tidak sesibuk ini. Mungkin karena sudah dikerjakan dari jauh-jauh hari,” jawab Soojung sambil cengengesan. “Memang kelasmu akan membuat apa dan menampilkan apa?”

“Café bertema hutan dan film animasi. Yang mengurus café, tetap berada di kelas. Sedangkan yang membuat film animasi, mereka sibuk di ruangan lain. Entah dimana.”

Kelas Sehun memang dihuni oleh murid-murid yang sedikit-banyak mengerti tentang teknologi. Tidak heran jika kelas itu akan membuat film animasi.

“Dan Jongin termasuk orang yang sedang membuat film animasi itu?” tebak Soojung ragu. Jongin kan tidak terlalu mengerti soal program komputer. Tapi Jongin tidak ada di kelas sekarang, pikir Soojung bingung.

Sehun memutar matanya. “Jangan bertanya tentang itu karena jawabannya adalah tidak. Jongin sudah menghilang dari tadi pagi. Entah dia kemana.”

***

Hari ini, sekolah Soojung mengadakan festival sekolah. Sooyeon dipaksa oleh Soojung untuk datang ke festival itu. Sebenarnya Sooyeon ingin menolak. Tapi saat melihat Yoona di rumahnya dan mengajaknya untuk pergi ke festival itu, Sooyeon menyerah. Dia tidak mungkin bisa menolak 2 orang itu.

“Kau pergi dengan pakaian seperti itu?” tanya Yoona dan Soojung yang terdengar seperti protes.

Sooyeon melirik pakaiannya. Tidak ada yang salah dengan t-shirt bermotif belang coklat muda dan krem didalam hoodie merah dipadukan dengan jeans biru tua. Tidak berbeda dengan penampilannya saat kuliah. Yoona juga berpenampilan tidak jauh berbeda dengan Sooyeon. Lalu apa salahnya Sooyeon berpenampilan seperti itu?

“Di sana akan banyak pria tampan dan imut. Kau tidak mau mempunyai pacar baru?” tambah Yoona yang seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Sooyeon.

Sooyeon menggeleng. “Tidak. Paling-paling di sana cuma ada anak-anak kecil. Tidak ada yang seumuran denganku.”

“Tapi kau harus tetap berpenampilan cantik. Kau mengerti?” tegas Soojung.

“Eh?”

Sebelum Sooyeon berkomentar lebih jauh, Yoona dan Soojung sudah mendorongnya masuk ke dalam kamar kembali. Sooyeon tahu ada yang aneh dengan mereka.

>>>

“Ayo, Eonni!” paksa Soojung.

Yoona dan Soojung kembali mendapatkan pekerjaan baru saat mereka sudah sampai di parkiran sekolah Soojung, yaitu menarik Sooyeon keluar dari mobilnya. Sooyeon menggeleng sambil berusaha mempertahankan posisinya. Dia tidak mau keluar dari tempat hangatnya ke tempat yang dingin. Itu memang sudah berada di pertengahan musim gugur. Udara dingin mulai berhembus.

“Ayolah~” rajuk Yoona.

“Aku akan kedinginan jika keluar!” protes Sooyeon.

Soojung menggeleng. “Tidak akan!”

“Apanya yang tidak akan? Pakaianku saja seperti ini!” kesal Sooyeon.

Kemeja polos berlengan pendek berwarna biru langit keunguan dan rok berempel selutut berwarna biru tua serta ikat pinggang berwarna biru sebagai pemanis itu memang cocok dipakai oleh Sooyeon. Apalagi rambutnya yang dibiarkan tergerai dihias bando kecil dengan pita biru kecil di bagian samping kanan, Sooyeon benar-benar terlihat manis. Tapi tetap saja Sooyeon enggan keluar karena angin musim gugur akan mengelus kulitnya yang terekspos, membuatnya sedikit menggigil kedinginan. Tidak seperti Yoona dan Soojung yang memakai baju dan jeans panjang ditambah hoodie untuk Yoona dan rompi untuk Soojung. Pasti kedua gadis itu tidak akan merasakan penderitaan Sooyeon.

