After She’s Gone Sequel of When You’re Gone (2 of 2)

Title : After She’s Gone

Author : Idwinaya

Cast :

Sehun EXO-K

Seohyun SNSD

Kyuhyun Super Junior

Taemin SHINee

Luhan EXO-M

Jessica SNSD

Key SHINee

Length : Twoshoot

Rating : NC-21

Genre : Romance, Family, Friendship, Sad, Marriage Life

Author Note : Diluar dugaan saya, ternyata FF ini amat sangat panjang. FF ini terdiri atas 9000-an kata.  Tapi, karena saya sudah terlanjur menyampaikan kepada readers bahwa FF ini saya jadikan twoshoot, akhirnya chap. 2-nya jadi lebih panjang dari dugaan. Jadi, maaf kalau akhirnya, cerita ini membuat readers jenuh.

FF ini mengandung unsur NC-21. Part NC-21-nya sengaja saya tulis dengan warna merah. Jadi, bagi readers yang memang tidak berniat membacanya, mohon lewati saja bagian itu. Author sudah memperingatkan hal ini pada readers. Jadi, jika readers tetap ingin membacanya, author tidak akan bertanggung jawab atas apapun yang akan terjadi pada readers selanjutnya ^^

***

TOK! TOK! TOK!

Sehun mendongakkan kepalanya, menatap ke arah pintu kamarnya—dirinya dan Seohyun. Ia pun bangkit dari duduknya di atas ranjang dan melangkah malas ke arah pintu untuk membukanya.

CKLEK!

Tampak seorang gadis berambut panjang terurai yang tengah tersenyum ke arahnya. Wajahnya nampak sedikit kusut, namun tetap tidak mengurangi kecantikannya. Ia juga masih mengenakan celemek, tanda bahwa ia baru saja memasak.

“Makan malamnya sudah siap, Sehun-ssi.”, ucap gadis itu—Lee Seohyun.

“Ne. Gomawo, Seohyun-ssi.”, balas Sehun. “Aku akan segera turun.”, lanjutnya.

Seohyun tersenyum senang. “Arrasseo. Aku menunggumu di bawah, Sehun-ssi.”, balas Seohyun, lalu melangkah pergi, menuruni tangga menuju ke lantai bawah rumah Sehun itu.

Sehun menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ke arah lemari pakaiannya. Namun, ia berhenti sejenak, ketika melihat ke arah sebuah foto pernikahan—pernikahannya dengan Lee Seohyun.

Sehun termenung. ‘Apakah jalan yang kuambil ini sudah tepat?’, batinnya dalam hati.

***

Seohyun tak bisa melepaskan tatapannya dari sosok Sehun yang sedang menikmati makanan yang dimasaknya. Raut wajah Seohyun sulit diartikan. Antara senang, cemas, dan ragu. Bahkan, ia sendiri, tak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Ia penasaran dengan komentar Sehun mengenai makanan yang baru dimasaknya.

“Kenapa kau memandangiku terus?”, tanya Sehun, tiba-tiba, membuyarkan lamunan Seohyun.

“Eh?” Seohyun menunjukkan wajah linglung-nya. “Kau bicara padaku, Sehun-ssi?”

Sehun tertawa kecil, lalu meletakkan sendok dan garpunya. “Ya.”

Seohyun merasa dadanya berdesir saat melihat Sehun tersenyum seperti itu. Selama 3 bulan mengenal Sehun, Seohyun sama sekali belum pernah melihat senyuman Sehun yang begitu tulus seperti itu.

“Kenapa kau memandangiku terus? Ada yang salah dengan cara makanku?”, tanya Sehun lagi.

Seohyun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. ‘Tidak juga.”, balas Seohyun sambil menundukkan kepalanya.

“Lalu?”

“Aku senang melihatmu.”, jawab Seohyun, spontan.

Sehun melongo mendengar jawaban Seohyun.

Seohyun yang terkejut akan ucapan yang meluncur dari bibirnya itu pun, langsung menutup mulutnya. Wajahnya begitu memerah, karena menahan malu.

Sementara itu, Sehun juga nampak salah tingkah dengan kejadian canggung—yang mungkin baru terjadi untuk pertama kalinya semenjak mereka tinggal bersama—itu.

Neoui sesangeuro yeorin barameul tago

Ne gyeoteuro eodieseo wannyago

Haemkarge mutneun nege bimirira malhaesseo

Manyang idaero hamkka georeumyeon

Eodideun cheongugilteni

Tiba-tiba saja, sebuah lagu mengalun dengan indahnya.

Sehun yang mengenali alunan lagu tersebut sebagai dering ponselnya pun langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. “Yoboseyo?”, sapa Sehun, ketika ia sudah menempelkan ponselnya ke telinganya.

Sementara itu, Seohyun masih sibuk menyembunyikan wajahnya yang memerah itu, sambil mendengarkan pembicaraan Sehun di telepon.

“Ah, kau. Ada apa?”, tanya Sehun, sambil melirik ke arah Seohyun sekilas. “Aku tidak sibuk, kok.”, kata Sehun. “Oh, baiklah. Dimana?”, tanya Sehun. “Oke. Tunggu aku disana, ya?” Sehun pun memutuskan sambungan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lagi.

Seohyun mendongakkan kepalanya, ketika menyadari bahwa Sehun sudah mengakhiri sambungan teleponnya. “Kau akan pergi, ya?”, tebak Seohyun.

“Begitulah.”, balas Sehun, nampak masih salah tingkah karena kejadian tadi. Sehun pun bangkit dari duduknya. “Kalau begitu, aku pergi dulu, ya?”, pamit Sehun.

“Ne.”, balas Seohyun.

“Jagalah rumah dengan baik. Kau tak perlu menungguku. Tidurlah dulu.”, pesan Sehun, sambil menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja ruang tengah.

Seohyun berjalan mengikuti Sehun. “Ne.”, jawab Seohyun patuh.

Saat hendak membuka pintu rumahnya, Sehun mendadak terhenti. Ia pun membalik badannya dan menghadap ke arah Seohyun.

Seohyun mengerutkan keningnya, bingung. “Kenapa? Ada yang tertinggal?”, tanya Seohyun.

Tiba-tiba saja, Sehun justru menarik tubuh ramping Seohyun ke dalam dekapannya dan mengelus punggung gadis yang sudah menjadi istrinya itu. “Aku pergi. Annyeong.”, kata Sehun, lagi. Tapi kali ini, Sehun membubuhkan satu hal. Ia mengecup puncak kepala Seohyun dengan lembut.

Dan hal itu, sukses membuat kedua pipi Seohyun memerah seperti kepiting rebus. “N-ne.”

Sehun pun melepaskan pelukannya pada tubuh Seohyun dan kembali membuka pintu utama rumahnya. Sehun melangkah keluar rumahnya dengan pasti, menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman depan.

Sementara itu, Seohyun terus memandangi sosok Sehun yang semakin menjauh. Rasanya, ia sudah tak sanggup lagi melihat pemuda itu. Jadi, Seohyun pun memilih untuk segera menutup pintu tersebut dan menguncinya dari dalam.

Seohyun membalik tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada pintu. Dibiarkannya tubuhnya itu merosot sampai ke lantai. Ia merasa, seluruh anggota tubuhnya melemas saat itu juga.

Seohyun masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Sehun padanya. Tiga bulan, Seohyun mengenal Sehun dan dua bulan, Seohyun menikah dengan Sehun, tapi ia belum pernah mendapat perlakuan semacam itu dari Sehun.

Bahkan, selama dua bulan itu pula, mereka sama sekali belum melakukan hubungan suami istri, meski mereka tidur di ranjang yang sama. Selama ini, sentuhan paling maksimal yang diberikan oleh Sehun adalah gandengan tangan.

Tapi, kenapa tadi, Sehun sampai memeluknya, bahkan mencium puncak kepalanya? Apakah ini pertanda bahwa hubungan mereka sudah semakin meningkat?

O-oh. Seohyun belum pernah memikirkan hal ini.

Saat Seohyun menerima ajakan menikah Sehun, hanya ada satu hal yang ada dalam pikirannya. ‘Aku harus membuktikan pada Kyuhyun bahwa aku bisa mendapat penggantinya.’

Yeah. Sebelum ini, Seohyun pernah menjalin hubungan dengan sosok Cho Kyuhyun. Jalinan asmara mereka cukup kuat, bahkan nyaris berakhir di pelaminan. Namun pada akhirnya, Kyuhyun justru ketahuan selingkuh di balik Seohyun. Dan hal itu, membuat Seohyun merasa sakit hati.

Sejak saat itu, Seohyun merasa hidupnya sudah tidak berarti. Ia begitu terpuruk. Namun, ia masih memiliki sosok Taemin dan teman-temannya yang masih setia menyemangatinya. Jadi, ia pun semangat menjalani hidup ini, dengan atau tanpa Kyuhyun.

Meski begitu, Seohyun merasa ada bagian dari dalam dirinya yang menginginkan pembalasan dendam pada Kyuhyun. Ia ingin membuktikan pada Kyuhyun bahwa dirinya bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Kyuhyun.

Dan akhirnya, datanglah sosok Oh Sehun ke dalam hidupnya.

Oh Sehun—salah satu pengunjung café-nya—yang tiba-tiba saja, mengajaknya untuk menikah, walau mereka belum saling mengenal. Dan karena ambisi tadi, Seohyun pun bersedia saja untuk menikah dengan pria yang baru saja dikenalnya itu.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk saling mengenal satu sama lain selama sebulan, sebelum memutuskan untuk menikah.

Lagi-lagi, saat yakin akan menikah dengan Sehun, pikiran Seohyun hanya dipenuhi dengan rencana balas dendamnya pada Kyuhyun. Bahkan, ia tak memedulikan perasaan Sehun padanya. Ia sama sekali tak tahu, apa alasan Sehun menikahinya.

Awalnya, Seohyun khawatir kalau Sehun benar-benar jatuh cinta padanya. Sementara, ia tak bisa membalas perasaan namja itu. Namun, sejak awal, Sehun bersikap dingin padanya. Buktinya, Sehun jarang sekali berbincang serius dengannya atau melakukan kontak fisik dengannya. Entah atas alasan apa, Sehun seperti begitu menjaga jarak dengannya.

