[100 Love Songs] What Makes You Beautiful

What Makes You BeautifulTitle : What Makes You Beautiful

Author : Idwinaya (@dina_issika)

Main Cast :

Baekhyun EXO-K

Taeyeon SNSD

Support Cast :

Chanyeol EXO-K

Luhan EXO-M

Kris EXO-M

Length : Oneshot

Rating : PG

Genre : Romance, Friendship

Author Note : Sebenarnya, FF ini adalah request-an dari Tia. Tapi, berhubung ceritanya nyambung dengan FF My Juliette, akhirnya FF ini saya jadikan sequel-nya, deh. Hanya saja, dengan main cast yang berbeda. Tapi, kalaupun readers belum membaca FF My Juliette, tidak terlalu berpengaruh, kok. So, just enjoy this story ^^

***

Baby you light up my world like nobody else

The way that you flip your hair gets me overwhelmed

But when you smile at the ground it ain’t hard to tell

You don’t know, oh oh, you don’t know you’re beautiful

If only you saw what I can see

You’ll understand why I want you so desperately

Right now I’m looking at you and I can’t believe

You don’t know, oh oh, you don’t know you’re beautiful

Oh oh, that’s what makes you beautiful

 

-What Makes You Beautiful by One Direction-

***

“Hei, Byun Baekhyun!”

Baekhyun menghentikan langkah cepatnya menuju kelasnya, ketika sebuah suara menyebut namanya. Ia menoleh sambil memasang wajah jengkel. “Ada apa?”, tanyanya ketus.

Luhan—yang memanggil Baekhyun—menatap horror ke arah sahabatnya itu. “Jangan marah begitu, Baekhyun.”, katanya takut-takut.

Baekhyun mendelik kesal sambil berkacak pinggang. “Kalau kau terlalu bertele-tele, aku akan benar-benar marah!”, tegas Baekhyun. Baekhyun melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya. “Ish! Aku akan segera terlambat.”, gumam Baekhyun kesal.

“Begini, Baekhyun. Aku ingin menawarimu untuk mengikuti pesta dansa kampus kita. Bagaimana? Kau mau ikut?”, tawar Luhan.

Baekhyun mendesah keras. “Demi Tuhan! Kau membuang waktuku hanya untuk menanyakan pertanyaan konyol itu?”, teriak Baekhyun kesal.

Luhan nampak begitu takut melihat sahabatnya yang semakin mirip dengan werewolf saja.

“Aku tidak akan datang ke pesta tersebut. Tidak akan pernah!”, bentak Baekhyun, lalu melanjutkan langkahnya dengan berlari, menyusuri lorong kampus yang sudah sepi—tanda bahwa sebagian besar mahasiswanya sudah masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.

Sementara itu, Luhan menghela nafas panjang karena melihat sikap sobatnya itu. “Dasar Baekhyun! Tidak berubah. Dan tidak akan pernah.”

***

Ottokhae, Taeyeon-ssi?”

Gadis itu—Kim Taeyeon—mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang dibacanya ke arah Baekhyun yang sudah terduduk di hadapannya. “Apanya yang bagaimana?”, tanya Taeyeon polos.

Baekhyun mendengus pelan. “Apakah Park Seonsaengnim marah padaku?”, tanya Baekhyun lirih, karena keduanya sedang berada di perpustakaan kampus.

Taeyeon menutup bukunya dan melepas kacamata yang biasa tersangkut di hidungnya. “Tidak. Maklum saja, kau kan, murid kebanggannya, Baekhyun-ssi.”, jelas Taeyeon.

Dada Baekhyun berdesir. Berdesir tepat saat matanya dan mata jernih Taeyeon—yang sudah tak terhalang kacamata itu—saling bertemu pandang. Ada gejolak dalam hatinya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Darahnya mengalir semakin cepat saja. “Ternyata, kau punya mata yang indah, Taeyeon-ssi.”, puji Baekhyun tanpa sadar.

Taeyeon menatap ke arah Baekhyun dengan tatapan tak percaya. “Maaf. Kau bilang apa, Baekhyun-ssi?”, tanya Taeyeon.

