[Part 11-NC ver] Midnight Sun

528505_433939379976215_1809291791_n

Title
Midnight Sun

Author
Ichen Aoi

Length
Chaptered

Rating
Random (+21)

Genre
Romance, Friendship, Family

Cast
Jessica Jung
Tiffany Hwang
Kim Taeyeon
Seo Joohyun
Wu Yifan
Xi Luhan
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Oh Sehun

Support Cast
Kim Jong In
Zhang Yi Xing
Choi Jin Ri
Kim Jong Dae

?

Disclaimer
this story is mine and all cast is my biased Hhaaa…

Backsound
4Minute – Volume Up!

Design Cover
Jea

..

..

Imperial Palace
Hotel, Seoul.

Lelaki dengan wajah tegas dan senyum menawan itu terus menelusuri pemandangan lorong hotel mewah didepannya. Sesekali ia tersenyum kecil melihat arsitektur bangunan tersebut, sangat sesuai untuk seorang Zhang Yi Xing.

“Pantas saja dia rela membayar mahal untuk hotel berkelas ini” desis lelaki itu.

Ia mengeluarkan sebuah kamera yang bernilai tinggi dari dalam tasnya kemudian menggantungkan tali kelehernya dan mengambil beberapa gambar lagi. Foto Lay adalah yang terbanyak dalam koleksinya, bukannya tidak suka memotret wanita hanya saja menurutnya Lay sangat cocok untuk icon kemewahan, kelembutan dan kesepian dalam satu waktu.

#pluk!

Ia merasa ada sesuatu mendarat dikelapanya. Sebuah bola kertas. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Lay, sepupunya, tengah berdiri dengan memandanginya kesal dari atas hingga bawah. Membuat lelaki itu hanya menyunggingkan senyum khasnya.

“Kim Jong Dae, sudah ku duga kau yang mengirimkan foto ku dibandara”

Kim Jong Dae, biasa dipanggil Chen sejak ia tinggal di China bersama Lay. Jika Lay adalah seorang arsitek design yang ternama maka Chen adalah seorang fotografer amatir yang sebenarnya sangat profesional hanya saja ia ingin menjadikan Lay sebagai objek pertama usahanya.

“Hhee… Aku tidak bisa bersembunyi dari mu ya? Mengagumkan”
“Itu karena kau memiliki ciri khas dan aku sudah sangat menghafalnya dengan baik”
“Ohh… Kau sangat sangat sangat mengenalku”

Lay melirik sekilas lalu meminta Chen untuk mengikutinya makan siang. Ia tidak ingin kelaparan dan ia sudah tahu dengan pasti kalau sepupunya itu sudah kelaparan, bisa dilihat dari cara Chen yang mengangguk dengan penuh semangat.

==

Jessica membuka matanya dengan paksa. Kepalanya terasa pusing dan sekujur tubuhnya terasa panas. Ia memandangi sekelilingnya, ini bukan kamarnya. Kamarnya lebih luas dan lebih rapi. Kamar seorang Jessica Jung juga memiliki ciri khas yaitu wangi aroma terapi bunga lavender. Ia membutuhkannya ketika ia tidak bisa memejamkan matanya.

“Sudah bangun?”

Jessica menoleh dengan cepat dan mendapati Luhan sedang membuka tirai jendela sehingga cahaya matahari siang itu bisa menelusup masuk kedalam kamar dengan ukuran standar itu.

“Bagaimana bisa aku…”
“Noona kehujanan lalu aku membaca pesan mu dan menemukan mu. Dan noona tiba – tiba saja pingsan, jadi ku bawa kesini saja”
“Ini dimana?”
“Lantai atas Midnight Sun café, tempat istirahat kami”

Jessica menundukkan kepalanya. Ia baru ingat kalau ia baru saja kabur dari rumah namun perhatiannya beralih ketika ia melihat pakaiannya sudah berganti sepenuhnya. Luhan tersenyum dan menoleh lalu duduk disamping Jessica. Ia merapikan rambut panjang gadis itu, menyisirnya dengan telaten.