Namun, hari ini terasa begitu berbeda. Sehun bersikap ramah padanya. Mengajaknya berbincang, walau lebih terkesan sedang menggodanya. Tersenyum padanya. Bahkan, Sehun juga memeluknya dan mencium kepalanya, sebelum ia pergi. Padahal biasanya, Sehun hanya berpamitan dari kejauhan, sehingga ia harus berteriak. Ini adalah yang pertama kali bagi Seohyun.

Seohyun resah. Bagaimana kalau seandainya, Sehun telah benar-benar jatuh cinta padanya? Apakah Seohyun siap membalas cinta namja itu? Ataukah, justru dialah yang terlebih dahulu jatuh cinta pada pesona Oh Sehun?

Oh, tidak. Seohyun tak siap jika harus mengalami kejadian seperti yang dialaminya dengan Kyuhyun. Ia tak sanggup jika cintanya tak terbalaskan untuk yang kedua kalinya.

Fiuh~

Rasanya, Seohyun tak bisa menepati janjinya pada Sehun. Sepertinya, ia tak bisa tidur malam ini.

***

“Annyeong, Hyung.”

Sehun tersenyum ke arah namja manis yang tengah duduk di salah satu kursi di sebuah restoran mewah. “Annyeong, Taemin-ah.”, balas Sehun pada Taemin—namja manis yang merupakan adik iparnya. “Ada apa, Taemin-ah? Tumben sekali, kau mengajakku bertemu.”

Taemin tersenyum—seperti milik Seohyun. “Hyung tak ingat hari ini hari apa?”

“Eh?” Sehun mengerutkan keningnya, lalu duduk di salah satu kursi, berhadapan dengan Taemin. “Hari Selasa?”, tebak Sehun.

Taemin mendengus sebal—persis seperti yang dilakukan Seohyun. “Aish, Hyung! Kau lupa, ya?”, tanya Taemin kesal.

“Mianhae, Taemin. Tapi, aku tak paham dengan apa yang kau maksud.”, balas Sehun, terdengar begitu bersalah.

Taemin mengerucutkan bibirnya—yang membuat dirinya semakin mirip dengan Seohyun. “Hari ini tepat 2 bulan Hyung dan Seohyun Noona menikah!”, seru Taemin.

Sehun mengingat-ingat tanggal hari ini. “Ah, iya! Kenapa aku bisa lupa, ya?”, seru Sehun.

Taemin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hyung ini bagaimana, sih?”, gumam Taemin.

“Memangnya, kenapa kalau hari ini tepat 2 bulan kami menikah?”, tanya Sehun penasaran dengan tujuan Taemin mengajaknya bertemu malam itu.

Taemin mendengus. “Tentu saja, kita harus mengadakan perayaan!”, seru Taemin.

Sehun berdecak. “Kau ini, ada-ada saja, Taemin-ah.” Kali ini, Sehun yang menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah mendengar alasan Taemin. “Jadi, itu alasannya, kenapa kau mengajakku makan malam di restoran mewah seperti ini? Apa ini bukan pemborosan namanya?”, tanya Sehun.

“Bukan boros namanya, kalau aku melakukannya untuk Noona dan Hyung-ku.”, balas Taemin santai.

“O-oh.” Sehun hanya mengangguk. “Tapi, kenapa kau malah melarangku mengajak Noona-mu? Bukankah dia akan sangat senang kalau ditraktir di restoran mewah seperti ini?”, tanya Sehun.

“Itulah masalahnya, Hyung!”, seru Taemin. “Noona sangat rakus. Makanya, pada perayaan pertama sebulan yang lalu, aku hanya mentraktirnya makan di kedai ramen.”, tutur Taemin. “Kalau aku mengajaknya makan di restoran mewah seperti ini, bisa-bisa gajiku habis dalam semalam.”, keluh Taemin.

Sehun tertawa pelan mendengar penuturan Taemin tentang kejelekan Noona-nya itu. “Memangnya, kau bisa jamin kalau aku tidak akan serakus Noona-mu?”, tanya Sehun, berusaha menggoda Taemin.

“Ah, itu sih, gampang saja!” Taemin nampak tak gentar dengan godaan Sehun. “Serakus apapun Sehun Hyung, aku yakin kalau Hyung tidak akan tega membiarkanku membayar semua makanan itu.”, tutur Taemin.

“Ish, kau ini!” Sehun sama sekali tak menyangka, kalau bahkan, cara berpikir Lee bersaudara itu sangatlah mirip.

“Apakah Anda sudah siap untuk memesan sesuatu?” Tiba-tiba saja, seorang pelayan muncul sambil membawa sebuah buku menu dan notes kecil. Taemin dan Sehun sepakat untuk memesan makanan terlebih dahulu dan mulai melanjutkan pembicaraan mereka.

“Kenapa tidak pesan yang banyak, Hyung? Kutraktir, lho.”, tegas Taemin.

“Aku baru saja makan malam, Taemin-ah.”, jelas Sehun.

“O-oh. Masakan siapa yang kau makan, Hyung?”, tanya Taemin dengan nada setengah menyindiri. Kalau saja, Seohyun ada disana, pasti sudah terjadi perang antara kakak-beradik itu.

“Tentu saja masakan Noona-mu. Siapa lagi?”, balas Sehun enteng.

“Mwo? Seohyun Noona memasak untukmu?”, tanya Taemin, sambil membulatkan kedua matanya, tak percaya. “Pantas saja, akhir-akhir ini, Seohyun Noona bersikap seperti itu.”, gumam Taemin sambil mengusap-usap dagunya.

“Apa, Taemin-ah?”, tanya Sehun, mencoba meminta kejelasan atas gumaman Taemin.

“Hm, pantas saja, akhir-akhir ini, Seohyun Noona sering merecoki Key Hyung. Katanya, dia ingin belajar memasak.”, jelas Taemin. “Ternyata, ini maksudnya, ya?” Tiba-tiba, sebuah senyuman terukir di wajah imut Taemin.

Sementara itu, Sehun sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tak habis pikir, kalau Seohyun sampai harus belajar memasak. Namun, Sehun tak ingin berharap berlebihan, kalau Seohyun belajar memasak demi menyenangkan hatinya. Bisa saja kan, Seohyun punya alasan lain? Namun, Sehun bisa menjadi alasan terkuat dalam kasus ini. Ah, entahlah. Sehun tak ingin berharap terlalu jauh.

“Hm, kurasa, kalian adalah pasangan yang amat serasi.”, gumam Taemin yang sukses membuyarkan lamunan Sehun.

“Eh?”

“Yah, kupikir, Seohyun Noona hanya menjadikan Sehun Hyung sebagai pelariannya.”, balas Taemin.

Sehun melengos setelah mendengar pernyataan Taemin. “P-pelarian?”

Taemin melongo. “Ah, ya ampun! Kenapa aku bisa keceplosan mengatakan hal itu, sih? Taemin pabbo! Pabbo!”, rutuk Taemin pada dirinya sendiri.

“Pelarian apa, Taemin-ah?”, tanya Sehun, sambil mencengkram lengan kanan Taemin dengan cukup kuat.

Taemin ketakutan dan tak berani menatap wajah kakak iparnya itu. “Sebelum menikah denganmu, Seohyun Noona sempat terpuruk.”, jelas Taemin cepat.

Sehun segera melepaskan cengkramannya. “Apa maksudmu? Selama ini, Seohyun tak pernah terlihat terpuruk.”, tegas Sehun, tak setuju dengan pernyataan Taemin.

“Itu karena dia telah hidup bersamamu, Hyung.”, jawab Taemin tulus.

Entah kenapa, Sehun merasa jiwanya begitu tentram dan damai ketika mendengar jawaban Taemin itu. Namun, ada bagian dalam dirinya yang masih penasaran dengan masa lalu Seohyun.

“Seohyun Noona pernah menjalin hubungan dengan seorang namja bernama Cho Kyuhyun cukup lama.”, jelas Taemin, tanpa diminta. Kepalanya masih tertunduk, tak berani menatap Sehun. “Tapi, namja brengsek itu justru mencampakkan Seohyun Noona demi yeoja lain.”, lanjutnya. “Itulah yang membuat Seohyun Noona terpuruk.”

Sehun mencelos. Ia tak pernah tahu dengan masa lalu Seohyun. Percuma saja, sempat mengenal Seohyun selama sebulan—sebelum memastikan untuk menikah—kalau mengenai kisah cinta Seohyun saja, ia tak tahu. Apalagi, Sehun juga tidak pernah memikirkan perasaannya pada gadis itu. Bahkan, Sehun tak pernah peduli kalau saja, Seohyun jatuh cinta padanya. Saat itu, yang ada di pikirannya adalah untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari berbagai tuntutan agar dia segera bangkit setelah kematian istrinya. Dan baginya, menikahi sosok Lee Seohyun—yang mirip dengan Seo Joohyun—jauh lebih mudah. Setidaknya, Sehun bisa mengenang istrinya yang sudah meninggal itu.

“Aku senang melihatmu.”

Sehun teringat perkataan Seohyun saat makan malam tadi. Apakah itu pertanda bahwa Seohyun menyukainya? Apakah Seohyun sudah jatuh cinta padanya?

“Tapi, itu semua hanyalah masa lalu, Hyung.”, kata Taemin mantap. “Yang ada sekarang, adalah Seohyun Noona dengan Hyung. Tak ada lagi yang lainnya.”, imbuhnya.

“Apa kau yakin kalau Seohyun sudah berubah semenjak bersamaku?”, tanya Sehun, ragu. Entah kenapa, ia jadi penasaran dengan perasaan gadis itu.

“Tentu saja, Hyung!”, seru Taemin. “Jadi, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, Hyung.”, ucap Taemin.

Sehun mengerutkan keningnya. “Untuk apa?”

“Terima kasih karena telah mencintainya.”, jawab Taemin tulus.

Sehun merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia tak menyangka kalau Taemin menganggap bahwa Sehun mencintai Seohyun dengan tulus. Tapi, apakah memang seperti itu kelihatannya? Seolah, Sehun begitu mencintai Seohyun?

Sehun tak bisa meremehkan penilaian Taemin begitu saja. Meski masih muda, Sehun tahu, kalau Taemin pandai menilai seseorang. Dan bisa jadi, penilaian Taemin tadi ada benarnya. Bahwa dirinya telah mencintai Seohyun.

Tapi, bukan hal seperti ini yang dia inginkan. Sama sekali bukan.