Baekhyun terkejut, setelah menyadari ucapannya sendiri. “Ah, tidak. Aku tidak bilang apa-apa, kok.”, jawab Baekhyun cemas.

Taeyeon mengangguk saja. “Ngomong-ngomong, kenapa kau tak masuk kelas, Baekhyun-ssi?”, tanya Taeyeon.

Baekhyun meregangkan otot-ototnya sejenak. “Aku terlambat.”, jawabnya singkat.

“Heh? Hanya karena itu, kau tak masuk kelas?”, tanya Taeyeon tak percaya. Matanya yang indah itu membulat sempurna.

Sekali lagi, Baekhyun mengagumi karya Tuhan yang satu ini. “Lebih baik begini, daripada aku harus mendapat omelan darinya.”, jawab Baekhyun santai. Jujur saja, semenjak masuk kuliah, ia lebih sering menunjukkan sisinya yang dingin pada teman-teman di kampusnya, kecuali Luhan, Kris dan Chanyeol. Tapi entah kenapa, dia bersikap santai dan hangat saat berada di hadapan Taeyeon saat ini.

“Aku tak menyangka kalau kau memiliki pemikiran semacam ini, Baekhyun-ssi.” Taeyeon menggeleng tak percaya, yang sukses membuat rambutnya yang terurai itu bergerak ke kanan dan ke kiri dengan indah.

Lagi-lagi, Taeyeon memiliki satu titik yang menarik perhatian Baekhyun.

“Kupikir, kau adalah orang yang cerdas, disiplin dan…” Taeyeon menggantungkan kalimatnya.

Baekhyun menaikkan kedua alisnya, penasaran menunggu kelanjutannya.

Taeyeon menggigit bibirnya dan menatap ragu ke arah Baekhyun. “Dingin.”, lanjutnya.

Baekhyun melengos. “Begitukah image-ku?”, tanya Baekhyun dengan nada tak percaya.

“Setidaknya, itulah yang kudengar dari mahasiswa lainnya.”, kata Taeyeon cepat.

“Eh? Maksudmu, kau tak berpikiran begitu?”, tanya Baekhyun.

“Eh, bukan begitu juga.” Taeyeon nampak salah tingkah. “Maksudku, aku tak bisa menghakimimu begitu, kalau aku belum mengenalmu dengan baik.”, jelas Taeyeon. Semburat merah terlihat jelas di kedua pipinya.

Ya Tuhan! Gadis ini benar-benar menarik!, pekik Baekhyun dalam hati, ketika melihat wajah imut Taeyeon. “Jadi. Sekarang bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?”, tanya Taeyeon bingung.

“Penilaianmu tentangku. Apakah aku dingin di matamu?’, tegas Baekhyun.

Taeyeon menundukkan kepalanya, seolah sedang mencari jawaban. “Tidak. Kau tidak dingin, Baekhyun-ssi.”, jawab Taeyeon, sambil mendongakkan kepalanya menatap manik mata Baekhyun.

Baekhyun tersenyum. Ia tahu gadis itu tidak berbohong melalui tatapan matanya.

Bagaimana Baekhyun bisa tahu?

Karena Baekhyun yakin, bahwa Taeyeon memiliki mata yang indah, yang senantiasa memancarkan ketulusan.

***

“Ayolah, Baekhyun-ah.”

Baekhyun mengabaikan Chanyeol yang sedari tadi merengek-rengek padanya. Ia sudah menolaknya berkali-kali. Sekali tidak, tetaplah tidak.

Sementara itu, Luhan yang menyaksikan adegan memalukan dua sahabatnya itu hanya bisa menghela nafas panjang.

“Sudahlah, Yeolli. Jangan memaksa Baekhyun.”, kata Kris mengingatkan.

Chanyeol menoleh ke arah Kris. “Ya! Tapi ini sudah 4 semester dan dia selalu menolak ajakan kita.”, kata Chanyeol manja.

“Kris benar. Kau tahu sendiri, kalau Baekhyun tidak tertarik untuk menghadiri pesta-pesta semacam itu.”, timpal Luhan.

Chanyeol menatap Kris dan Luhan bergantian dengan kesal. “Kalian ini!”, gerutu Chanyeol. “Sebenarnya, apa yang membuatmu tak mau datang ke pesta, sih?”, tanya Chanyeol kesal, kali ini menatap Baekhyun.