“Tenang saja. Yang menggantikannya adalah Song ajeomma, bukan aku”

Jessica menghela nafas lega lalu menahan tangan kanan Luhan yang sibuk menyisir rambut panjangnya. Ia menatap lelaki yang duduk dipinggir tempat tidurnya itu dengan lembut. Luhan menyunggingkan senyumnya lalu meraih tubuh Jessica dan memeluknya dengan hangat. Kejadian semalam sudah cukup membuatnya nyaris gila. Bisa saja Jessica sakit atau yang lebih buruk lagi, mati ditengah hujan. Ia sama sekali tidak menginginkannya.

#cklek!

“Xiao Lu, kau… Jessica noona?”
Kris memandangi Luhan yang tengah memeluk Jessica diatas tempat tidur. Entah kenapa rasanya ia ingin marah sata itu juga namun untung saja ia tipe orang yang cukup tenang. Kris menutup pintu dibelakangnya dan menatap kedua orang didepannya dengan pandangan meminta penjelasan.

“Aku sudah bilangkan kalau Jessica noona ada bersama ku?”
“Ya, tapi aku tidak tahu dia disini”

Jessica mengedarkan pandangannya, mencari ponselnya. Luhan yang mengerti langsung memberikan ponsel yang untung saja semalam tidak kehujanan. Dompet ponsel milik Jessica terbuat dari bahan anti air yang membuat ponsel itu kini baik – baik saja.

“Kris, kau tidak mengangkat telepon ku sama sekali”
“Mian, aku ada kegiatan club”
“Untung saja Luhan datang untuk ku diwaktu yang tepat”

Jessica memandangi Kris dengan tatapan lemahnya. Luhan menarik nafas, kedua orang suku es itu bisa saja bertarung lagi. Dan ini bukan waktu yang tepat untuk bertarung atau semacamnya. Ia berdiri lalu meraih teko air hangat dan gelas yang terletak diatas meja.

“Sudahlah jangan mulai berdebat lagi. Sebaiknya noona minum air hangat ini”

Luhan memberikan segelas air hangat untuk Jessica dan yang satunya lagi untuk Kris. Keduanya menerima dengan patuh. Luhan melirik jam tangannya. Ia harus segera membantu Kyungsoo dan Sehun untuk menjaga café disiang hari. Kebetulan mereka sedang libur panjang usai ujian sekolah.

“Aku akan kebawah. Jessica noona dan kau, Kris Wu. Jangan bertengkar. Karena noona sudah memilih untuk meninggalkan rumah jadi biasakan untuk tinggal bertiga dengan aku dan Kris disini. Ok? Sampai nanti”
“Luhan…”
“Aku akan kembali, kau aman bersama Kris”

Luhan mengusap lembut puncak kepala Jessica dan mengecup bibir gadis itu singkat. Kris mengalihkan pandangannya. Jessica pun mengangguk sebagai tanda mengerti. Ia memandangi punggung Luhan yang menghilang dibalik pintu.

“Kau tidak suka aku disini?” tanya Kris.
“Bukan seperti itu, aku hanya kesal dengan mu”

Jessica menarik nafas lalu berdiri didepan jendela dan memandang keluar sana. Ia tidak tahu akan bertahan berapa lama dengan kebebasan tersembunyi ini. Kris melangkahkan kakinya dengan perlahan lalu memeluk Jessica dari belakang. Ia menundukkan sedikit kepalanya dan menyandarkannya dibahu Jessica.

==

“Tiffany melarikan diri dari rumah”

Itulah kabar yang didengar oleh Kai. Ia memandang lurus jalan didepannya. Tatapannya sangat tajam dan menyiratkan kekhawatiran. Tiffany, seorang noona yang mengejar cintanya beberapa tahun yang lalu namun dengan tegas Kai menolaknya. Menolak gadis yang sebenarnya ia cintai.