Sehun menatap ke arah Taemin. “Ada satu hal yang perlu kau ketahui, Taemin-ah.”, kata Sehun dengan nada memperingatkan. Tiba-tiba saja, raut wajah Sehun menjadi sendu. “Kadang, aku tak seperti yang kau bayangkan.”

***

CKLEK!

Sehun melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ia sedikit terkejut, ketika menyadari bahwa lampu-lampu di dalam rumahnya masih menyala dengan terang. Matanya melihat ke sekeliling.

Sehun semakin kaget ketika mendapati seseorang yang tengah terduduk di atas lantai dengan punggung yang disandarkan pada pintu sambil memeluk kaki-kakinya. Sehun pun berjongkok di samping orang itu.

“S-seohyun?” Sehun terkejut ketika menyadari bahwa orang itu adalah Lee Seohyun—istrinya sendiri. Sehun menyibakkan poni yang menutupi separuh wajah Seohyun. “Kenapa kau tertidur disini?”, gumam Sehun, lalu berusaha mengangkat tubuh Seohyun.

Sehun pun menggendong Seohyun ala bridal style ke kamar mereka. Selama perjalanan menuju kamarnya, Sehun terus memperhatikan setiap lekuk wajah istrinya itu.

Sebelumnya, Sehun melihat wajah Seohyun yang terlihat begitu manis, lucu dan malah terkesan seperti anak kecil. Tapi, baru kali ini, Sehun menyadari bahwa Seohyun memiliki wajah yang begitu

damai bagaikan malaikat. Wajahnya begitu menentramkan hatinya yang saat itu sedang gundah karena pembicaraan yang ia lakukan dengan Taemin.

Ah! Sudah cukup! Sehun merasa dirinya tak boleh jatuh semakin jauh pada pesona gadis itu. Ia tak ingin menderita seperti dulu. Ia tak ingin mengalami kejadian seperti yang pernah ia alami dengan Seo Joohyun.

Namun sesungguhnya, baginya saat ini, perasaan Lee Seohyun jauh lebih penting dari perasaan siapapun. Bahkan dari perasaannya sendiri. Ia tak ingin kalau Seohyun harus menderita untuk yang kedua kalinya. Ia tak ingin memberikan harapan yang begitu besar pada Seohyun dan terpuruk untuk yang kedua kalinya.

Yeah. Sehun rasa, akan lebih baik jika mulai saat ini, Sehun harus menjaga jarak dengan Seohyun.

Sehun sudah tiba di kamarnya dan segera menempatkan Seohyun di atas ranjang. Sekali lagi, Sehun menatap wajah damai Seohyun, lalu membelainya dengan lembut. “Mianhae, Seohyun-ah. Mianhae.”

***

“Nggh.”

Seohyun menggeliat pelan di atas ranjang, lalu mengucek matanya perlahan. Ia mulai membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata. “Lho? Bagaimana aku bisa disini?”, tanya Seohyun heran, ketika menyadari bahwa ia sedang terbaring di atas ranjangnya yang empuk dan nyaman, bukannya lantai yang keras dan dingin.

CKLEK!

Seohyun mendongak dan mendapati Sehun dengan pakaian kerjanya keluar dari dalam kamar mandi. “Annyeong.”, sapa Seohyun canggung.

Sementara itu, Sehun hanya membalasnya dengan senyuman kilat. Sehun melangkah ke arah lemarinya untuk mengambil dasi. “Kenapa kau tidur di dekat pintu semalam?”, tanya Sehun sambil memasang dasinya, tanpa menatap ke arah Seohyun.

Seohyun nampak salah tingkah, setelah mengetahui kalau Sehun memergokinya tidur di dekat pintu. “Sedang merenungi sesuatu. Tak sengaja, aku tertidur disana.”, jawab Seohyun.

“O-oh.” Sehun menutup lemari dan membalik badannya, menghadap Seohyun. “Lain kali, jangan begitu lagi. Kau bisa sakit.”, kata Sehun memperingatkan.

“N-ne.”, jawab Seohyun, takut-takut.

“Kurasa, aku akan pulang larut hari ini. Jadi, kau tak perlu membuat makan malam untukku atau menungguku. Kau bisa istirahat dulu. Gwaenchana?”, tanya Sehun.

“G-gwaenchana.”, jawab Seohyun, masih terdengar ketakutan.

“Baiklah, kalau begitu.” Sehun mendekat ke arah sofa untuk mengambil jas kerjanya. “Aku pergi dulu. Annyeong.”, pamit Sehun, lalu melangkah keluar dari kamar tersebut.

Sementara itu, Seohyun masih terduduk di atas ranjang. Ia merasa hatinya semakin bingung dan gundah. “Kenapa kau bersikap dingin lagi, Sehun-ah? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

***

“Seohyun Noona!”

Seohyun mendongakkan kepalanya, sambil terus melangkah gontai ke arah Taemin yang sedang memakai celemek dan memasang tampang riangnya. “Ada apa?”, tanya Seohyun malas.

“Yak, Noona! Jangan lemas begitu!”, seru Taemin mengingatkan, lalu berjalan mendekati Noona-nya itu. “Ada apa sih, Noona? Padahal, kemarin kan tepat 2 bulan Noona dan Sehun Hyung menikah.”, tanya Taemin heran. “Ah, aku tahu! Kalian pasti baru saja melakukan ‘itu’, ya?”, tebak Taemin asal, yang langsung mendapat jitakan dari Seohyun.

PLETAK!

“Appo, Noona!”, rintih Taemin sambil mengusap kepalanya sendiri.

“Yak! Siapa yang mengajarimu untuk berpikiran yadong seperti itu?”, seru Seohyun kesal, lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi di café-nya.

Taemin meringis. “Bukannya begitu, Noona. Kemarin, aku sempat bercanda tentang hal itu dengan Sehun Hyung.”, tutur Taemin, yang ikut duduk di hadapan Seohyun.

“Eh? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?”, tanya Seohyun heran.

“Aku sedang melakukan perayaan 2 bulan pernikahan kalian, Noona.”, jawab Taemin, sambil memasang wajah tak berdosanya.

“Yak! Kau merayakannya dengan Sehun saja? Jadi, semalam itu, Sehun pergi denganmu?”, tanya Seohyun dengan berteriak-teriak, ketika menyadari sesuatu.

“Iya.” Taemin terkekeh pelan.

“Jahat sekali, sih.” Seohyun mengerucutkan bibirnya. “Jangan-jangan…” Seohyun mengusap dagunya, sambil berpikir keras.

“Ada apa, Noona?”, tanya Taemin penasaran.

“Pasti, kau mengatakan yang macam-macam pada Sehun, ya?”, tuduh Seohyun sambil menunjuk wajah Taemin dan menyipitkan matanya.

“Eh? Yang macam-macam bagaimana, sih?”, tanya Taemin polos.

Seohyun menggembungkan pipinya, lalu memalingkan wajahnya.

“Sebenarnya, ada apa sih, Noona?”, tanya Taemin, masih penasaran. “Noona bertengkar dengan Sehun Hyung, ya?”, tebak Taemin.

“Iya.”, jawab Seohyun malas, lalu terduduk di salah satu kursi di café-nya. Pikirannya masih melayang kemana-mana, sehingga sesungguhnya ia tak terlalu terfokus pada pertanyaan Taemin. “Eh, tidak, kok!”, seru Seohyun cepat.

Taemin mengerutkan keningnya, mendengar ucapan Seohyun.

“Ah, kurasa begitu.”, lanjut Seohyun lagi. “Ah, tidak! Tidak begitu!”, serunya, seolah sedang berargumen dengan dirinya sendiri.

Taemin jadi semakin bingung dengan tingkah Noona-nya itu. “Noona ini bagaimana, sih?” Taemin mendecak sebal.

“Taemin-ah!” Terdengar suara yang memanggil nama Taemin.

Seohyun dan Taemin sama-sama mencari sumber suara tersebut.

“Taemin-ah!”, panggil suara itu lagi.

Muncullah seorang namja enerjik dari dalam dapur.

“Ada apa, Hyung?”, tanya Taemin, sambil bangkit dari duduknya.

“Beberapa bahan makanan habis. Tolong belikan, ya?”, pinta namja enerjik itu, sambil menyodorkan secarik kertas yang berisi daftar belanjaan.

Taemin mengambil kertas tersebut dan membacanya sepintas. “Arrasseo, Key Hyung!”, seru Taemin, lalu bersiap berangkat untuk membeli bahan makanan seperti yang diminta oleh si namja enerjik—Key.

“Eh, aku ikut, ya?”, mohon Seohyun pada Taemin, sambil menarik-narik lengan baju namdongsaengnya itu.

“Aniyo!”, seru Taemin tegas.

“Wae?”, protes Seohyun.

“Aku bisa mengerti apa yang baru saja terjadi semalam kok, Noona. Jadi, Noona lebih baik istirahat saja. Jangan banyak bergerak.”, tutur Taemin, sambil mengelus punggung tangan Seohyun dengan lembut. Matanya mengerling ke arah Seohyun.

Hal itu membuat Seohyun bergidik ngeri. “Yak! Kau ini bicara apa, sih? Dasar dongsaeng berotak yadong!”, seru Seohyun sambil berdiri.

Karena tak ingin mendapat omelan panjang dari Seohyun, Taemin pun segera berlari keluar café tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.

Sementara itu, Key hanya menggelengkan kepalanya karena tak paham dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua kakak-beradik itu. “Mereka ini bicara apa, sih?”, gumam Key, lalu mengangkat kedua bahunya. “Aku masuk dulu ya, Noona?”, pamit Key, yang kemudian berlalu ke dalam dapur.

Seohyun hanya membalasnya dengan anggukan, sambil menggembungkan kedua pipinya karena diledek oleh Taemin. Seohyun terduduk lagi di atas kursi, lalu mengelap keringat yang menetes dari dahinya.

Tiba-tiba saja, ucapan Taemin terlintas di pikirannya.

‘Bagaimana, kalau aku melakukan ‘itu’ dengan Sehun-ssi, ya?’, batin Seohyun dalam hati. ‘Aish! Ada apa denganmu, Lee Seohyun? Kenapa kau juga berotak yadong seperti dongsaengmu itu?’ Seohyun menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak pikiran kotor yang sempat melintas di otaknya.

Ima time machine ni norikonde

Anatani ai ni iku

Kotoga dekita nara

Dering ponsel Seohyun—tanda bahwa ada sebuah panggilan—mengalun lembut. Seohyun segera merogoh ke dalam tas jinjingnya untuk mengambil ponselnya. Ditekannya tombol ‘Answer’ dan segera ditempelkan ke telinga. “Yoboseyo?”, sapa Seohyun.