Baekhyun memandang malas ke arah Chanyeol. Ia hendak menjawa, tapi Chanyeol lebih cepat darinya.

“Kau butuh pakaian? Kupinjami! Butuh tumpangan? Kami antarkan! Tak punya pasangan? Akan kucarikan!”, teriak Chanyeol. “Aku akan melakukan apapun, asal kau mau ikut. Kumohon, Baekhyun.” Suara Chanyeol terdengar lebih memelas.

Baekhyun mendesah pelan. “Masalahnya, aku memang tak tertarik, Park Chanyeol. Harus diapakan lagi?”, ucap Baekhyun pasrah.

“Cih! Bilang saja, kalau kau tak punya gadis untuk kau ajak pergi. Benar, kan?”, tebak Chanyeol asal.

Kris dan Luhan langsung menatap horror ke arah Chanyeol yang sedang menyulut api. Para gadis adalah hal yang sensitif bagi Baekhyun. Maklum saja, karena diantara keempat sahabat itu, hanya Baekhyun yang tak mempunyai kekasih. Meski Kris juga sedang menjomblo, tapi namja itu tetap sering terlihat dekat dengan teman-teman wanitanya.

Sementara itu, Baekhyun mendelik kesal. “Apa katamu?!”, teriak Baekhyun.

“Kau tak punya gadis untuk diajak ke pesta.”, ucap Chanyeol dengan penuh penekanan pada setiap katanya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Baekhyun menggebrak meja di hadapannya. “Dengarkan aku baik-baik!”, ucap Baekhyun keras. “Aku punya gadis untuk kuajak ke pesta. Lihat saja nanti!”, tegas Baekhyun, lalu pergi sambil menyandang tas-nya di bahu.

Kris dan Luhan sama-sama mendesah lega, karena akhirnya perang dunia ketiga gagal terjadi.

Sementara itu, Chanyeol tertawa puas. “Akhirnya, aku bisa mengubah sikap anti-yeoja-nya yang sudah akut itu.”, kata Chanyeol lega.

“Tapi, bagaimana kalau dia sampai berbuat yang macam-macam? Mengancam para gadis, misalnya?”, celetuk Kris, tiba-tiba.

Luhan termenung. “Kira-kira, siapa gadis yang akan dipilih Baekhyun, ya?”, tanya Luhan.

Ya, sepertinya, siapapun juga penasaran dengan hal ini.

***

“Mianhae. Sepertinya, aku tidak akan pergi.”

Baekhyun membeku di tempatnya. Gadis itu jelas-jelas menolak untuk pergi ke pesta dansa dengan siapapun itu.

Baekhyun merasa hatinya remuk seketika, harapan yang sudah terbang tinggi itu mendadak jatuh dan hancur berkeping-keping. Kalau sudah begini, apa yang harus dia lakukan lagi?

Oh, Taeyeon~

“Sekali lagi, maafkan aku, Joonmyeon-ssi.”, kata Taeyeon dengan nada penuh penyesalan.

Joonmyeon tersenyum kecut. “Arrasseo, Taeyeon-ssi. Tak apa.”, ucapnya pasrah. “Kalau begitu, aku permisi dulu. Annyeong.” Joonmyeon melangkah pergi, meninggalkan Taeyeon.

Baekhyun masih berada di tempat persembunyiannya, di balik sebuah pilar besar. Ia menangkap seluruh pembicaraan Taeyeon dan Joonmyeon dengan jelas. Dan semua itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Baekhyun tak akan bisa pergi ke pesta dansa dengan Taeyeon.

Sepertinya, Baekhyun tak bisa menepati janjinya pada Chanyeol.

Kenapa?

Karena Baekhyun menginginkan Taeyeon untuk mendampinginya ke pesta dansa. Hanya Taeyeon.

***

PLUK!

“Auw!” Baekhyun mendongakkan kepalanya sambil mengusap kepalanya yang barus saja terkena benda yang agak keras. Dilihatnya, seseorang yang ternyata sedang memanjat di atas pohon. Baekhyun menyipitkan matanya, agar bisa melihat sosok tersebut dengan jelas di dalam kegelapan malam.