“Bagaimana bisa Tiffany kabur dari kediaman keluarga Hwang?”
“Entahlah Tuan Muda Kim”

Kai hafal benar kalau Tiffany adalah gadis yang selalu bergantung pada orang lain. Ia kembali menggali kedalam pikirannya dan satu nama muncul didalam pikirannya, Park Chanyeol. Salah satu seniornya disekolahnya yang dulu. Kai sangat sering berpindah – pindah sekolah, bukan karena ia anak yang bermasalah. Namun begitulah sejak ia merasa kepada seorang Tiffany.

“Selidiki seseorang bernama Park Chanyeol, aku yakin Hwang noona ada disana”
“Baiklah, Tuan Muda”

Lelaki itu segera pergi meninggalkan Kai sedangkan Kai menggenggam pensil ditangannya hingga patah menjadi dua potongan. Ia tidak akan membiarkan Tiffany menghadapi bahaya diluar sana, sendirian.

==

Taeyeon mendapat kabar kalau Jessica ada bersama Kris dan Luhan. Setidaknya ia bisa tenang mengetahui kalau sahabatnya itu dalam keadaan baik – baik saja. Taeyeon memutuskan untuk menemui Jessica di club malam tersebut.

“Taeyeon –a?”
“Sica! Gwaenchana?”
“Ne”

Taeyeon langsung meminta Jessica duduk dan menceritakan semuanya. Jessica benar – benar menceritakan segalanya hingga sesekali ceritanya terpotong karena isak tangis. Taeyeon membiarkan Jessica sendirian, sesuai dengan permintaan gadis itu. Kemudian Jessica memutuskan untuk minum – minuman beralkohol. Kris menyiapkannya dengan sedikit khawatir.

“Noona…”
“Tidak apa, aku sedang ingin melupakan semuanya”

Beberapa jam kemudian, Kris berhasil membuat Jessica mabuk. Gadis itu sudah merancau tidak jelas. Sedangkan sebentar lagi waktunya club tersebut tutup. Luhan menghampiri gadis itu lalu memapahnya menuju kamar atas. Sebaiknya gadis itu butuh istirahat.

Sementara itu Kris meyakinkan Taeyeon agar membiarkan Jessica disana, karena memang tidak mungkin gadis itu membawanya pulang mengingat saat ini Jessica sedang menjadi buruan utama keluarganya. Dan untuk sementara ini Jessica akan aman jika bersama Kris dan Luhan, Kyuhyun sendiri yang memutuskan untuk tutup mulut dan tidak memberitahukan soal Midnight Sun kepada semua keluarga besar ke –empat gadis itu.

“Kalau begitu tolong jaga dia. Dan…”
“Sudahlah noona, mereka tahu apa yang mereka perbuat”

Kyungsoo berusaha meyakinkan Taeyeon yang masih saja mencemaskan keadaan Jessica. Beberapa detik kemudian gadis itu mengangguk dan membiarkan Kyungsoo mengantarkannya pulang dengan sembunyi – sembunyi. Lagipula Taeyeon tidak bisa lebih malam dari ini. Ia harus kerumah sakit besok untuk menjengguk Seohyun dan mengabarkannya kepada Sehun dan ia masih harus Tiffany yang kini hilang entah kemana.

Semuanya sudah pergi dari club itu. Kris menghela nafas berat sekaligus lelah. Ia tahu kalau keputusan yang ia dan Luhan ambil adalah salah namun tidak ada cara lain. Karena dengan cara begitu tidak akan ada lelaki yang akan memanfaatkan gadisnya – atau lebih tepat, gadis mereka. Seperti pada kesepakatan sebelumnya, baikk Kris ataupun Luhan sama – sama memiliki kedudukkan yang sama untuk memiliki seorang Jessica Jung.

Ia melangkahkan kakinya kesetiap anak tangga sambill terus memikirkan jalan keluar lainnya, sayangnya ia tidak menemukan apapun. Ia berbelok dan mendapati Luhan sedang bersender dipintu salah satu kamar diclub itu. Kamar yang sengaja dibuat untuk tempat istirahat para pekerja club ketika mereka merasa lelah dan butuh istirahat.