“Bukannya biasanya juga kau senang berada di tempat yang dingin?” cibir Yoona.

Sooyeon menjilat bibirnya. “Iya sih, tapi—“

Soojung menggeleng cepat. “Tidak ada alasan! Ayo cepat! Aku sudah hampir terlambat!”

>>>

Soojung membiarkan Sooyeon dengan Yoona berkeliling sekolahnya sambil bernostalgia. Sementara dia disibukkan dengan persiapan sebelum kelasnya menampilkan drama. Kebetulan dia menempati posisi yang penting di drama itu.

Soojung sudah dengan kostumnya dan sudah selesai didandani itu, mengambil tempat sepi untuk menghafal dialog-dialognya. Tapi konsentrasinya pecah saat mendengar sesuatu yang tidak mengenakkan.

“Tadi ku lihat pacarnya Jongin sunbae loh!” seru sebuah suara.

“Hah? Yang sudah kuliah itu, kan?” sahut temannya.

Soojung tidak menoleh sama sekali. Dia biarkan telinganya yang merekam apa isi percakapan gadis-gadis yang mengobrol tidak jauh darinya. Sepertinya mereka tidak tahu kalau adiknya gadis yang sedang mereka bicarakan, berada di sana juga.

“Mereka sudah putus tahu! Soojung sunbae marah-marah karena itu!” ralat temannya.

“Mungkin wanita itu ingin memaksa Jongin sunbae untuk kembali bersamanya.”

“Jangan-jangan dia ingin merayu Jongin sunbae dengan tubuhnya!”

Tanpa sadar, Soojung melemparkan lembaran naskahnya ke arah orang-orang yang sedang bergosip tentang kakaknya. Mereka terlihat kaget dan takut saat sadar Soojung mendengarkan kata-kata mereka.

“Coba saja kalian fitnah kakakku sekali lagi, ku pastikan kalian tidak akan melihat dunia lagi besok pagi!” ancam Soojung sambil meraih naskahnya kasar lalu pergi dari tempat itu.

>>>

Sooyeon tidak terlihat tertarik dengan sekitarnya. Dia hanya mengikuti kemana Yoona pergi. Dia mengangguki apa saja yang ditanyakan oleh Yoona. Dia memang tidak mau berada di sekolah itu. Dia takut bertemu dengan Jongin. Dia belum siap untuk bertemu dengan Jongin.

“Sooyeon-ah, aku lapar~ kita ke sana yuk!” ajak Yoona.

Sooyeon melihat ke arah yang ditunjuk oleh Yoona. Sebuah kelas yang disulap menjadi café di dalam hutan. Tema yang unik, pikir Sooyeon.

“Selamat da—Sooyeon noona!” seru Sehun yang kebetulan menjadi penyambut kedatangan mereka.

Yoona melirik Sehun dan Sooyeon bergantian. Dia agak terkejut karena Sehun mengenali Sooyeon. Instingnya mengatakan itu pasti ada hubungannya dengan Jongin. Mungkin Sehun adalah temannya Jongin, tebak Yoona.

“Oh hai, Sehun-ah,” balas Sooyeon sambil tersenyum manis.

Sehun tersenyum tengil. “Kau manis sekali, Noona. Tapi Soojungku lebih manis.”

Oh pacarnya Soojung, pikir Yoona kecewa. Padahal Yoona berniat mengajak Sehun untuk bekerja sama merancang rencana untuk Jongin dan Sooyeon. Yoona menggembungkan pipinya kesal. Sooyeon melirik Yoona. Dia menekan pipi Yoona yang menggembung sambil terkekeh.

“Kenapa, Yoona-ya? Kecewa?” sindir Sooyeon.

Yoona tersenyum malu tanpa membalas apapun.