“Seohyun-ah.”, panggil sebuah suara di seberang sana.

Seohyun merasa tak asing lagi dengan suara tersebut. Suara yang sempat mengisi hari-harinya selama beberapa tahun belakangan ini. “Kyuhyun Oppa?”

***

“Kau pasti bahagia bersamanya.”

Seohyun mendongakkan kepalanya, menatap ke arah namja tampan itu—Cho Kyuhyun. “Begitulah. Sejauh ini, kami baik-baik saja, kok.”, respons Seohyun sambil mengaduk-aduk latte yang dipesannya.

“Dia adalah namja yang sangat beruntung.”, kata Kyuhyun—lebih tepatnya menggumam—sambil menatap ke arah jalanan di depan sebuah restoran sederhana.

“Apa?” Seohyun meminta Kyuhyun memperjelas ucapannya.

“Oh Sehun adalah namja yang sangat beruntung.”, jelas Kyuhyun lagi.

“Eh? Kenapa begitu?”, tanya Seohyun heran, sambil mengerutkan keningnya.

“Tentu saja!”, seru Kyuhyun. “Ia sudah berhasil mendapatkan gadis sepertimu. Gadis yang baik dan menyenangkan.”, lanjutnya. “Gadis yang pernah singgah di hatiku.”, imbuh Kyuhyun, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

Namun, tak cukup pelan, karena Seohyun bisa menangkap jelas ucapan itu. Ia merasa ada sebersit penyesalan dalam nada bicara Kyuhyun. Apakah Kyuhyun menyesal karena telah mengkhianatinya? Ah, masa bodoh! Seohyun tak peduli dengan hal itu. “Ngomong-ngomong, kau masih dengan Sooyoung Eonni, Oppa?”, tanya Seohyun mencoba menstabilkan suasana.

“Tidak. Kami sudah berpisah.”, jawab Kyuhyun, sambil menundukkan kepalanya. “Aku menyesal, Seohyun-ah. Aku menyesal karena telah meninggalkanmu demi Sooyoung.”, kata Kyuhyun, kali ini menatap Seohyun.

Seohyun bingung harus mersepons seperti apa. “Gwaenchana, Oppa. Aku bisa menerima hal itu, kok.”, jawab Seohyun tulus. Entah kenapa, ia bisa begitu lega saat mengucapkannya. Rasanya, bukan karena ia telah membuat Kyuhyun menyesal atas perbuatannya. Ada sesuatu yang lain yang selalu membuat hatinya tenang. Tapi, Seohyun belum tahu hal itu.

Kyuhyun mendesah berat. “Syukurlah, kalau begitu. Berarti, Sehun sudah menjaga hatimu dengan baik.”, kata Kyuhyun.

Seohyun mendadak teringat dengan suaminya itu. Apakah Sehun yang sudah berhasil membuat dirinya lupa akan balas dendamnya pada Kyuhyun?

“Aku harap, dia tak akan menyia-nyiakanmu, Seohyun-ah.”, harap Kyuhyun.

Entah kenapa, ada bagian dari hati Seohyun yang ikut mengamini ucapan Kyuhyun itu. Tapi sekali lagi, Seohyun tak tahu mengapa.

“Meski begitu, aku akan selalu siap untuk menjadi tempatmu untuk bercerita.”, timpal Kyuhyun.

Seohyun hanya membalasnya dengan senyuman manis. Ia tak terlalu memikirkan tentang ucapan Kyuhyun itu. Ia tak merasa bahagia karena telah diperhatikan oleh Kyuhyun—mantan kekasihnya itu. Ia hanya merasa senang karena ada seseorang yang masih memperhatikannya.

Yeah. Sekarang, Kyuhyun menempati seperempat bagian dari hatinya.

Kenapa seperempat?

Karena tiga perempat bagian sisanya sudah Seohyun berikan untuk Sehun.

***

Seohyun terduduk di atas sofa sambil memutar-mutar ponsel yang ada di tangannya. Ia merasa kesepian. Amat sangat kesepian. Padahal, sebelumnya, ia sudah terbiasa untuk tinggal sendiri. Namun, malam ini terasa begitu berbeda.

Sehun sudah ijin padanya untuk pulang larut hari ini. Dan Seohyun merasa bahwa dirinya akan baik-baik saja, meskipun Sehun pulang telat. Karena sebelumnya, Sehun pun sempat beberapa kali pulang telat dan saat itu, Seohyun tak pernah merasa kesepian seperti sekarang.

Seohyun melirik ke arah ponselnya. Seohyun sedikit berharap agar Sehun meneleponnya untuk sekedar menanyakan kabarnya. Namun, sudah sekian lama Seohyun menanti, Sehun tetap tak kunjung menghubunginya.

Sebagian hatinya memintanya untuk langsung menelepon Sehun. Tapi, apa yang harus ia katakan, jika ia sudah menelepon Sehun? Menanyakan kapan Sehun pulang? Memastikan bahwa namja itu sudah makan malam? Menyampaikan pesan agar Sehun berhati-hati?

Ah, masa bodoh dengan apa yang akan ia katakan. Toh, Seohyun tetap memencet nomor telepon Sehun dan menghubunginya.

Terdengar nada sambung. Rasanya, Seohyun ingin menahan nafas. Ia merasa begitu gugup saat menelepon suaminya itu.

“Yoboseyo?” Terdengar sebuah suara—suara Sehun—di seberang sana.

“S-sehun-ssi.”, panggil Seohyun dengan suara yang bergetar.

“Oh, Seohyun-ssi? Ada apa?”, tanya Sehun dengan nada ramah.

“Mm, aku… Aku…” Seohyun bingung harus mengucapkan apa. “A-apa aku mengganggumu?”, tanya Seohyun, akhirnya.

Sehun terdiam sejenak. “Tidak juga. Memangnya, ada apa?”, tanya Sehun sekali lagi.

“A-aku merasa kesepian.”, jawab Seohyun spontan.

“Kesepian?”, tanya Sehun heran.

Seohyun langsung merutuki dirinya sendiri karena mengatakan hal yang menurutnya aneh. “E-eh. Bukan begitu maksudku.”, sela Seohyun cepat.

“Lalu?”

Seohyun menggigiti kukunya sendiri, karena cemas. “Mianhae, Sehun-ssi. Aku harus menyelamatkan masakanku sebelum hangus. Mian kalau aku sudah mengganggumu.”, kata Seohyun cepat. “Jaga dirimu baik-baik, Sehun-ssi. Annyeong.” Seohyun langsung memutuskan sambungan telelponnya karena tak ingin diinterogasi lebih lanjut oleh Sehun.

Ya! Mau ditaruh mana wajah Seohyun kalau ia gugup seperti itu setiap diajak berbincang oleh Sehun?

Ah~ Apakah hal semacam ini bisa disebut cinta? Apakah Seohyun benar-benar sudah jatuh cinta pada Oh Sehun?

***

KLIK!

Sehun memandang heran ke arah ponselnya sendiri, karena sambungan teleponnya dengan Seohyun mendadak diputus. Sehun hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah istrinya itu.

“Dari istrimu, Sehun-ah?”, tebak Jessica yang sedang duduk di hadapan Sehun beserta suaminya—Luhan.

Sehun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman simpul, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas-nya.

“Sepertinya, kalian belum sempat berbincang apapun.”, duga Luhan.

Sehun terkekeh. “Begitulah.”, balas Sehun santai.

“Lalu, untuk apa istrimu meneleponmu?”, tanya Jessica bingung.

“Entahlah. Kadang, Seohyun memang bersikap aneh seperti itu. Aku juga heran, kenapa dia bisa seperti itu.”, jelas Sehun.

Jawaban Sehun itu mengundang tawa dari Luhan dan Jessica. Sementara itu, Sehun hanya mengerutkan keningnya bingung ketika melihat Hyung dan Noona-nya itu justru tertawa.

“Kalian, pengantin baru, lucu sekali, ya?”, kata Luhan masih diselingi tawa. “Kurasa, aku dan Jessica tidak seperti itu dulu.”

“Benar. Kami malah terkesan sangat romantis.”, timpal Jessica. “Tapi, lihatlah kalian! Kalian seperti sepasang remaja yang baru saja berpacaran. Sangat lucu dan manis.”, imbuhnya.

Sehun mendengus. “Kalian ingin memujiku atau meledekku, sih?”

“Tentu saja, kami memuji kalian. Gaya kalian sangat unik dan tidak dimiliki oleh banyak pasangan lainnya.”, tegas Jessica.

Sehun pun memikirkan apa yang dikatakan Luhan dan Jessica. Apakah apa yang mereka katakan itu ada benarnya? Apakah dia dan Seohyun terlihat sangat serasi dan unik?

Dan kenapa Sehun mendadak kesal ketika Jessica menyindir mengenai hubungannya dengan Seohyun? Apakah Sehun tidak rela jika hubungannya dengan Seohyun dijelek-jelekkan oleh orang lain?

Jadi, apakah ini tandanya bahwa ia telah benar-benar jatuh cinta pada Seohyun?

***

 “Ternyata, saranku ada benarnya juga.”

Sehun menatap ke arah Luhan dengan tatapan bingung. “Apa maksudnya, Hyung?”

“Lihatlah. Kau berbeda. Menjadi lebih terurus.”, jelas Luhan.

Sehun mengangguk mengerti. Ia baru teringat bahwa ini berkaitan dengan perbincangan mereka beberapa bulan yang lalu, sebelum Sehun menikah dengan Seohyun.

“Mana istrimu?”, tanya Luhan. Saat ini, Luhan sedang mengunjungi Sehun di rumahnya untuk sekedar menyerahkan laporan keuangan.

Sehun melongok ke dalam rumahnya. “Dia sedang berkebun di halaman belakang.”, jelas Sehun.

“Nah, kan? Kalau kau punya istri, rumahmu lebih terurus.”, komentar Luhan.

Sementara itu, Sehun hanya tersenyum menanggapinya.

“Jadi, kau benar-benar sudah melupakan Seo Joohyun?”, tanya Luhan.

Sehun terdiam, berusaha menyelami palung hatinya sendiri. “Entahlah, Hyung. Kadang, aku masih sangat merindukannya.”, balas Sehun, sambil menatap ke arah langit.