“Kau yakin kita akan melakukannya?” bisik Luhan pada Kris.
“Entahlah tapi…”

Kris menatap Jessica yang sudah terbaring ditempat tidur. Gadis itu terus mengigau dalam tidurnya. Air mata jatuh begitu saja. gadis itu tampak kacau dan ketakutan meski ia sedang memejamkan matanya. Kris mendekatinya dengan pelahan lalu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.
Luhan kembali dengan segelas air putih ditangannya. Kris membantunya agar Jessica bisa meminum air itu walau seteguk saja. Jessica pun dengan perlahan membuka matanya, ia menatap keduanya dengan samat – samar lalu kembali menangis.

“Aku… Aku bukan sebuah benda, aku bukan berlian yang mahal. Aku… Aku hanya seorang gadis biasa… Tapi kenapa mereka memperlakukan ku seperti aku sebuah barang? Mereka akan menjual ku demi perusahaan? Mereka…”
“Berhentilah Sica”

Kris yang duduk ditepian tempat tidur itu mencium punggung tangan kanan Jessica sedangkan Luhan yang berdiri dibelakang Kris, meraih kepala gadis itu dan membelainya dengan lembut.

“Semua akan baik – baik saja” ucap Luhan dengan lemah.

Gadis itu menatap kedua lelaki yang ada dihadapannya lalu mengangguk pelan. Entah kenapa, tiba – tiba saja Kris mencium bibirnya dengan lembut. Alkohol telah menguasai pikiran Jessica, ia tidak berbuar apa – apa.

“Kami akan membuat mu terus berada disini”

Kris melepaskan ciumannya. Luhan menatap Kris dengan ragu, namun ia kembali menyadarkan dirinya. Ini bukan masalah keraguan atau apapun itu, ini masalah perasaannya. Jika ia tidak bertindak apa – apa dan jika nanti gadis itu diminta atau terpaksa memilih, mungkin saja ia akan memilih Kris yang selalu bersamanya dan meninggalkan Luhan begitu saja. Ia dan Kris tidak akan pernah siap dengan kenyataan ini, bagi mereka lebih baik Jessica tidak pernah memilih siapapun.

“Kami yang akan melindungi mu” bisik Kris dengan lembut.
“Kami yang akan membuat mu melupakannya” bisik Luhan ditelinga Jessica yang satunya.

Jessica mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus kemana lagi, tidak ada cara lain selain percaya pada mereka meski ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghindar dari keluarganya yang sangat pengekang itu.

Luhan merangkak keatas kasur dan duduk dibelakang Jessica. Ia memeluk gadis itu dari belakang dan menghirup wangi sampo dan parfum –nya. Wangi lembut yang memabukkan. Sedangkan didepan sana, Kris sudah sibuk melumat bibir merah muda milik Jessica. Gadis itu tidak membalas karena ia tidak mengerti. Tangan Kris yang hendak memeluk pinggang ramping Jessica terhalang oleh Luhan.

Luhan yang menyadarinya langsung menaikkan tangannya yang masuk dibalik kemeja milik Jessica, gadis itu langsung bergetar dan ia bisa merasakan tangan Luhan sedang aktif memijat payudaranya sedangkan ia bisa marasakan belaian lembut dari jemari panjang Kris.

“Argghhhh”

Dengan otimatis Jessica menengadahkan kepalanya ketika ciuman Kris turun dileher depannya sedangkan Luhan menyingkirkan rambut Jessica kesamping dan membuat kissmark dileher belakang gadis itu. Tangan Kris dengan perlahan tetapi pasti, masuk kedalam celana bagian belakang Jessica. Jemarinya ia gesekkan dengan lembut dicelah bokong gadis itu. Luhan telah berhasil melepaskan pengait bra –nya dan menarik paksa hingga tali bahu bra itu putus. Luhan terus memijat payudara Jessica dengan lembut, sesekali ia menekan – nekan niple gadis itu atau mencubitnya kecil dengan gemas.

“Arghhhh… shhhhhh….”