Sehun membawa mereka ke meja yang kosong. Setelah Yoona memesan beberapa menu yang menarik perhatian Yoona, Sehun pergi. Yoona sibuk memperhatikan hutan buatan di kelas itu. Sementara Sooyeon menulis asal dengan tangannya di meja.

“Desainnya keren, ya?” seru Yoona girang.

Sooyeon mengangkat kepalanya malas. “Ya.”

Yoona tersenyum kecut. Tapi dia kembali tersenyum lebar saat mendapatkan ide bagus. “Oh ya, Jongin sekolah di sini juga, kan? Dia kelas berapa? Habis ini, kita ke kelasnya yuk! Aku penasaran dia jadi apa.”

Sooyeon membeku di tempatnya. Dia baru ingat kalau Sehun sekelas dengan Jongin. Bagaimana jika dia bertemu dengan Jongin? Mengingat Sehun yang sering menjahili mereka, Sooyeon yakin Sehun akan memaksa Jongin lah yang mengantar pesanan Yoona. Sooyeon melipat tangannya di atas meja dan mengubur wajahnya lemas. Melihat itu, Yoona tahu apa artinya.

“Oh jadi Jongin di kelas ini juga…” gumam Yoona. “Tapi kenapa aku tidak melihatnya?”

>>>

Jongin baru saja keluar dari ruangan yang dipakai oleh teman-teman kelasnya untuk menyelesaikan film animasi mereka. Langkahnya terhenti saat mendengar nama Sooyeon dan Soojung disebut.

“Iya! Soojung sunbae mengamuk karena mendengarku membicarakan kakaknya. Tapi aku benar, kan? Tidak mungkin wanita itu ke sekolah ini hanya untuk menemani Soojung sunbae. Pasti dia ingin bertemu dengan Jongin sunbae dan memaksanya untuk kembali bersama! Kalau Jongin sunbae menolak, dia pasti akan menggunakan tubuhnya! Mahasiswa jaman sekarang kan seperti itu.”

Jongin menoleh untuk melihat siapa orang yang berbicara seperti itu. Dia menggertakkan giginya. Jongin tidak mungkin tiba-tiba muncul dan memarahinya. Ada hak apa dia memarahi siswi itu hanya karena dia menjelek-jelekkan Sooyeon?

Tunggu, artinya Sooyeon noona ada di sini?, pikir Jongin bingung.

Dia segera berlari pergi.

>>>

From: Baby Jung

Eonni, sebentar lagi aku tampil. Ayo ke gedung seni sekarang!

Entah sudah berapa kali Sooyeon membaca pesan itu. Bukannya dia tidak mengerti apa isi pesan itu, karena buktinya dia dan Yoona sudah berada di gedung seni. Tapi Sooyeon tidak mengerti bagaimana seorang Jung Soojung mendefinisikan kata ‘sebentar lagi’ karena sudah hampir 20 menit dia dan Yoona berada di sana, tapi drama kelas Soojung belum juga tampil.

Akhirnya drama kelas Soojung tampil. Drama mereka adalah The Phantom of The Opera. Saat di umur Soojung, Sooyeon dan kelasnya juga menampilkan drama itu. Sooyeon diminta untuk menjadi Christine tapi dia menolak dan akhirnya memilih peran sebagai Meg Giry. Dia tidak menyangka Soojung akan mengambil peran yang sama dengannya. Padahal ia sudah yakin Soojung akan mengambil peran Christine karena Soojung memang mendambakan peran itu setelah menonton drama yang dipentaskan oleh kelas Sooyeon.

“Soojung benar-benar membuat kita bernostalgia,” bisik Yoona lalu terkikik geli.

Tapi drama itu dibuat berbeda dari drama aslinya dan drama yang dipentaskan oleh kelas Sooyeon dahulu. Jika akhirannya Erik membiarkan Christine pergi bersama Raoul, drama itu malah berakhir dengan Erik membunuh Christine agar mereka tetap bersama di neraka. Sooyeon meringis kecil saat menonton akhir drama itu.