“Kau ini bagaimana, sih? Kau sudah punya Seohyun! Tidak seharusnya kau memikirkan wanita lain!”, tegas Luhan. “Atau jangan-jangan, kau hanya menikahi Seohyun sebagai pelarianmu?”, selidik Luhan.

Sehun menunduk pasrah. “Aku tak tahu, Hyung. Aku masih belum bisa memutuskan perasaanku sendiri.”, balas Sehun.

Tanpa disadari Sehun dan Luhan, seseorang merasa begitu tersakiti karena perbincangan mereka.

Dan seseorang itu adalah Lee Seohyun.

Seohyun merasa seluruh tubuhnya melemas dan ia langsung terjatuh di atas lantai. Tangannya bergetar merogoh saku celananya. “E-eonni? B-bisakah aku bertemu denganmu sekarang?”

***

“S-sehun-ssi.”

Sehun menoleh ke belakang dan mendapati sosok Seohyun. “Ne?”

“Bolehkah aku pergi sebentar? Aku ada perlu di luar.”, jelas Seohyun.

“Tentu saja.”, balas Sehun. “Apa perlu kuantar?”, tawar Sehun.

“Aniyo. Biar aku pergi sendiri. Nikmati waktumu dengan Luhan Oppa.”, kata Seohyun, sambil melirik ke arah Luhan yang berdiri di samping Sehun.

“Ne.”, balas Sehun.

“Annyeong, Sehun-ssi, Luhan Oppa.”, sapa Seohyun, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sehun.

“Annyeong.”, balas Sehun dan Luhan serempak.

Luhan menoleh ke arah Sehun. “Istrimu lucu sekali, ya?”

“Lucu apanya sih, Hyung?”, tanya Sehun heran.

“Sikapnya yang begitu pemalu itu sangat lucu.”, tegas Luhan.

“O-oh.” Sehun mengangguk-angguk setuju. “Oh ya, Hyung.”

“Apa?”

“Beritahu aku caranya supaya aku bisa menyenangkan hati Seohyun.”, pinta Sehun.

Luhan tersenyum simpul. “Selama kau mencintainya, aku yakin, kalau Seohyun akan bahagia.”

***

“Ada apa, Seohyun-ah?”

Seohyun memasang raut wajah yang sulit diartikan. Ia nampak gelisah, cemas dan khawatir. Namun, tak bisa diketahui apa yang sebenarnya sedang mengganggunya saat ini. “E-eonni.”, panggil Seohyun. Tubuhnya sedikit bergetar karena, entah apa, mungkin ketakutan.

“Ada apa, Seohyun-ah?”, tanya Jessica sekali lagi. Kali ini, Jessica—yang tiba-tiba saja ditelepon oleh Seohyun—nampak semakin khawatir dengan Seohyun.

“A-apa mungkin, Sehun mempunyai wanita idaman lain selain aku?”, tanya Seohyun. Pikirannya masih melayang-layang entah kemana.

Jessica mengerutkan keningnya sejenak, lalu tertawa.

“K-kenapa Eonni malah tertawa?”, tanya Seohyun heran.

“Kupikir, sesuatu yang gawat sedang terjadi.”, balas Jessica. “Jadi, ini masalahnya?”, tanya Jessica.

“Memangnya, kenapa?”, tanya Seohyun polos.

“Menurutku, Sehun adalah tipe namja yang setia. Jadi, tak mungkin kalau dia berniat mengkhianatimu, Seohyun-ah.”, jelas Jessica mantap.

Seohyun hanya mengangguk mengerti. “Tapi, apa dia pernah mencintai seseorang dengan sangat dalam sampai ia kesulitan melupakannya?”, tanya Seohyun lagi.

Jessica berpikir sejenak. “Yah, kurasa pernah.”, jawab Jessica sambil menatap menerawang. “Tapi, itu sudah dulu, Seohyun-ah. Kau tak perlu mengkhawatirkannya.”, ucap Jessica menenangkan. “Lagipula, dia kan, sudah punya kau di sampingnya. Jadi, aku yakin, kalau dia sudah melupakan orang itu.”, tambahnya.

“Eonni.”, panggil Seohyun.

“Iya?”

“Bagaimana cara supaya Sehun tak lari dariku?”, tanya Seohyun.

Jessica tertawa kecil. “Mudah saja. Kau hanya perlu melakukan apapun yang ia suka dan jauhi apa yang tidak ia suka.”

***

“Darimana saja kau?”

Jessica menoleh ke arah Luhan yang menegurnya, lalu melemparkan sebuah senyuman simpul. “Bertemu dengan Seohyun.”, kata Jessica, sambil melangkah mendekati Luhan yang terduduk di atas sofa.

“Seohyun? Istri Sehun?”, tanya Luhan.

“Ya. Siapa lagi?”, balas Jessica, lalu terduduk di samping Luhan.

Luhan langsung merengkuh tubuh istrinya dan mendekapnya dalam sebuah pelukan hangat. “Untuk apa dia menemuimu?”, tanya Luhan penasaran, sambil membelai lembut rambut Jessica.

“Rahasia. Ini urusan wanita.”, kata Jessica, sambil mengerling ke arah Luhan.

“Yak! Jangan-jangan, kau melakukan sesuatu yang ‘nakal’ pada Seohyun, ya?”, tebak Luhan sambil menggelitiki tubuh Jessica.

“Kalau iya, memangnya kenapa?”, balas Jessica sambil tetap berusaha menghindari gelitikan tangan Luhan.

“Yak! Berarti, kau membocorkan ‘rahasia’ kita, ya?”, tuduh Luhan. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat ‘rahasia’ kita yang baru, hm?”, goda Luhan sambil membelai wajah Jessica dengan lembut.

“Aniyo!”, tolak Jessica dengan tegas sambil mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Luhan.

Namun, Luhan dengan sigap menangkap tubuh ramping Jessica sekali lagi dan segera menggendong tubuh Jessica ala bridal style menuju ke dalam kamar mereka.

Kali ini, Jessica tak bisa menolak lagi permintaan dari suaminya.

Yah, sepertinya, hari itu akan menjadi hari yang amat sangat panjang, melelahkan dan membahagiakan bagi mereka.

***

Seohyun meremas-remas jarinya sendiri karena gugup dan gelisah. Matanya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja Sehun yang sedikit terbuka. Namja tampan itu masih mengurung dirinya di dalam ruangan itu sejak pulang dari kantor. Entah untuk melakukan apa.

Seohyun bimbang. Sejak kemarin—sejak perbincangannya dengan Jessica—ia terus saja memikirkan hal ini.

“Kau hanya perlu melakukan apapun yang ia suka dan jauhi apa yang tidak ia suka.”

Ucapan Jessica terus terngiang di kepala Seohyun. Seohyun sendiri tak habis pikir, kenapa ia bisa bertanya cara agar Sehun tak lari darinya. Apakah Seohyun benar-benar khawatir jika Sehun meninggalkannya?

Baiklah. Seohyun memang mengakui kalau ia tak ingin Sehun meninggalkannya.

Lantas, apakah ia harus melakukan saran yang diusulkan Jessica? Tapi, rasanya ini akan sulit. Karena Seohyun tak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Sehun.

Seohyun mencoba melangkahkan kakinya mendekat ke ruang kerja Sehun. Ia mengintip ke dalam ruangan tersebut.

Jujur saja, meski sudah selama 2 bulan Seohyun menempati rumah itu, namun ia belum pernah melihat isi ruangan tersebut. Karena Sehun sudah mengklaim ruangan itu sebagai miliknya seorang dan melarang siapapun untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, kecuali dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan Seohyun sempat meragukan bahwa ruangan itu digunakan sebagai tempatnya bekerja. Tapi toh, selama ini Seohyunn tidak mempermasalahkan hal ini.

Seohyun hendak meraih kenop pintu. Namun, gerakannya terhenti ketika mendengar suara Sehun dari dalam ruangan tersebut.

“Bagaimanapun juga, aku akan selalu mencintaimu, Seo Joohyun.”

DEG!

Seohyun merasa jantungnya berhenti berdetak dan darahnya berhenti mengalir. ‘Sebenarnya, siapa itu Seo Joohyun? Apa gadis itu yang dimaksud oleh Jessica Eonni? Apa Sehun benar-benar masih mencintai gadis itu? Jadi, selama ini, aku hanya dijadikannya sebagai pelarian?’, pikir Seohyun.

Air mata Seohyun sudah mendesak untuk keluar, sehingga meneteslah air mata itu ke pipi Seohyun. Seohyun menangis. Seohyun merasa hatinya sangat sakit. Seohyun merasa sakit, seperti yang pernah ia rasakan saat bersama Kyuhyun.

Seohyun memutuskan untuk segera pergi dari rumah itu sebelum isak tangisnya didengar oleh Sehun. Ia terus berlari, mencoba mencari tempat untuk menenangkan hatinya yang kacau karena Sehun.

***

“Bagaimanapun juga, aku akan selalu mencintaimu, Seo Joohyun.”

Sehun mengusap foto Seo Joohyun yang ada di tangannya. Berharap dengan begitu, pesannya bisa tersampai kepada Seo Joohyun.

Sehun terdiam cukup lama, sambil terus memandangi foto itu. “Aku minta maaf, kalau jalan yang telah kuambil ini membuatmu sakit.”, lanjut Sehun. “Tapi, aku tahu, kalau kau ingin aku bahagia. Dan aku tak bisa bahagia jika harus hidup sendiri selamanya.”, imbuhnya.

Sehun merasa ada sebutir air mata yang menetes di pipinya. Ia pun segera mengusap air mata itu. “Akhirnya, Tuhan mengirimkan Lee Seohyun padaku. Gadis itu berhasil membuat aku bahagia.”, jelas Sehun. “Maafkan aku, kalau aku mengkhianatimu. Aku akan selalu mencintaimu. Rasa cintaku padamu dan pada Seohyun sama besarnya.”, tegas Sehun.

Sehun menatap ke arah langit-langit ruang kerjanya. Ruang kerja yang dulunya sempat menjadi kamar Seo Joohyun. Ia berharap dengan menggunakan ruangan itu, ia bisa mengenang Seo Joohyun. Dan tentu saja, ia tak memberitahukan hal ini pada Seohyun, karena tak ingin menguak rahasia yang sengaja ia tutupi dari gadis itu.

“Kumohon, Seohyun-ah. Kumohon, restui hubunganku dengannya.”, pinta Sehun sambil menatap ke arah foto itu.