Jessica bisa merasakan banyak sentuhan ditubuhnya. Ia tahu ini tidak benar, namun ia tidak bisa berbuat apapun. Sekujur tubuhnya sudah melemas dan alkohol membuat kepalanya pusing serta tidak bisa berfikir dengan jernih.

“Arrrggghhhh… Luhh… Ahnnnnn…”

Desahan kembali terdengar dari bibir Jessica yang sudah memerah karena ciuman Kris tadi. Luhan terus memberikan pijatan, remasan dan tekanan pada payudara Jessica. Membuat tubuh gadis itu terus menggeliat ditengah pelukan Kris dan Luhan. Gadis itu bisa merasakan tangan – tangan itu terlepas dari tubuhnya.
Ia menarik nafas sejanak namun Kris aktif membuka kancing – kancing kemeja Jessica satu persatu. Dan Luhan membantu melapasnya dari belakang. Sekarang tubuh atas Jessica sudah polos tanpa sehelai benang pun ditubuh atasnya. Otomatis gadis itu menarik selimut yang ada disana namun Kris bergerak lebih cepat. Ia langsung menghisap niple yang sudah dibuat kemerahan oleh Luhan tadi sedangkan tangan Luhan sudah membuka kancing dan resleting celana jeans Jessica. Ia menelusupkan tangannya disana.

“Arrghhhhhhhhhhh…”

Jessica bisa merasakan telapak tangan dingin Luhan menangkup vaginanya lalu membelainya dengan lembut. Jessica bisa merasakan ada ribuan kupu – kupu terbang didalam perutnya. Gadis itu tidak tahu harus berpegangan pada apa sehingga ia memutuskan untuk meremas rambut blonde milik Kris.

“ARGHHHH!!!”

Kris terus menjelajahi tubuh atas Jessica sampai gadis itu menjerit tertahan karena gigitan Kris yang tiba – tiba pada nipplenya dan jari tengah Luhan yang entah sejah kapan menerobos masuk hole vagina Jessica.

“Kris –a, ku rasa ini tidak benar. Dia sedang mabuk” ucap Luhan disela – sela aktifitasnya. Kris berhenti sejenak lalu menatap Luhan.
“Kau benar tapi…”
“Aku mengerti, rasanya tidak bisa berhenti”

Tiba – tiba saja Jessica menemukan kesadarannya dan kekuatannya. Ia berusaha mendorong kedua lelaki itu menjauh dari tubuhnya yang nyaris polos.

“Ugh… Lepashh… Arghh…”

Kris dan Luhan memberikan Jessica ruang dari himpitan mereka. Wajah keduanya memerah dan peluh terlihat dipelipis mereka. Jessica memandang mereka dengan pandangan yang kabur. Alkohol masih membuat kepalanya terasa pusing dan sakit luar biasa.

“Kris, kau memberikan ku alkohol dengan kadar tinggi?”

Jessica memegangi kepalanya lalu meraih selimut terdekat untuk menutupi tubuhnya yang terasa lengket dan basah. Ia mencoba untuk berdiri namun dengan sigap Luhan menarik pinggangnya dan membuat gadis itu terhempas ditempat tidur tersebut.

#bruk!

“Argh!”

Jessica memegangi belakang kepalanya yang terasa pusing dan sakit. Kris langsung mengambil alih dengan cepat, ia melumat bibir Jessica dengan ganas hingga menimbulkan bunyi becek. Sedangkan Luhan yang sedang mengumpulkan tenaganya langsung duduk dan menundukkan kepalanya diantara paha Jessica. Ia menarik paksa celana jeans yang dikenakan Jessica lalu melemparkannya kelantai. Ia membelai paha dalam gadis itu dengan lidahnya lalu terus naik. Ia menekan klirotis Jessica dengan lidahnya, membuat tubuh gadis itu secara otomatis terangkat.

“Arrrghhhh… Luhhhaannhhh.. owhhh… ARGHHHH!!”