Sial, pasti Soojung yang mengusulkan untuk membuat akhir yang seperti itu. Ternyata Soojung masih membenci peran Erik, kesal Sooyeon dalam hati. Bagaimanapun, dia sempat tergila-gila dengan peran Erik di drama itu. Berbeda dengan Soojung yang berada di pihak Raoul.

Saat sang MC ingin menutup drama itu, Soojung mengangkat tangannya dan meminta izin untuk berbicara sesuatu. Sang MC mengangguk dan memberikan microphonenya kepada Soojung.

“Untuk kakakku tercinta, senangkah kau melihat akhir dari drama kelasku?” tanya Soojung sambil tersenyum jahil.

I know it! I know it!” geram Sooyeon.

Sooyeon hendak bangkit dari duduknya namun ditahan oleh Yoona. Mau tidak mau, Sooyeon kembali duduk di kursinya. Mereka sedang menonton panduan suara dari kelas lainnya saat Soojung muncul dan duduk di samping Sooyeon. Sooyeon menghela napas lega karenanya. Dia memang ingin memarahi Soojung karena drama tadi.

“Yah, Soojung-ah! Aku tahu—“

Soojung membekap mulut kakaknya sambil menyeringai lebar. “Bukan saatnya kita membicarakan Erik, Eonni. Aku mempunyai sesuatu yang lebih penting dari itu. Ayo ikut aku!”

“Eh aku?” tanya Yoona.

Soojung menjulurkan lidahnya. “Eonni tetap di sini!”

>>>

Kening Sooyeon berkerut karena bingung dan kesal. Ini semua karena Soojung menariknya paksa entah kemana. Soojung tidak mau menjawab apapun. Dia sibuk menyengir jahil. Dan Sooyeon tahu itu pasti bertanda buruk baginya.

Akhirnya mereka sampai di depan sebuah ruangan. Soojung mendorong Sooyeon masuk dan mengunci pintunya dari luar.

“Yah, Soojung-ah! Buka pintunya atau aku tidak akan mengantarkanmu ke sekolah lagi!” ancam Sooyeon.

Soojung tertawa. “Eonni, tenanglah! Kau hanya perlu duduk di kursi yang sudah disediakan itu dan jangan protes lagi kalau kau ingin keluar lebih cepat!”

“Kau memang tidak betah ya kalau tidak menjahili orang lain? Bahkan walaupun itu adalah kakakmu?” komentar Sehun yang bersandar di dinding samping pintu.

Soojung menyengir. “Jangan salahkan aku. Ini kan permintaan Jongin!”

Soojung sibuk terkikik geli saat dia sudah di balik panggung. Dia puas melihat wajah kesal kakaknya setelah melihat peran Erik yang tetap kejam sampai akhir. Padahal akhir kisah sebenarnya, Erik lah yang membuat akhir kisah itu mengharukan. Itu sebabnya kakaknya tergila-gila akan Erik.

“Soojung-ah.”

Soojung terkesiap kaget saat sadar Jongin sudah berada di hadapannya. Soojung mengernyit bingung.

“Ku mohon bantu aku. Bawa Sooyeon noona ke ruang klub dance secepatnya,” pinta Jongin.

Soojung tersenyum tipis.

“Semoga dia berhasil,” gumam Soojung pelan.

“Kalau tidak berhasil, aku akan mencekiknya. Bagaimana pun, dia jadi tidak membantuku karena dia sibuk membuat itu,” gerutu Sehun.

Soojung tertawa.

Sooyeon’s side.

Sooyeon terbelalak saat pintu itu tertutup tiba-tiba dan dikunci dari luar oleh Soojung, membiarkan Sooyeon sendiri di ruangan yang penerangannya remang-remang itu. Sooyeon menggedor pintu itu kesal.

“Yah, Soojung-ah! Buka pintunya atau aku tidak akan mengantarkanmu ke sekolah lagi!” ancam Sooyeon. Dia takut sendirian di ruangan yang gelap.