Terdengar sayup-sayup suara angin yang masuk lewat celah-celah jendela. Angin itu seolah membawa pesan. Pesan dari atas sana.

“Aku merestuimu, Sehun-ah. Berbahagialah dengannya.”

***

“Oppa…”

Kyuhyun terus memeluk Seohyun yang masih terisak itu. “Sudahlah, Seohyun-ah. Uljima.”, mohon Kyuhyun.

“A-apa aku tak pantas untuk bahagia?”, tanya Seohyun lirih, sambil tetap terisak di dalam dekapan hangat Kyuhyun.

Kyuhyun mendesah berat, lalu mengelus punggung gadis itu. “Kau pantas berbahagia, Seohyun-ah. Sangat pantas.”, tegas Kyuhyun. “Bahkan, lebih pantas dari namja brengsek itu.”, lanjutnya.

Seohyun mendongakkan kepalanya, menatap ke arah manic mata Kyuhyun. “T-tapi…”

Tiba-tiba saja, Kyuhyun justru membungkan mulut Seohyun dengan ciumannya. Kyuhyun mencium bibir Seohyun dengan lembut, berniat untuk meredakan isakan gadis itu.

Namun, ciuman itu justru disalahartikan oleh orang lain.

Siapakah orang lain itu?

O-oh. Dia adalah Oh Sehun.

Sehun hanya bisa menatap geram dari kejauh ketika melihat Seohyun tengah berciuman dengan seorang namja asing yang tak ia kenal. Padahal, Sehun sudah susah payah mencari gadis itu ke berbagai tempat, ternyata Seohyun malah asyik berciuman dengan namja lain.

Sehun pun memilih untuk segera pergi dari tempat itu, sebelum menghajar namja itu hingga menemui ajalnya.

***

CKLEK!

Seohyun melangkah dengan gemetar saat masuk ke dalam rumah Sehun. Tentu saja, ia takut kalau sampai Sehun memergokinya pulang semalam ini. Apalagi, keadaannya yang agak kacau karena menangis.

Lampu-lampu di dalam rumah sudah mati, tanda bahwa namja sang pemilik rumah sudah terlelap. Seohyun memencet saklar yang terletak di samping pintu utama untuk menyalakan lampu di ruang tengah, supaya suasana jauh lebih terang dan akan memudahkannya untuk berjalan.

KLIK!

Lampu menyala.

“S-sehun-ssi?” Seohyun melongo kaget ketika mendapati sosok Oh Sehun yang sudah berdiri sambil menyandarkan punggungnya pada dinding sekat antara ruang tengah dan ruang menonton TV. Sorot matanya begitu dingin dan tajam. Sepertinya, akan ada ‘sesuatu’ yang terjadi malam ini.

“Darimana saja kau?”, tanya Sehun dingin, tanpa merubah posisinya sedikitpun.

“A-aku baru saja menemui seorang teman.”, jawab Seohyun gugup.

Sehun terkekeh—yang sanggup membuat Seohyun bergidik ngeri. “Teman? Kau yakin?”, tanya Sehun memastikan lalu mulai mengambil langkah, mendekati Seohyun dengan langkah perlahan.

“T-tentu saja.”, jawab Seohyun.

Sehun terdiam dan tetap melanjutkan langkahnya untuk mendekati Seohyun. Ia terus melangkah, sambil senantiasa melemparkan tatapan dinginnya itu.

Seohyun yang ketakutan pun melangkah mundur, hingga tubuhnya menumbuk pintu utama.

Sehun sudah berdiri tepat di hadapan Seohyun dan meletakkan tangannya di samping kepala Seohyun, seolah berniat memenjarakan gadis itu. “Apakah seorang teman pantas melakukan ini, hah?” Nada suara Sehun mendadak meninggi. Tiba-tiba saja, Sehun justru mencium bibir Seohyun secara kasar. Menghisap kuat-kuat bibir mungil itu, bahkan sampai menggigitnya, sehingga bibir Seohyun berdarah.

Sementara itu, Seohyun sama sekali tak bisa merasakan nikmat sedikitpun dari ciuman Sehun itu. Ia merasa mulai kehabisan nafas saat Sehun terus saja menciumnya, tanpa memberikan kesempatan bagi Seohyun untuk menghirup udara.

Sehun yang merasa Seohyun mulai kehabisan nafas pun, melepaskan ciumannya.

“Hosh! Hosh! Hosh!” Seohyun terengah-engah dan berusaha untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Ibu jarinya mengusap bagian bibirnya yang sedikit berdarah itu.

“Begitukah yang pantas dilakukan oleh seorang teman, hah?!”, tanya Sehun.

“S-sehun-ssi.” Seohyun menundukkan kepalanya karena takut.

“Jawab aku Lee Seohyun!”, bentak Sehun sambil meninju keras pintu di samping kepala Seohyun.

“M-mianhae, Sehun-ssi.”, balas Seohyun, sambil tetap tertunduk.

“Aku tak menyangka kalau kau bermain di belakangku.”, gumam Sehun sambil menatap jijik ke arah Seohyun. “Apa yang sebenarnya kau cari, Lee Seohyun? Apa?!”, bentak Sehun. “Aku akan memberikan apapun yang kau minta!”, seru Sehun.

Seohyun semakin bergetar mendengar bentakan dari Sehun.

“Katakan padaku, apa yang kau inginkan, hah?!”, bentak Sehun, sekali lagi.

Seohyun tak berani membuka mulutnya.

“Kau ingin aku memuaskanmu, hah?”, lanjut Sehun. “Arrasseo! Aku akan memberikannya padamu!”, seru Sehun.

Seohyun hanya bisa mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Sehun. “A-apa maksudmu, Sehun-ssi?”, tanya Seohyun bingung.

Sehun mengabaikan pertanyaan Seohyun dan langsung mencengkram lengan Seohyun. “Kemari kau!”, perintah Sehun, sambil menarik kasar—setengah menyeret—tubuh Seohyun.

“A-apa yang ingin kau lakukan, S-sehun-ssi?”, tanya Seohyun gugup, sambil berjalan tergopoh-gopoh, mengikuti langkah cepat Sehun.

Sehun menoleh sekilas ke arah Seohyun. “Melakukan apa yang seharusnya sepasang suami istri lakukan.”, kata Sehun tajam.

Seohyun membelalakkan matanya karena terkejut. Ia tak menyangka kalau akan seperti ini kejadiannya. Seohyun yakin, kalau Sehun hanya dibutakan oleh rasa cemburu semata dan bukannya mencintainya dengan tulus. Tentu saja, Seohyun tak ingin melakukan ‘hubungan’ itu jika Sehun tak mencintainya.

Bukankah, sudah jelas-jelas Sehun-lah yang mengkihanati cintanya? Bukankah Sehun tidak mencintainya dan malah mencintai gadis lain?

“Lepaskan, Sehun-ssi!”, bentak Seohyun sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Sehun pada lengannya.

Sehun mendesis sebal, lalu memutuskan untuk menggendong tubuh Seohyun ala bridal style dan melangkah cepat ke kamarnya. Ia ingin semuanya selesai malam itu juga.

“Turunkan aku!”, perintah Seohyun lagi, sambil tetap meronta di dalam gendongan Sehun.

“Diam kau!”, bentak Sehun.

“Kau tak berhak melakukan ini padaku!”, tegas Seohyun.

Sehun sudah tiba di dalam kamarnya dan segera menjatuhkan tubuh Seohyun ke atas ranjang. “Kenapa tidak?”, balas Sehun santai, sambil melepaskan kancing bajunya satu per satu. “Jadi, namja itu jauh lebih pantas melakukan ini, hah?”, tanya Sehun. Sehun mencondongkan tubuhnya ke arah Seohyun, bertumpu di atas ranjang dengan kedua lengannya. Namja itu mulai menciumi leher jenjang milik Seohyun. Dan hal itu sukses membuat Seohyun geli.

“H-hentikan in-ni.”, mohon Seohyun dengan susah payah.

Sehun menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu mengangkat kepalanya. “Aku perlu tahu, sejauh mana namja itu menyentuhmu.”, kata Sehun dengan nada sinis. Sehun melepaskan kemejanya dan membuangnya ke sembarang arah.

Kini, Sehun sudah bertelanjang dada dan mulai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Seohyun lagi. “Sekarang, katakan padaku.”, kata Sehun tajam. “Apa saja yang sudah dilakukan namja itu padamu?”

“Ti-tidak ada!”, jawab Seohyun.

Sehun menarik tubuhnya lagi dan tertawa keras. “Baiklah, kalau begitu. Kau yang meminta supaya aku yang mencari tahu sendiri, ya?”

Seohyun merutuki dirinya sendiri. Jawabannya justru membuat Sehun semakin berniat untuk ‘menyentuh’nya. Rasanya, Seohyun tak akan selamat dari Sehun malam ini.

KREK!

Seohyun melongo ketika menyadari bahwa Sehun sudah merobek kemeja yang dikenakannya menjadi dua bagian. Seohyun langsung berusaha menutupi bagian atas tubuhnya yang terekspos itu dengan kedua tangannya. “Hentikan ini!”, seru Seohyun.

Sementara itu, Sehun justru memandangi tubuh Seohyun dengan tatapan lapar. “Pantas saja, namja itu tertarik padamu.”, gumam Sehun, lalu menarik tangan Seohyun yang menghalangi pemandangan indah di hadapannya, merobek bra yang masih dikenakan Seohyun dan segera meremas kasar kedua payudara Seohyun.

“Ahh… Ssh… Hhh…” Desahan demi desahan lolos dari bibir Seohyun.

Sialnya, hal itu justru membuat Sehun semakin beringas dalam menjamah tubuh Seohyun. Tangan Sehun mulai meraba bagian-bagian tubuh Seohyun yang lainnya. Mulai dari payudara, perut, sampai berani menarik turun celana jins yang dikenakan oleh Seohyun.

Seohyun yang merasa kalah, karena berbagai perlawanannya bisa dikalahkan dengan mudah oleh Sehun pun memilih untuk pasrah saja, dan memejamkan matanya agar ia tak bisa melihat kelakuan bejat dari seorang Oh Sehun.

Paha Seohyun yang sudah terekspos itu pun mulai menjadi sasaran dari tangan Sehun. Sehun mulai membelai lembut paha Seohyun yang berhasil membuat tubuh Seohyun menggeliat pelan. Tangan Sehun pun mulai membelai, hingga naik ke atas dan mencapai mulut vagina Seohyun yang masih terbalut oleh celana dalam.