Luhan menyedot dan mengulum dibawah sana. Kris tidak mau kalah, ia terus meremas, menekan, memijat, menghisap dan memainkan payudara Jessica dengan tempo yang berbeda.

“Kris, sebaiknya kau ganti dibawah” ucap Luhan dengan susah payah sambil terus menjilati vagina Jessica yang mulai memerah. Kris mengerti, ia langsung bertukar tempat dengan Luhan.
Kris langsung menghisap, mengulum dan memberikan gigitan kecil pada klirotis Jessica. Sementara gadis itu terus bergerak dan meremas seprai dengan semakin kencang. Luhan pun kini menghisap dengan penuh nafsu sambil sesekali menekan dan memilin niple Jessica yang tegang karena perlakuan Kris tadi.

“Kris, kita akan memasukinya?”
“Menurut mu?”

Kris menatap manik mata Luhan begitu juga sebaliknya. Keduanya saling berpandangan lalu menggeleng dengan cepat. Tidak akan karena itu bukan hal yang baik merenggut sesuatu ketika yang memilikinya sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“Tapi…”
“Aku mengerti, lepaskan saja sendiri. Bagaimana?”

Luhan mengangguk lalu pandangannya kembali tertuju pada wajah Jessica yang sudah memerah dan nafasnya yang naik turun. Kris menatap tubuh bawah Jessica sejenak lalu menelan air liurnya sendiri.

“Lu, hanya sebatas menusuk dengan jari, menjilat dan menghisap. Arra?”
“Aku mengerti Kris”

Tanpa menunggu lagi, Kris langsung menghisap klirotis Jessica hingga gadis itu merasa ngilu.

“Arrghhh Kriisshhh”

Kemudian Kris menghisap lubang itu lagi, memancing agar cairan didalamnya keluar dengan segera. Dan diatas sana, Luhan melumat bibir Jessica lagi lalu tangannya aktif meremas, menekan, menarik dan memijat kedua payudara Jessica.
Jessica bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar lalu Kris menarik kaki Luhan memintanya melepaskan bibir gadis itu. Ia ingin mendengarkan desahan puncak gadis mereka. Luhan yang mengerti langsung melepaskannya.

“AARRRGHHHHH OUCHHH…”

Kris langsung menyesapnya dalam – dalam dan menyapu cairan yang menyebar disekitar daerah sensitif itu dengan lidahnya. Luhan merasa iri, ia langsung meminta Kris bertukar dengannya dan Kris menyelesaikannya lalu bertukar posisi lagi. Kali ini Luhan memancing cairan itu keluar lagi, ia memasukkan kedua jarinya dan membuat Jessica kembali mendesah sambil mencengkeram bahu Kris dengan kuat.

“Hisap saja, perlakukan dengan mulut mu”

Luhan mengikuti saran Kris. Ia langsung menghisap klirotis Jessica yang sudah memerah lalu menyedot lubang itu dengan tempo yang menggoda. Jessica langsung mengangkat tubuhnya secara otomatis

Jessica dengan perlahan sadar namun alkohol masih menguasainya. Ia hanya memandangi langit – langit ruangan itu sambil terus meremas seprai dan menggerakkan tubuhnya tiada henti karena perlakuan Kris dan Luhan. Ia terus membuka mulutnya dan menimbulkan suara desahan yang terdengar sexy dan menggoda. Keringat sudah membasahi ketiganya.
==

Tiffany baru saja keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut panjangnya. Ia melirik jam yang tergantung didinding lalu mendengus nafas kesal. Lagi – lagi Chanyeol pulang terlambat. Bukannya tidak suka atau membatasi hanya saja ia khawatir apalagi lelaki itu sama sekali tidak memberikan kabar apapun padanya.

“Aku akan memasak sedikit makanan” putusnya.

Ia menggeledah isi kulkasnya namun ia tidak mendapati apapun. Tiffany memutuskan untuk pergi kemini market dan membeli beberapa bahan makanan. Tidak lupa dengan wig penyamarannya dan kacamata bulat aneh yang dibelikan Chanyeol untuk melengkapi penyamarannya. Memang bukan stylenya Tiffany tapi mau bagaimana lagi.