Terdengar Soojung tertawa. “Eonni, tenanglah! Kau hanya perlu duduk di kursi yang sudah disediakan itu dan jangan protes lagi kalau kau ingin keluar lebih cepat!”

Sooyeon menoleh ke sekitar untuk mencari kursi yang dimaksud oleh Soojung. Dia duduk di kursi itu sambil berdoa agar dia baik-baik saja. Dia hampir terjatuh dari kursinya saat televisi di hadapannya menyala sendiri.

Sooyeon menutup mulutnya dengan tangannya saat melihat layar teleivisi itu mulai menunjukkan kumpulan foto-fotonya lalu video pendek dirinya. Digantikan dengan foto-fotonya bersama Jongin serta video saat mereka bercanda atau bertengkar seperti anak kecil, saat mereka menjahili satu sama lain.

Video itu pun berakhir dengan tulisan: “Menurutmu, aku itu apa?”

“Kau itu…”

Sooyeon tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia menutup wajahnya dan mulai menangis. Rasa rindunya kepada Jongin memenuhi setiap sudut hatinya. Terlalu besar hingga rasanya sesak sekali. Dia ingin sekali bertemu dengan pemuda tengil nan menyebalkan itu.

Sebuah suara terdengar bersamaan dengan suara langkah kaki. “Menurut Noona, Kim Jongin itu apa? Bocah menyebalkan yang selalu membuatmu emosi? Bocah yang terpaksa menjadi kekasihmu karena permintaan sahabatmu?”

Sooyeon kenal suara itu. Suara yang berat dan dalam itu membuat dada Sooyeon semakin berat karena menahan rasa rindu. Ya, itu suara Kim Jongin. Jongin berhenti di hadapan Sooyeon dan berlutut agar wajahnya sejajar dengan Sooyeon. Dengan perlahan, Jongin menarik tangan Sooyeon agar ia bisa melihat wajah Sooyeon yang basah karena air matanya.

“Menurutmu, aku itu apa?” tanya Jongin lagi.

Sooyeon menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan air matanya mengalir lagi. Dia mengatur napasnya sambil menenangkan diri. Jongin masih menunggu jawabannya sembari menatapnya dalam.

“Kau itu bocah menyebalkan yang membuatku terobsesi untuk membunuhmu. Kau itu bocah yang diminta oleh Hyoyeon untuk menjadi kekasihku. Kau itu bocah yang membuatku melanggar 3 peraturan cintaku yang sudah buat sejak aku kecil. Kau itu bocah yang membuatku aku tidak menyesal karena sudah melanggar 3 peraturan itu. Kau itu bocah yang membuatku malah merasa senang karena sudah melanggarnya. Kau itu bocah yang membuatku menangis hanya karena tidak rela berpisah denganmu. Kau itu bocah yang membuatku merindukanmu setengah mati,” jawab Sooyeon panjang-lebar.

Jongin tersenyum senang mendengarnya. Dia bersyukur karena Sooyeon tipe orang yang selalu jujur akan segalanya jadi dia tidak perlu berusaha lebih keras untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

“Dan apa maumu sekarang?” tanya Jongin lagi.

“Kembali bersamamu.”

Jongin memeluk Sooyeon erat. “Permintaanmu terkabul.”

Jessica menggeleng. “Aku tidak mau kau terbebani karena ini.”

Jongin terkekeh pelan lalu mencium kening Sooyeon. “Bodoh, tentu saja tidak. Dengan senang hati, aku mengabulkan permintaanmu. Karena aku mencintaimu.”

“Hyoyeon?”

“Hyoyeon noona adalah masa laluku. Kau adalah masa depanku.”

Yoona’s side.

Yoona melirik jam tangannya untuk ke berapa kalinya. Kenapa mereka lama sekali?, gerutu Yoona kesal.

=== 3 Infractions ===

Aneh, kan? Hua~~ maaf T.T

Yang baca, komen dong. Aku ga ngigit loh .-. tapi jangan bashing ya ^^)b

59 thoughts on “[Oneshoot] 3 Infractions

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s