Tubuh Seohyun kembali bergetar karena sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Sehun. Perlakuan Sehun memang terasa mulai melembut, namun ia tahu, kalau yang memenuhi Sehun saat ini hanyalah nafsu dan bukannya cinta yang tulus. Tak hentinya, ia berharap agar Tuhan menghentikan semua ini.

Sementara itu, ternyata Sehun tengah mencoba untuk menarik celana dalam Seohyun. Dan kini, terpampanglah tubuh indah Seohyun, tanpa sehelai benang pun. Sehun pun lebih mudah untuk menyentuh mulut vagina Seohyun secara langsung dan menjelajahi isi dari vagina Seohyun.

Tiba-tiba saja, Sehun menghentikan kegiatan jemarinya menjelajahi vagina Seohyun. Ia justru merentangkan kaki Seohyun agar lebih lebar, lalu menenggelamkan wajahnya tepat di depan vagina Seohyun. Lidahnya mulai menyusup ke dalam vagina Seohyun dan mengoyak yang terdapat di dalamnya.

“Ahh… Sehun… Hhh…” Seohyun mendesah karena perlakuan Sehun itu.

Setelah puas menjelajahi isi vagina Seohyun dengan lidahnya, Sehun pun mengangkat kepalanya, lalu menarik turun resleting celananya.

Sehun sudah menurunkan celana panjangnya dan celana dalamnya, sehingga menunjukkan juniornya yang siap untuk memasuki vagina Seohyun. Sehun pun mulai memasukkan juniornya ke dalam vagina Seohyun dalam sekali hentakan.

“AAAARRRGGGHHHH! Appooooo!”, jerit Seohyun karena menahan perih yang terasa di bagian bawahnya. Terasa ada sesuatu yang robek di bawah sana. Sepertinya, junior Sehun telah berhasil merobek selaput daranya. Artinya, Seohyun sudah tak perawan lagi sejak malam itu.

Sementara itu, Sehun nampak sangat menikmati kegiatannya dalam memaju mundurkan juniornya di dalam lubang Seohyun yang begitu sempit. “Ah! Ini enak sekali! Nikmat!”, racau Sehun, sambil terus memaju mundurkan juniornya.

Sementara itu, tubuh Seohyun terasa semakin melemas karena perlakuan Sehun padanya. Karena terlalu lelah dan tak sanggup dengan semua ini, Seohyun pun akhirnya pingsan di atas ranjang. Meninggalkan Sehun yang senantiasa menikmati tubuhnya itu.

***

“Urgh!”

Seohyun mencoba bangkit dari tidurnya. Namun, saat mencoba bangkit, selangkangannya terasa begitu sakit dan ngilu. Kepalanya juga mulai berdenyut pelan. Seketika, Seohyun mulai bisa mengingat kejadian yang ia alami semalam.

Seohyun ingat ketika Sehun marah padanya, dan tiba-tiba saja, memaksanya untuk melakukan hubungan intim dengan namja—namja brengsek bagi Seohyun—itu.

Seohyun menarik selimutnya dan mendapati tubuhnya yang sudah dibalut piyama. Ia menoleh ke samping dan tidak mendapati siapapun di sampingnya.

Sehun pergi.

Seohyun menarik kaki-kakinya dan memeluknya erat. Sekilas, terlihat bercak darah yang menghiasi sprei. Seohyun mencelos ketika menyadari hal itu.

Seohyun sudah tak perawan lagi. Dan namja brengsek itulah yang telah merebut keperawanannya secara paksa.

Seohyun mulai terisak. Air matanya mulai bergulir, karena tak sanggup menghadapi kenyataan yang ada, ternyata begitu menyakitkan. Awalnya, ia merasa bahwa hidupnya dengan Sehun akan berjalan lancar dan sempurna. Namun, harapan itu sirna, ketika Seohyun mengetahui bahwa Sehun memiliki wanita lain selain dirinya. Parahnya lagi, Sehun masih berani-beraninya merebut keperawanannya. Dan kini, Sehun justru meninggalkannya seorang diri di dalam kamar mereka.

Lengkap sudah kesalahan yang diperbuat seorang Oh Sehun pada Lee Seohyun. Tak ada lagi alasan bagi Seohyun untuk tidak membenci namja itu.

Seohyun mulai mengusap air matanya dengan punggung telapak tangannya. Ia berniat bangkit—sekali lagi. Ia tak boleh gagal lagi kali ini. Dan ia sudah memutuskan untuk melupakan sosok Sehun dari hidupnya.

Seohyun berjalan tertatih-tatih keluar dari dalam kamar. Didapatinya rumah itu sepi, tak berpenghuni. Sepertinya, Sehun benar-benar sudah pergi, entah kemana. Memangnya, Seohyun masih peduli pada namja itu?

Mata Seohyun tertuju pada pintu ruang kerja Sehun. Seohyun memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Ia tahu, ia harus menanggung segala resiko yang akan ia hadapi saat ia memutuskan untuk melihat isi ruangan tersebut, yang mungkin saja, bisa membuat hatinya semakin hancur berkeping-keping.

Seohyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan itu nampak normal untuk seorang namja. Ruangannya memang pantas disebut sebagai ruang kerja, karena ada seperangkat peralatan kantor.

Seohyun melangkah mendekat ke kursi putar di balik meja kerja Sehun. Karena tak sanggup untuk berdiri lebih lama, Seohyun pun memutuskan untuk duduk disana. Matanya menelusuri setiap benda yang terletak di atas meja. Nampaknya, memang tak ada yang mencurigakan.

Tapi, tunggu… Foto siapa itu?

Seohyun mengambil sebuah foto di atas meja kerja Sehun. Seohyun tahu betul sosok yang ada dalam foto itu. Foto itu adalah fotonya. Tapi, kenapa Seohyun tak merasa bahwa ia pernah berfoto seperti itu?

Seohyun melihat dengan seksama ke arah foto itu. Gadis yang terdapat dalam foto itu memang sangat mirip dengannya, tapi ia yakin, kalau gadis itu bukanlah dirinya. Seohyun bingung dengan hal ini.

Matanya pun kembali menelusuri. Dilihatnya sebuah notes kecil. Seohyun pun membukanya secara acak.

Aku harap kau berbahagia di atas sana, Seohyun-ah.

 

Seohyun mengerutkan keningnya, karena bingung dengan tulisan—yang sepertinya adalah tulisan Sehun—itu.

Aku tak menyangka kalau aku bertemu denganmu lagi, Seohyun-ah. Ah, bukan, bukan. Itu bukan dirimu, Seo Joohyun. Gadis itu memang sangat mirip denganmu. Tapi, gadis itu bukanlah dirimu, melainkan Lee Seohyun. Sekarang, apa yang harus aku lakukan Seohyun-ah?

 

“Mirip? Jadi, aku begitu mirip dengan Seo Joohyun?”, tanya Seohyun, pada dirinya sendiri.

Gadis itu adalah gadis yang sangat menyenangkan. Apakah aku sudah jatuh cinta pada Lee Seohyun? Oh Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Mianhae, Seo Joohyun, kalau aku mengkhianatimu.

 

Seohyun merasa dadanya berdesir. “Jadi, inikah saat Sehun jatuh cinta padaku?”

Aku tak boleh jatuh cinta pada gadis itu. Aku tak ingin tersakiti lagi. Aku juga tak ingin melihat gadis itu terluka lagi.

 

Seohyun tak percaya. Apakah Sehun memang sebegitu perhatiannya padanya? Bahkan, Sehun tak ingin melihatnya terluka lagi?

Sekarang, apa yang harus aku lakukan, Seo Joohyun? Aku tak bisa lepas dari pesona Lee Seohyun? Apa kau mengijinkanku untuk hidup bahagia dengannya? Tapi bagaimanapun juga, aku akan selalu mengingatmu dan tetap mencintaimu seperti dulu.

 

Kalimat itu mirip dengan kalimat yang diucapkan Sehun semalam. Jadi, seperti inikah maksud ucapan Sehun? Sehun hanya ingin meminta ijin pada gadis bernama Seo Joohyun? Dan hal itu, langsung membuat dirinya salah paham?

Apa yang sudah kulakukan? Aku telah menodai gadis baik itu! Aku brengsek, Seohyun-ah! Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus pergi saja yang jauh dari kehidupannya? Atau aku harus menyusulmu ke atas sana?

 

Seohyun bisa menebak kalau tulisan ini pasti baru saja dituliskan oleh Sehun. Seohyun merasakan tubuhnya bergetar, kala melihat kalimat terkahir yang digoreskan oleh Sehun.

Menyusul ke atas sana? Apa maksud dari kalimat itu?

Seohyun merasa pikirannya kalut saat itu juga. Berbagai hal negative melintas di pikirannya. Ia khawatir, bingung, cemas. Entah kenapa, semua perasaan benci pada Sehun itu telah menguap entah kemana dan digantikan perasaan peduli.

Seohyun berlari ke arah kamarnya untuk mencari ponselnya, mengabaikan rasa sakit yang ada di bagian bawah tubuhnya.

Seohyun mencoba menghubungi ponsel Sehun, namun tak aktif. Lalu, ia pun mencoba menghubungi Luhan, teman dekat Sehun.

“Luhan Oppa?”, sapa Seohyun cepat, ketika ia sudah tersambung.

“Ne? Ada apa Seohyun-ah?”, tanya Luhan.

“Siapa itu Seo Joohyun?”, tanya Seohyun, langsung pada intinya.

“Kau tidak mengenalnya?”, tanya Luhan tak percaya.

“Ayolah, Oppa. Aku tak punya banyak waktu.” Seohyun merasa bahwa setiap detik yang terlewati begitu berharga untuk hidupnya.

“Dia adalah istri Sehun yang sudah meninggal.”, jawab Luhan.

Seohyun terhenyak. Ia terkejut ketika mendengar kenyataan baru itu. “I-istri?”

“Ne.”, jawab Luhan. “Apa Sehun belum pernah menceritakan hal ini padamu?”, gumam Luhan.

Seohyun merasa seluruh anggota tubuhnya melemas saat itu juga, hingga ia jatuh terduduk di atas ranjang. “B-bisa kau beritahu, dimana makamnya?”, tanya Seohyun. Entah kenapa, pikiran Seohyun langsung tertuju pada makam Seo Joohyun.