“Hei, Baekhyun-ssi.”, bisik seseorang itu.

Baekhyun kaget karena orang itu sudah berhasil mengenalinya, padahal ia belum berhasil mengenali sosok tersebut. “Nuguya?”

“Aku Taeyeon. Kim Taeyeon.”, jelas orang itu.

Ah! Baekhyun baru menyadarinya. Seseorang itu adalah Kim Taeyeon. “Kau? Kenapa ada di atas sana?”, tanya Baekhyun heran.

“Aku sedang main petak umpet.”, kata Taeyeon lirih.

“Petak umpet?”, tanya Baekhyun heran. “Malam-malam begini?” Sepertinya, Baekhyun semakin tertarik dengan keunikan gadis itu.

“Ssst! Diamlah atau mereka akan menemukanku!”, bisik Taeyeon.

Baekhyun mengernyit tak mengerti.

“Sudahlah, bersikaplah yang biasa saja.”, perintah Taeyeon.

Baekhyun menuruti perintah Taeyeon.

Tak lama, muncul segerombol anak yang berjalan mendekat ke arah Baekhyun. “Hyung lihat seorang yeoja, tidak?”, tanya salah satu dari mereka.

Baekhyun bingung. “Ehm, tidak, kok!”

“Benar, Hyung?”

“Sungguh!”

“Ah, baiklah kalau begitu. Gamsahamnida, Hyung!”, ucap anak itu. “Ayo kita cari Taeyeon Noona lagi!”, ajaknya, lalu meninggalkan tempat Baekhyun.

Ottokhae? Sudah aman, kan?” Taeyeon berbisik dari atas pohon.

Baekhyun mendongak ke arah Taeyeon. “Sudah. Cepatlah turun. Di atas sangat berbahaya.”, perintah Baekhyun.

Taeyeon mengangguk setuju. “Minggirlah. Aku akan melompat.” Taeyeon bersiap melompat.

“Awas!” Baekhyun memperingatkan.

Taeyeon pun mendarat dengan selamat di atas tanah.

“Kau ini, aneh sekali, sih?”, gumam Baekhyun heran. “Bagaimana kau bisa ada disana? Sejak kapan?”

Taeyeon tersenyum. Senyum yang indah.

Baekhyun baru sadar, kalau Taeyeon tidak memakai kacamatanya. Berarti, ini sudah kedua kalinya bagi Baekhyun untuk melihat Taeyeon tanpa kacamata tebalnya itu.

“Aku sedang bermain petak umpet. Sudah cukup lama aku berada disana. Bahkan, sebelum kau tiba.”, jelas Taeyeon.

“Dasar!” Baekhyun menggeleng heran dengan tingkah Taeyeon itu.

“Hei, Baekhyun-ssi. Memangnya, melamun tanpa mengerjakan apapun itu adalah hobimu, ya?”, tanya Taeyeon.

“Eh? Kau melihatiku sejak tadi, ya?”, tuduh Baekhyun.

“Memang.”, jawab Taeyeon santai. “Lalu, aku harus bagaimana lagi? Hanya sosokmu yang terlihat jelas di mataku.”, kata Taeyeon.

Baekhyun mendengus pelan.

“Ngomong-ngomong, kau tak pergi ke pesta dansa, Baekhyun-ssi?”, tanya Taeyeon.

“Kau sendiri?”

Taeyeon cemberut. “Aku bukan gadis cantik, Baekhyun-ssi. Pergi kesana hanya mempermalukan diriku sendiri.”, kata Taeyeon.

Baekhyun mengernyit tak mengerti. Apa katanya? Bukan gadis cantik? Hanya orang rabun yang berpikir begitu.

“Jadi, kau sendiri, bagaimana?”, tanya Taeyeon pada Baekhyun.

“Gadis yang akan kuajak, menolak untuk ikut.”, jelas Baekhyun.

“Eh? Gadis mana yang berani menolak ajakan dari pria sepertimu, Baekhyun-ssi?”, tanya Taeyeon heran.

Baekhyun menghela nafas panjang. “Gadis itu adalah kau, Kim Taeyeon.”

Lalu, suasana canggung seketika menyelimuti keduanya.