Gadis itu membuka pintu apartemen kecil yang disewa Chanyeol dengan uang gaji yang diperoleh dari Midnigh Sun. Tiffany tidak keberatan dengan hal ini. Namun ketika ia baru saja sampai ketangga paling bawah ada seseorang yang menarik tanggannya dengan kencang.

“Argh!!”

Tiffany sedikit merintih kesakitan namun orang itu jauh lebih kuat. Ia menarik Tiffany kesebuah gang kecil yang gelap lalu membuka maskernya. Lelaki itu adalah Kai. Tiffany membulatkan matanya dengan terkejut.

“Kau…”
“Noona, kita bertemu kembali”

Tiffany bisa mencium bau alkohol yang kuat disini. Lelaki itu mabuk dan ini sama sekali bukan pertanda baik. Alkohol bisa membutakan siapapun. Tiffany mulai merasa takut dan berharap Kai masih memiliki separuh kesadarannya.

“Kai… ini aku”
“Aku tahu, kau lari bersama lelaki itu dan aku tutup mulut akan hal ini!”
“Lepaskan aku… Jebal”

Tiffany kembali memohon ketika ia merasa kalau dekapan tangan Kai dipinggangnya semakin mengencang. Tampaknya semua itu sia – sia, Kia benar – benar mabuk.

“Kau tahu? Aku mulai menyukai mu”

Tiffany masih berusaha melepaskan dirinya. Namun Kai malam menarik turun kaos gadis itu dan mencium lehernya dengan bertubi – tubi. Tiffany semakin berjuang untuk mengumpulkan tenaganya namun ia langsung melemas ketika sebelah tangan Kai yang bebas meremas dadanya dari luar kaos yang ia kenakan.
“Kai… ini aku… Stephanie Hwang” bisik Tiffany dengan susah payah. Ia berharap dengan begitu Kai akan melepaskannya namun ia salah remasan tangan lelaki itu semakin menguat dan membuat Tiffany merasa sakit. Kemudian Kai menggulung kaos yang dipakai gadis itu keatas lalu memperlihatkan kedua payudaranya yang membusung indah dimata Kai. Kai mengeluarkan salah satunya lalu menghisapnya dengan kuat seperti bayi kehausan yang sedang menyusu pada ibunya. Tiffany menggingit bibirnya lalu berusaha kembali bicara.

“Kai.. Kau yang bilang kalau perbedaan usia kita tidak memungkinkan”

Kai melepaskan Tiffany secara tiba – tiba, membuat gadis itu mundur beberapa langkah kebelakang. Ia bisa melihat kini ada guratan kekecewaan diwajah seorang Kim Jong In. Entah kecewa karena apa, tiba – tiba saja ia memegang bahu Tiffany dan menunduk.

“Appa mu yang bilang… Tuan Hwang bilang tidak seharusnya aku dekat dengan mu karena dulu keluarga ku masih jauh dibawah mu”

Tiffany tersentak.
Ia tidak menyangka semua ini karena keluarganya. Ia masih ingat bagaimana Kai memperlakukan dirinya, terus bersamanya dan melindunginya namun entah kenapa tiba – tiba saja lelaki itu menjadi dingin bahkan menolaknya.

“Apa… itu benar?”

Kai mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Tiffany. Ia tersenyum miris, merapikan kaos gadis itu lalu mengecup bibirnya sekilas dan mengusap kepala Tiffany dengan lembut serta penuh rasa kasih sayang.

“Meski kau tidak akan percaya, namun itulah kenyataannya”

Kai menarik nafas sejenak lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Sedangkan Tiffany dengan perlahan menjatuhkan air matanya. Ia tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Ia bisa merasakan setiap sentuhan Kai tadi namun seiring dengan perasaan sakit dihatinya. Kakinya melemas lalu ia menangis bersandar pada sisi tembok gang sempit itu.

… TBC

Advertisements

45 thoughts on “[Part 11-NC ver] Midnight Sun

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s