Luhan pun segera mendiktekan lokasi makam Seo Joohyun.

Segera setelah itu, Seohyun pun memutuskan untuk pergi ke makam itu, berharap ia bisa menemukan Sehun disana dan mencegah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

***

“Mianhae, Seohyun-ah.”

Sehun bersimpuh di atas padang rumput hijau, sambil mengusap nisan istrinya—Seo Joohyun. “Aku telah melukai perasaan gadis itu. Aku telah menyakitinya. Padahal, ia tak pernah mengkhianatiku. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?” Suara Sehun terdengar begitu frustasi. Air matanya tak bisa dibendung lagi, sehingga mengalir begitu saja di pipinya.

“Aku rasa, aku adalah monster. Aku tak pantas untuk hidup di dunia ini lagi.”, kata Sehun, sambil tertunduk dan terisak. “Mungkin, sudah seharusnya aku pergi dari dunia ini. Aku ingin menyusulmu saja, Seohyun-ah.”, ucap Sehun lirih, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tiba-tiba saja, saat sedang merenungi kelakuannya, Sehun dikejutkan oleh sesuatu. Sebuah panggilan.

“Oh Sehun!”, seru seseorang dari kejauhan.

Sehun menoleh dan melihat seseorang yang tak asing lagi di matanya tengah berlari mendekat ke arahnya.

***

“Dimana aku?”

Seohyun menyentuh kepalanya yang berdenyut keras. Ia mencoba membuka matanya dan hanya mendapati ruangan putih sejauh mata memandang.

Seohyun berusaha mengingat kejadian yang menimpa dirinya. Hal terakhir yang ia ingat adalah ketika ia mendapat benturan yang cukup keras di tubuh dan kepalanya. Sejak saat itu, semuanya berubah menjadi gelap.

“Annyeong, Lee Seohyun.”, sapa seseorang.

Seohyun mendongakkan kepalanya dan merasa bahwa ia sedang berkaca. Karena di hadapannya, berdiri seorang gadis yang begitu mirip dengannya. “S-siapa kau?”

“Aku adalah Seo Joohyun. Kau pasti sudah tahu hal itu, kan?”, balas gadis itu.

“S-seo Joohyun?” Seohyun mencoba mengingat nama itu. “Jadi, kau adalah istri dari Oh Sehun?”, tanya Seohyun.

Gadis itu tersenyum simpul. “Bukan lagi. Kaulah istri dari Oh Sehun, Lee Seohyun.”

Seohyun tertunduk lesu. “Tapi, dia mencintaimu.”

“Dia juga mencintaimu. Dia mencintaiku hanya sebagai masa lalunya. Dan dia mencintaimu sebagai masa depannya, Seohyun-ssi.”, tutur gadis itu.

Seohyun mendongakkan kepalanya. “T-tapi…”

“Sudahlah. Kau harus bertahan, Seohyun-ssi. Aku tak ingin melihat Sehun menderita lagi karena harus kehilangan untuk kedua kalinya.”, kata gadis itu. “Berbahagialah dengannya. Kalian pantas untuk hidup bersama dan mendapat kebahagiaan.”, imbuh gadis itu, lalu mengukir sebuah senyuman damai.

“B-baiklah.”, jawab Seohyun ragu.

Gadis itu mendesah lega. “Baiklah kalau begitu, Seohyun-ssi. Annyeong.”, kata gadis itu, lalu menghilang di balik cahaya putih yang begitu menyilaukan mata.

Seohyun tak kuat dengan kilauan cahaya itu dan menutup matanya.

***

“Tenanglah, Taemin-ah.”

Jessica berusaha menenangkan Taemin yang sedang menangis karena Noona-nya yang baru saja mengalami kecelakaan. Sementara itu, Sehun dan Luhan yang baru saja tiba, mondar-mandir dengan gelisah di lorong rumah sakit.

Tim dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa Lee Seohyun di dalam ruang operasi.

Tak lama, lampu merah berganti menjadi hijau, tanda bahwa operasi telah dilakukan dengan lancar.

Sehun segera mendekat ke arah pintu dan menanti salah satu dokter keluar dari dalam ruang operasi.

“Bagaimana keadaan istri saya, Uisa?”, tanya Sehun cemas.

Dokter itu tersenyum. “Istri Anda adalah orang yang kuat, Tn. Oh. Dia bisa bertahan. Dan kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan.”, jelas sang dokter. “Ny. Oh sudah siuman, namun jangan diajak bicara terlalu banyak.”

“Ne, Uisa. Gamsahamnida. Jeongmal gamsahamnida.”, ucap Sehun gembira, sambil membungkukkan badannya beberapa kali.

Taemin, Luhan dan Jessica pun terlihat lega mendengar penjelasan dari dokter.

Beberapa suster nampak keluar dari dalam ruang operasi sambil menarik sebuah ranjang dorong.

Sehun segera menghampiri ranjang itu. “Seohyun-ah?”, panggil Sehun, tepat di samping Seohyun.

Seohyun menoleh sedikit ke arah Sehun dan tersenyum tipis.

Sehun begitu tentram melihat wajah Seohyun yang begitu damai.

Para suster yang mengerti dengan momen seperti itu memberikan kesempatan pada Sehun untuk berkomunikasi sejenak dengan Seohyun.

“Sehun-ssi.”, panggil Seohyun lirih.

Sehun segera mendekatkan telinganya ke bibir Seohyun. “Ne?”

“Saranghae. Jeongmal saranghaeyo.”

***

“Cepat habiskan makananmu, Seohyun-ah.”

Sehun sedang berusaha membujuk Seohyun untuk segera menghabiskan makanan yang disuapkannya. Namun, Seohyun justru mengabaikan bujukannya dan malah asyik memainkan sebuah PSP—pemberian Cho Kyuhyun yang maniak game itu.

“Tidak mau! Aku harus memenangkan permainan ini dulu!”, seru Seohyun.

Sehun memasang wajah cemberut, lalu mencolek hidung Seohyun.

Hal itu menyebabkan konsentrasi Seohyun pecah. “Yak! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan? Kau membuatku kalah!”, teriak Seohyun kesal.

Sehun tertawa geli melihat tingkah kekanakan istrinya itu. “Salahmu sendiri. Kenapa kau malah mengabaikan suamimu yang tampan ini dan malah menganggap PSP pemberian mantan kekasihmu?”, sindir Sehun.

“Ya, ya! Kau masih cemburu, ya?”, tebak Seohyun.
“Tentu saja.”, balas Sehun.

Seohyun mendengus sebal. “Kau sih, tak pernah menyatakan cintamu padaku.”, celetuk Seohyun.

Sehun membentuk huruf O dengan mulutnya, lalu mendesah pelan. “Baiklah kalau begitu.”, kata Sehun. “Saranghaeyo, Lee Seohyun.”, ucap Sehun tulus, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Seohyun dan mengecup singkat bibir istrinya itu.

Hal itu membuat pipi Seohyun merona merah.

Sehun tertawa kecil melihat itu. “Lihat! Pipimu merona!”

“Yak! Apa-apaan sih, kau?”, balas Seohyun kesal.

Sehun tertawa lagi. Matanya melirik sekilas ke dekat jendela rumah sakit. Seberkas cahaya masuk dari luar. Samar-samar, ia bisa melihat sosok yang begitu ia kenal di dalam berkas cahaya tersebut.

Sehun tersenyum pada sosok itu. “Gomawo, Seo Joohyun.”, ucap Sehun, tanpa mengeluarkan suara.

Sosok itu—bayangan Seo Joohyun—membalasnya dengan senyuman yang tulus dan begitu damai, sebelum pergi, seiring dengan tiupan angin.

Sehun pun kembali menatap ke arah Seohyun yang masih kesal karena perbuatannya tadi. Diperhatikannya wajah Seohyun dengan seksama.

Sehun mendesah lega. Kali ini, ia yakin untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama gadis itu. Gadis bernama Lee Seohyun.

END

***

Akhirnya, FF ini selesai juga. Tapi, karena author yang satu ini sangat baik hati, tidak sombong, serta rajin menabung, jadi, author kasih bonus, deh.

Nih. Author udah siapin epilog untuk dibaca oleh readers.

***

EPILOG

“KYAA!!!”

Seohyun terlonjak kaget ketika merasakan sesuatu yang melingkari pinggangnya. Seohyun menoleh dan mendapati Sehun yang tengah memeluknya.

“Jangan berisik, Yeobo.”, perintah Sehun, lalu meletakkan dagunya di atas pundak Seohyun.

“Ya! Kau ini! Kenapa mengagetkanku?”, sungut Seohyun kesal.

“Aku ingin memelukmu. Memangnya, tak boleh?”, balas Sehun enteng.

“Tak boleh! Kau bau! Pergi sana!”, usir Seohyun.

Tiba-tiba, terdengar suara tawa di belakang sepasang suami istri itu. “Turuti saja kata-kata Seohyun Noona, Hyung.”. celetuk Taemin.

“Memangnya, kenapa?”, tanya Sehun heran.
“Seohyun Noona sedang hamil dan tak ingin dekat-dekat denganmu, Hyung.”, jelas Taemin. Sedetik kemudian, Taemin menyadari apa yang baru saja diucapkannya. “Omona! Apa yang sudah kukatakan?”, tanya Taemin pada dirinya sendiri, lalu menutup mulutnya.

“Yak! Taemin! Kenapa kau membocorkan rahasia itu, hah? Kita kan, sudah sepakat untuk memberi Sehun kejutan!”, sungut Seohyun lalu berusaha menjitak Taemin.

Taemin pun memutuskan untuk segera lari menjauh. “Kabur!!”

Sehun terkekeh pelan melihat tingkah lucu kedua kakak-beradik itu. Yah, rasanya, ia akan memulai babak baru lagi, dalam hidupnya.

***

Huwaa! Akhirnya, selesai juga ini FF *lap keringet*

Yah. FF ini bener2 di luar dugaan. Ternyata, jadinya panjang banget XD

Mian ya, kalo ternyata jalan ceritanya ngebosenin dan klise banget.

Well, mian lagi, kalo part NC-nya ancur. Karena jujur aja, saya nulisnya dengan gemetaran. Soalnya, ini adalah pertama kalinya saya nulis begituan.

Oke, deh. Saya mohon komentar dari para readers, yah? Oke, oke?

^^

73 thoughts on “After She’s Gone Sequel of When You’re Gone (2 of 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s