***

“Kau! Kenapa tak datang?”

Baekhyun mendongakkan kepalanya dan melihat Chanyeol yang memasang tampang kesal, menahan amarahnya yang siap meledak kapanpun. “Tak ada pasangan.”

“Bukankah kau sudah berjanji padaku, hah?”, tanya Chanyeol mengingatkan.

“Memang.”, balas Baekhyun santai, sambil merapikan bukunya yang berserakan di atas meja kantin.

“Lalu, kenapa kau melanggar janji itu?”, tanya Chanyeol kesal.

Baekhyun mendesah berat, lalu menatap serius ke arah Chanyeol. “Bagaimana kalau gadis yang kuajak pergi, justru menolak tawaranku, Park Chanyeol?”, tanya Baekhyun  dengan nada yang terdengar putus asa dan tatapan yang mendadak berubah sendu.

***

Baekhyun menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. Matanya menata lurus ke arah Taeyeon yang duduk di pojok depan kelas. Meski jarak mereka agak jauh—karena Taeyeon yang seolah selalu menghindari Baekhyun—namun Baekhyun tetap bisa melihat aura kecantikan dalam diri Taeyeon.

Gadis itu mengenakan kaus putih dengan corak bintang berwarna biru dan jaket berwarna biru tua. Rambutnya yang kecoklatan itu, kali ini diikat secara asal, sehingga beberapa rambutnya tak ikut terikat. Matanya yang dihiasi kacamatanya yang khas itu menatap lurus ke arah papan tulis di depan kelas.

Ya Tuhan! Semua ini berhasil membuat Baekhyun gila. Semua yang ada dalam diri Taeyeon terasa begitu indah, sekeras apapun gadis itu berkata bahwa dia sama sekali tidak cantik.

“Byun Baekhyun!”, teriak Park Seonsaengnim dari depan kelas.

“Ah ne, Seonsaengnim?” Baekhyun gelagapan sendiri.

“Apa yang kau lamunkan?”, tanya Park Seonsaengnim. “Kenapa daritadi kau memperhatikan Kim Taeyeon, hah?!”, bentaknya.

Seluruh kelas langsung melihat Baekhyun dan Taeyeon secara bergantian. Sepertinya, otak mereka menanyakan satu hal yang sama, ada apa diantara Baekhyun dan Taeyeon?

“Um, itu…” Baekhyun gugup.

“Keluar dari kelasku! Jernihkanlah pikiranmu terlebih dahulu, Byun Baekhyun!”, perintah Park Seonsaengnim.

Baekhyun tertunduk lesu, lalu melangkah keluar dari dalam kelas. Saat melintasi tempat duduk Taeyeon, Baekhyun melirik ke arah gadis itu.

Tapi Taeyeon hanya menatap datar ke arah Baekhyun.

Kemana mata indah yang sempat dikagumi Baekhyun itu?

***

“Mwo?!”

Baekhyun menutup telinganya yang nyaris tuli, karena mendengar suara lengkingan dari Luhan, Chanyeol dan Kris. “Tak perlu berteriak seperti itu, kan?”

Ketiga namja itu meringis.

“Jadi, kau menyukai Kim Taeyeon, ya?”, tanya Luhan memastikan.

“Begitulah.”, gumam Baekhyun, lalu mendongak menatap langit-langit kamarnya.

“Bagaimana bisa? Dia bukan tipe gadis yang populer. Malah, dia kelihatan biasa saja. Terlampau biasa, malahan.”, celetuk Chanyeol berkomentar.

“Nah! Justru disanalah letak istimewanya.”, timpal Kris.

Baekhyun merasa kalau Kris sependapat dengannya.

“Gadis yang terlihat biasa saja adalah gadis-gadis yang spesial. Mereka adalah gadis yang bersikap apa adanya.”, tutur Kris.

Baekhyun mengangguk setuju, diikuti dengan Luhan.

“Aku yakin, kalau Baekhyun jatuh cinta pada Taeyeon karena alasan itu.”, tebak Kris.

Baekhyun mengulum senyum. “Hei! Kalian mau membantuku, tidak?”, celetuk Baekhyun.

“Membantu apa?”

Baekhyun hanya menunjukkan senyuman misterius khas-nya.

***

“Semua orang kemana, Ahjumma?”

Taeyeon celingukan kesana kemari, memeriksa keadaan rumahnya yang mendadak sepi.

“Aigo, Taeng! Kenapa kau masih disini?” Kim Ahjumma—yeoja paruh baya yang sudah merawat Taeyeon sejak kecil—nampak heboh.

“Eh? Memangnya, ada apa, Ahjumma?”, tanya Taeyeon polos.

“Semua orang sudah berangkat ke hotel Poseidon, sementara kau masih disini?” Kim Ahjumma justru tidak menjawab pertanyaan Taeyeon.

Taeyeon semakin bingun saja. “Ada apa, Ahjumma?”

“Bukannya hari ini adalah hari pertunanganmu?”, tanya Kim Ahjumma.

Taeyeon mengerjap kaget. “P-pertunangan?”, tanya Taeyeon tak percaya. “Dengan siapa?”

“Dengan siapa lagi, kalau tidak dengan kekasihmu, si Tuan Byun itu.”, kata Kim Ahjumma.

Mata Taeyeon membulat sempurna. “Mwo?! Tuan Byun? Maksudnya, Byun Baekhyun, begitu?”, tanya Taeyeon tak percaya.

“Sudahlah. Kau harus cepat bersiap, Taeng! Kau tak ingin semuanya menunggumu, kan?”, ucap Kim Ahjumma mengingatkan.

Taeyeon nampak gusar. “Aku tidak akan bersiap.”

“Waeyo? Kau akan bertunangan, Taeng.”

“Tidak akan ada pertunangan, Ahjumma.”, desis Taeyeon, lalu segera berlari secepat mungkin meninggalkan rumahnya, menuju hotel Poseidon.

***

Taeyeon berlari sekuat tenaga menuju hall tempat dilangsungkannya—katanya—pertunangan dirinya dengan Byun Baekhyun. Ia tak tahu apa-apa dan mendadak ia harus mendapat kabar bahwa ia akan bertunangan dengan namja itu.

Taeyeon sudah berdiri di depan sebuah pintu besar, yang diyakininya sebagai jalan masuk ke dalam hall yang dicarinya. Ia mendorong pintu tersebut dengan amarah.

“… gadis tercantik yang pernah kulihat.”

Taeyeon melihat hall tersebut dipenuhi nyaris sebagian besar orang yang dikenalnya, termasuk sosok namja tampan ber-jas yang berdiri di atas panggung kecil sambil menggenggam mikrofon.

“Ah, ternyata kau sudah datang Kim Taeyeon. Kemarilah!”, ajak Baekhyun dari atas panggung tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Taeyeon melangkah cepat ke arah panggung, tanpa memperhatikan pandangan aneh dari orang-orang di sekitarnya.

“Apa maksud semua ini, Baekhyun-ssi? Jelaskan pada kami semua!”, tegas Taeyeon.

Baekhyun tertawa kecil. “Siapapun yang ada dalam ruangan ini tahu kalau kita akan bertunangan, Taeyeon-ah.”, jawab Baekhyun santai.

Taeyeon menggertakkan giginya dengan kesal. Ia merebut mikrofon dari tangan Baekhyun. “Appa, Umma, apakah aku akan bertunangan dengan namja ini?”, tanya Taeyeon dengan suara yang bergetar.

Appa dan Umma-nya saling menatap tak mengerti.

“J-jawab aku!”, perintah Taeyeon. Tak lama, setetes air matanya terjatuh begitu saja. “Ini semua pasti ulahmu kan, Byun Baekhyun? Apa maumu, hah?!”, tanya Taeyeon, kali ini menatap Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku menginginkanmu.”, bisik Baekhyun.

Taeyeon terisak. “Waeyo?!”, bentak Taeyeon. “Apa yang membuatmu tertarik padaku? Apa yang membuatmu menginginkanku?”, tanya Taeyeon kesal. “Aku hanyalah gadis yang biasa-biasa saja, tidak populer, tidak cantik. Apa yang bisa kau banggakan dariku, hah? Hanya gadis bertubuh pendek, rabun dan hanya bisa memakai kacamata tebal! Apa yang menarik dariku?!”, bentak Taeyeon lagi. Kini, isakan Taeyeon terdengar makin keras.

Baekhyun mengulum senyumannya. Ia terdiam dan membiarkan Taeyeon tenang terlebih dahulu. “Sudah? Sudah cukup berteriak-teriaknya?”, tanya Baekhyun. Baekhyun memegang kedua pundak Taeyeon. “Dengarkan aku, Kim Taeyeon. Meski kau berpikir bahwa kau tak menarik, kau jelek, kau aneh, atau apapun itu, aku tak peduli. Bagiku, kau adalah gadis tercantik yang pernah kutemui.”, jelas Baekhyun. “Yang membuatmu cantik selama ini adalah karena kau tak pernah menyadari bahwa dirimu cantik. Karena kau bersikap apa adanya, Taeyeon-ah. Kau harus tahu itu.”, lanjut Baekhyun.

Taeyeon menangis semakin keras. Ia tak menyangka kalau selama ini dirinya begitu bodoh karena hanya berpikir bahwa dirinya adalah gadis yang jelek dan tak pantas mendapat pria seperti Baekhyun.

Baekhyun menarik Taeyeon dalam pelukannya, mencoba menenangkan gadis itu.

Namun, tangisan Taeyeon semakin terdengar. Ia menyesal. Amat sangat menyesal. “Mianhae, Baekhyun-ssi. Mianhae.”, ucap Taeyeon di tengah isakannya.

“Gwaenchana, Taeyeon-ah.” Baekhyun mengusap punggung Taeyeon. “Jadi, apa kau bersedia bertunangan denganku?”, bisik Baekhyun.

Taeyeon memukul pelan dada Baekhyun. “Yak! Kau ini mengganggu acara menangisku saja!”, gerutu Taeyeon.

Baekhyu tertawa pelan. “Arra, arra. Menangislah dulu.”, kata Baekhyun.

Taeyeon kembali menangis.

“Tapi, karena kau sudah membasahi jas-ku yang mahal ini, kau harus menggantinya dengan sebuah ciuman, ne?”, goda Baekhyun.

“Yak! Byun Baekhyun!”, bentak Taeyeon kesal.

Sontak, seluruh orang yang berada di ruangan tersebut tertawa melihat tingkah pasangan yang baru memulai kisah cinta mereka itu.

***

EPILOG

In the backstage

“Tak kusangka ide Baekhyun segila ini.”, gumam Chanyeol.

Luhan dan Kris tertawa bersama.

“Dulu saja, dia sering meledek kisah cintaku dengan Jessica. Sekarang, dia malah lebih gila daripada aku.”, celetuk Luhan.

“Semua orang memang bisa gila karena cinta. Semua orang bisa buta karena cinta.”, komentar Chanyeol.

“Sepertinya, aku lebih suka dengan kalimatmu, Luhan.”, kata Kris menimpali.

“Eh? Kalimat yang mana?”, tanya Luhan penasaran.

Kris tersenyum. “Bahwa cinta adalah sebuah misteri.”, jawab Kris.

Ya, cinta memang sebuah misteri. Misteri yang akan selalu menyertai kehidupan kita.

Bukankah benar begitu?

END

***

Gimana nih, FF What Makes You Beautiful ini?

Saya rasa, FF ini agak gagal. (atau malah sangat gagal?)

Rencananya sih, saya mau membuat sequel-nya lagi. Mungkin dengan main cast Kris atau Chanyeol. Tapi, tetap saya pilih berdasar request dari readers, kok. Hohoho~

But as usual, saya minta review dari readers, yaa?

42 thoughts on “[100 Love Songs] What Makes You Beautiful

  1. Sequel thor! >3<
    Suka banget sama FF ini :"
    rencana Baekhyun sadis banget (?)
    Feelnya langsung kerasa sampai hati~
    kyaaa~~ gak sabar nungguin sequelnyaa~
    Request ya thor? ^^ *bow*
    Entar Di sequel berikunya Chanyeol ntar sama YoonA~~ *jarang nemuin ff main castnya mereka :')*
    yayayaa?~
    Kalau gak juga gapapa~
    Fighting thor!'-')9

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s